
EPISODE 68
Ken memperbaiki posisi duduknya lalu menoleh pada Keiko sambil membenahi kemejanya yang terbuka, "Terima kasih. Tapi sebenarnya, kau tidak perlu repot-repot melakukan itu padaku."
"Tapi senior, tadi kau berdarah,,,"
"Aku tahu. Tapi aku yakin, aku akan bertahan sampai Suzy menggantinya untukku," Ken menepuk pelan kepala Keiko.
"Begitu yaa,,," Keiko merasa bahwa dirinya baru saja ditolak oleh seniornya secara tidak langsung.
"Apa kau sungguh berpikir bahwa nona Suzy yang hanya bisa menyentuhmu, senior? Tapi sayang sekali, aku juga menyentuhmu tadi. Bahkan aku menikmati bibirmu yang hangat.."
Keiko bicara dalam hati dengan kesal. Ia merasa dirinya tidak dianggap sebagai seorang wanita oleh Ken.
Matanya terus mengamati bekas merah buatannya di leher Ken. Bahkan saat Ken menggaruk-garuk bekas merah tersebut, Keiko dibuat deg-degan. Ia takut kalau pria dewasa itu bercermin dan melihat apa yang telah ia perbuat padanya.
"Ssshh,," suara Ken saat garukannya mengenai tanda merah keunguan.
Ken menoleh tiba-tiba pada gadis di sebelahnya. Tentu saja hal itu membuat Keiko jadi salah tingkah. Ia merasa sangat takut jika ketahuan menciumnya diam-diam.
"K kenapa, s senior?"
"Apa ada yang terjadi saat aku tidur tadi?" tanya Ken.
"T tidak ada. Aku hanya mengobati lukamu. I itu saja," Keiko gugup sekali.
Ken mengangguk sambil merasakan perih. Ia percaya pada perkataan juniornya itu. Namun sedetik kemudian, ia mencondongkan kepalanya dan berusaha melihat bagian lehernya yang perih itu pada cermin yang ada di bagian depan mobil.
Karena kesulitan melihat posisi lehernya, Ken bertanya kembali, "Apa kau punya cermin?"
"C cermin?"
"Ya. Kalau kau punya, coba pinjam sebentar."
"Tidak, aku tidak punya."
Ken berhenti mencari tahu soal sesuatu yang terasa perih di lehernya.
"Huuff, ya sudahlah. Mari kita pulang," Ken memutar kunci dan segera menyalakan mobilnya.
••••••
Sekembalinya perjalanan dari panti, Ken langsung memeluk Suzy dari belakang.
"E eh? Ada apa ini?" tanya Suzy terkejut.
"Di luar terasa amat dingin, bolehkah aku memelukmu sebentar?"
Suzy tersenyum, "Memangnya kau tidak membawa mantel hangatmu?"
"Hmm, iya. Aku lupa membawanya."
"Benarkah?"
"Kau tak percaya? Mantel hangatku ada di sini. Dia sedang mencuci peralatan. Hmm. Sebenarnya aku bertanya-tanya, kapan ia akan menyelesaikan pekerjaannya. Setelah seharian berada di luar, sepertinya malam ini aku butuh kehangatan darinya."
Mendengar ucapan konyol dari mulut suaminya, Suzy segera berbalik. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum malu-malunya.
"Dasar genit.." ungkapnya.
"Emmm,, apa menurutmu seperti itu?" Ken mencoba bermanja-manjaan dengan istrinya dengan terus memeluk dan mencoba mencium pipinya.
"Apa sih? Malu ah!" Suzy melirik anak-anak yang memperhatikan mereka berdua.
Dari kejauhan, Keiko juga ikut memperhatikan seniornya. Seraya bola matanya terus bergerak-gerak melirik pada pasangan suami istri itu, ia berpura-pura mengaduk panci yang berisi kuah sup dan menuangnya beberapa ke dalam mangkok.
"Manis sekali,,,, Aku jadi iri. Seandainya aku yang menjadi nona Suzy, aku pasti akan segera mengajak senior untuk bercinta semalaman suntuk."
Lagi-lagi Keiko bicara dalam hati dan berandai-andai.
"Hey! Itu sudah penuh! Apa kau melamun??!" teriak Gorou dan berlari mendekati Keiko.
Keiko yang menyadari dirinya melamun segera memfokuskan pikirannya kembali.
"Eh? I iya."
Gorou menjitak kepala Keiko, "Ck, Ck, ck. Lihat ini. Siapa yang melamun disaat menuang kuah sup? Memangnya apa yang sedang kau pikirkan, hmm?"
"Tidak. Tidak ada."
Keiko meninggalkan Gorou yang semakin penasaran. Namun, pemuda yang penasaran itu langsung mengejarnya.
"Hey! Ngomong-ngomong, ke mana kau siang ini? Restoran ramai sekali. Kau tak nampak sama sekali," Gorou memperhatikan Keiko.
