
Hay pembaca setia,,
makasih banget dong udah nongkrongin Ringu Enshu' sampai bab 105 ini,,,
Jangan lupa tinggalkan Likenya, komen maupun vote, vote, vote,,,❤️
...----------------...
EPISODE 105
SRAK
Motor Ken menghadang laju mobil Arai secara mendadak. Dengan begitu, ia bisa mencegah niat Arai untuk membawa Yuna pergi.
"Turun!"
Arai mendelik karena kesal dengan tindakan Ken yang seenaknya jidat mencegat laju mobilnya. Maka dia pun keluar dari dalam mobil.
"Kau sedang apa sih? Kenapa ikut campur urusanku dengan Yuna?!!"
"Lepaskan dia. Apa kau tidak bisa menghargai keputusannya? Dia mengatakan ingin tinggal di rumah lamanya. Bukankah itu sudah jelas?" Ken menyilangkan kedua tangannya.
"Lalu, siapa kau ikut campur urusan itu?"
"Aku? Bukan urusanmu," Ken meraih tangan Yuna dan menariknya.
"Tunggu dulu. Aku tidak bisa membiarkanmu membawanya," Arai menarik kembali tangan Yuna.
"Dia akan ikut denganku," kata Ken.
Arai menatap tajam mata Ken. Baru kali ini ia menghadapi pria tangguh dan keras kepala yang mengganggu dan menginginkan kekasihnya.
"Tidak!"
Arai membawa Yuna lari, namun Ken merebutnya, "Maaf nona. Aku sudah bertekad untuk membawanya pulang. Jadi aku tidak akan menyerah atau berhenti begitu saja di sini."
"Assshh! Banyak bicara kau!! Bawa dia pergi!" setelah bicara pada Ken, Arai memberi perintah pada pengawalnya.
"Baik!!"
Melihat Yuna dibawa pergi dua pengawal, Ken bermaksud mengejarnya. Namun Arai meraih pundak kanannya dengan tangan kirinya kemudian dilayangkannya pula sebuah tinju ke muka Ken.
Wuuuzzz
Ken mengelak serangan dan berusaha mengejar Yuna kembali. Akan tetapi, Arai terus mencoba memukulnya. Tangan kanan, tangan kiri, kaki, semuanya maju menyerang.
"Hahaha, kau tidak akan bisa mendapatkan Yuna. Dia sudah ditakdirkan untuk tetap bersamaku!" Arai menyombongkan diri.
Sebagai wanita yang berperan aktif sebagai lelaki, Arai rupanya tidak main-main. Bisa diakui bahwa ia cukup tangguh dalam berkelahi. Ditambah dengan ukuran badan yang kecil, membuat gerakannya seperti belut. Licin dan sulit ditangkap.
Duel di antara mereka belum juga berakhir meski sudah tiga puluh menit berlalu. Bahkan Arai menyeret perkelahian itu menuju taman bermain yang ada di dekat lokasi mereka.
Ketika awalnya Ken memandang Arai sebagai seorang wanita, kini ia tidak bisa lagi meremehkannya dan bermain-main.
Entah itu wanita atau pria, ia harus bisa mengakhiri pertarungan ini. Begitu pikir Ken.
Ketika perkelahian mereka berputar di area taman bermain, Arai mengeluarkan sebuah kunai dari balik sepatunya. Ia mengayunkan kunainya tersebut untuk melukai tubuh Ken.
CRAS
CRAS
CRAS
Benda runcing itu berhasil melukai pinggang, lengan dan dada Ken. Karena mendapat luka sayatan di beberapa tempat, Ken sedikit oleng.
"Rupanya sampai di situ saja kemampuanmu?" kata Arai.
"Puih! Apa kau meremehkanku? Cepat selesaikan pertarungan ini dan lepaskan Yuna," Ken meludah.
"Tidak perlu marah-marah, pengawalku akan menjaga Yuna dengan baik selama kita menyelesaikan pertarungan," Arai bicara sambil ngos-ngosan.
