RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
TRAGEDI DI RUMAH SUZY



Episode 15


Ken mengantar Suzy pulang sambil berbincang sebelum sampai di rumah.


"Sebenarnya, sedang apa kau ada di sana?"


"Aku? Aku baru saja mengantar pesanan belanja seseorang. Saat melewati taman kota, aku melihatmu. Jadi aku berniat mengagetkanmu," jawab Suzy jujur.


"Tapi, karena kecerobohanmu, aku jadi tidak sengaja mengencingimu, kan? Kalau begitu, maafkan aku," kata Ken benar-benar merasa tidak enak.


"Iya. Untung saja kencingmu itu disebabkan karena minum soda terlalu banyak. Jadi, bau pesingnya juga tidak terlalu pekat," Suzy berterus terang sambil mengibaskan pakaian dan menutup hidungnya.


Ken menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil mengalihkan pandangannya ke kiri karena benar-benar malu. Ia tidak menyangka, harga dirinya jatuh di depan Suzy gara-gara air seni. Tiba-tiba saja Suzy berhenti melangkah dan mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Ken bingung dalam memberi jawaban.


"Apa itu tato?"


"Apa?" Ken gelagapan.


"Sekilas tadi, aku melihat sebuah gambar seperti kepala naga. Apa itu...."


"Aah. Aku rasa kau hanya salah lihat," Ken menjawab sambil tertawa.


Ia benar-benar tidak menyangka. Ada seorang gadis yang telah melihat gambar naga itu di waktu sedini ini. Ia pikir, ia akan membutuhkan waktu lama untuk memperlihatkannya pada seorang wanita. Seorang yang akan menjadi istrinya kelak. Itu pun jika ia menikah.


Suzy memperhatikan ekspresi Ken. Ia pikir bahwa dalam waktu singkat tadi, ia tidak mungkin salah lihat. Tapi bisa jadi itu juga rahasia Ken. Mengapa ia lancang bertanya padanya? Ah, seharusnya ia tidak perlu membahas soal tato naga itu. Bukankah gambar itu juga berada di tempat yang tidak mudah terlihat oleh sembarang orang?


"Aah,, bodoh, bodoh, bodoh!!"


Suzy memukul bibirnya lumayan keras sehingga terdengar oleh Ken.


"Ada apa?" Ken melirik.


"Eh? Tidak apa-apa kok, hehehe," jawab Suzy mengibaskan tangannya berulang kali.


•••••••


Setelah berjalan beberapa meter, akhirnya mereka sampai juga di rumah Suzy. Rumah yang ternyata berada tak jauh dari toserba yang dikelola oleh Akiyama.


Baru saja mereka sampai di depan halaman rumahnya, terdengar dari dalam suara teriakan ibu Suzy minta tolong. Rupanya, ada dua orang rampok yang tengah merampok rumah mereka.


"Sepertinya ribut sekali, ada apa?" Suzy bergumam heran.


Dan tepat saat Ken dan Suzy berlari mendekat untuk mencari tahu, salah satu perampok itu keluar dari rumah dengan tas berisi uang tunai milik ibunya Suzy. Uang tersebut baru saja diambil dari toserba dan hendak disimpan ke bank.


Perampok berikutnya muncul membawa pisau tajam di tangannya. Begitu melihat Ken yang mencoba menghadangnya, perampok itu menyabetkan pisau yang ada di genggaman tangannya ke lengan Ken.


CRASS!


Lengan Ken yang terluka dengan sayatan yang cukup parah dan mengeluarkan darah itu pun menjadi lemas seketika. Perampok yang membawa pisau itu tersenyum dan berniat menyerangnya kembali.


"Cepat periksa keadaan ibumu. Utamakan keselamatanya terlebih dahulu," perintah Ken pada Suzy.


"Tapi,,,,"


"Jangan pedulikan aku. Cepat pergi dan telepon polisi jika perlu."


Suzy berlari mendapatkan ibunya yang rupanya juga terluka akibat sabetan pisau. Untung saja pisau yang menyabetnya hanya menyerempet perut sebelah kirinya. Tetapi meski begitu, Suzy tetap khawatir saat melihat ibunya terluka. Maka diteleponnya rumah sakit agar membawa ambulance datang ke alamat rumahnya.


Sementara itu, dua perampok yang ada di depan, menghadang Ken yang berusaha menghadapi mereka seorang diri.


Mereka begitu percaya diri akan menghabisi Ken dengan mudah. Maka, dimulailah pertarungan antara ketiganya.


