RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
MUNTAHAN



EPISODE 112


Ketika hati seseorang terluka karena cinta, rasa sakitnya tiada duanya. Begitulah Ken menjalani kehidupan babak barunya. Masa muda yang habis di dalam penjara, tidak dapat ia kembalikan lagi seperti semula.


Kebahagiaan yang ia rasakan bersama Suzy sangatlah singkat. Meski begitu, ia tetap menyimpan cintanya di dalam hati sebagai kenangan.


Tatkala pikirannya kembali diterpa kegundahan, Ken duduk di bangku taman tepat di depan pohon besar yang bengkok. Ia menyendiri tanpa membawa seorang pun teman ke sana.


Secara kebetulan lagi, ia bertemu dengan Suya. Anak itu sedang bermain bersama temannya dan berlarian di sekitarannya.


"Paman!"


Ken menoleh pada Suya, "Suya!"


"Paman sedang apa?"


"Paman sedang mencari udara segar. Banyak pekerjaan membuat kepala paman pusing," jawab Ken.


"Apa aku perlu membelikan obat untuk paman?" Suya tampak khawatir.


"Tidak, tidak perlu. Kau duduklah di sini untuk menemani paman."


Suya mengangguk dan bicara pada temannya bahwa ia akan berhenti bermain dan menemani pamannya. Teman-temannya pun berhamburan pergi.


"Bagaimana sekolahmu? Apakah ada masalah?"


"Em, nenek sedang kesulitan membayar uang kegiatan setiap bulannya. Jadi, nenek berjualan lebih awal dan pulang lebih lama dari biasanya."


"Apa kakekmu juga kesulitan?"


"Toko tidak terlalu ramai. Jadi kami mengumpulkan uang dengan sangat keras."


Ken terhenyak mendengar cerita dari mulut Suya. Rupanya kedua mertuanya itu tengah mengalami kesulitan.


"Ohya, apa paman mau beli ini?" Suya mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya.


Ternyata beberapa gantungan yang terbuat dari kayu.


"Kau membuatnya sendiri?" tanya Ken seraya meraih sebuah.


"Iya. Aku membuat semuanya ketika nenek sedang merebus ubi. Di rumah, banyak sekali kayu. Jadi aku menggunakannya tanpa harus mencari bahan yang sulit."


Ken tersenyum karena anak itu begitu pintar dan kreatif, "Kalau begitu paman beli dua."


"Benarkah? Paman mau yang mana?" wajah Suya berseri-seri.


"Ini dan ini."


"Silahkan, paman," Suya menyodorkan dua buah gantungan kunci buatannya pada Ken.


"Ini uangnya," Ken memberikan uang lebih pada Suya.


Saat Suya menerima uang dengan gembira, nenek Tama melihatnya. Maka ia datang bersungut-sungut dan menghampiri cucunya.


"Jangan menerima uang apapun dari orang asing, Suya!"


"Tapi nek, paman Ken sudah mengenalku cukup lama."


"Tidak ada tapi-tapian. Pulanglah ke rumah!" nenek Tama tampak sangat marah dan menepis uang yang ada di tangan Suya.


"Tidak mau! Aku ingin mengobrol lama dengan paman," Suya berani menjawab.


"Anak nakal! Ayo pulang!" nenek Tama memukul lengan Suya dengan keras sampai anak itu menangis.


Karena tidak tahan melihat Suya dipukuli di depan matanya, maka Ken terpaksa membuka suara.


"Ibu, cukup!"


"Beraninya kau memanggilku ibu!" nenek Tama menoleh dengan mata mendelik.


"Sudah cukup memukuli Suyanya, ibu! Aku akan pergi dari sini. Jadi jangan sakiti dia lagi."


Nenek Tama memandangi Ken dengan benci. Ia benar-benar tidak menyisakan rasa kepedulian yang ia berikan pada Ken dulu.