Ketika Ken memeriksa lukanya barang sedetik, Arai melompat ke tubuh Ken dan memutar posisi menjadi seperti sedang digendong oleh Ken. Dengan tangan kiri yang mencekik leher, Arai berusaha menancapkan kunai miliknya ke leher Ken dengan tangan kanan.
GYUUTT
Leher itu pun perlahan tertancap ujung kunai dan mengeluarkan darah.
Karena merasakan sakit, Ken mencoba membanting tubuh Arai ke prosotan dan besi halang rintang untuk melepaskan diri dari cekikan. Namun tetap saja, wanita itu menempel padanya seperti seekor lintah.
Pada saat Ken menjungkir balikkan bada Arai ke arah depan, barulah wanita itu jatuh terjungkal. Namun siapa sangka, Arai bangkit lagi dengan cepat dan berusaha menyerangnya kembali.
Tanpa berbelas kasih, Ken yang sebenarnya sedang mengambil nafas setelah cukup lama tercekik itu pun menendang wanita itu hingga jatuh tersungkur. Sepertinya Ken menendang kuat perut bawah wanita itu.
KRUSUUKKK
Arai pun jatuh ke tanah dan mendapat luka di wajahnya akibat gesekan dengan tanah berkerikil.
"Berhentilah dan beritahu aku, ke mana kau membawa Yuna."
"Jangan harap. Aku akan membawanya pergi ke luar negeri agar kau tak bisa menganggu pacarku lagi!"
"Sadarlah, nona. Kau juga perempuan. Dia lebih layak jadi saudaramu alih-alih kekasih," seru Ken.
"Tidak usah menasehatiku. Urus saja putramu itu daripada Yuna kekasihku!" Arai mulai merasakan nyeri luar biasa pada perutnya.
DEG
Ken terperangah, "Dari mana kau tahu tentang putraku?"
"Tentu saja aku tahu semua. Aku tidak akan macam-macam padanya jika kau menyerah saja pada urusan ini."
"Apa yang kau lakukan padanya?" suara Ken bergetar.
"Emmm.. Tidak ada. Hanya membawanya jalan-jalan sebentar??" Arai terkekeh mencoba mempermainkan perasaan Ken.
Pada waktu Ken sedang lengah seperti itu, Arai melempar segenggam tanah berpasir yang ada di area taman bermain itu ke arah mata Ken.
SPLASSHH!
Spontan saja Ken mundur beberapa langkah sambil menutupi mukanya. Dikerjapkannya kedua matanya secara terus menerus, untuk mengeluarkan pasir yang menghalangi pandangannya.
Mendapat kesempatan emas seperti itu, Arai melompat, menubruk dan berusaha menancapkan kunai tersebut ke bola mata Ken.
"Sekarang habislah kau!" seru Arai merasa akan menang.
Meski kini kedua matanya bengkak dan merah, Ken berusaha menggunakan instingnya. Tepat sebelum ujung kunai itu menyentuh bola matanya, Ken berhasil membalikkan posisi badan Arai dan menindihnya.
Karena Arai berani mengguncang dan mempermainkan perasaannya, maka dicekiknya leher wanita itu kuat-kuat hingga kesulitan bernafas. Bahkan Ken menekannya beberapa kali tanpa ampun.
"Sekarang katakan padaku, di mana kau membawa pergi Yuna dan Suya!"
"T tidak aakkkan..." Arai meronta berusaha melepaskan diri dari tekanan tubuh Ken.
"Jangan keras kepala!!" Ken mengencangkan cekikannya.
"Aaa'aaa aaahh..." suara Arai benar-benar mendekati kematian.
Tiba-tiba saja terdengar panggilan yang akrab di telinganya dari arah belakang.
"Ken!!" Yuna memanggil Ken dan berlari menghampirinya.
Mendengar suara Yuna, Ken sedikit lega. Ia melepaskan cekikan pada leher Arai secara perlahan. Sedangkan wanita yang hampir mati di tangan Ken itu pun lemas tak berdaya.
Dalam hati ia merasa bersyukur saat Yuna datang. Sebab panggilan wanita itu membuat Ken menyingkirkan tangannya.
