RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
TENTANG HATI



EPISODE 79


Malam itu, Ken yang sedang mencari angin sebelum waktu tidur, tidak sengaja melihat Kazuki yang tengah berada di lorong dekat lapangan sedang menghisap sesuatu dari sebuah kertas putih.


Ketika didekatinya, pria itu sedang teler. Matanya cekung dan pandangannya melayang-layang entah ke mana.


"Kau sedang apa di sini?"


"Oooh, kau Albatros dari utara??" jawab Kazuki secara sadar dengan kepala yang oleng ke kanan dan kiri secara perlahan.


Ken duduk di sebelah Kazuki tanpa mengganggu apa yang sedang pria itu kerjakan.


"Kenapa kau terus saja memanggilku seperti itu?" sebenarnya Ken merasa risih.


"Kenapa tidak? Tentu saja karena, kau. Albatros dari Utara yang mampu berdiri tegak. Bukan burung gereja seperti milik ketua Sato," Kazuki terkekeh.


"Ketua Sato?"


"Yaaa,, si botak itu. Sato namanya."


"Benarkah?"


"Hmm," Kazuki mengangguk cepat.


Ken melirik kertas berisi bubuk putih di tangan Kazuki. Rupanya itu semacam bubuk pil ekstasi yang sering disebut MDMA.


"Apa kau mau coba?" Kazuki menawarkan bubuk ekstasi pada Ken.


"Saat aku mendekam di penjara dahulu, aku pernah mencobanya."


"Eh? Kau pernah dipenjara?"


"Ya."


"Kasus apa?"


"Pembunuhan."


Kazuki menghentikan aktivitasnya dan menyimpan kertas berisi bubuk MDMA itu ke dalam saku celana. Ia baru mendengar cerita itu sehingga sedikit terkejut.


"Benarkah? Jadi, berapa lama kau ditahan?"


"Kurang lebih sembilan belas tahun lamanya aku menikmati hidup di dalam penjara. Dan dibebaskan lima tahun yang lalu."


GLEK


Kazuki menelan ludah. Rupanya pria di sampingnya itu lebih pengalaman darinya yang baru ditahan dua tahun yang lalu.


"Apa kau akan terus di sini? Ayo kembali ke sel, sepertinya aku sudah mengantuk," kata Ken sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Kazuki.


"Hey! Bisa tunggu aku sebentar?"


Ken menoleh dan mengistirahatkan tangannya ke belakang.


"Apa kau bicara denganku?" Ken pura-pura tidak dengar.


"Siapa lagi?" Kazuki datang dan merangkul Ken.


Mereka berjalan bersama-sama seperti dua orang kawan akrab.


"Ngomong-ngomong, menurutmu bagaimana rasanya?"


"Apanya?"


"Bubuk itu,,"


"Aah.. itu?"


"Ya. Bagaimana menurutmu?"


"Jika kau terus mengkonsumsi MDMA dalam jangka panjang, aku pastikan kau akan menginginkan narkoba jenis lain yang lebih kuat."


"Kau tahu itu MDMA? Waah, hebat. Lalu sesuatu yang lebih? Maksudmu?"


"Semacam kokain dan methamphetamine," Ken berjalan terus.


Kazuki melirik Ken sebentar. Ia benar-benar tidak bisa percaya pada penglihatan luar seseorang. Saat melihat Ken datang pertama kali, entah mengapa ia sangat tertarik pada sosok pria yang dulunya berambut panjang itu.


Rupanya, inilah alasannya. Ken benar-benar pria yang menarik dan tidak mudah ditebak.


Di dalam sel,


Ken tidak juga mengantuk. Ia sudah berusaha untuk tidur dan membaca buku biografi yang membosankan untuk membuat dirinya memejamkan mata. Namun tidak juga ada hasilnya.


"Apa kau tidur?" tanyanya pada Kazuki.


"Hmmm,," suara Kazuki setengah mengantuk.


"Sebenarnya, aku butuh bantuanmu."


