
EPISODE 27
Menikmati makan siang di waktu sore, bukanlah hal aneh bagi keluarga restoran ayam Suzy. Sebab, disaat ramai seperti hari itu, mereka sering terlambat untuk menikmati makan siang.
Bahkan, saat mereka makan pun seolah dikejar oleh waktu. Kok bisa? Yaa,, beberapa kertas berisi catatan pesanan sudah mulai masuk dan menunggu untuk dihidangkan.
Ken dan Suzy menghabiskan makanan mereka dengan cepat. Kemudian mereka bergegas kembali ke meja masak mereka dan mulai meracik makanan yang dipesan. Untung saja Keiko sudah membantu memotong sayur dan bawang.
WUZZ!!
Ken menyalakan kompor dan mulai menuangkan sedikit minyak untuk menumis sayuran yang sudah disiapkan Keiko tadi. Dengan kompor satunya yang juga siap untuk menggoreng ayam.
Suzy mengambil ayam marinasi, menepunginya dan langsung menggorengnya. Di sisinya, Ken menumis bawang, sayuran pelengkap dan beberapa potong kecil ayam dengan api yang menyala-nyala. Mereka membuat porsi untuk beberapa piring. Sebab pesanan yang masuk sebagian besar sama.
"Pesanan meja lima dan tujuh sudah siap!!" teriak Ken pada Gorou.
"Pesanan meja satu juga siap!!" teriak Suzy pula.
Waah? Kesibukan mereka hari itu, benar-benar membuat lelah. Delapan peti ayam potong, ludes tak tersisa. Masing-masing peti berisi lima puluh ekor ayam utuh.
•••••••
Ken duduk di luar restoran sambil memegang ikat kepalanya. Restoran mereka baru saja tutup dan beristirahat.
"Kerja bagus," kata Suzy mengagetkan.
"Heh? Iya. Kau juga."
Ken duduk di anak tangga depan pintu restoran dengan menopangkan kedua sikunya di atas masing-masing lutut. Suzy duduk di sampingnya dan memperhatikan mimik muka Ken.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Hmmm. Apa terlihat jelas?"
"Yaah. Jelas sekali. Ada apa? Apa aku bisa membantu?" tanya Suzy.
Ken mendengus pelan. Lalu bercerita dengan jujur apa yang terjadi.
"Dua bulan ini, aku dan Linzhi berpacaran. Dan beberapa hari kemarin, aku baru melihat seperti apa pekerjaannya di luar sana."
DEG!
Suzy sedikit terkejut saat mendengar dari mulut Ken sendiri bahwa dirinya berpacaran dengan Linzhi.
"A apa? Berpacaran? Jika mereka berdua berkencan, apa itu artinya aku sudah kalah dari wanita itu?"
Suzy tertegun dalam hati.
"L Lalu??" tanya Suzy berusaha santai.
"Apa aku seseorang yang jahat, jika aku merasa kecewa begitu mengetahui bahwa dia adalah stroberi. Salah satu wanita terapis di panti pijat. Benar seperti perkataan Akiyama waktu itu."
Awal mulanya Suzy bingung dan tidak memahami maksud cerita Ken. Tapi beberapa menit kemudian, ia mulai mengerti. Waktu itu Akiyama mengatakan bahwa Linzhi bekerja di sebuah rumah pijat dengan nama panggilan stroberi.
"Ti tidak. Aku rasa kau bukanlah seseorang yang jahat," jawab Suzy sambil buru-buru berdiri.
"Kau mau ke mana?" tanya Ken ikut berdiri.
"A Aku mau pulang," jawab Suzy asal.
Meski ingin menutupi rasa cemburu di dalam hatinya, Suzy tetap terlihat jelas sedang merasakan cemburu pada Linzhi. Kenapa harus wanita itu yang menjadi kekasih Ken? Begitu pikirnya.
Suzy yang jatuh dalam pikirannya, jadi tidak waspada pada langkah kakinya. Tali sepatu kiri yang panjang pun tidak sengaja terinjak oleh kaki kanannya.
