RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
CERITA MASA LALU



EPISODE 39


Lomba memasak yang meriah dan direkam secara langsung oleh salah satu stasiun televisi itu berjalan dengan sangat baik.


Para juri mengumumkan bahwa pemenang lomba memasak kali ini adalah Ryu Kenzhi. Sebuah hidangan lengkap yang sangat menarik. Bahkan menyesuaikan cuaca yang panas dengan hidangan yang dingin dan segar.


Ken merasa sangat beruntung. Ia tidak percaya bahwa dirinya benar-benar memenangkan lomba memasak dengan juri para chef terkenal.


Begitu ia naik ke panggung untuk menerima hadiah, seseorang berseru dari kursi penonton.


"Dia seorang pembunuh!! Dia tidak layak menjadi koki pemenang!!"


Semua penonton menjadi riuh. Begitu pula para peserta lomba. Suzy menjadi kecewa dengan keadaan yang tiba-tiba saja menjadi kacau.


Ketika semua nampak ricuh, Ken berdiri gemetaran. Ia tersenyum kecut dan merasa rendah diri di mata semua orang. Sejak kemarin, diam-diam ia menahan rasa sakit di hati.


Seperti kejadian malam sebelumnya, para penonton dan beberapa peserta lomba lain mulai menyerukan kata-kata yang tidak baik dan kasar pada Ken. Para juri yang duduk di kursi mereka pun bingung harus bagaimana. Namun mereka yakin, itu adalah sebuah masa lalu sang pemenang.


Setelah menguatkan hatinya beberapa kali, Ken menarik nafas perlahan. Ia meyakinkan dirinya bahwa ujian seperti ini hanya sesaat. Ia harus melewati masa-masa sulit ini dengan percaya diri agar bisa bertahan di tengah-tengah masyarakat.


"Baiklah! Biarkan anjing menggonggong, Ken! Kau harus tetap percaya diri dan jangan lemah!"


Kini Ken mulai terbiasa dengan teriakan tentang dirinya. Tidak masalah baginya jika orang lain mengetahui siapa dirinya. Memang itulah kebenarannya. Kenapa harus disembunyikan?


Tiba-tiba saja ia berseru kencang.


"Ya! Aku memang seorang pembunuh!"


Mendengar seruan Ken yang mengakui bahwa dirinya memang seorang pembunuh, semuanya justru berhenti berteriak dan diam.


"Waah! Kalian pasti ingin tahu. Siapa saja yang sudah aku bunuh. Sebentar, aku akan mengingatnya," Ken berlagak mengingat-ingat semuanya.


"Oh, astaga! Apa yang dia lakukan?" Suzy bingung, sama seperti semua juri yang ada di sana.


Ken berjalan ke dekat meja juri dan mulai berkata lagi, "Nah, sekarang aku ingat. Aku sudah menyincang dua ribu potong ayam, lima gurita dan ikan tuna. Apa semua itu sebuah kesalahan?"


"Apa? Yang benar saja?" seorang juri tertawa.


"Jangan bercanda! Kau seorang pembunuh dan seorang mantan narapidana!!"


Semua orang kembali ricuh. Dan beberapa orang naik ke panggung untuk menyeret Ken turun. Ketika orang-orang itu menariknya turun dengan paksa, baju koki yang sudah terkancing rapi itu pun terbuka hingga separuh bagian.


Dengan begitu, tampaklah tato pada lengan dan punggung Ken yang sudah tertutup tanpa ia pamerkan. Seketika itu juga, semua orang berhenti memaksanya turun. Mereka menelan ludah dan saling melirik.


"Lihat! Dia memiliki tato. Sudah pasti dia seorang pembunuh keji!!" seru salah seorang berusaha memprovokasi penonton.


Namun Ken tidak kehabisan akal. Ia segera merapikan kembali pakaiannya dan memberi hormat pada semua yang hadir di sana. Kemudian ia mengambil nafas panjang sebelum akhirnya memulai ceritanya.


"Aku memang pernah mendekam di dalam penjara selama 17tahun. Sebagai hukuman atas pembunuhan seorang perampok yang kebetulan tengah merampok di rumah nona Suzy," ucapnya sambil menunjuk Suzy dengan telapak tangannya.


Semua menoleh pada Suzy.


