
EPISODE 87
Dengan langkah gontai, Ken mempercepat langkahnya agar dapat menghindari Linzhi, wanita yang selama ini selalu menginginkannya.
Linzhi sendiri terus saja memandangi punggung pria yang masih ia cintai itu. Ia benar-benar ingin hubungannya dengan Ken kembali seperti dulu.
Begitu sampai di dalam rumah tanpa sinar lampu itu, Ken mengamuk dan marah pada diri sendiri. Ia membanting semua barang yang ada di sana sambil mengutuk diri sendiri.
Linzhi mendengar teriakan itu dan melangkah mendekat karena khawatir terjadi sesuatu pada Ken. Lambat laun, ia merasa menyesal karena mengacaukan pikiran pria yang pastinya sedang terluka.
Setelah Ken berhenti melampiaskan kekesalannya, ia menjatuhkan diri di pojokan ruang dekat serakan kaleng bekas minuman. Tangannya meraih sebuah kaleng bir yang beberapa hari lalu ia bawa pulang dan masih berserakan di lantai bersamaan dengan ubi manis yang ia beli.
Rupanya kaleng-kaleng bir itu hampir semuanya kosong. Hanya tinggal dua buah yang masih utuh dan belum dibuka.
CTAK!
Dengan cepat Ken mengambil yang masih utuh dan membukanya. Lalu ia menenggak habis semuanya untuk menghilangkan rasa pusing di kepala.
Begitu rasa sakit di kepalanya sedikit berkurang, perlahan ia menyentuh bibirnya dengan tangan kanan yang gemetaran. Ia merenung dan menyesali atas apa yang baru saja terjadi.
Tiba-tiba saja, sosok Suzy seolah muncul di sebelahnya dan membuatnya kaget betul.
"S sayang? Apa kau melihat itu?" Ken gemetaran.
"Kau pasti merindukan sentuhan seorang wanita. Tidak apa, jika kau menginginkannya lakukan saja," kata Suzy.
"T tidak! Maafkan aku, sayang. Tolong jangan katakan itu. Bagaimana aku bisa membutuhkannya sementara kau berada di surga?" Ken menggelengkan kepala, bangun dari duduknya dan merangkak cepat mendekati halusinasi Suzynya.
"Kalau kau mau, datangilah Linzhi...."
"Maafkan aku, sayang. Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan lagi memikirkan hal itu," Ken memohon ampun sampai membenturkan dahinya ke lantai berulang kali hingga berdarah.
"Oh tidak, Ken. Jangan menyakiti dirimu," di mata Ken yang penuh air mata, seolah-olah bayangan Suzy itu menghentikan apa yang sedang ia lakukan. Kemudian dengan lembut menyentuh dan membelai pipinya.
Ken menggenggam tangan Suzy yang ada di pipinya. Ia benar-benar sedih harus kehilangan wanita itu begitu cepat.
"Tolong bawa aku pergi bersamamu, Suzy. Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi. Lagipula, ibu membesarkan Suya dengan baik. Meski tidak mengenal siapa ayahnya, dia tumbuh dengan sehat dan mampu melindungi diri sendiri. Sepertinya aku tidak perlu lagi hidup di dunia ini, bukan??" Ken berkata tanpa jeda.
Suzy memeluk Ken dan membuatnya tiduran di pangkuannya. Sambil membelai rambut Ken, halusinasi Ken tentang wanita itu benar-benar sempurna.
Dari bawah pangkuan Suzy, Ken terus saja menatap wajah istrinya itu sambil tangannya mengusap lembut pipinya. Meskipun gelap, ia mampu melihat dengan jelas wajah Suzy karena cahaya bulan malam itu memberinya petunjuk.
Ken bangkit dan menarik tubuh Suzy ke dalam pangkuannya. Seolah istrinya itu benar-benar nyata menemaninya, maka disesapnya pelan bibir bulat Suzy.
Di lantai satu, di ruangan yang gelap dan dingin, Ken mencoba meyakinkan dirinya bahwa Suzy benar-benar menemaninya malam itu.
Walau ia terlihat menyedihkan, namun Ken merasa pertemuan itu mengobati kerinduannya yang dalam.
Setelah puas memberikan ciuman, Ken mendorong pelan tubuh Suzy ke lantai seraya melepaskan kancing blousenya.
"Ken...." Linzhi memanggil pria yang baru saja menyesap bibirnya dan sekarang mulai merangkak di atasnya.
