
EPISODE 81
Dua hari kemudian, Ken mendapat surat dari rumah sakit. Surat tersebut menyatakan bahwa kondisi hati atau livernya sehat, sesuai dengan syarat untuk menjadi pendonor.
Hanya saja, ada sedikit resiko dalam menjalani operasi pencangkokan hatinya. Ken didiagnosa mempunyai reaksi alergi pada suntikan anestesi.
Satu kali saja suntikan anestesi, dikhawatirkan dapat bereaksi berlebihan pada tubuhnya. Selain bisa mengejang kapan saja, suntikan itu juga dapat menyebabkan kematian yang tak terduga.
Ken diminta menelepon rumah sakit jika ingin menolak atau tetap bersedia melanjutkan operasi tersebut.
"Aku akan melakukannya," bagitu kata Ken pada dokter yang menangani Suzy saat bicara di telepon.
"Apa kau yakin betul? Jika tubuhmu bereaksi pada suntikan anestesi, kau bisa kehilangan kesempatan untuk hidup."
"Aku akan melakukan itu. Jika itu bisa membuat wanita yang ku cintai hidup normal kembali, apapun akan ku lakukan. Tidak peduli setelah itu aku hidup atau mati. Keselamatan Suzy adalah yang paling utama."
Dokter tertegun dan hanya bisa diam.
"Baiklah, sampai bertemu lagi. Jangan lupa, mulai besok kau tidak boleh makan ataupun minum agar operasimu lancar," dokter itu menutup telepon.
"Hhmm."
Ken duduk di pojokan ruang selnya. Dengan punggung bersandar di dinding dan kaki kanan ditekuk, ia membuka kembali surat yang ia terima pagi ini.
Dalam surat tersebut, dokter juga memberitahukan bahwa dalam dua hari lagi, ia akan menjalani operasi pencangkokan donor hati. Maka, selama dua hari itu pula ia diminta meminum obat yang datang bersamaan dengan surat dari rumah sakit.
"Surat apa itu sebenarnya?" tanya Kazuki saat hendak meletakkan barang di rak atas.
"Lusa, aku akan menjalani operasi pencangkokan hati."
"Apa? Cangkok hati?" Kazuki hampir saja jatuh karena terkejut.
Dengan tergesa-gesa Kazuki mendekati Ken. Ia ingin tahu, untuk apa kawannya itu melakukan operasi berbahaya semacam itu.
"Kenapa? Apa kau sakit?"
"Tidak. Aku yang akan mendonorkan hatiku," jawab Ken tenang.
"Kau? Untuk siapa? Apa kau tahu donor organ tubuh itu sangat beresiko??"
"Istriku. Dia membutuhkannya. Jadi, apapun resikonya, aku tidak akan berhenti begitu saja."
Hempp!
Kazuki menutup mulutnya rapat-rapat. Kini ia mengerti. Orang macam Ken sebenarnya mempunyai hati yang lembut. Bahkan dia terlihat sangat mencintai istrinya. Tidak peduli nyawanya bisa saja terancam dengan operasi organ tubuh semacam itu.
"Jadi? Itu obat untukmu?"
"Ya. Vitamin penguat."
"Aku pikir, kau akan diminta berpuasa?"
"Benar. Mulai besok aku tidak boleh makan dan minum."
"Semoga lusa, lancar operasinya," Kazuki menepuk lengan Ken.
"Hmm, terima kasih."
••••••••
Dan akhirnya, hari itu tiba. Ken datang dikawal empat orang polisi. Setelah diagnosa terakhir, ia berganti pakaian dan menempati ruangannya. Dalam hal itu, ia meminta dokter untuk merahasiakan identitas dirinya sebagai pendonor pada sang ibu mertua.
Di ruangannya, Ken duduk dengan seragam rumah sakitnya. Empat polisi itu berjaga di luar kamarnya dengan sigap.
Ketika dokter dan perawat menemuinya untuk bersiap ke meja operasi, Akiyama datang dan berterima kasih kepada Ken karena bersedia melakukan itu.
"Baiklah. Apa anda sudah siap, tuan?" tanya perawat.
Ken mengangguk tenang. Begitu pun saat perawat pria memindahkannya ke ranjang/Ace hardware dorong dan mulai membawanya ke ruang operasi. Ia tetap tenang dan berkonsentrasi.