"Ya. Benar. Saat itu dua orang perampok merampok rumahku dan melukai perut ibuku. Menurut kalian, bagaimana sikap seorang teman jika keluarga temannya dalam bahaya?" Suzy berseru dengan percaya diri.


Semuanya melongo dan bergumam tentang pendapatnya masing-masing.


"Dia, teman baikku. Sebagai sahabat, tentu saja dia khawatir pada keadaan ibuku. Lalu perampok-perampok itu menyerangnya dan berusaha membunuhnya. Jika kalian yang jadi dia, apa yang akan kalian lakukan? Bukankah kalian akan membela diri juga?" lanjut Suzy.


Beberapa orang mengangguk setuju dan mulai membicarakan soal pembelaan diri yang dilakukan Ken.


"Benar. Saat itu aku hanya membela diri. Dan karena perampok itu semakin memojokkanku, maka aku tidak mempunyai pilihan."


"Bagaimana bisa? Hanya karena terpojok kau sampai menghabisi nyawa seseorang?"


Semuanya kembali riuh membenarkan.


"Lantas, apa kalian lebih membenarkan perbuatan mereka yang menusuk dan membacok punggungku dengan kapak? Bukankah jika penganiayaan seperti itu ku biarkan saja, akan ada tiga orang yang mati? Aku, temanku dan ibunya?"


Mereka terkejut mendengar hal itu dan meminta bukti. Maka, Ken kembali melepaskan bajunya untuk menunjukkan bekas luka.


Begitu melihat bekas luka di punggung, pundak, perut dan lengan Kenzhi, semua orang mulai diam. Mereka mulai memahami situasi yang terjadi pada Ken dan berbalik menjadi iba.


"Aku menyadari kesalahanku. Dan aku pun tidak melarikan diri atas kematian seseorang di antara perampok itu. Meski masih muda, aku bersedia dihukum dan rela putus sekolah karenanya."


Suzy memeluk lengan Kenzhi dengan penuh perhatian. Ken membalas dengan memegangi tangan Suzy yang ada di lengannya.


"Meski begitu, aku tetap saja bersyukur karena temanku ini dan ibunya selamat dari ancaman kematian."


Setelah mendengar cerita Ken, seorang juri ternama memberikan komentar.


"Baiklah, semuanya. Aku rasa masa lalu seseorang, bukanlah penghalang untuk mendapatkan kesuksesan. Sudah kita lihat dan dengar bagaimana bukti dari kejadian yang sebenarnya. Karena dia juga sudah menebus dosanya dengan mendekam di penjara selama belasan tahun, alangkah bijaksananya jika kita memberikan dia kesempatan untuk menjadi manusia yang memiliki kehidupan normal."


Akhirnya. Keberadaan Ken diterima di panggung perlombaan. Bahkan ia berhasil membawa pulang uang 5juta Yen sebagai hadiah kemenangannya.


Wah! Fantastis!


Hadiah yang sangat besar itu rupanya hasil dari kerjasama antar perusahaan. Pantas saja jumlahnya tidak main-main untuk sebuah perlombaan di perputaran musim panas.


••••••


Suzy membantu Kenzhi untuk menyimpan uang hasil lombanya di sebuah bank. Begitu selesai membuka tabungan, Ken pun mendapatkan ATMnya.


"Semua uangmu, ada di dalam sini. Jadi simpanlah benda ini dengan baik. Jangan sampai hilang. Mengerti?"


Ken mengangguk cepat.


"Kalau begitu, ayo pergi ke mesin ATM. Aku akan mengajarimu cara mengambil uang."


"Mengambil uang."


"Oh.. Baiklah."


Mereka pergi menuju mesin ATM dan mencoba praktek mengambil uang. Tidak lama kemudian, mereka tampak berjalan bersama dan menuju kembali ke rumah sakit.


"Kita kembali ke rumah sakit, ya," kata Suzy.


"Eh? Kenapa kembali ke sana?"


"Kau harus memeriksa gendang telingamu kembali."


Ken berhenti dan menoleh pada Suzy. Wanita itu berdiri menghadap dirinya dengan serius.


"Bagaimana jika aku tidak mau?"


"Apa kau mau menentangku?"


"Aku tidak ingin kembali ke rumah sakit," jawab Ken.


"Heeh? Serius??"


Ken mengangguk sambil membuat wajah sok imut. Ia sedang berusaha membujuk Suzy.


BLETAK!


