RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
TAKDIR YANG MEMPERTEMUKANNYA



EPISODE 85


Ken terperanjat saat tiba-tiba saja ruangan dimana dirinya berada seakan dipenuhi cahaya terang yang amat menyilaukan. Ia juga melihat Suzy berbaring di sisinya persis seperti saat ia membuka mata di pagi hari setelah semalaman melakukan aktivitas mesra bersamanya.


Wanita yang tidur dengan posisi tengkurap dan hanya mengenakan bra itu bahkan sempat bertanya padanya.


"Apa kau menangis?"


"Aahh?? S sayang,, apa kau kembali?" Ken mengamati wujud Suzy.


"Aku melihatmu bersedih di sini. Bagaimana aku bisa meninggalkanmu begitu saja??" ucap Suzy.



Mendengar pernyataan itu, Ken justru semakin bersedih. Ia menangis tersedu-sedu seraya menutupi mukanya dengan tangan kanan.


"Jangan bersedih. Tetaplah kuat dan berbahagialah tanpaku," Suzy seakan berkata-kata lagi kepadanya.


Ken membuka tangan yang menutupi wajah sedihnya. Kemudian ia menoleh pada sosok Suzy yang ada di sebelahnya. Dengan tangan gemetaran, ia memberanikan diri menyentuh wajah wanita itu perlahan.


Seakan itu nyata, ia bisa menyentuh dan merasakan kulit lembut Suzy.


"A apa kau begitu membenci diriku hingga pergi meninggalkanku dengan cara seperti ini??"


"Tidak, aku tidak membencimu."


"Hhhh hhh hhh.. Aku memberikan hatiku padamu dengan harapan agar kau bisa tetap hidup di dunia ini. Tapi mengapa kau tetap memilih pergi meninggalkan aku?"


"Sayang, adakalanya kita harus berhenti saat merasakan lelah. Dan aku pikir, inilah saatku beristirahat, aku benar-benar merasa amat lelah akhir-akhir ini," kata Suzy.


"Tapi, berbeda denganmu. Selama ini, kau sudah berjuang dengan keras, jadi tetaplah kuat dan jangan pernah menyerah. Soal hati yang kau donasikan untukku, jangan khawatir. Aku akan menjaga dan menganggapmu selalu bersamaku,," lanjutnya.


Ken bangkit dan buru-buru meraih tubuh Suzy. Direngkuhnya erat wanita kecintaannya itu tanpa banyak kata.


"Maaf. Maafkan aku sayang," Ken hanya bisa meminta maaf.


Belum sempat mengatakan hal lainnya, tiba-tiba suasana kembali seperti semula. Gelap dan sunyi. Suzy pun kembali menghilang dari hadapan Ken.


Beberapa menit lamanya, Ken melamun dan terus memeluk bantal yang sedari tadi menjelma sebagai Suzy. Meski Ken menyadari itu, entah mengapa ia enggan melepasnya begitu saja.


•••••


Pagi hari saat ditandai dengan munculnya matahari tepat di atas bayangan. Ken membuka matanya yang bengkak dan terasa saling melekat.


Rupanya semalaman ia tidur di ranjang Suzy. Tidurnya pun terasa amat nyenyak sampai-sampai tidak merasakan banyaknya nyamuk yang menggigiti tubuhnya.


Perlahan ia duduk dan menguap sepuasnya. Seraya menggosok matanya, Ken berjalan mendekati jendela dan mengintip dari celah tirai gorden.


"Apa sudah pagi?" tanyanya.


Ken menyadari bahwa dirinya sendirian di tempat itu. Tidak heran jika tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Maka dengan malas ia berjalan ke kamar mandi. Untung saja, air keran di sana masih mengalir.


••••••


Satu tahun kemudian,


Ken tengah berjalan di parkiran sebuah perusahaan. Jika dilihat dari jadwal kerjanya, ia baru saja menghadiri rapat penting di perusahaan tersebut.


Seperti rencana semula, Ken datang menghadiri rapat di perusahaan Deido sebagai pemegang saham utama menggantikan ayah tirinya.