HIAT


HIAT


HIAT


Ken beberapa kali mengelak sabetan senjata tajam yang ada di genggaman salah satu perampok. Kemudian salah satu lainnya menendangnya dari belakang dan membuatnya jatuh menimpa gentong berisi sake yang masih setengah jadi dan belum melewati masa penyulingan.


PRAANGG!!


Ken tersungkur dan basah kuyup oleh sake. Pecahan gentongnya pun berserakan karenanya. Mendengar itu, Suzy berlari keluar untuk melihat. Pada saat yang sama, seorang perampok menendang kuat kepala Ken dan seorang lainnya menginjak punggung dan bersiap menancapkan pisau ke arah Ken.


"Ken!!" Suzy khawatir.


Melihat sake dari fermentasi beras lezat seperti itu tersisa sedikit di cekungan pecahan gentong, Ken tidak mau membuang kesempatan. Diseruputnya sake tersebut sebelum akhirnya ia menendang perampok yang menginjaknya.


Ia berbalik memutar tubuhnya dalam posisi berbaring. Kemudian menendang tubuh perampok yang membawa pisau hingga terpelanting menabrak pagar.


Begitu ia bangun, Ken memijit kepalanya yang sakit dan kembali meraih sake yang masih tersisa di pecahan gentong. Meski minum sedikit, sake tersebut benar-benar memabukkan karena proses fermentasinya sedang berjalan. Sambil mabuk, Ken bahkan mengajak dua perampok itu minum bersamanya.


"Hey, tidak sopan jika aku minum sendiri. Jika kalian mau, mari minumlah bersamaku," kata Ken mulai mabuk.


"Dasar gila! Ayo habisi dia sekarang," kata perampok yang memegang pisau pada yang lainnya.


Mendengar temannya meminta untuk menghabisi pemuda itu, perampok yang membawa tas itu pun segera mengambil kapak yang menancap di sebuah batang kayu yang ada di halaman rumah Suzy.


SRATS


SRATS


Pecahan gentong itu melukai leher dan dada perampok. Seketika darah mereka keluar dan mengalir membasahi baju. Bercampur dengan keringat. Sambil mengelap darah di lehernya, seorang perampok menatap Ken penuh emosi.


Ia memprovokasi temannya agar tidak menyerah. Bahkan mereka semakin berambisi untuk menghabisi pemuda kurang ajar yang menghalangi jalan kabur mereka.


Begitu pisau disabetkan padanya, Ken menunduk, melompat dan mengunci leher perampok pembawa kapak yang ada di belakangnya. Jika dilihat dari jauh, pisisinya persis seperti sebuah parasit yang menempel di leher. Lucunya, kepala perampok itu terjepit tepat menghadap ke arah anunya.


"Hey! Adu duh... lepaskan kepalaku... celanamu pesing sekali. Aku tidak kuat menghirup aromanya," pekik perampok sambil terbatuk-batuk.


Ken tersenyum menyeringai khas orang yang mabuk. Samar-samar ia teringat bahwa kebetulan sekali, celananya sempat basah akibat cipratan air seni. Bukannya melepas kuncian pada kakinya, ia justru mendekapnya semakin kencang.


Bahkan ia menekan-nekan kepala perampok tersebut ke bagian anunya yang beraroma pesing. Ia pikir, ada gunanya juga tragedi air seni dari senjata tersembunyinya.


"Aaahh! Rasakan serangan istimewa dariku," Ken menekan kepala perampok lebih erat ke bagian anunya sambil mendongakkan kepala seakan menikmati sensasi rasa yang tercipta.


"Hhmmphmphmphhhmmmpp," suara perampok yang dibekap.


Tangannya pun menggapai-gapai dan menepuk-nepuk kaki Ken, berusaha menyingkirkan kepalanya dari bekapan yang mematikan tersebut. Perampok yang semula dapat berdiri meski Ken berada dalam gendongannya itu pun kehilangan keseimbangan. Ia merasa mual, pusing dan akhirnya jatuh bersamaan dengan Ken yang tetap mengunci kepalanya.


Pada awalnya, Ken tidak berniat untuk membunuh. Tetapi begitu perampok pembawa pisau yang berdiri di belakang menyerangnya dan tiba-tiba saja menusuk punggungnya sebanyak tiga kali, Ken menjadi marah. Ia bangkit dan mencoba berdiri tegak.


"Sialan kau....." Ken berkata sambil kesakitan.


Darah dari luka tusukan di punggungnya itu pun mengalir deras dan menetes ke tanah. Ken mengambil nafas karena luka di punggungnya membuatnya nyeri.


