
EPISODE 106
AARRRHHH!!
Suara teriakan Yoshi menggema di sel tahanannya. Sudah dua tahun ini dirinya mendekam di penjara tanpa ada seorang pun yang menjenguknya. Bahkan Linzhi, mantan istrinya. Juga tidak pernah menengok keberadaannya.
Hari-harinya di penjara khusus benar-benar tidak menyenangkan. Beberapa geng berandal selalu mengganggunya jika bertemu sapa. Entah apa masalah di antara mereka, namun sepertinya mereka sengaja mengusik ketenangannya.
Bahkan, keberadaannya di sana dimanfaatkan dengan baik oleh para tahanan senior. Mereka sengaja memperlakukan Yoshi seperti kacung.
Entah itu mengelap keringat, mengambilkan sisa makanan di selipan gigi dengan tusuk gigi, lalu ada juga yang menyuruh memijat tubuhnya, menggantikan pekerjaan kerja baktinya terutama di bagian gorong-gorong bawah tanah dan masih banyak lagi.
Dan....
Seperti siang itu, saat semuanya pergi ke kantin untuk mengambil jatah makanan, Yoshi berjalan sendiri menuju barak antrian.
Rupanya di sana, telah berkumpul kawan dan pendukung Ken yang masih setia. Begitu melihat Yoshi sedang berbaris, salah satu anggota menyiapkan kakinya.
Tepat saat Yoshi berjalan ke sebuah meja, kakinya disepak oleh orang tersebut hingga nampan yang dibawa Yoshi jatuh di lantai dan makanannya tumpah.
Karena jatah makan hanya dapat satu bagian per orang, maka Yoshi tidak punya pilihan lain selain memunguti nasi dan lauk yang tumpah ke lantai.
HIHIHI.....
Suara cekikikan dari sekelilingnya mengganggu telinga Yoshi. Sebagai pria yang biasa dipuja, pengalaman menjengkelkan seperti itu adalah yang pertama kalinya dalam hidupnya.
Karena tidak kuat menahan marah, ia pun mencoba membela diri, "Siapa yang melakukannya padaku?!!"
NGAAAKK...
NGAAAKK....
NGAAAKK...
Suasana hening sesaat karena semua tahanan menoleh pada Yoshi dan menatapnya.
GLEK
Yoshi menelan ludahnya begitu semua menatapnya tajam. Dengan memberanikan diri ia bertanya kembali, "S siapa yang menyepak kakiku?"
Entah mengapa, tidak ada satupun tahanan yang angkat bicara. Mereka hanya memasang wajah masam saat pria itu bertanya. Dan seolah tidak pernah mendengar seseorang bertanya, semua yang ada di sana kembali bicara dan melanjutkan aktifitas makan mereka tanpa mempedulikan Yoshi.
Alamak.... Kasihan sekali Yoshi. Rupanya tidak ada satupun yang menganggap dirinya ada.
Maka dengan ragu-ragu, Yoshi pun menyapukan pandangannya mencari tempat duduk. Aih, semuanya penuh sesak. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri sekali lagi. Memang tidak ada tempat untuknya duduk.
Baru saat ia melihat ada seseorang yang meninggalkan tempat duduknya, Yoshi berjalan ke tempat tersebut.
TRAK
Diletakkannya nampan makanan miliknya dengan pelan. Sebab di meja tersebut, beberapa tahanan menatapnya sangat dingin dan mengerikan. Yoshi pun gugup.
Ia mendaratkan pantatnya amat perlahan ke bangkunya. Kemudian ia duduk tenang dan mulai menikmati makanannya.
Beberapa kali Yoshi melirik ke beberapa tahanan yang ada di meja yang sama dengannya.
"Hey! Apa kau memelototiku!" bentak seorang di depannya sambil menggebrak meja.
"T tidak, tidak," ia menggeleng cepat.
Yoshi menunduk dan melanjutkan makan nasi yang sudah bercampur lauk saat jatuh tadi. Ia menyuapkan nasi tersebut banyak-banyak ke dalam mulutnya supaya cepat habis dan segera meninggalkan tempat mengerikan itu.
"Khahhkk khoeekkh!!"
Tiba-tiba saja tahanan yang sedang minum air dari gelasnya dan ada di depannya itu meludahi gelas minumnya dan menggoyangnya sejenak.
Tanpa Yoshi duga, air minum yang sudah diludahi itu dituangkan pria itu ke dalam nampan makanannya. Tentu saja Yoshi mendongakkan kepala untuk menatap pria tersebut.
"Habiskan makananmu! Jika tidak akan ku hajar kau!" orang itu berkata dengan muka menyebalkan sambil tertawa menyeringai.
