
Hay Readers....
Maaf nih, dari kemarin penulis lagi sakit gak enak badan,,π€
jadi gak sempet update bab baru,,,
Nih nyicil dulu ya,,,
jangan lupa tinggalkan jejekmu,,,
Like dan vote sangat ditunggu,,,π€
Terima kasih sudah mampir mendukung,,,
Jangan bosan-bosan ya.. ππ
...----------------...
EPISODE 124
GLEK
Ken menyembunyikan motornya di semak-semak rungkut yang memenuhi sisi pabrik mencurigakan itu. Menurutnya, penampakan pabrik tersebut tidak seperti pabrik kimia yang lainnya.
Karena ia bekerja sendirian, Ken mengirim pesan pada Ichigo sebelum beraksi.
Ken : "Jika aku tidak juga muncul pada jam 6 pagi besok, tolong bawa Yuna lari dari rumahnya. Dia tidak boleh menikah dengan Kazuki."
Ichigo : "Kau ada di mana sekarang?"
Ken : "Aku mengejar Suya. Mereka menyekapnya di sebuah pabrik kimia dekat jalan besar rute 18, belokan menurun perbukitan."
Ichigo : "Apa perlu bantuan?"
"Ken : "Tidak. Kau dan yang lain, berusahalah mencegah pernikahan Yuna. Besok sebelum jam 3 sore. Kalian harus benar-benar membawanya pergi dari sana."
Ketika Ken tengah mengirim pesan pada Ichigo, empat buah truk datang beriringan. Keempat truk itu berhenti sejenak karena menunggu pintu gerbang terbuka. Kesempatan emas seperti itu pun tidak disia-siakan oleh Ken.
Disimpannya kembali ponselnya ke dalam saku celana. Kemudian, dengan mengendap-endap ia mendekati dan melompat ke pintu belakang truk yang paling belakang. Untung saja, supir yang membawa truk tersebut tidak terlalu waspada. Sehingga meski ia merangsek mencoba naik ke atas atapnya, ia tidak sampai ketahuan.
Begitu truk tersebut mulai jalan kembali, Ken tengkurap di atas atap truk yang paling belakang dan berusaha menyembunyikan diri serata mungkin dengan atapnya.
PIIIIIPPP.....
PIIIIIIIIPPPPP.....
KLAANGGGG!
Truk-truk yang datang berbaris rapi di parkiran yang sudah diatur. Beberapa menit kemudian, para supir pun turun dan memasuki ruang yang menurut Ken sedikit mencurigakan. Beberapa orang karyawan membawa troli-troli besar berisi kotak kardus bertuliskan merk sebuah sabun.
Melihat orang-orang yang berlalu lalang dan tampak sedang sibuk dengan urusan masing-masing, Ken turun pada sisi kiri yang tidak terlihat banyak orang.
GLEK
Ia mencoba merapatkan tubuhnya ke dinding truk dan mencoba mencari jalan untuk menjauh dari sana. Tepat saat ia hendak pergi, dua orang datang mendekat dan membawa tumpukan dus.
"Hey, hati-hati meletakkannya. Jangan sampai isinya berhamburan," kata salah seorangnya.
"Menurutmu, apa kita akan dapat komisi besar dari pengiriman kali ini?"
"Entahlah. Lakukan saja pekerjaanmu."
"Yaaa. Ya. Baiklah."
Selesai membawa kardus-kardus packingan ke truk mereka, dua orang itu pun pergi untuk mengambil kardus lagi dari dalam.
SRET
Ken mengintip ke arah orang-orang tersebut. Cukup lengang. Melihat tumpukan dus di depan matanya, Ken yang penasaran pada kardus-kardus packingan itu pun menyayat sisi salah satu kardus dan mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Apa ini?" gumamnya saat melihat bungkusan plastik kemasan berwarna perak.
Sambil bersembunyi, disayatnya sedikit bungkusan tersebut. Dari dalamnya keluar serbuk putih. Tanpa ragu, Ken menjulurkan lidahnya untuk mencicipinya.
