RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
AKAL AKALAN



EPISODE 40


Maka setelah keluar dari rumah sakit, dan menghabiskan musim panas tahun ini, Kenzhi ikut tinggal bersama keluarga Suzy. Untuk beberapa hari, ia istirahat dari pekerjaannya.


"Ayah, mengapa kau menyuruh Ken bekerja keras di waktu istirahatnya??" seru Suzy datang membawa sebuah keranjang kukus (klakat).


Wanita itu meletakkan klakat di atas meja dan mendekati Ken yang sedang memotong kayu.


"Berhentilah bekerja. Ayo cobalah kue Nikuman buatanku," kata Suzy menawarkan kue semacam bakpao panas berisi sayur dan daging cincang.


Ken yang sedang membantu paman Akihiro memotong kayu pun menoleh. Kaos singlet yang dikenakan Ken tampak basah oleh keringat. Dan keringat yang membasahi wajahnya itu tampak berkilauan terkena sinar matahari.


Paman Akihiro berhenti memotong kayu dan mengajak Ken untuk beristirahat. Mereka datang mendekat pada Suzy yang membawakan Nikuman.


"Apa ibumu belum juga pulang?" tanya paman Akihiro.


"Belum, ayah. Ibu bilang, dia akan bertemu kakak ipar di luar," jawab Suzy.


"Ooh. Begitu rupanya?"


Sebenarnya, paman Akihiro, bibi Tamako, juga Nonaka, sedang bersekongkol merencanakan sesuatu untuk perjodohan Suzy dengan Kenzhi. Semua orang ingin mereka berdua bersatu dalam ikatan pernikahan.


Setelah makan kue Nikuman beberapa buah, paman Akihiro membuat alasan untuk meninggalkan keduanya supaya berduaan.


"Kalau begitu, ayah harus menelepon ibumu untuk memastikan itu sendiri," ucapnya sambil berlalu.


"Tapi ayah, kuenya masih banyak," Suzy memanggil ayahnya.


Setelah ayahnya pergi, Suzy menoleh pada Kenzhi yang sedang duduk tenang memandang awan cerah sambil mengunyah Nikuman di dalam mulutnya. Tatapan matanya berhenti di area bibir Ken.


Oiih,,,


Bibir Ken yang sedikit berminyak karena pengaruh isian dari kue Nikuman, terlihat semakin seksi di mata Suzy. Bahkan gerakan jakun Ken yang naik turun pun membuatnya menelan ludah.


GLEK!


Suzy benar-benar terpesona pada sosok pria yang duduk di sampingnya. Ia tersenyum dengan bibir yang sedikit melongo.


"Ada apa? Kau membuatku takut," kata Ken begitu melihat Suzy menatapnya lama.


GYUUTT...


Tiba-tiba suara Ken membuyarkan lamunan Suzy. Dengan usaha yang keras, wanita itu pun berusaha mengelak dengan situasi yang ada.


"Ohohoho. Tidak ada apa-apa. Aku hanya,, aku hanya,,, em, ini. Kau mau lagi?" Suzy gelagapan dan akhirnya menawarkan Ken untuk mengambil Nikuman lagi.


"Tidak. Terima kasih. Aku rasa makan tiga buah saja, sudah membuatku kekenyangan," Ken terkekeh.


"Benarkah?"


"Hmmm."


Ken mengangguk lalu menundukkan kepala. Kemudian ia menggosok-gosokkan tangannya agar mendapat kehangatan. Di awal musim dingin seperti saat ini, hujan semakin sering turun. Bahkan jika malam tiba, langit tampak berkabut.


Benar saja. Saat mereka berdua sedang melanjutkan obrolan, hujan turun disertai angin.


"Wah? Hujan? Apa aku perlu menjemput bibi dan Nonaka?" Ken merasa khawatir pada mereka.


"Tidak perlu. Mereka pasti memiliki inisiatif sendiri," jawab Suzy.


"Kalau begitu, sebaiknya kita pergi ke dalam saja, di luar sini terlalu dingin," Ken meraih klakat dan membawanya masuk.


Di dalam rumah, paman Akihiro sedang menonton televisi. Setelah menyalakan tungku perapian, Suzy dan Ken duduk dan ikut bergabung dengannya.


"Ibu akan mengadakan makan malam spesial nanti malam," kata ayah Suzy.


"Makan malam sepesial? Memangnya ada acara apa?"


Suzy heran. Sebab, ulang tahunnya bukan pada tanggal-tanggal ini. Begitu pula ulang tahun Hari atau Yama sekalipun. Tidak ada orang yang sedang ulang tahun di tanggal itu!


