
EPISODE 34
Ken berlatih dengan tenang untuk ujian dan lomba memasak yang diadakan salah satu perusahaan makanan. Suzy sudah mendaftarkan diri mereka lewat online.
Dan mendapatkan nomor mereka masing-masing. Ken dengan nomor 127 dan Suzy 128. Di belakang mereka masih banyak peserta lomba lain sampai nomor urut 300an.
Di restoran, masakan mienya sudah masuk ke daftar menu baru. Dan ajaibnya, banyak pesanan yang masuk untuk masakannya. Entah itu udon, ramen, mi soba, rupanya masyarakat menerima menu baru di restoran Suzy dengan antusias.
Ken semakin sibuk dari hari ke hari. Hingga jadwal ujiannya pun datang. Ia berangkat pagi-pagi sekali sebelum jam penjadwalannya. Di lokasi ujian, ia berteman dengan beberapa orang. Salah satunya Hanjime.
Pria berkaca mata itu mengambil ujian yang sama dengannya. Sehingga mereka berdua mendapat kecocokan dalam mengobrol.
"Hosh,, Hosh,, Ken. Kau sudah menyiapkan nomormu?" tanya Hanjime saat datang.
"Ya," Ken memperlihatkan nomor peserta yang ia pakai di dada.
Hanjime segera duduk di dekat Ken dan meletakkan alat tulisnya.
"Kau berlari kemari?" tanya Ken.
"Benar. Aku takut terlambat," Hanjime ngos-ngosan.
Ken melihat Hanjime berkeringat dan kelelahan. Maka ia mengeluarkan sebuah kotak makan yang berisi Onigiri.
"Kau mau sarapan?" tanyanya sambil mengulurkan kotak makannya.
Han menoleh dan mengambil satu kepal Onigiri berbentuk segitiga, "Terima kasih."
"Jangan sungkan."
Ken juga mengambil satu untuk sarapannya. Lalu menikmati sarapan tersebut dengan santai. Ken yang duduk dengan menopangkan satu kakinya ke kaki lain membuka-buka buku catatannya dan terus belajar sebelum ujian dimulai.
Hingga akhirnya, waktu ujian tiba. Semua peserta sudah masuk dan duduk di kursi nomor urut mereka masing-masing. Untuk ujian pertama, mereka akan menghadapi soal teori. Dua pengawas yang datang dari dinas pemerintah duduk mengawasi ujian dengan wajah-wajah mereka yang datar.
Setelah mendapatkan soal ujian, Ken mulai mengisi dan mengerjakannya dengan teliti. Setiap kata ia pahami betul-betul hingga ia mampu mendapatkan jawaban yang meyakinkan.
Lima puluh soalan membuat ruangan ujian sangat tenang. Masing-masing dari mereka larut ke dalam jawaban soal mereka. Pengawas hanya duduk dan menyapukan pandangan mereka seolah mengawasi ujian di sekolah
Tut Tut Tut Tut !
Tut Tut Tut Tut!
Terdengar suara timer yang ada di atas meja pengawas. Ujian teori sudah selesai. Kertas jawaban mereka diletakkan di atas meja dan menunggu pengawas mengumpulkannya.
Begitu semua terkumpul, para peserta melanjutkan ujian berikutnya. Yaitu ujian praktek. Maka mereka pun diminta berpindah ruangan.
Di hadapan mereka terdapat beberapa set meja masak. Di atasnya sudah ada nomor dari masing-masing peserta. Ken langsung menuju ke nomornya. Rupanya, di atas meja mereka sudah tersedia tepung di dalam satu wadah baskom stainless dan beberapa jenis bumbu serta telur, daging dan sayuran yang sudah tersedia dalam keranjang belanja.
Ken menyiapkan peralatan yang diperlukan. Dan pada saatnya ujian dimulai, ia bergerak cepat dan terencana rapi.
SPLASH!
Ken menuang tepung gandum yang ada dalam baskom ke atas meja yang sudah dilapisi plastik bersih dan langsung mencampurnya dengan telur dan air. Begitu campuran tepung sudah siap, ia pun mulai mengadon dengan kedua tangannya.
Tampak yang lain juga melakukan hal yang sama. Namun dengan teknik yang terlihat berbeda. Pada saat itu, pengawas ujian berkeliling sambil membawa catatan mereka. Teknik dalam mengadon adonan mie menjadi titik paling penting sebagai penambah nilai ujian.
Beberapa menit kemudian, tampak para peserta mulai merebus mie dengan waktu secukupnya. Kemudian mengangkat dan meniriskannya.
Tak terkecuali Kenzhi. Selagi menunggu kuah kaldu ramennya mendidih, Ken menyiapkan sayuran ataupun daging penambah cita rasa. Ia memotong daging dan udang sebagai protein yang menambah gizi di dalam makanannya nanti.
Selain makanan utama, Ken menyiapkan makanan pendamping seperti Tamagoyaki dan Gyoza. Tamagoyaki yang berbahan telur ayam itu ia masak menjadi gulungan yang rapi.
Sedang Gyoza atau pangsit buatannya diisi dengan irisan kubis, bawang putih, daun bawang, lalu ayam dan udang cincang. Kesemua bahan isian itu ia cincang halus. Kemudian ia bungkus dengan kulit yang sudah ia siapkan.
Begitu kuah ramennya matang dan waktu tinggal beberapa menit lagi. Ken sudah menyiapkan mangkuk dan mulai menata mie ke dalamnya. Lalu toping daging yang sudah ia iris tipis ia letakkan di atas mie dengan rapi. Tak ketinggalan bawang dan wijen lalu telur rebus yang ia rebus dengan setengah matang.
