RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
TIDAK INGIN PULANG



EPISODE 10


Jangan lupa Likenya ya πŸ₯°πŸ‘πŸ»


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Ken berjalan tiada arah ke sisi pantai. Tempat tinggalnya dulu memang dekat dengan daerah laut. Kebanyakan para penduduk di sana juga berprofesi sebagai nelayan. Tidak heran jika di pasar banyak dijumpai jenis ikan yang dijual secara langsung oleh nelayan itu sendiri.


Di sebuah dermaga, Ken berdiri memandang jauh ke lautan. Ia melompat ke pinggiran dermaga tempat bebatuan besar terkumpul. Dikeluarkannya sebuah bungkus rokok dan pemantiknya. Ia duduk dengan satu kaki yang dilipat dan menjadi tumpuan tangan kirinya yang lurus ke depan.


Pussh,, Pussh,,,


Asap yang mengepul dari celah bibir dan hidungnya bertemu angin yang cukup kencang di pinggiran dermaga. Sesekali burung camar terbang melintas dengan suaranya yang nyaring. Awan hitam bergerak beriringan menuju arah selatan. Menandakan cuaca yang sebentar lagi akan mendung.


Ken melempar sebuah kerikil ke arah laut. Begitu dilemparkan, kerikil itu memantul jauh beberapa kali dan akhirnya tenggelam ke dalam air.


Di tempat sunyi seperti itu, Ken menengadahkan kepalanya. Menghisap rokoknya dengan sangat menjiwai sambil merasakan getaran hati yang perlahan terobati.


Udara pantai terasa segar baginya. Percikan ombak yang datang sesekali menyirami kakinya membuat sentuhan-sentuhan dingin yang menyejukkan.


Cukup lama ia duduk diam di sana. Memandang ke langit dan membuang nafas dengan kasar. Sesekali terlihat wajahnya yang sendu dengan senyuman kecut. Terkadang pula ia menitikkan air mata. Mengingat kembali bagaimana kehidupannya.


Ketika hari mulai beranjak petang, Ken berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia menghabiskan dua rokok dalam kesendiriannya itu.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Di dalam bus,,,


Ken duduk di barisan belakang samping jendela. Ia menatap keluar dengan pandangan yang kosong. Ketika ia turun dari kereta sebelum akhirnya naik bus tadi, ia tidak sengaja meninggalkan topinya di bangku duduknya.


"Ah, topiku,,," ucapnya baru sadar.


Ken turun di halte dekat jalan menuju rumah tuan Kido. Tapi begitu ia turun, ia merasa bahwa kakinya tidak mau melangkah pulang ke sana. Tiba-tiba saja, hujan deras turun mengguyur tanah tempatnya berpijak.


Ken pun basah kuyup karena kehujanan. Meski begitu, ia tetap tidak mau pulang dan bertemu siapapun. Akhirnya ia berputar-putar di sekitar pertokoan dan kafe-kafe yang buka di jam malam.


Dan entah mengapa, ia melangkah memasuki sebuah tempat karaoke dan bar yang tak terlalu mewah. Saat itu ia hanya berpikir mungkin saja jika dirinya berkaraoke bisa mengurangi sedikit beban pikirannya.


Di dalam tempat karaoke, banyak sekali wanita cantik seksi yang berdiri berjejer. Sebagai pemandu lagu, mereka dapat dipilih untuk dipesan sebagai teman saat karaokean. Beberapa di antaranya memanggil Ken dengan sebutan adik, karena tampak masih sangat imut.


Lebih-lebih karena pakaian yang dikenakan Ken basah kuyup hingga tampaklah bentuk badan yang membuat para wanita itu terus menatapnya.


"Apa tuan muda mau menyewa salah satu dari mereka?" tanya receptionis yang menangani tamu tersenyum ramah.


"Tidak. Aku hanya ingin sendiri."


"Baiklah, silahkan masuk ke ruang Nanohana, tuan. Kami akan segera mengantarkan minuman pesanan anda ke sana," kata pelayan menunjukkan kamar karaoke Nanohana.