Ken masih dalam khayalannya bersama Suzy tanpa menyadari bahwa wanita yang sedari tadi bersamanya adalah Linzhi.
Setelah melucuti pakaian Suzy, Ken membenamkan kepalanya ke gundukan dada yang bulat besar. Ia menciumi gundukan itu dan sesekali menghisap ujungnya.
Dalam pengaruh minuman keras yang ia tenggak sebelumnya, Ken berhubungan badan dengan bayangan Suzy yang nyatanya adalah Linzhi. Mereka bergumul di lantai dengan berpeluh keringat.
Lenguhan dan teriakan kecil dari mulut mereka berdua tiada yang mendengar. Hanya angin dan rumah kosong tersebutlah yang mendengar dan menonton dua manusia yang tengah beradu melepaskan hawa nafsu.
Usai melakukan hal itu, Ken tergeletak tak sadarkan diri di samping Linzhi. Berbeda dengannya, wanita itu terlihat amat sangat menikmati kebersamaan mereka malam itu.
Meski setelah melakukan itu badannya sakit semua, ia benar-benar bahagia. Dibelainya rambut Ken yang basah di dahi.
"Seperti dugaanku, kau juga menginginkannya, Ken. Kau tidak berubah sama sekali dan masih mudah terpengaruh seperti dulu. Tapi tenang saja, kali ini aku tidak akan memberitahumu bahwa malam ini kita melakukannya dengan penuh cinta."
Sekali lagi Linzhi mencium bibir seksi Ken. Baginya, bibir lembut nan hangat itu adalah sebuah candu. Kau akan menginginkannya lagi setelah satu kali merasakan nikmatnya.
Karena ia tidak ingin Ken melihat dirinya telanjang bersamanya, Linzhi bergegas mengenakan kembali pakaiannya.
Namun karena terburu-buru, tanpa sadar ia menjatuhkan kalung tanda pengenal perusahaannya. Benda itu jatuh ke bawah rak tempat koran.
Sebelum pergi, Linzhi menyelimuti pria yang masih telanjang itu dengan kemejanya.
"Kau pasti terluka setelah kehilangan Suzy. Aku akan memahami itu."
SRET
"Suzy....."
Tiba-tiba tangan Ken meraihnya. Namun terkulai kembali.
"Huufff,, Untung saja."
Linzhi membetulkan letak tangan Ken sebentar. Kemudian ia pun pergi meninggalkan pria yang tengah tak sadarkan diri itu.
••••••••••
Ketika membuka matanya di esok hari, Ken sangat terkejut melihat keadaannya yang tanpa mengenakan pakaian sehelai pun.
Ditengoknya ke kanan dan kiri seluruh sudut rumah. Tidak ada siapapun.
"Apa yang ku lakukan semalam?" gumamnya sambil memegangi kepalanya.
Ia berdiri namun terjatuh lagi. Astaga. Rupanya, kepala Ken masih pusing. Saat ia berdiri dan melangkah seperti tadi, ia merasa bumi yang ia pijak seolah berputar kencang.
Akhirnya Ken duduk sebentar dan bersandar pada dinding. Ia memejamkan matanya dan berusaha menghilangkan sakit pada kepalanya.
Tidak mau mengulur waktu lama, Ken bangkit dan bergegas membersihkan diri. Ia berniat pergi mencari pekerjaan lalu mampir ke taman Ueno, hari ini.
SIIIINGGG!
Karena musim dingin sudah lama berlalu, panas terik matahari siang itu membuatnya memicingkan mata ketika ia melihat sesuatu yang memantulkan cahaya berkilauan di sebuah bengkel mobil.
"Maaf pak, bisa aku mengganggu sebentar?" tanyanya sopan pada seorang pria yang sedang mengelas sebuah besi panjang.
"Ya. Ada apa?"
"Apa kau sedang membutuhkan karyawan? Jika boleh, aku ingin membantumu bekerja di sini," sambungnya.
"Pergi saja ke dalam. Tanya langsung pada pemilik tempat ini," jawab pria itu menunjukkan sebuah kantor di ujung bengkel.
Tanpa ragu-ragu, ia menemui seseorang yang berada di ruangan kecil yang bisa disebut kantor.
"Permisi tuan, apa kau membutuhkan pekerja baru?" tanya Ken.
"Maksudmu kau mau bekerja di sini? Begitu?" pemilik bengkel itu seorang pria tua berkacamata.
"Kalau kau mengijinkan, aku akan dengan senang hati melakukan pekerjaan apapun."