"Bukan urusanmu," jawab Keiko ketus.
Begitu Keiko pergi menghindari dirinya, Gorou bergumam pelan, "Ada apa dengannya? Kenapa dia marah saat kutanya soal itu?"
Seraya menelengkan kepalanya, Gorou melanjutkan pekerjaannya. Sesekali ia memandangi kedua bosnya dan ikut tersenyum merasakan aura positif yang menyebar.
•••••••
Sementara itu di lain tempat, Linzie tengah gemetaran ketika suaminya, Yoshi datang. Pria temperamental itu baru selesai menghadiri rapat di kantornya.
Sebagai wanita yang menikahi Yoshi berdasarkan uang dan kekayaan, Linzie menyadari bahwa pilihannya benar-benar keliru. Sebab, setiap Yoshi mengalami masalah di kantor, suaminya itu justru melimpahkan kekesalan kepadanya.
Sudah berapa kali Linzie menerima pukulan dan penganiayaan dari suaminya. Dari yang ringan sampai yang terberat. Kerap pula, Yoshi menyakiti dirinya ketika mereka hendak melakukan hubungan suami istri.
Bahkan pria itu tega melontarkan kata-kata kasarnya seraya mencambuk tubuh Linzie dengan ikat pinggang yang terbuat dari kulit buaya tanpa sedikitpun rasa sesal.
Kini Linzie hanya bisa menyesali keputusannya yang telah menyakiti dan meninggalkan seseorang yang tulus seperti Kenzhi.
"Ambilkan bir untukku!" perintah Yoshi sambil melepas dasinya.
Linzie mengangguk dan bergegas mengambil sebuah botol bir dari rak simpanan di ruang tersebut.
"Haiss!! Kau tahu anak sialan itu? Hari ini, ayah tirinya meresmikan hak atas dirinya sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan. Ini tidak bisa dibiarkan!!" Yoshi mengamuk dan benar-benar emosi.
"M maksudmu,,, Kenzhi?" Linzie bertanya sambil gugup karena benda-benda yang melayang di dekat kepalanya.
"Siapa lagi anak sialan yang berani menghalangi jalanku?!" Yoshi menggebrak meja.
Linzie maju ke dekat meja lalu menuangkan bir ke dalam gelas bertangkai dengan gemetaran. Ia benar-benar takut jika bertemu suaminya dalam situasi seperti itu.
Meski ia tinggal bersama kedua mertuanya, namun ia tidak bisa memberitahu mereka apa yang ia hadapi. Sebab, Yoshi pernah mengancam Linzie dengan kematian seandainya ia berani melawan ataupun mengadukan semua hal buruk tentang dirinya.
"Tapi, bukankah dia tidak pernah mengganggu hidupmu?" ucap Linzie secara tidak langsung.
Yoshi mendelik dan menoleh pada Linzie. Matanya merah dipenuhi kebencian. Perkataan Linzie barusan rupanya sangat mengganggunya.
Tiba-tiba saja Yoshi mendekati Linzie dan langsung mencengkeram rahang istrinya tersebut.
"Apa maksudmu dengan "dia tidak pernah mengganggu hidupku"?"
"Aa'akkghh! M maksudku,, bukankah dia tidak pernah muncul dengan sengaja di hadapanmu?"
"Selama si brengsek itu masih ada di dunia, selama itu pula keberadaannya terus mengganggu dan meresahkanku. Kau paham itu?!" cengkeraman yang dilakukan Yoshi semakin kuat.
Dengan kasar ia mendorong Linzie hingga jatuh ke lantai. Sambil berkacak pinggang, ia berjalan mondar mandir.
Diwaktu itu, pintu ruangan tempat mereka bicara diketuk. Pelayan di depan mengatakan bahwa petugas Rai datang untuk menghadap.
"Masuklah!" jawab Yoshi.
Akhirnya manusia yang bernama Rai pun masuk. Pakaiannya serba hitam lengkap dengan topinya. Sebuah kamera DSLR merek Canon tampak menggantung di lehernya.
"Aku berhasil mendapatkannya, bos."
"Benarkah? Kerja bagus," Yoshi menyeringai lebar lalu menoleh pada Linzie dan melambaikan tangannya agar wanita itu pergi dari ruangan.
Jika sudah seperti itu, Linzie pun bergegas keluar karena suaminya akan melakukan pembicaraan rahasia dengan Rai, kaki tangannya.
Karena kali ini gerak-gerik Yoshi sedikit mencurigakan, Linzie berdiri di depan pintu lalu menempelkan telinganya rapat-rapat pada daun pintunya dan mencoba mendengarkan percakapan keduanya.
"Sepertinya, rencana bos bisa dilaksanakan segera. Saat aku mengikutinya siang ini, seorang gadis masuk ke dalam perangkap. Gadis itu menciumnya diam-diam saat dia tidur," lapor Rai sambil menunjukkan hasil jepretannya siang tadi.