Merasa jijik dengan keberadaan ludah yang ada di makanannya, Yoshi meletakkan sendoknya dan menghentikan aktivitas makannya.
"Kenapa berhenti?! Apa kau merasa jijik, ha?" tanya orang itu masih tertawa.
Orang itu berdiri dan meraih sendok makan Yoshi kemudian membantu Yoshi memegangnya kembali.
"Makanlah cepat kalau kau tidak ingin menjadi makanan penutup untuk kami," kata orang itu.
"I itu menjijikkan.."
"Apa kau bilang!!"
"A aku tidak b bisa makan itu."
GRETEK
Orang yang memberi ludah emosi dan menarik kerah baju Yoshi hingga tertarik kencang ke arahnya.
"Apa kau berani melawanku?!" orang itu bicara tepat di depan hidung Yoshi.
Yoshi hanya diam dan tidak mau menatap mata tahanan yang sedang membuat gara-gara dengannya.
BUG
Sebuah pukulan keras diterima Yoshi di pelipisnya hingga ia tersungkur jatuh dari kursi.
Tahanan yang tidak suka dengan keberadaan Yoshi itu pun memukulnya sekali lagi. Lagi dan lagi hingga mulut Yoshi berdarah.
Bahkan sekarang, beberapa tahanan lain ikut memukul dan menendanginya hingga babak belur.
Begitu puas memukul, orang-orang memaksanya bangun dan menghabiskan makanannya. Karena semuanya menatap dirinya dengan tatapan serigala yang lapar dan siap memberikan pukulan lanjutan, Yoshi tidak ada pilihan.
Ia pun menuruti keinginan orang tersebut untuk menghabiskan makanannya yang sudah bercampur ludah menjijikkan.
Begitu Yoshi menghabiskan makanannya, para tahanan menertawakannya dan serantak pergi meninggalkan orang yang membuat gara-gara dengan Ken itu.
Begitu semuanya pergi, Yoshi mengamuk dan membanting nampan makan yang ada di depannya ke lantai.
Setelah berteriak marah, ia mencoba memuntahkan kembali makanan yang baru saja ia telan dengan payah.
Ia benar-benar tersiksa.
•••••••
SRET
Ken duduk dan mencoba meraba apa yang ada di sekitarnya. Perlahan ia turun dari ranjangnya dan berjalan meraba-raba udara. Rupanya ia mencoba pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Namun karena matanya masih ditutup perban, maka ia jadi kesulitan. Walaupun ia meraba-raba benda di sekitarnya, namun karena ia tidak tahu letak kamar mandilah yang membuatnya kesulitan.
DUK
"Auh.." kepalanya justru terantuk dinding.
Ia kembali meraba-raba sambil menepuk-nepuk benda yang sudah disentuhnya. Bahkan ia beberapa kali terjatuh saat kakinya tersandung.
Tepat pada saat seperti itu, Yuna masuk membawa makanan. Melihat tingkah Ken, Yuna ingin tertawa. Maka ia mendekati pria itu dengan diam.
Dan karena bingung melihat Ken yang hanya berputar-putar di tempat yang sama sambil memegangi anunya, Yuna bertanya, "Sedang apa kau?"
"Y Yuna!!"
"Hmm. Ini aku. Kau sedang apa di sini?" tanyanya menahan geli.
"Tolong panggilkan aku Ichigo atau Kurosaki," pinta Ken dengan suara tertahan
"Mereka? Mereka sedang ke bengkel. Ada apa?" Yuna penasaran.
"Tidak ada apa-apa," jawab Ken lesu.
"Baiklah kalau begitu," Yuna berlagak pergi.
Ken diam dan tidak jadi mencari Ichigo dan Kurosaki. Namun begitu, hasrat ingin vivisnya tidak bisa ia tahan lagi.
"Eh? T tunggu dulu!" Ken tampak bersusah payah menahan air kencingnya agar tidak keluar saat itu juga.
"Ada apa?" Yuna menyembunyikan tawa gelinya ketika melihat Ken menahan kebelet.
"Iyaa..."
"B bisakah kau menunjukkan padaku letak kamar mandi?" suara Ken semakin tercekat.
"Kau mau mandi? Aku siapkan air hangat dulu, ya," kata Yuna.
"T tidak Yuna! Aku ingin b buang air kecil," Ken akhirnya mengakui.
"Aah, kenapa tidak bicara dari tadi saja? Baiklah, kemari pegangan tanganku," Yuna jadi tersenyum-senyum saat menuntun Ken ke kamar mandi.
Ketika di kamar mandi pun, Ken harus dituntun untuk berdiri tepat menghadap kloset.