"Pekerjaan apapun?"
Ken mengangguk.
"Kau bisa apa?"
"Heh?"
"Kau. Apa yang kau kuasai di dalam usaha perbengkelan?"
"Aku? Sebenarnya, saat di dalam penjara dulu aku sempat belajar sedikit tentang spare part kendaraan dan apa saja yang dilakukan dalam dunia perbengkelan."
"Penjara? Kalau begitu kau mantan napi?"
Ken mengangguk.
"Coba buka pakaianmu. Aku tidak ingin mempekerjakan seseorang yang berhubungan dengan penjahat atau geng manapun."
"Ah, aku bukan salah satu dari mereka."
"Buka baju dan celanamu."
"Apa-kah i-tu per-lu?" Ken bertanya lambat.
"Tentu saja jika kau ingin bekerja padaku," jawab pria itu sambil berlalu.
"T tunggu dulu. Baiklah, akan ku lepas pakaianku."
Ken melepas kemeja dan celananya. Saat itu juga pemilik bengkel melihat semua tato miliknya.
"Kau bukan anggota Yakuza?" tanya pemilik bengkel itu cemas seraya mengangkat alisnya.
"B bukan."
"Lalu, jelaskan arti tato samurai itu."
"Ini hanya gambar tanpa arti. Kubuat saat masih muda dulu," Ken berterus terang.
"Baiklah, pakai kembali pakaianmu."
Pria tua itu tidak memberitahu apapun. Sehingga Ken kembali bertanya.
"Apa kau menerimaku bekerja di sini?"
"Tidak."
Ken menundukkan kepala, lalu ia bertanya mengapa.
"Tapi mengapa tuan? Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Bisakah kau mengasihani diriku?"
"Apa untungnya bagiku?"
"Aku," Ken mengerjapkan matanya menahan semua kata yang ingin ia ucapkan.
"Aku akan bekerja dengan sangat baik. Kau bisa melihatnya nanti setelah aku bekerja," sambung Ken penuh harap.
"Semua mengatakan seperti itu pada awalnya, tapi kenyataannya berbeda dengan apa yang mereka janjikan."
Pemilik bengkel itu tidak mempedulikan Ken. Ia asik menggosok sebuah knalpot model terbaru yang baru dikirim dari pabriknya.
"Tuan,,, aku mohon."
"Cari saja pekerjaan lain," jawabnya tanpa melihat pada Ken.
Ken berdiri mematung sebelum akhirnya pergi melangkah keluar dengan lesu. Tapi beberapa menit kemudian, ia kembali menemui pria itu.
"Kau mendengar berita soal kasus pembunuhan putri wali kota, bukan? Itu aku. Aku yang difitnah dan sempat dipenjara."
"Lalu kenapa?"
"Apa?"
"Kenapa aku harus peduli pada masalahmu?" pria tua itu menatap Ken sekilas.
"Aku kehilangan istri dan pekerjaan karena kasus itu. Maka dari itu aku mohon padamu tuan, ijinkan aku bekerja di sini. Aku tidak bisa hidup dalam penyesalan dan keputusasaan yang panjang."
"Apa kau sedang menjual kesedihanmu padaku?"
"Tuan? Ah, Baiklah...."
Ken menghela nafas panjang. Ia tahu bahwa tidak ada kesempatan untuknya di sana. Ia pun membungkuk memberi hormat pada pria tua itu dan melangkah pergi.
Pria tua itu diam beberapa saat. Ia menimang apa yang akan menjadi keputusannya. Kemudian karena ia melihat semangat yang ada pada diri Ken, akhirnya ia pun memberinya kesempatan.
"Bekerjalah mulai besok. Aku akan melihat bagaimana pekerjaanmu di bengkelku. Dan juga, aku tidak akan membayar gajimu di satu bulan pertama. Apa kau masih ingin bekerja di sini?"
Ken menoleh ke belakang. Ia tidak ingin salah dengar.
"Benarkah tuan?"
"Ehem. Ya."
"Terima kasih, tuan! Terima kasih! Terima kasih banyak!" Ken berlutut dan menyembah di hadapan pria tua itu karena amat bersyukur.
"Hey. Bangunlah... Apa-apaan kau ini. Jangan menyembahku seperti ini," ucap pria tua itu membantu Ken untuk berdiri.
"Terima kasih, tuan," Ken tersenyum.
Begitupun pemilik bengkel.
BERSAMBUNG.......