"Bantuan?" Kazuki membuka matanya lebar-lebar.


"Hmm. Aku harus mendapatkan kembali tas milikku yang disita petugas untuk mengambil sesuatu di dalamnya. Tetapi saat aku bicara pada mereka, mereka menolak untuk memberikannya padaku. Jadi, aku tidak punya pilihan lain selain meminta bantuanmu," Ken mencoba menceritakan masalahnya.


"Mengapa harus aku?"


"Bukankah kau bilang mudah saja bagimu melakukan apapun dengan uang?"


Ahahaha...


Kazuki tertawa.


"Kenapa tertawa?"


"Kau."


"Kau cepat tanggap juga."


Ken diam, "Terima kasih atas pujiannya. Jadi,, bagaimana?"


"Baiklah, aku akan membantumu."


"Sungguh?"


"Tentu."


•••••••••


Pagi hari, ketika semua warga binaan melakukan senam kesehatan jasmani, Kazuki dan Ken pergi menyelinap menemui petugas penjagaan pos barang sitaan.


Mereka menyuap petugas di sana untuk mendapatkan kembali tas milik Ken. Begitu dapat, mereka langsung kembali ke sel mereka dan menyimpan tas tersebut ke kotak barang Ken.


Ken meraih dompetnya dan mengambil kartu ATM miliknya. Dengan cepat disimpannya kartu tersebut dalam saku celananya.


"Terima kasih atas bantuannya," Ken menepuk pundak Kazuki dan mengajaknya keluar menuju lapangan mengikuti senam jasmani.


Beberapa jam kemudian, sesuatu yang ditunggu-tunggu Ken, datang juga. Dialah Akiyama.


"Aku datang seperti permintaanmu, Ken."


"Benar. Terima kasih sudah melakukannya untukku," Ken duduk dan merogohkan tangan ke dalam saku celana.


Kemudian diserahkannya kartu ATM miliknya itu pada Akiyama, "Tolong gunakan uangku ini untuk biaya rumah sakit Suzy."


"Ah? K Ken...."


"Tolong rahasiakan ini dari ibu. Jangan katakan padanya bahwa uang ini dariku. Apa kau mengerti?"


"Ya. Baiklah. Aku mengerti," Akiyama menatap hari sang adik ipar.


••••••


Di rumah sakit sedang heboh,


Dokter baru saja memeriksa kondisi Suzy yang baru saja siuman. Bibi Tamako sangatlah lega melihat putrinya sadar kembali. Akan tetapi, orang yang pertama kali dicari Suzy saat bangun dari tidur panjangnya adalah Ken.


"Ibu? Di mana Ken?"


"Di mana? Apa kau tidak ingat soal itu?" tanya bibi Tamako.


"Aah.. Dia masih ada di penjara, ya?" Suzy tampak kecewa dan diam cukup lama.


Dalam keadaan lemah itu, Suzy diberitahu bahwa bayinya sudah lahir. Mendengar itu, Suzy menjadi amat bahagia. Apalagi saat ibunya menidurkan bayinya itu di sisinya, Suzy terus saja membelainya dengan penuh kasih sayang.


"Anak yang tampan. Ayahmu pasti senang jika ada di sini. Melihatmu lahir sehat dan menuruni wajahnya,,," Suzy memegangi jari jemari bayinya.


Bibi Tamako diam menahan air matanya. Ia tidak membayangkan jika putrinya akan melahirkan tanpa suaminya.


"Ohya, apa ibu sudah memberitahu Ken kalau putranya sudah lahir?" Suzy bertanya lemah.


"I itu. Aah, apa kau mau minum, sayang?" bibi Tamako mengalihkan pembicaraan.


"Boleh,,"


Sementara itu, Akiyama tengah berada di bagian loket pembayaran. Ia melunasi tunggakan rumah sakit dengan uang pemberian Ken. Seperti janjinya pada Ken, ia tidak memberitahu keluarganya tentang asal usul uang yang ia punya.