Apa yang terjadi??
Suzy tersandung kakinya sendiri dan melayang jatuh ke depan. Ken yang melihat Suzy akan jatuh segera menangkap pinggangnya dengan sedikit gaya berputar. Suzy sendiri pun refleks meraih leher Ken dan berpegangan padanya. Begitu mereka berpelukan, berpandang-pandangan dan berputar pelan, terdengar sebuah nyanyian romantis di dalam hati mereka.
♥
Can I go where you go?
Can we always be this close forever and ever?
And ah, take me out, and take me home...
You're my, my, my, my lover......
( Taylor swift-Lover )
Ken menangkap Suzy dan memeganginya dengan erat. Mata mereka saling bertemu dan menciptakan suatu getaran. Terutama di hati Suzy. Wanita itu merasa tulangnya meleleh, lemas tak bertenaga dikala Ken memeluknya dengan posisi seperti itu.
Cukup lama mereka berada di situasi indah itu, hingga suara Keiko datang mengajak bicara Suzy. Namun mereka berdua tetap diam seolah tidak mendengarnya.
"Nona, ini kuncinya-," Keiko menghentikan ucapannya dan menutup mulut rapat-rapat.
Gorou dan Daisuke yang berjalan keluar restoran pun saling tabok gara-gara melihat hal romantis di depan mata mereka. Bahkan Suri melompong dan hampir meneteskan liur.
"Tutup mulutmu karena itu bisa mengganggu keromantisan bos kita," kata Gorou meledek sambil membantu Suri menutup rahangnya.
"Benar, bukan? Mereka sangat serasi," ucap Suri berkaca-kaca.
Begitu Ken sadar, ia melepas pelukannya dan membiarkan Suzy berdiri sendiri.
"Tidak apa. Ini hanya kebetulan."
Suzy menjauh dari Ken dan menoleh pada anak-anak restorannya. Kemudian didekatinya Keiko yang memegang kunci restoran.
"Kalian sedang menonton apa? Bukankah kalian sudah boleh pulang. Tunggu apa lagi?" tanyanya heran.
"Eh?? K Kami,,,,"
Semuanya bergegas pergi meninggalkan restoran dengan senyuman-senyuman nakal karena mengingat hal yang baru mereka tonton.
Setelah semua pergi, Ken menemani Suzy pulang. Mereka berjalan kaki menuju rumah Suzy yang tak jauh dari restoran.
Di tengah jalan, mereka tidak menduga akan berpapasan dengan Yoshi dan tuan Kido yang baru turun dari mobil mereka di depan sebuah kafe elit.
Ken mengurangi kecepatan langkahnya saat tuan Kido berdiri di hadapannya beberapa meter. Ketika Ken mencoba tidak mengenali mereka, tuan Kido justru memanggilnya.
"Apa kau tidak ingin menyapa ayahmu setelah belasan tahun tidak bertemu?" kata tuan Kido tanpa menoleh.
Ken berhenti dan menoleh perlahan. Suzy yang berdiri di samping Ken melihat dengan jelas tatapan sinis Yoshi pada Ken.
"Apa kabar, tuan?" Ken menyapa ayahnya dengan suara tercekat.
Ada segumpal rasa sakit di dalam hatinya. Rasa itu kembali menyiksanya begitu melihat dan bertemu kembali dengan orang yang menciptakan luka itu.
"Apa kau hidup senang sekarang setelah menjadi mantan nara pidana?" tanya tuan Kido.
Ken menunduk.
"Lihat kakakmu. Dia begitu sempurna dibanding denganmu yang tidak ada apa-apanya, anak pembuat masalah. Sebaiknya kau beri dia selamat untuk jabatan barunya sebagai direktur. Kau tidak akan bisa mencapai posisi sepertinya jika tahun-tahun berhargamu kau habiskan di dalam sel," lanjut tuan Kido tetap tidak menoleh pada putranya yang gagal.