Suzy menjitak kepala Ken dengan kencang. Tentu saja Ken memekik kesakitan.


"Haiiss!! Sshh.. kenapa memukul kepalaku?" Ken mengusap-usap kepalanya yang sakit.


"Bisa-bisanya kau mengatakan tidak mau kembali ke rumah sakit?"


"Aku hanya tidak ingin mengetahui penyakitku,,,,"


Suzy diam menatap Kenzhi.


"Aku ingin kau baik-baik saja. Jadi, kembalilah ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan pada telingamu. Ya?" Suzy membujuk Ken supaya mendapatkan pemeriksaan lanjutan.


Belum sempat Suzy melanjutkan nasehatnya, tiba-tiba saja Ken merasakan ngilu pada telinga bagian kanannya. Rasa ngilu itu disertai rasa pusing yang semakin menyiksa ketika suara klakson bus tiba-tiba terdengar dari jalan.


DIIIN! DIIIINN!!


Ken bereaksi dengan menundukkan kepala. Tangan kanannya pun memegangi kepalanya dengan kuat. Hampir saja ia jatuh bersimpuh jika Suzy tidak segera menangkap tubuhnya.


Dalam pelukan Suzy, Ken merasakan pendengarannya kembali terganggu. Suara-suara bising berputar-putar di dalam telinganya. Dan itu sungguh mengganggu.


•••••


Pukul 18.18


Kini, Ken berada di ruang pemeriksaan lanjutan. Selain CT scan, Ken juga harus melakukan rontgen di bagian kepala. Hal itu bertujuan untuk memeriksa masalah di dalam jaringan dan aliran darah dalam otak.


Begitu menemukan cedera kepala yang cukup parah, dokter meminta keluarga Ken untuk menandatangani surat persetujuan operasi.


"Ibu, apa yang harus kita lakukan?"


"Tenanglah, sayang. Mari kita setujui prosedur operasi terlebih dahulu. Siapa lagi selain kita? Tidak benar jika kita menundanya. Keselamatan Ken yang lebih penting, bukan?"


Suzy mengangguk sedih. Maka, setelah Ken menjalani tes MRI, operasi otak untuknya pun segera dilaksanakan. Operasi tersebut dilakukan untuk memperbaiki struktur tulang dan membuang cairan yang membuat otak Ken bengkak.


Beberapa jam kemudian, keluarga yang bertanggung jawab pada pasien dipanggil dokter ke ruangannya.


"Bagaimana keadaan pasien, dokter? Apa dia baik-baik saja?"


"Pasien mengalami pembengkakan otak dan sedikit keretakan tulang tengkorak sebelah kanan. Benar. Akibat pukulan keras di kepalanya, pembengkakan otak ini dapat memicu masalah pendengarannya. Tapi syukurlah, kami dapat memperbaiki struktur tulang tempurung yang retak tersebut."


"Lalu, apa dia akan terus mengalami sakit kepala dan gangguan pendengaran?" Suzy bicara pada dokter ditemani bibi Tamako dan paman Akihiro.


"Untuk itu, kami belum bisa memastikannya. Pasca operasi, ada beberapa tahapan dalam kondisi pasien yang harus diperhatikan."


"Apa itu dok?"


"Sebaiknya, anda semua membantu kami dalam memantau kondisi pasien selama beberapa hari. Misalnya melihat pola makan, pola tidur, cara berbicara dan suasana hati pasien. Jika ada sesuatu yang aneh, segera bawa pasien kemari. Itu artinya, pasien membutuhkan terapi lanjutan."


"Baik dokter," Suzy *******-***** tangannya karena khawatir.


"Untuk membantunya melewati masa sulit, berikan dia Paracetamol ini satu tablet di setiap ia mengalami sakit kepala kembali," dokter mengulurkan sebotol tanggung tablet Paracetamol.


Karena kondisi Ken pasca operasi belum terlalu baik, maka keluarga Suzy membawanya pulang ke rumah mereka. Sebab, mereka harus berada di dekat Ken jika mereka ingin memantau keadaannya.


Kata dokter, pasien bisa saja mengalami mual dan muntah yang berkepanjangan, gangguan bicara dan kejang, lalu perasaan bingung, atau perubahan perilaku yang drastis.


Dalam hal ini, Suzy benar-benar dibuat khawatir.


.


.


.


.


Bersambung ke Episode 40


...----------------...