Meski sebenarnya ia tidak ingin menggunakan uang adik iparnya untuk biaya rumah sakit keluarganya, namun ia tidak punya pilihan. Sebab tabungan keluarganya sudah habis sejak beberapa waktu lalu.


Bagaimanapun juga ia mengakui bahwa uang dari Ken benar-benar membantu. Sayangnya, di moment seperti ini, Ken tidak ada di tengah-tengah mereka.


•••••


Sejak dirinya siuman satu minggu yang lalu, Suzy belum juga diperbolehkan turun dari ranjangnya. Sebab, kondisinya belum benar-benar sehat.


Apalagi, ketika Suzy mengalami susah bernafas dan bengkak pada kakinya. Dilihat dari perubahan warna kulit dan matanya yang menjadi agak kuning, dokter mendiagnosa ada masalah pada hatinya yang mengalami penurunan fungsi kerja.


Hal itu sangat mengkhawatirkan. Jika itu dibiarkan, bisa saja hatinya yang mengalami masalah akan rusak dan benar-benar tidak berfungsi. Dengan begitu tidak ada kata lain selain mencari donor dari orang lain.


Secara diam-diam, Suzy menulis surat untuk Ken dan menitipkannya pada Akiyama. Isi surat tersebut, ia meminta agar Ken tidak berlama-lama sedih dan menyalahkan diri sendiri dengan keadaan yang menimpa mereka.


Entah mengapa, Suzy juga meninggalkan pesan dan meminta Akiyama agar memberikan suratnya pada Ken jika nanti terjadi sesuatu padanya.


Dan pada hari itu, saat Suzy meminta pada ibunya untuk berjalan-jalan di halaman rumah sakit pada ibunya, dokter mengizinkan. Namun hanya tidak boleh lebih dari sepuluh menit. Meski tidak boleh berlama-lama, Suzy begitu senang karena mendapat izin.


Ia duduk di kursi roda sambil memangku putranya menikmati udara pagi di halaman rumah sakit yang luas. Rindangnya pepohonan hijau, sedikit mengobati kerinduannya pada Ken.


"Apakah ayahmu baik-baik saja di sana? Dia pasti merasa sangat kesepian tanpa kita," gumamnya seraya mengusap kepala putranya.


Bibi Tamako tidak menanggapi ucapan putrinya. Ia masih tetap kecewa pada sang menantu. Jika menantunya itu tidak membuat masalah, maka tentu hal seperti ini tidak akan menimpa keluarganya.


Aih, ia benar-benar menyesal menyerahkan masa depan putrinya pada pria yang pernah masuk penjara dan sekarang pun kembali mendekam dipenjara.


Setelah beberapa menit baik-baik saja, tiba-tiba saja Suzy memegangi dada bawah sebelah kanannya. Ia merasakan nyeri dan secara tiba-tiba menjadi lemas. Bahkan kepalanya pun pening dan berputar-putar.


"Ibu,, aku,-" Suzy sudah pingsan sebelum menyelesaikan ucapannya.


"Suzy? Ada apa denganmu?" bibi Tamako menjadi panik.


Dengan cepat ia berteriak meminta pertolongan perawat yang berdiri di dekatnya. Tidak butuh waktu berjam-jam lamanya, akhirnya Suzy kembali berbaring di ranjangnya.


Tubuhnya kejang hebat kemudian kembali tidak sadarkan diri. Dokter bergegas menanganinya dan meminta bibi Tamako untuk tenang dan keluar dari ruangan.


Sambil menggendong cucunya, bibi Tamako keluar sambil menangis. Jika menurut dokter penyakit hati Suzy sudah memasuki tahap 4, itu artinya tidak ada kesempatan untuk sembuh bagi putrinya.


Hati yang rusak tidak akan berfungsi dengan baik dan beresiko kematian. Hanya cangkok hati satu-satunya jalan untuk putrinya bertahan hidup. Maka dengan begitu, bibi Tamako berpikir bahwa ia harus segera mendonorkan hatinya agar Suzy dapat diselamatkan.


Bersambung.......