Sebagai perusahaan yang menanam sahamnya di Deido, Moonjin memegang kendali penuh. Selain itu, mereka juga banyak memberikan suntikan dana saat Deido mengalami kesulitan.


Tuan Hideaki juga memberi Ken sebuah jabatan direktur.


Namun beberapa bulan menyandang statusnya sebagai orang penting, Ken merasa tidak cocok. Apalagi ia harus duduk di sebuah ruangan sampai berjam-jam lamanya saat menjadi pebisnis kantoran.


Ia bukan tipe manusia yang ditekan rutinitas padat dan menjemukan semacam itu. Setelah memikirkannya dengan matang, ia pun meminta ayah tirinya untuk menarik kembali apa yang sudah diberikan kepadanya.


Ia ingin menjadi manusia yang bebas. Pergi dan mengikuti ke mana arah angin membawanya.


Sore, setelah ia menyerahkan surat pengunduran dirinya pada sang ayah tiri, Ken pergi ke taman tempat kenangannya bersama Suzy tertinggal.


Ia duduk melamun di sana sembari menenggak bir kalengan yang ke tiga. Sesekali ia tertawa sendiri mengingat pertemuannya dengan Suzy semasa di sekolah. Dulu, ia tidak pernah berpikir akan mencintai gadis tomboi itu dan menjadikannya seorang istri.


Ia justru tergila-gila pada gadis bernama Linzhi, gadis yang dulu nampak anggun dan berkelas. Namun siapa sangka, kehidupan pahit memaksanya menghadapi kenyataan.


Setelah ia berhasil merasakan kebahagiaan bersama Linzhi, gadis itu rupanya tega menghianatinya dan menorehkan luka yang amat dalam di hatinya. Hingga akhirnya ia bertemu Suzy, wanita yang mengobati luka hatinya dan membuatnya kembali bahagia.


Tetapi, Suzy yang membuatnya bahagia itu pun akhirnya juga pergi. Kini, bagaimana ia harus menjalani hidup?


Aih.. menyedihkan sekali.


Meski orang lain berlalu lalang dan ramai di sekitarnya, Ken tidak merasa terusik. Ia tetap dapat menikmati kenangannya.


Ketika ia tengah berada dalam pikirannya itu, terdengar olehnya suara teriakan lantang seorang anak. Ia pun menoleh ke sana kemari untuk mencari asal suara.


"Hey kau! Kembalikan es krimnya!" begitulah suaranya.


Ketika itu, dilihatnya seorang anak laki-laki yang sedang menasehati anak lain sebab berani mengganggu anak perempuan dan membuatnya menangis.


"Tidak bisakah kau mengantri dan membeli es krimmu sendiri?"


"Kau. Kembalikan itu," anak laki-laki itu pun mengambil kembali es krim milik anak perempuan.


Anak laki-laki yang suka mengganggu itu dengan kesal mendorong anak yang sedang berusaha menjadi pahlawan kesiangan hingga Es krim yang dipegangnya pun jatuh ke tanah.


"Lihat, kau yang menjatuhkan itu. Bukan aku. Coba ambil dan kembalikan padanya, haha," anak pengganggu itu berbalik pergi.


Meski geram, anak itu tidak mengejar anak nakal yang sudah menjatuhkan es krim ke tanah. Ia justru merasa bersalah karena es krim itu akhirnya jatuh sia-sia.


"Maaf. Aku menjatuhkannya."


"Tidak apa-apa, Suya," jawab anak perempuan itu berusaha untuk tidak menangis lagi.


"Em,, tunggu sebentar di sini. Aku segera kembali," ucapnya sambil lari.


"Kau mau ke mana?"


"Tunggu saja!"


Tak lama kemudian, anak laki-laki yang dipanggil Suya itu pun kembali dengan kedua tangan yang memegang es krim, ia membelikan es krim yang baru untuk teman perempuannya.


"Ini, untukmu. Jangan menangis lagi, ya," diulurkannya salah satu es krim yang ada di tangannya.


"Terima kasih..." anak itu tersenyum lalu pergi dengan tersenyum.


Dari tempat duduknya, Ken mengamati kejadian itu dengan senyuman simpul. Siapa sangka, anak laki-laki itu berjalan dan duduk di sebelahnya. Tanpa mengetahui bahwa sejak tadi pria yang duduk bersamanya itu tengah memperhatikannya.