Suya yang mendengar paman Ken memanggil neneknya dengan sebutan ibu menjadi heran. Bukankah jarang sekali orang memanggil dengan bahasa itu jika tidak akrab satu sama lain?


"Mengapa paman memanggil nenek dengan sebutan ibu?" begitu pikir Suya.


"Suya, paman pergi dulu, ya. Jadilah anak baik untuk nenekmu. Dengarkan dia dan jangan membuatnya kesal."


Ken menepuk pundak Suya dan pergi dengan hati yang dipatahkan. Ia berjalan dengan tangan terkulai menuju motornya yang terparkir tidak jauh dari lokasi saat itu.


••••••


Bukannya pulang, Ken berhenti di sebuah toserba dan membeli banyak bir kalengan. Kemudian duduk di bangku yang ada di depan toko dan minum sembari memandangi langit.


"Suzy, maafkan aku."


Itulah ucapan pertamanya ketika ia mulai mabuk berat. Delapan kaleng bir yang ada di depannya ia habiskan begitu saja.


Kepala yang terasa berat dan berkunang-kunang itu pun membuatnya tidak mampu berdiri dengan tegak hingga akhirnya ia menyandarkan kepalanya dan hanya tiduran di atas meja.


Pada saat yang tepat, sebuah telepon masuk. Yaitu panggilan dari Yuna. Cukup lama, Ken meraba-raba saku celananya dengan lesu. Kemudian diangkatnya panggilan Yuna tersebut.


"Kau sedang apa, Ken?"


"Aku? Aku sedang duduk.." katanya dengan suara khas orang mabuk.


"Duduk di mana? Kau seperti sedang mabuk? Benarkah itu?"


"Aku tidak tahu..."


"Hey Ken!! Sadarlah! Cepat katakan padaku kau ada di mana?"


"Nezu..."


"Baiklah! Jangan ke mana-mana. Tunggu aku!" seru Yuna sebelum memutuskan panggilannya.


Yuna segera berlari menuju daerah Nezu yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Ken. Sebagai mantan atlet lari di sekolahnya, Yuna cukup ahli dalam bidang ini.


Sementara itu di tempat Ken, Linzhi yang menyetir mobilnya kebetulan melewati jalan itu dan melihat pria yang tengah mabuk bersandar di atas meja.


"Dasar pria menyedihkan. Mabuk sampai tidak bisa bergerak seperti itu, ya? Ck Ck Ck!" Linzhi bahkan sempat mengomentarinya dengan sinis.


Ia tidak tahu bahwa sebenarnya ia sedang mengomentari Kenzhi. Jadi meskipun ia melaju melewatinya, ia tidak berbuat apa-apa. Namun, begitu Ken mengangkat kepalanya barulah ia menyadari bahwa pria itu adalah Ken.


"Ken? Isshh! Kenapa aku baru menyadarinya!" Linzhi memutar balik mobilnya untuk mendapatkan pria itu.


Setelah memarkirkan mobilnya di dekat sana, Linzhi turun dan segera menghampiri Ken.


"Ken?? Kau mabuk berat?"


"Hmmmm..." suara Ken.


"Ayo kita pulang. Kau bisa mati kedinginan jika tidur di luar ruangan," kata Linzhi berusaha membantu Ken berdiri.


Tetapi, wanita itu tampak kesulitan mengangkat tubuh Ken. Apalagi sepatu hak tinggi yang dikenakannya membatasi gerakannya.


SRATSS


Tiba-tiba Yuna datang dan menyingkirkan tangan Linzhi. Ia langsung meraih tubuh Ken dan membantunya berdiri.


"Hey! Mau apa kau?" tanya Linzhi.


"Apa kau tidak lihat? Aku datang untuk membawanya pulang."


"Tunggu! Enak saja kau, datang-datang langsung merebut dia dariku! Aku yang akan membawanya pulang!" Linzhi menolak Yuna dan menarik tubuh Ken hingga hampir saja jatuh.