"Ini,,, serbuk MDMA?" lanjutnya sambil meludah.
Setelah dirinya menemukan kejanggalan tersebut, Ken mengambil beberapa foto bukti mengenai bungkusan berisi serbuk MDMA yang termasuk ke dalam jenis ekstasi/narkotika. Kemudian ia pun mengantongi bungkus yang ia buka sedikit tadi.
Setelah mengawasi situasi dan merasa aman, ia mulai menyelinap pergi dari deretan truk yang sedang memasok barang tersebut.
Ia menyelinap dari truk satu ke truk yang lainnya lalu ke belakang pohon, kemudian bersembunyi di belakang kotak sampah dan berakhir ke sisi gedung yang tidak didiami oleh penjaga.
Merasa tempat itu aman, Ken mengirim pesan kembali pada Ichigo.
Ken : "Rupanya aku berada di pabrik narkoba! Ada banyak bubuk MDMA di sini. Sepertinya mereka sedang melakukan pengiriman berskala besar. Laporkan penemuanku ini pada polisi."
Ichigo : "Baiklah. Aku akan segera melaporkannya. Berhati-hatilah sebelum polisi datang!"
Pada saat Ken selesai pada pesan terakhirnya, seseorang melihatnya dan berteriak, "Siapa di sana!!"
Tanpa berpikir panjang lagi, Ken segera berlari ke bagian belakang gedung dan menyembunyikan diri. Secara kebetulan, ia melihat mobil Hagie yang membawa koper besar di dalamnya.
Maka, ia pun menempelkan mukanya ke setiap kaca jendela untuk melihat ke dalam mobil. Ia bahkan membuka bagasi mobil dan mencari koper di sana. Namun tidak ada apapun. Tentu saja! Mereka pasti sudah memindahkan Suya ke suatu tempat.
Tiba-tiba saja dua orang menangkap dan menodongkan pistol ke pinggangnya.
"Siapa kau? Mengapa ada di sini dan mengendap-endap?"
Ken menoleh dan membuat ancang-ancang. Ketika pemegang pistol itu lengah, Ken segera menarik kepala pria itu dan membenturkannya pada bagian sisi mobil beberapa kali. Kemudian dengan sigap pula menendang dan memelintir tangan pria satunya sambil menepis pistol-pistol yang ada di tangan mereka.
BRAK!
BRAK!
GUBRAKK!
Kedua pria itu dapat ia lumpuhkan. Dengan begitu dua senjata yang mereka miliki dapat Ken ambil alih.
Spontan saja semuanya berhenti bergerak dan menoleh kepadanya dengan tatapan sinis.
"Siapa kau?!!"
"Upss! Maaf. Silahkan lanjutkan permainan kalian," Ken berjalan mundur.
Tepat setelah ia mengucapkan hal itu, semua orang yang berada di ruangan tersebut segera berlari mengejarnya.
Baku hantam pun tidak dapat ia hindari lagi. Mendapat serangan keroyokan dari tujuh orang pria, Ken berusaha keras untuk menang.
Ia berhasil menjatuhkan dua orang dan kemudian berlari memanjat tangga besi yang hanya bisa dilewati dua orang. Namun tiga orang mengejarnya dan berhasil menubruk kakinya. Pria yang menubruknya itu berusaha menyeretnya turun dengan paksa.
Tidak mau menyerah pada keadaan, Ken berpegangan pada sisi tangga dan menendangi pria yang memegangi kakinya. Begitu pria lain hendak menangkapnya, ia pun melesat turun dari celah sisi tangga dan terjun menimpa punggung seseorang dari mereka.
Dengan serangan siku, Ken mencekik pria yang ia timpa dari belakang. Saat ia berhasil membuat pria tersebut kehabisan nafas, seseorang datang dan menariknya kemudian melemparnya sekuat tenaga hingga membentur tumpukan drum bekas.
BRUK!