"Baiklah."


Ruangan-ruangan di sana terdiri dengan nama-nama bunga dan buah. Nanohana sendiri adalah nama sebuah bunga. Yaitu, bunga Canola cantik yang berwarna kuning cerah. Yang sering diambil bijinya untuk diproduksi sebagai bahan minyak sehat.


Ken duduk di dalam ruang karaoke sendirian. Ia belum menyentuh mik ataupun kaset CD yang disediakan di depannya. Begitu pesanan birnya datang, ia memilih segera menikmatinya.


Rupanya bir di tempat itu cukup kuat. Baru kali inilah pengalaman Ken merasakan bir yang kadar alkoholnya tinggi. Menenggak satu gelasnya saja membuat pipinya langsung memerah.


Ketika ia berdiri, mulai menyanyikan lagu cinta dan menghabiskan dua botol bir, Ken mulai mabuk. Meski sudah mabuk, ia tetap melanjutkan menyanyikan beberapa putaran lagu cinta yang sedih.


Kemudian setelah itu, ia tersungkur jatuh di atas sofa kuning yang ada di ruangan tersebut.


Ken meraih satu botol lagi dan menuangkan bir ke dalam gelas. Ia kembali menghabiskan segelas demi segelas. Hingga akhirnya ia mabuk berat dan tidak sadarkan diri terbaring di kursi sofa tersebut.


Begitu salah satu pelayan menemukannya tidak sadarkan diri, ramailah para wanita pemandu lagu yang menyukai daun muda seperti Ken. Mereka memenuhi ruangan dan mengerumuni Ken dengan gemas.


"Lihat, lihat, lihat. Meski dia mabuk dan tidak sadarkan diri, dia tampak manis sekali," kata seorang pemandu dengan suara manja.


Salah satunya ada pula yang menyentuh kulit wajah Ken dengan jarinya yang lentik. Wanita itu membelainya lembut dari dahi ke pipi samping dan akhirnya mengusap bibir Ken pelan.


"Dan coba lihat wajahnya, dia tampan. Aah, melihat bibirnya saja membuatku merasakan dahaga yang luar biasa," kata wanita itu berlanjut mengulum jari yang baru saja ia gunakan untuk mengusap bibir Ken.


"Benar. Aku juga dibuat melayang hanya dengan melihat lekuk tubuhnya yang indah," kata seseorang yang lain sambil mengusap dada Ken yang tertutup pakaian basah dengan gerakan erotisnya.


Terdengarlah tawa cekikikan dari bibir-bibir mereka. Tawa dari iblis-iblis jahat yang melihat mangsanya yang begitu menggoda.


Ketika wanita-wanita itu merengek gemas memperhatikan Ken, seorang wanita pemandu lagu senior masuk dan mengingatkan mereka agar tidak mempermalukan martabat mereka hanya karena kehadiran seorang bocah.


"Dia??" kata senior pemandu lagu yang rupanya adalah ibu Linzhi.


"Apa kau kenal dia?" tanya wanita-wanita yang merengek.


"Siapa?" tanya wanita-wanita yang rewel.


"Dia teman putriku. Biarkan dia di sini untuk sementara sampai putriku datang menjemputnya," kata ibu Linzhi pada para preman penjaga.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Linzhi mendapat telepon dari ibunya. Tapi karena ia membencinya, hampir saja ia tidak mengangkatnya. Namun karena sesuatu, entah mengapa kali ini dia mau menerima telepon dari ibunya.


Begitu diberitahu ibunya bahwa pemuda yang pernah datang ke rumahnya waktu itu kini ada di kafe tempatnya bekerja, Linzhi langsung berlari ke sana untuk menjemput Ken.


Ia menerobos masuk ke dalam tempat karaoke dan melihat Ken terbaring di sebuah sofa dengan kondisi yang tampak mabuk berat.


"Apa kau tahu di mana rumahnya?" tanya Himari, ibu Linzhi.


"Tidak. Akan ku bawa dia ke rumah. Setidaknya dia tidak berkeliaran di jalanan dalam keadaan mabuk," jawab Linzhi datar.