"Baiklah. Selamat atas kenaikan jabatanmu," Ken mengulurkan tangannya.
Sudah bisa ditebak!
Yoshi hanya menyeringai tipis dan ogah menerima uluran tangan Ken. Bahkan Yoshi menatap Ken sangat hina.
"Ayah, tuan Osamu pasti sudah menunggu lama. Sebaiknya kita segera menemuinya," kata Yoshi pada ayahnya, mengabaikan keberadaan Ken di dekat mereka.
Kedua manusia itu berjalan memasuki gedung kafe yang megah. Mereka hendak melakukan pertemuan bisnis dengan seseorang.
Begitu mereka berlalu pergi, Ken menarik kembali tangannya yang sempat ia ulurkan untuk menjabat tangan Yoshi. Saudara tirinya itu tidak menerima jabatan tangan darinya. Bahkan melihat padanya pun tidak.
Ken mengatupkan rahang dan mengepalkan tangan kanannya dengan kencang. Ia merasa bahwa pertemuan tidak sengaja itu cukup membuatnya terhina.
Cukup lama ia berdiri mematung menatap ayahnya. Dengan tubuh yang gemetaran karena menahan marah, Ken berbalik dan melangkah gontai. Tanpa sengaja, ia hampir terjatuh karena ada sesuatu yang menyesakkan dadanya.
"Kau tidak apa-apa?" Suzy menangkap lengan Ken karena khawatir.
"Iya, aku tidak apa-apa," jawab Ken menyingkirkan tangan Suzy dan berusaha berdiri sendiri.
Baru selangkah saja, ia kembali hampir jatuh. Suzy kembali menangkapnya dan memberikan pertolongan.
Wanita itu tidak bisa membiarkan Ken pulang sendiri dengan perasaannya yang sedang terluka. Sepanjang perjalanan menuju rumah Suzy, Ken terus melamun. Selama itu pula ia melihat kilas balik dalam hidupnya. Di mana keluarga ayahnya tidak pernah menganggapnya ada.
Dan baru saja, ia kembali dipaksa melihat sesuatu yang benar-benar menyakiti hatinya.
Suzy menoleh pada Ken yang tiba-tiba saja berhenti melangkah. Wanita riang itu melihat wajah Ken yang tertekan dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan perlahan, ia mendekati Ken dan memeluknya dengan penuh kehangatan.
"Tidak apa-apa. Menangislah jika kau ingin menangis," ucapnya pelan sambil menepuk-nepuk punggung Ken.
Ken yang semula berdiri kaku dengan kedua tangan yang terkulai ke bawah, mulai menangis dan memeluk tubuh Suzy dengan erat. Selama ini, ia benar-benar merasa sangat kesepian dan terbuang.
Tubuhnya yang lebih tinggi dari Suzy itu nampak sedikit membungkuk saat berpelukan. Di pundak wanita yang berdiri di depannya itu, disandarkannya kepalanya dengan nyaman.
Tanpa mereka sadari, bibi Tamako dan paman Akihiro mengintip dari balik pintu gerbang. Mereka tersenyum riang dan saling cubit saat menyaksikan putrinya sedang berpelukan dengan calon menantu pilihan mereka.
"Lihat suamiku, mereka imut bukan?" kata bibi Tamako sambil menabok pelan bokong suaminya.
"Kau benar, sayang. Mereka pasti mulai saling jatuh cinta. Lihat. Betapa mesranya mereka," jawab paman Akihiro menggenggam kedua tangan istrinya.
"Jika sudah begini, mari tekadkan niat kita. Bagaimanapun juga, menantu pilihanku harus menjadi suami Suzy," bibi Tamako mengangguk dengan yakin.
Kedua orang tua Suzy itu saling mengaitkan tangan seperti hendak bertanding panco. Kemudian tangan mereka saling menggenggam erat dan mengangguk bersamaan.
"Misi dimulai!!"
.
.
.
.
.
Bersambung ke Episode 28
.
Jangan lupa likenya ya,, man teman 👍🏻🤗