Di dalam ruang operasi, rupanya Suzy sudah lebih dulu di sana. Ace hardware mereka bersisihan sehingga Ken mampu meraih tangan Suzy dan menggenggamnya erat.
Ketika dokter datang, ranjang mereka dipisahkan dan mulai melakukan suntikan anestesi. Ketika semua persiapan sudah siap, operasi pun segera dilakukan.
BLAASH!
Beberapa jam kemudian ruangan menjadi hening dan menegangkan. Suara alat deteksi jantung menambah ketegangan suasananya.
Ken sudah disuntik anestesi dan tidak ada reaksi yang buruk. Dokter dengan mudah membedah perut bagian atasnya dan memotong sebagian livernya.
Satu jam berada di meja operasi, tiba-tiba saja Ken mengerjapkan mata dan menunjukkan kesadaran. Jari telunjuknya pun bergerak tanpa ada yang melihat.
"Aarggh,, apa mereka sedang memotong-motong isi perutku? Mengapa rasanya sakit sekali....."
Ken merasakan sakit luar biasa saat hatinya berhasil diambil sebagian. Untuk menahan nyeri yang sangat berat ia rasakan, ia berusaha menghembuskan nafas beberapa kali seraya merintih menahan sakit.
"Aarrhhh,,,"
"D dokter, pasien membuka mata!" seorang perawat melihat Ken sadar.
Saat dokter menyadari bahwa pasien tersadar dari biusnya, seketika itu juga mereka menjadi panik. Sebab, pasien yang sedang melakukan operasi bedah seperti itu tidak boleh sadarkan diri dan membuka mata.
"Bagaimana dokter? Apa kita perlu mengulang suntikan anestesinya?" tanya seorang perawat pria.
"Bagaimanapun, beri dia suntikkan anestesi! Kita tidak boleh membiarkan pasien merasakan sakit saat dibedah!"
"Baik!"
Suntikan anestesi yang ke dua pun diberikan dengan dosis yang dilipat gandakan. Namun baru beberapa menit Ken mendapat suntikan, tubuhnya tiba-tiba saja mengejang hebat.
Alat pendeteksi jantung dan kesadaran pasien pun bersuara tanpa jeda. Saat itu juga, dokter dan perawat dibuat sangat sibuk dengan keringat membasahi dahi-dahi mereka.
Tuut! Tuut! Tuut! Tuut!
Tuuuuuuuuuttttt.......
***
"Suster! Apa operasinya berjalan lancar?" tanyanya cemas sambil melihat kondisi Suzy.
"Benar, apa operasi putriku berjalan lancar??" bibi Tamako ikut bicara.
"Operasi nona Suzy berjalan dengan lancar, jadi tenangkanlah diri kalian," jawab seorang perawat.
"L lalu, di mana pasien yang satunya? Apa dia baik-baik saja?" Akiyama merasa cemas.
"Maaf, kami sedang terburu-buru," jawab perawat pria dan mendorong kembali Ace hardware Suzy.
Akiyama membiarkan perawat-perawat itu memindahkan adiknya ke ruang pasca operasi. Bersama ibu dan ayahnya yang menyusul di belakang mereka.
Namun, ia belum juga tenang jika kondisi Ken tidak ia ketahui. Seperti orang kebingungan, ia mondar-mandir sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
Ia menunggu lagi dengan cemas selama hampir dua jam lamanya. Hingga akhirnya, dokter keluar dan menemuinya.
"Bagaimana dokter?"
"Dia berhasil melewati masa kritis dan sekarang sedang tidak sadarkan diri," jawab dokter.
"Masa kritis? Apa maksud dokter?"
"Sebenarnya, pasien mempunyai alergi terhadap suntikan anestesi. Akan tetapi, meski ia tahu resikonya adalah kejang hingga kematian, ia tetap ingin melanjutkannya."
"Apa dokter? K kematian?"
"Benar. Pada saat operasi berlangsung tadi, pasien juga sempat tersadar dan membuka mata. Dan karena hal itu berlangsung di saat operasi pembedahan, kami tidak punya pilihan lain selain memberinya suntikan ulang. Namun,,,"
"Namun apa dokter?"
"Namun, ia mengalami kejang beberapa menit lamanya."