"Nah, sekarang kau berdiri tepat di depan kloset. Apa kau mau aku bantu?" tanya Yuna menggoda.
"T tidak perlu. Kau bisa keluar sekarang," Ken merasa risih.
"Benarkah?"
"Iya. Terima kasih sudah mengantarku sampai kemari."
"Baiklah, aku tunggu di depan ya," Yuna menepuk lengan Ken.
Rupanya, Yuna berbohong. Ia penasaran pada aktivitas Ken tersebut. Maka ia pun kembali mendekati Ken dan memperhatikannya diam-diam.
Ken yang tidak mengira bahwa Yuna akan kembali dan memperhatikannya itu pun menurunkan celananya dan memulai aktivitasnya.
UUPSS!
Yuna mengintip Ken! Benarkah itu niatnya?
Begitu Ken selesai buang air kecil dan membersihkan anunya dengan air, tangannya menggapai tissue yang ia pikir biasa ada di toilet. Namun ternyata, sulit sekali mencari titik tepat keberadaan tissue tersebut di saat matanya tertutup.
Karena merasa kasihan, Yuna mendekatkan tissu pada tangan Ken yang tengah meraih-raih.
Tepat pada saat itu, Ken merasakan keberadaan seseorang di dekatnya. Dengan cepat ia membetulkan resleting celananya dan segera menangkap tangan Yuna yang sedang mengulurkan tissue padanya.
HAP!
"Apa itu kau, Yu-na?" tanya Ken ragu.
Yuna berusaha diam dan tidak bersuara. Karena tidak ada yang memberi jawaban padanya, Ken menarik Yuna lebih dekat kepadanya dan menangkap pinggulnya.
"S siapa kau?"
"I iya. Ini aku," Yuna terpaksa mengaku.
GLEK
Ken mendengar suara Yuna.
"Apa sejak tadi kau di sini?"
"I iya...."
"Jadi, kau melihat semuanya?" tanyanya gugup.
"Hemm."
Ken mendengus pelan. Kemudian ia meraih telinga Yuna dan menjewernya.
"Dasar anak nakal, kau mengintip orang tua yang sedang pipis?"
"Hehe,, iya. Aku melihatnya. Kau tipe yang sedikit miring ke kanan, bukan? hehe,"Yuna tertawa kecil.
"Haaissshhh,," Ken tidak percaya Yuna melakukan itu.
"Tapi ngomong-ngomong, siapa orang tua?" Yuna memegangi tangan Ken yang menjewer telinganya.
"Tentu saja aku. Bukankah kau tahu aku lebih tua darimu? Tidak sopan mengintip seseorang yang tengah buang air kecil."
"T tunggu! Bukankah tidak apa-apa ya, melihat milikmu sekarang? Aku bahkan sudah mencicipinya," Yuna membela diri.
TRAK
Ken mendesak Yuna ke dinding.
"Apa kau berpikir seperti itu?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu tunggu mataku sembuh. Aku akan melihatmu saat melakukan itu."
"Apa?"
"Apa kau malu?"
"T tidak. Silahkan saja. Kalau kau mau kita juga bisa sekalian melakukannya sekali lagi."
UHUK UHUK!
Ken menyerah bicara dengan Yuna. Wanita itu rupanya tidak takut apapun. Bahkan dengan terang-terangan ia meminta melakukan hal itu untuk ke dua kalinya.
"Sudahlah. Aku akan menganggap ini tidak pernah terjadi."
"Mengapa tidak?"
"Ini memalukan...."
"Kenapa malu??"
"Pokoknya memalukan. Kau tidak akan memahami itu," ucap Ken sambil berlalu pergi dengan perlahan.
"Apa butuh bantuanku?" Yuna mengejar langkah Ken.
"Tidak," Ken menoleh dan tetap melanjutkan langkahnya.
"Benarkah?"
"Tidak akan."
"Sungguh??"
BRUK
"Haaish..." Ken menabrak pintu kamar mandi.
"Lihat bukan? Kau butuh bantuanku..."
"Tidak."
Ken melangkah lagi dengan cepat. Namun ia tersandung kakinya sendiri.
GLUBRAK
Ken terjatuh di depan kamar mandi dan mengerang kesakitan karena saat jatuh itu, tubuhnya bertumpu pada lengannya yang diperban akibat luka tembakan.
"Kau baik-baik saja??" kali ini Yuna cemas.
"Yaah."
Yuna membantu Ken bangun dan menuntunnya ke tempat tidur.
"Sekarang tidurlah," Yuna membantu Ken berbaring di tempat tidurnya.
"Hmm..."
.
.
.
.
BERSAMBUNG.....