"Baiklah, Hati-hati."


Dibantu preman penjaga, Linzhi membawa Ken keluar dan naik taksi. Brumm!


Sesampainya di rumah, Linzhi bersusah payah memapah Ken masuk ke dalam. Sehingga pada saat ia terlalu lelah dan tenaganya habis, mereka berdua jatuh bersamaan ke lantai. Untung saja mereka sudah sampai di kamar Linzhi.


Begitu Linzhi selesai menyiapkan kasur lipat miliknya, ia segera membaringkan Ken di atasnya. Huff,, tubuh Ken lumayan berat baginya. Linzhi duduk perlahan di samping Ken, lalu melepas sepatu dan kaos kaki yang dipakainya.


"Kenapa kau minum sampai mabuk berat? Apa kau sedang ada masalah di rumah?" Linzhi bertanya pada Ken meski ia tahu Ken tidak akan mendengarnya.


Tapi, rupanya Ken mendengar pertanyaan Linzhi dan menjawabnya pelan dengan suara berat khas seorang pemabuk, "Aku sedang patah hati."


DEG!


Linzhi tiba-tiba merasa jantungnya syok. Patah hati? Apa Ken sudah memiliki pacar? Ketika ia menanyakan soal pacar pada Ken, pemuda itu hanya diam saja. Kembali tertidur.


Linzhi menatap sejenak pemuda yang pernah berciuman dengannya itu. Kemudian karena bau alkohol pada tubuh Ken begitu kuat, ia pergi ke dapur untuk mengambil air kompres.


Krucuk Krucuk..


Linzhi memeras handuk kecil yang ada di dalam baskom berisi air hangat. Kemudian dengan pelan ia mengusapkannya pada wajah Ken yang berkeringat.


"Hah? Tubuhmu panas sekali. Apa kau sakit??"


Linzhi memeriksa panas tubuh Ken dengan punggung tangannya.


"Kau memang terlihat kuat dari luar, Ken. Tapi aku tahu, sebenarnya jiwamu sangat rapuh. Pasti ada alasan khusus yang membuatmu menjadi seperti ini," kata Linzhi bicara sendiri lagi.


Linzhi menarik dan memeluk Ken supaya duduk. Kemudian dengan susah payah ia melepas kaos Ken yang basah.


GLEK!


Mata Linzhi terpaku pada dada Ken yang berkeringat. Meski ragu, dengan perlahan ia mengusap dada itu menggunakan handuk hangat yang ada di tangannya.


Ia mulai mengusapkan handuk dari leher turun ke dada. Ken menggeliat sebentar tapi masih tetap memejamkan mata. Sesekali terdengar suara gumaman lirih dari mulutnya.


"Hmmmhh.."


Mungkin karena merasa geli, Ken bergerak tanpa sadar menampik handuk yang sedang dipakai Linzhi untuk mengompresnya. Dan karena ia masih mabuk berat, tanpa sadar pula tangannya menarik tubuh Linzhi ke dalam pelukannya.


Ken memeluk tubuh Linzhi seakan-akan ia adalah sebuah guling tidur. Ia mendekap dan mengelus-elus tubuh Linzhi yang tidur berhadapan dengannya itu tanpa sadar.


Dan,,


Linzhi yang berada di dalam pelukan Ken pun hanya diam mengikuti apa yang Ken lakukan kepadanya. Bahkan ia tersenyum saat kepalanya bersandar di lengan kanan Ken.


Setengah jam sudah berlalu sejak tadi. Tapi Ken belum juga melepas pelukannya. Linzhi juga masih terjaga dan menatap dengan penuh perhatian wajah Ken.


Ia mengusap wajah pemuda yang sedang memeluknya itu dengan lembut. Di matanya, Ken begitu manis saat tertidur. Hanya orang-orang bodohlah yang menganggap Ken sebagai berandal tidak berguna. Selama dekat dengannya, Linzhi menganggap Ken justru sebaliknya.


.


.


.


.


Bersambung ke Episode 11 ya,, πŸ€—