"Kejang? Oh tidak. Lalu, apa dia akan baik-baik saja, dokter?" mata Akiyama merah menahan air mata karena merasa bersalah pada Ken.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Untuk saat ini, mari kita doakan saja untuk kesembuhan pasien," jawab dokter dan berlalu pergi.
Akiyama mendaratkan pantatnya di bangku tunggu dengan kasar. Ia menutupi mukanya karena amat cemas. Apa yang ia dan keluarganya lakukan?
Meski selama ini mereka tidak peduli padanya, pria itu tetap memberikan hatinya meski tahu bahwa dirinya dapat mengalami kematian jika melakukan operasi.
Mata Akiyama berpindah ke pintu ruang operasi. Kemudian, ia berdiri kembali dan mengintip jendela pintu ruang tersebut. Ia melihat Ken di atas ranjang. Namun adik iparnya itu tidak bergerak sama sekali.
Akankah Ken mengalami koma berkepanjangan seperti Suzy?
•••••••••
Sudah sepuluh hari sejak operasi pencangkokan hati yang dilakukannya, Ken belum juga siuman. Bahkan saat Suzy sudah diperbolehkan pulang, Ken masih berada di rumah sakit tanpa seorang pun yang menemaninya di sana kecuali Akiyama.
Ya. Seperti permintaan Ken waktu itu. Tidak satu pun dari keluarga Suzy yang tahu bahwa pria baik yang bersedia mendonorkan hatinya adalah suami dan menantu mereka sendiri.
Akiyama menunggui Ken dan terus berharap kesadaran adik iparnya. Ia begitu berterima kasih atas apa yang Ken lakukan untuk keluarganya.
KLIP!
Melihat keadaan Ken yang belum juga sadar, Akiyama berinisiatif mengambil gambar Ken yang tengah koma agar suatu hari nanti ia dapat tunjukkan pada Suzy bahwa pria itu tetap mencintai dirinya meski jarak memisahkan keduanya.
Di tempat lain,
Suzy baru saja menidurkan putranya dan kini duduk di dapur bersama ibunya.
"Ibu, aku dengar orang yang mendonorkan hati untukku belum juga sadarkan diri. Bukankah sebaiknya kita menjenguk orang baik yang mendonorkan hatinya untukku itu untuk berterima kasih?"
"Benar juga. Jika dipikir-pikir, ibu tidak tahu siapa orangnya. Apakah kita datang menjenguknya besok?"
"Ya. Itu lebih bagus. Aku tidak bisa menerima kebaikannya tanpa mengetahui siapa dirinya."
"Ya sudah. Besok kita kembali ke rumah sakit."
***
Esok pagi ketika Suzy dan bibi Tamako datang ke rumah sakit dan baru saja turun dari bus kota, sebuah mobil polisi melewati mereka.
Ada suatu perasaan ketika Suzy menoleh ke arah mobil polisi tersebut. Sepertinya jantungnya menjadi berdegup lebih cepat tanpa ia minta.
Dengan cepat, ia jadi teringat Ken, suaminya.
"Ayo masuk," kata bibi Tamako membuyarkan lamunan putrinya
"Eh? Iya, ibu," Suzy kembali menoleh ke belakang memandangi mobil polisi yang semakin jauh dari pandangan matanya.
KLING!
Mereka pun masuk dan menanyakan soal pendonor hatinya pada perawat. Begitu disebutkan nomor kamarnya, mereka bergegas untuk menemui sang pendonor.
Tetapi apa yang terjadi? Mereka menemukan kamar yang kosong dan sudah dirapikan.
Seorang perawat yang kebetulan ada di kamar tersebut mengatakan bahwa pria yang mendonorkan hati untuknya baru saja pergi. Kira-kira ia pergi lima belas menit yang lalu.
"Apa kau tahu siapa namanya?" tanya Suzy pada perawat.
"Maaf. Kami diminta untuk tidak membocorkan hal tersebut pada siapa pun."
"Maksudnya?"
"Pria itu sendiri yang memintanya."
"Tapi, apa itu masuk akal?"
"Maaf. Kami sedang sibuk, nona. Jika tidak ada keperluan lain, silahkan menunggu di luar."
"B baiklah."
Suzy dan bibi Tamako bertanya-tanya siapa gerangan pria yang melakukan kebajikan tanpa ingin diketahui identitasnya??
BERSAMBUNG......