TES


TES


"Oh, ya Tuhan!!!" pekik Suzy melihat punggung Ken saat ditusuk sebanyak tiga kali.


Suzy yang kini memapah ibunya berdiri bersamanya, melihat pertarungan itu pun semakin khawatir. Ia terus saja berteriak pada Ken agar berhati-hati. Mendengar teriakan Suzy, perampok pembawa pisau menoleh ke arahnya dan menarik Suzy sebagai sandera.


Tentu saja Suzy dan ibunya menjerit-jerit ketakutan.


"Kau, diamlah di sana! Jika tidak ingin wanita ini mati di tanganku!" kata perampok itu menekankan pisau ke leher Suzy.


Ken berhenti sejenak. Ia memikirkan situasi yang bisa saja terjadi. Sambil tetap berpikir mencari cara untuk menyelamatkan Suzy, ia berusaha menahan diri.


Siapa sangka? Perampok pembawa kapak menyerangnya dari belakang dan menancapkan kapak ke punggung kanannya. Oh astaga! Rasa sakitnya sungguh menyiksa hingga tangan kanan Ken terkulai lemas.


"Sshh aaahhh!!" suara desah Ken.


Begitu perampok pembawa kapak itu menyerangnya sekali lagi, Ken melompat kayang, memutar dan menendangnya hingga terperosok ke tumpukan kayu bakar. Di lain pihak, perampok pembawa tas dan pisau berlari mendekati pintu pagar sambil tetap membawa Suzy. Ia berusaha kabur dengan aman meninggalkan kawannya.


Ken segera menjambak kuat rambut sang perampok dan mendorong Suzy ke sisi aman. Namun rupanya Suzy pingsan karena terbentur dinding cukup keras saat Ken mendorongnya tadi.


•••••••


Ketika rasa pusing, mual dan ingin muntahnya hilang, perampok yang membawa kapak segera berdiri. Ia kembali menyerang Ken dengan penuh dendam karena merasa bahwa pemuda itu sangat kurang ajar karena berani membekapnya dengan tonjolan anu yang pesing.


Ken langsung menangkap dan mencekal pergelangan tangan pria itu dan mematahkannya. Dengan cepat pula, ia meraih kapak yang ada di tangannya. Kemudian ia menyikut kencang perut si pria perampok tersebut hingga kembali jatuh ke belakang.


Pada saat bersamaan, perampok pemegang pisau menyerangnya kembali. Ken segera memutar kapak di tangannya dan mengayunkannya ke dada perampok tersebut.


CRASS!!


Perampok itu berdiri mematung. Kemudian tiba-tiba saja terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Rupanya serangan kapak darinya membuat luka sayat yang cukup dalam pada dada dan perut perampok pembawa pisau. Hingga akhirnya jatuhlah pria itu bersama pisau di tangannya.


Hosh... Hosh...


Ken menghampiri pria pisau yang kini tergeletak di tanah. Disentuhnya kepala perampok itu dengan sepatunya. Rupanya sudah tewas.


Setelah selesai dengan pria pisau, Ken mendekati pria kapak yang jatuh di tanah. Didudukinya perut pria itu, kemudian menampar dan mencekiknya.


"Lain kali, jika bertemu denganku, sebaiknya bersembunyilah. Itu pun kalau kau tidak ingin bernasib sama seperti kawanmu," Ken mengancam.


"Ampuni aku! Tolong,,, jangan bunuh aku," kata perampok yang tersisa sambil menggosokkan kedua telapak tangannya memohon ampunan pada Ken.


Pada saat yang tepat, beberapa warga yang mendengar kegaduhan datang bersamaan dengan mobil ambulance. Mereka melihat Ken sedang memegang kapak dengan tangan kanannya yang lemas.


Akiyama juga pulang karena mendengar suara orang ramai berkumpul di depan rumahnya. Begitu ia masuk, dilihatnya Ken telah bersimbah darah akibat luka di punggungnya, lalu seorang yang mati tergeletak di tanah dipenuhi darah, kemudian Suzy pingsan di dekat dinding, lalu ibunya yang terduduk di tengah pintu karena syok.


Akiyama bertanya-tanya. Ada apa gerangan?


Begitu orang ramai melihat kekacauan di rumah keluarga tersebut. Dan seseorang tewas dengan keadaan berdarah-darah. Akhirnya, polisi datang setelah mendapat laporan dari seorang warga. Ken dan perampok di bawa ke kantor polisi untuk melakukan penyidikan lebih lanjut.


Apa yang akan terjadi?


Akankah Kenzhi ditahan akibat membunuh perampok?


Jangan lupa baca episode 16 🤗❤️