Yuna berlari menghampiri Ken dan terkejut dengan kondisi mata pria itu yang bengkak dan merah.
"A ada apa dengan matamu?!!" pekik Yuna seraya memegangi kedua pipi Ken.
Bola matanya bergetar karena melihat kondisi Ken yang seperti itu.
"Apa yang kau lakukan padanya? Katakan padaku!!" lanjut Yuna seraya mengguncang-guncang kerah baju Arai dengan sangat marah.
"Oh, Ken. Matamu....." Yuna kembali menyentuh pipi pria yang menghadap padanya namun pandangan matanya entah ke mana.
Menanggapi tangisan Yuna, Ken hanya membuka mulut dan bernafas lega mendengar suara wanita itu.
"Ayo cepat kita ke rumah sakit, kau harus memeriksakan matamu!!" Yuna panik.
Ken tidak mau beranjak dari atas tubuh Arai. Setelah Arai berkata seperti tadi, ia masih merasa cemas dengan keberadaan Suya.
"Pu putraku. Katakan di mana dia?" Ken meminta Arai memberitahu keberadaan Suya.
Arai mendesah dan menjawab dengan suara getir dan serak, "Aku tidak tahu. Sebenarnya, tadi aku hanya menggertakmu saja."
"Jangan bohong!"
"Aku tidak bohong."
Ken meraih ponsel yang ada di saku bajunya, "A aku tidak jelas melihat tulisannya. T tolong hubungi ayah mertuaku."
Ia meminta tolong pada Yuna untuk menghubungi kakek Hiro.
"Iya. Baiklah."
Ketika akhirnya Yuna berhasil menghubungi ayah mertua Ken, diulurkannya ponsel tersebut pada Ken.
"A ayah, di mana Suya?" tanya Ken dengan cemas.
"Suya? Dia sedang merapikan mie instan di rak. Ada apa memangnya? Apa kau mau bicara dengannya?"
"B benarkah?
"Ya. Ayah sedang memandanginya sekarang," jawab kakek Hiro santai tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi.
"Baiklah, ayah. Tolong jaga dia baik-baik. Kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya. Nanti aku akan meneleponmu lagi," kata Ken gemetaran.
Setelah perkelahian itu, Arai menyatakan menyerah. Ia benar-benar tidak sanggup mengalahkan pria seperti Ken.
Lagi pula, sebenarnya dia juga mendapat teman kencan baru. Jadi jika harus berpisah dengan Yuna, tidak terlalu rugi untuknya.
"Lain kali, aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini lagi."
"Aku tahu."
"Jadi berhentilah."
"Iya. Baiklah.
Karena keduanya memilih berdamai, Yuna membawa Ken ke rumah sakit untuk memeriksakan matanya. Ichigo dan Kurosaki pun datang setelah diberitahu oleh Yuna.
Setelah melakukan pembersihan dan beberapa perawatan untuk membuang pasir dan kotoran yang masuk pada matanya, Ken dibiarkan beristirahat terlebih dahulu. Kedua matanya pun ditutup perban.
Untungnya, mata Ken tidak harus mengalami kebutaan. Dokter masih bisa menyelamatkan kedua matanya tersebut sebab kotoran yang masuk tidak sampai melukai korneanya.
"Syukurlah," Yuna menangis haru. Ia merasa bersalah karena semua terjadi akibat dirinya.
"Syukurlah Tuhan...." Ichigo merasa lega.
Kurosaki menunduk sambil memainkan sepatunya. Ia menyadari satu hal dari peristiwa ini.
Bahwa Ken memang pantas mendapatkan perhatian dari Yuna sebab pengorbanan kawannya itu juga tidak sebatas main-main. Bahkan pengorbanan itu menyangkut urusan nyawa. Yang tidak semua orang mau melakukannya.
Seperti dirinya. Yang sebelumnya berharap bisa dekat dengan Yuna namun belum pernah melakukan pengorbanan apapun untuk menarik perhatiannya.
.
.
.
.
BERSAMBUNG KE EPISODE 106