Ketika semua hidangannya siap dan waktu tinggal beberapa detik lagi, ia baru menuangkan kuah kaldu gurih ke dalam mangkuk ramennya.
Pengawas ujian pun mulai berkeliling mencicipi hasil masakan dari para peserta. Ketika dua orang pengawas datang ke mejanya, Ken membungkuk dan menyapanya.
"Apa kabar, tuan dan nyonya. Semoga masakanku membuat kalian bahagia."
"Hmmm. Kuahnya gurih, ya..." pengawas itu menyeruput kuah dan mengunyah mie serta toping yang ada.
Kemudian pengawas itu bertanya, "Gyoza? Apa isinya?"
"Aku membuat isian dari irisan kubis, ayam, jamur dan udang, lalu bawang serta daun bawang."
"Ayam dan udang? Bukan daging cincang?"
"Benar. Aku ingin menampilkan isian yang berbeda."
"Lalu apa ini kau goreng? Berapa waktu yang kau butuhkan?"
"Tidak lama. Kira-kira lima menit saja untuk membuat tekstur renyah di sebagian sisinya. Sebab aku sudah merebusnya lebih dulu untuk mematangkan isiannya."
Ujian berikutnya dan berikutnya lagi, para peserta melakukannya dengan sangat teliti dan hati-hati. Mereka melakukan tiga tahap ujian dan berusaha menampilkan yang terbaik di hadapan para juri.
•••••••
Pukul 17.34.
Ujian memasak sudah berakhir. Para peserta kini sedang menunggu pengumuman kelulusan mereka. Sudah dua jam lamanya mereka menunggu, akhirnya pengumuman siapa saja yang lulus pun keluar.
Mereka semua ramai-ramai berkumpul di depan papan pengumuman. Salah satunya Ken. Ia ikut berdesak-desakan demi melihat apakah namanya terdaftar di barisan peserta yang lulus.
Begitu melihat namanya ikut masuk sebagai salah satu peserta yang berhasil lulus, Ken berseru senang.
"Yes!! Aku berhasil"
Pekik Ken saking gembiranya. Beberapa kali ia melompat dan menggerakkan tangan kanannya yang mengepal, tanda bahwa ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkan.
Setelah menemui pihak pengelola ujian, akhirnya ia mendapatkan surat sertifikasi memasaknya saat itu juga.
Mata Ken berbinar-binar saat ia berjalan pulang menuju restoran. Yah. Sekarang, tempat mana lagi yang bisa ia datangi selain tempat Suzy berada. Bahkan setelah ia putus dengan Linzhi, ia pun memutuskan untuk meninggalkan rumah wanita itu dan diam-diam tinggal di restoran begitu malam tiba.
Ken baru saja sampai di restoran ketika ia dikejutkan dengan suara letupan party popper dan hamburan kertas warna-warni yang menyambutnya. Rupanya Suzy dan yang lainnya membuat pesta kecil untuknya.
"Selamat atas kelulusanmu!!" Suzy berseru bersama yang lainnya.
Ken terbengong. Sebab ia merasa heran, dari mana mereka tahu bahwa dirinya berhasil lulus dalam ujian memasak.
"Apa ini? Dari mana kalian tahu bahwa aku lulus?" Ken tersenyum dan tercengang.
"Kau lupa, aku juga pemilik sebuah restoran. Untuk mencari info kecil seperti itu mudah saja bagiku," Suzy menyombongkan diri.
"Benarkah?"
"Salah satu pengurus ujian adalah temanku, jadi aku bertanya padanya."
"Aah. Seperti itu rupanya. Aku kira, aku yang akan memberi kejutan itu padamu, tapi lupakan saja."
Suzy menggiring Ken duduk di kursi tamu. Kemudian ia bertepuk tangan memberi tanda pada Gorou.
Dengan cepat, Gorou dan Daisuki keluar membawa sebuah kue tart.
"Apapun itu, mari rayakan kelulusanmu. Semoga nanti, kau bisa membuka restoran sendiri dan sukses dalam berbisnis," Suzy memberi tepuk tangan meriah.
Yang lain pun merasa turut senang atas kelulusan kakak senior mereka. Ucapan dan doa yang baik mereka panjatkan. Membuat Ken merasa hidupnya begitu berarti.
"Terima kasih semuanya. Aku jadi terharu. Kalian benar-benar seperti keluarga bagiku," ungkapnya berkaca-kaca.
Ken benar-benar sedih. Mengapa ia justru merasakan kehangatan sebuah keluarga bersama orang lain?
Disekanya air mata yang hampir tumpah ruah ke pipinya. Ia tersenyum dan menunduk syukur. Berkumpul dengan keluarga restoran Suzy, membuatnya seakan dihargai.
Belum selesai keharuan yang dirasakan Ken, Suzy memberinya sebuah hadiah.
"Ini hadiah untukmu," katanya.
"Hadiah?"
"Hmm."
"Kau tidak perlu melakukan ini untukku," Ken tersenyum sambil mengusap mukanya yang memerah karena haru.
"Terimalah. Aku senang memberikannya untukmu."
Ken menunduk dan menerima hadiah tersebut. Saat menerima hadiah dari Suzy, tanpa sengaja jari jemarinya menyentuh jari Suzy.
DEG!
Keduanya bertatapan dengan perasaan dan jantung yang tiba-tiba saja meledak-ledak. Ken maupun Suzy sama-sama diam tak bergerak.
"B Baiklah. Aku menerimanya. Terima kasih banyak."
Ken berusaha mengalihkan perhatian.
.
.
.
.
Bersambung Ke Episode 35