"Ken! Ayo bangun! Kita pulang naik mobilku saja!" seru Linzhi pada Ken.


"Tidak! Dia meneleponku! Itu artinya aku yang berhak membawanya pulang!" Yuna membereskan tas milik Ken dan meraih kunci motornya.


"Tidak bisa! Aku yang lebih berhak darimu! Seperti yang kau tahu, aku sedang mengandung bayinya. Jadi itu artinya, dia juga milikku. Kau tidak boleh sembarangan mendekatinya!!" Linzhi kesal dan menarik baju Yuna di bagian lengannya.


TRAK


Yuna menepis kasar tangan Linzhi. Ia melotot karena kesal dengan wanita yang berhadapan dengannya itu.


"Memiliki bayi darinya, bukan berarti kau juga memilikinya, nona! Jika menurut pendapatmu seperti itu, maka aku pun berhak mengatakan bahwa dia juga milikku!! Dasar wanita jal*ng tak tahu malu," Yuna mendorong tubuh Linzhi hingga wanita itu terjengkang ke belakang dan jatuh ke atas bangku.


BRUK!


"Hey! Kau!!"


"Berhenti kau!! Jangan berani-berani mendekatinya!!"


Linzhi terus saja berteriak saat Yuna membawa Ken pergi. Ia amat kesal. Benar-benar kesal!


Tanpa menunggu pertikaian lanjutan, Yuna meraih tubuh Ken dan membawanya naik ke atas motor. Ken yang mabuk pun hanya menuruti apa yang sedang dilakukan Yuna padanya.


Dan sekali lagi, Yuna mengikat tubuh Ken dengan tubuhnya. Kemudian mengendarai motor dan melaju di jalanan.


"Apa kau senang? Sepertinya kau berhasil membuat dua wanita saling memperebutkamu," kata Yuna terkekeh karena merasa bahwa salah satu wanita itu adalah dirinya.


"Yah.. Aku senang kau yang berhasil memenangkannya.." Ken yang bersandar pada pundak Yuna tanpa sadar memberi jawaban.


Yuna membuka mata lebar-lebar. Ia tidak salah dengar kan?


"Ken?"


"Hmmm..."


"Apa aku boleh menyukaimu?"


"Tentu saja..."


"Kalau begitu, menikahlah denganku," Yuna merasa bahwa Ken sedang menanggapi pembicaraannya.


"Tentu saja..."


"Benarkah? Kau bersedia menikahiku?" Yuna bersemangat.


"Hmmm.. Akuuu.... Maau munnntahhh..."


Rupanya Ken sedang menahan keinginannya untuk muntah. Ia menggembungkan pipinya karena mual yang dialaminya begitu berat.


HUEEEKK!


"Aaaah, Kenn.. Kenapa kau memuntahkannya ke bajuku?" Yuna mengomeli Ken yang mabuk.


Sepanjang perjalanan mereka, Yuna terus saja mengomel. Namun akhirnya ia tersenyum saat menatap pria yang tengah bersandar di pundaknya itu dari kaca spion.


SRET


Yuna melepaskan pakaiannya yang terkena muntahan Ken dan mencucinya dengan bersih lalu menjemurnya di depan kamar mandi.


Kemudian ia mendekati Ken yang terlelap di tempat tidurnya tanpa melepas jaket dan sepatunya.


"Apa kau selalu begini setiap sedang mabuk?" tanyanya.


Yuna melepaskan sepatu, jaket dan pakaian Ken yang kotor. Kemudian ia juga membersihkan tubuh pria itu dengan washlap.


Saat membersihkan tubuh Ken, Yuna mengamatinya sambil tersenyum-senyum. Dibelainya wajah Ken dengan lembut sambil bicara perlahan,


"Kau tampak seperti bayi yang sedang tidur nyenyak. Seandainya aku melakukan sesuatu padamu pun, kau pasti tidak akan menyadarinya."


.


.


.


.


BERSAMBUNG......