Yoshi menerima beberapa lembar foto yang diambil Rai di depan panti asuhan Takaoka. Foto saat Ken dan Keiko sedang bersama.
Astaga, kira-kira apa yang akan mereka lakukan!
"Ck, Ck, Ck. Umpan yang sempurna. Sepertinya Tuhan sedang memihak kepadaku. Hahaha! Rupanya ada aroma cinta terlarang," Yoshi menggosokkan kedua telapak tangannya.
"Kalau begitu, apa yang harus kulakukan selanjutnya?"
"Bunuh dia dan lakukan rekayasa. Buat seolah si brengsek itu baru saja melakukan perkosaan padanya."
Rai mengangguk setengah badan.
DEG!
Linzie terkejut mendengar perintah suaminya pada Rai. Perintah pembunuhan dan itu menyangkut Kenzhi!
Mendengar langkah kaki mendekati pintu, dengan cepat Linzie menyingkir dari tempatnya berdiri agar tidak ketahuan menguping pembicaraan mereka.
••••••
Di rumah Suzy, Ken sedang memijit kaki istrinya di atas tempat tidur. Ia juga membuatkan segelas susu untuk Suzy.
"Bagaimana kehamilanmu?"
"Baik-baik saja."
"Syukurlah. Hai sayang, apa kau mau ayah bacakan cerita?" ucap Ken sambil menempelkan telinganya di perut sang istri. Lalu ia juga bicara seraya mengusap perut Suzy dengan lembut.
Suzy tersenyum senang. Ia pun membelai rambut Ken.
"Apa? Kau tidak sabar mendengarnya? Baiklah baiklah, ayah akan bacakan cerita untukmu," Ken berdiri dan mengambil buku cerita dari laci.
Dengan semangat tinggi, Ken naik kembali ke atas ranjang dan duduk di samping Suzy.
"Dengar baik-baik ya, ayah akan mulai bercerita," Ken bicara lagi pada bayi dalam kandungan istrinya.
Perlahan, Ken merebahkan tubuhnya dan tidur di pangkuan Suzy. Rupanya ia ingin lebih dekat dengan buah hatinya. Kemudian, mulailah ia bercerita tentang prajurit tusuk gigi.
"Alkisah, ada seorang putri yang mempunyai kebiasaan buruk. Dia suka membuang tusuk gigi bekas pakai sembarangan. Lantai kamarnya pun penuh dengan tusuk gigi," tangan kanan Ken membelai perut Suzy.
"Suatu malam, sang putri terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara berisik. Suara itu seperti orang sedang berteriak dan beradu pedang. Dan kejadian itu berlangsung selama berhari-hari," lanjutnya.
Suzy tersenyum-senyum mengamati cara Ken bercerita. Benar-benar seperti sedang bicara pada bayi mereka.
"Lalu sang putri mengadu pada ayahnya yang seorang raja soal suara berisik di kamarnya. Akhirnya, malam itu raja pun menemani sang putri tidur di kamarnya. Tapi ia tidak mendengar suara seperti yang putrinya katakan. Ia hanya melihat tusuk gigi berserakan di lantai kamar."
Ken menatap Suzy sebentar, kemudian mengusap pipinya sambil tersenyum. Lalu ia melanjutkan kembali bercerita.
"Sang raja pun memberi perintah pada putrinya untuk membuang semua tusuk gigi yang mengotori kamarnya. Putriku, sampah tusuk gigi itulah yang mengganggu tidurmu, coba kau bersihkan kamarmu dari tusuk gigi itu maka kau akan mendapatkan kembali tidur nyenyakmu."
Ken menyuarakan suara seorang raja yang bijaksana dan suara putrinya dengan amat lucu.
"Putri pun malu mendengar perkataan ayahnya yang benar. Lalu keesokan harinya, sang putri berkata : Benar, ayah. Setelah aku membuang semua tusuk gigi itu, aku dapatkan kembali tidur nyenyakku."
"Jadi, pelajaran yang dapat diambil dari cerita ini adalah, kau harus rajin menjaga kebersihan kamarmu. Supaya tidur nyenyak tanpa mimpi buruk. Apa kau mengerti, sayang?" Ken mengakhiri ceritanya dan lanjut mencium perut Suzy.
"Hmm. Baiklah ayah, aku akan mendengar nasehatmu," Suzy memberi jawaban mewakili bayinya.
"Apakah bayi kita benar-benar bisa mendengar?" tanya Ken bersemangat.
Suzy mengangguk beberapa kali. Lalu mengusap perutnya sendiri, "Bagaimana?Ayahmu pandai mendongeng kan, sayang?" ucap Suzy pada bayinya.
Saat itu, mereka merasa amat bahagia. Lewat bayi yang ada dalam kandungan, keduanya merasakan jalinan cinta yang tulus dari masing-masing.
Tanpa dinyana, nasib buruk akan datang menguji kesetiaan di antara mereka.
Bersambung......