Suara drum yang berjatuhan amatlah ramai. Ken berusaha bangun saat Hagie yang bertubuh gempal itu datang kepadanya dan langsung mencekiknya.
Sambil terus melawan dan mendaratkan pukulannya, Ken berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Hagie. Lengan besarnya begitu erat menekan lehernya hingga terdesak ke dinding.
Bahkan pria gempal itu membuat tubuhnya terangkat ke atas saat sekuat tenaga mencekiknya.
Karena cekikan Hagie semakin membuatnya kesulitan bernafas, Ken memukuli tangan dan mencoba meraih kepala pria itu.
"Ck Ck Ck,, Apa kau datang untuk menjemput putramu?"
"Hhggkkk,,," wajah Ken sudah sangat merah dengan urat-urat di kepalanya yang menonjol.
"Kau tidak akan bisa menemukannya, sampai bos menikah!"
Hagie meninju perut Ken dan membantingnya ke lantai. Pada saat sedang lemas dan mengambil nafas seperti itu, seseorang memukul kepala Ken dari belakang hingga membuatnya pingsan.
"Ikat dia!" perintah Hagie pada yang lain.
β’β’β’β’β’β’
SIIINGG
Saat membuka mata, Ken merasakan perih pada kedua pergelangan tangannya. Rupanya ia digantung seperti daging sembelihan dengan kedua tangan terikat ke atas.
Di bawahnya, Suya juga diikat di sebuah kursi dengan kondisi yang untungnya baik-baik saja. Anak itu bahkan memanggil Ken berulang kali agar tersadar.
"Ayah!!"
"Ayah!"
"Ayah!"
Panggilan seperti itu terus saja terngiang di telinga Ken. Entah ia sedang bermimpi ataukah memang mendengar panggilan seseorang.
Ketika ia membuka mata, Ken menyadari bahwa Suya berada di ruangan yang sama dengannya.
"Suya??" ucapnya lirih begitu membuka mata.
"Ayah! Apa ayah baik-baik saja?" tanya Suya.
Ken mengerjapkan matanya beberapa kali karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"K kau memanggilku apa barusan?" tanya Ken haru.
"Ayah."
"Aahhh...."
"Aku tahu. Paman Ken sebenarnya ayahku. Itulah mengapa alasan nenek sangat membenci paman."
Suasana hening sesaat.
"Setelah mengetahuinya, apa kau juga akan membenciku?"
"Tidak. Aku tidak mempunyai alasan untuk membencimu. Selama ini, aku mengenalmu sebagai paman yang baik. Yang selalu hadir dan membuat hari-hariku ceria."
Ken menangis haru beberapa saat. Ada sedikit senyuman di bibirnya ketika mendengar ucapan Suya.
Ketika ia mendengar suara dari luar ruangan, Ken meningkatkan kewaspadaan. Tidak mau menunggu orang-orang itu datang, dengan cepat ia mengangkat kedua kakinya ke atas hingga posisinya berbalik seakan menempel di langit-langit. Kemudian dilepaskannya ikatan tambang yang membelenggu tangannya dan terkait di sebuah besi.
BRUK
Ia jatuh ke bawah dengan posisi punggung terlebih dahulu mengenai lantai. Meski sakit, ia berusaha dengan cepat untuk bangkit dan berdiri.
Begitu berhasil, ia pun melepas ikatan pada tubuh Suya sambil mengucapkan sesuatu serta memeluknya erat.
"Maafkan aku, Suya. Karena selama ini tidak berani muncul di hadapanmu sebagai seorang ayah."
Suya menggeleng, "Tidak, ayah. Aku senang karena kau selalu datang padaku disaat aku membutuhkanmu."
KRANG!
Ken menoleh ke belakang saat suara pintu yang terkunci dari luar itu sedang dibuka seseorang.
"Cepat sembunyilah, ayah akan menghadapi mereka dengan cepat. Jangan keluar dan tetap diam di sini," Ken menyembunyikan Suya di belakang tumpukan papan kayu.
.
.
.
.
BERSAMBUNG...