"Hey, anak muda. Apa kau datang kemari sendiri?" tanya Ken basa-basi.


"Tidak, nenekku berjualan ubi manis di sana," jawabnya sambil menunjuk arah selatan.


"Benarkah? Apakah ubi manisnya lezat?" tanya Ken tertarik pada jawaban anak tersebut.


"Hmm. Ubi manis nenekku terkenal lezat sekali di taman ini. Apa paman mau membelinya?" Suya mencoba menawarkan dagangan neneknya sambil menjilati es krimnya.


"Boleh. Kalau begitu kita bisa pergi bersama," kata Ken yang entah kenapa begitu antusias menanggapi ucapan Suya.


Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju lokasi tempat nenek Suya jualan. Begitu sampai di gerobak jualannya, baik Ken maupun nenek Suya terkejut dan saling berpandangan.


Ada pancaran kegelisahan di mata nenek Tama. Bagaimana bisa cucunya bertemu dengan pria itu?


Wanita itu sudah lama tidak berjumpa dengan sang menantu. Bagaimanapun ia tidak ingin melihatnya lagi sejak kehilangan putrinya. Maka dengan cepat, ia memanggil cucu satu-satunya dan memintanya berdiri di sampingnya.


"Nenek, paman itu mau mencicipi ubi manis buatan nenek," katanya sambil menggoyang-goyangkan tangan sang nenek.


Ken dan nenek Tama tetap berpandangan. Mereka berdua ada dalam pikiran masing-masing.


"Nenek??"


"Eh? I iya?"


"Paman itu mau membeli ubi manis nenek."


"Benarkah? Baiklah, kau mau berapa buah, tuan? Ubi manisku memang terkenal akan kelezatannya. Cucuku pandai melakukan promosi, kau pasti tertarik setelah mendengar ucapannya. Benar begitu?"


"Beri aku sepuluh," jawab Ken datar sambil menatap ibu mertuanya.


Tatsuya yang tidak tahu apa-apa itu hanya tersenyum senang ketika ubi manis neneknya dibeli seseorang. Sebenarnya, hari itu jualannya neneknya agak sepi. Sehingga ia mempromosikannya begitu saja.


"Ambil kembaliannya," kata Ken mengulurkan uang kertas dengan nilai besar pada nenek Tama kemudian beranjak pergi.


"Ah?? T tunggu."


"Ah, nak. Siapa namamu?" Ken berbalik.


"Tatsuya, paman!" jawab Suya senang.


"Tatsuya?" Ken tersenyum. "Senang bertemu denganmu," lanjutnya.


"Sama-sama, paman. Jangan lupa datang lagi lain waktu!" ucapnya kegirangan karena melihat pria yang datang bersamanya itu membayar lebih untuk ubi neneknya.


Ken pergi meninggalkan tempat itu dengan pelan. Pertemuan dengan ibu mertuanya sore itu, tidak banyak yang terjadi. Apalagi, mertuanya itu berpura-pura tidak mengenalnya di depan sang cucu.


Cucu? Tunggu dulu.


Setelah beberapa meter berlalu, mata Ken terbuka lebar. Ia menyadari bahwa mungkin saja anak itu adalah putranya bersama Suzy.


"Mungkinkah dia??" Ken menghembuskan nafas dengan kasar.


"T-a-t-s-u-y-a, putraku?"


Dihentikannya langkahnya dan berbalik memandangi gerobak ibu mertuanya. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat bahwa saat itu ibu mertuanya terburu-buru mendorong gerobaknya. Berusaha pergi menjauh darinya dan meninggalkan taman tersebut dengan tergesa.


Melihat hal itu, Ken semakin yakin bahwa anak yang dipanggil Suya itu adalah putranya. Bayi tampan yang dulu digendong Akiyama dan sempat menggenggam jarinya. Seakan mengajaknya bicara sebelum ia masuk ke ruang pemeriksaan kesehatan rumah sakit.


Lalu, akankah Suya sendiri mengenali dirinya sebagai ayahnya?


BERSAMBUNG.....