"Sebenarnya sedikit terlambat untuk merayakan kemenangan kalian dalam perlombaan masak bulan kemarin. Tapi, ibu sudah berjanji akan membuat makanan istimewa untuk itu," ayah Suzy menerangkan.


"Ooh."


Suzy mengangguk sambil memajukan bibirnya. Tanpa ia sadari, rupanya Ken sedang memperhatikannya. Maka, saat ia menyadari bahwa Ken sedang menatapnya, Suzy terkejut dan segera merubah bentuk bibirnya agar nampak manis dipandang.


Ken tersenyum simpul sambil membuang muka. Ia merasa, meski kini Suzy berusia tiga puluh tigaan, wanita itu benar-benar masih terlihat imut.


•••••••


Keluarga Suzy berkumpul di ruang makan untuk menikmati sebuah pesta makan malam. Semua orang di keluarga itu, saling bahu membahu untuk membuat Suzy maupun Ken menjadi lebih dekat dengan cara apapun.


Bahkan, ayah dan ibu Suzy diam-diam sudah mengajukan pendaftaran pernikahan untuk keduanya.


"Kemarikan gelasmu, Ken. Biar aku yang menuangkan minuman untukmu," seru Akiyama meraih botol sake.


Ken mengambil gelas dan mengulurkannya ke depan untuk menerima tuangan sake dari Akiyama.


"Selamat atas kemenangan yang kau terima! Semoga hari ini, esok, lusa dan masa mendatang, kau mendapatkan kesuksesan!!" Akiyama berseru riang.


"Selamat, selamat..." semuanya menyambung ucapan sambil mengulurkan gelas mereka masing-masing untuk memberi ucapan.


Hari yang saat itu ikut di dalam pesta makan malam pun ikut mengulurkan gelas jusnya.


"Selamat atas kemenangan kalian, paman, bibi," ucapnya dengan ceria.


"Terima kasih semuanya," Suzy merasa senang.


Ketika makan malam selesai dan malam semakin larut, Hari pergi ke kamarnya terlebih dahulu untuk belajar. Nonaka mengantarnya sebentar menuju kamar lalu kembali lagi untuk berkumpul bersama yang lain.


Dan akhirnya,,,


Mereka semua berkumpul untuk melakukan sebuah permainan seru. Untuk para wanita, mereka memainkan Fukuwarai yang biasanya dimainkan pada perayaan tahun baru.


Sedangkan para pria memainkan Daruma Otoshi. Permainan memukul boneka Daruma dengan lima warna pelangi. Setiap bagian bawah yang dipukul, tidak boleh membuat bagian lain terjatuh.


Dengan memutar botol bekas sake, mereka akan menentukan sang pemain. Siapapun yang kalah harus menghabiskan satu botol sake. Kebetulan sekali, Suzy mendapat kesempatan pertama. Setelah matanya ditutup menggunakan kain hitam, maka permainan pun dimulai.


Fukuwarai adalah permainan menempel bagian-bagian wajah pada sebuah gambar kepala di papan. Entah itu hidung, mulut, mata dan alis, penempatannya harus tepat.


Pada permainan yang dimainkan malam itu, sebenarnya mereka semua sedang mengerjai Suzy dan Kenzhi. Dengan cara apapun, keduanya akan dibuat kalah sehingga mau tidak mau harus menghabiskan beberapa botol sake.


Maka dari itu, begitu Suzy kembali menempatkan bagian wajah dengan terbalik-balik, Nonaka berseru,


"Kau kalah lagi! Ayo minum ini," seru Nonaka senang saat mengerjai adik iparnya.


"Aaaaa,,, ini tidak mungkin. Kenapa aku kalah terus??" rengeknya.


"Ibuuuu.. Jadi ibu sekarang berpihak pada Nonaka?"


"Tentu saja, dia yang beberapa kali menang," ibu Suzy tertawa.


Di pihak lain, Ken juga mengalami hal yang sama. Ia selalu kalah dalam permainan dan diwajibkan menghabiskan satu botol sake di setiap kekalahannya.


"Ayo habiskan!" seru Akiyama sambil mendekatkan botol sake ke mulut Ken.


"Mengapa aku merasa curiga? Sepertinya kalian berdua sedang merencanakan sesuatu kepadaku. Benarkah seperti itu? Katakan saja,,, apa yang kalian rencanakan di belakangku," ucap Ken setengah mabuk.


"Tentu saja tidak ada. Kita hanya bersenang-senang, bukan?" seru Akiyama menepuk-nepuk punggung Ken dengan keras.


Satu jam kemudian,


Ken dan Suzy sama-sama mabuk.


"Kalian berdua sudah mabuk. Sebaiknya tidur saja sekarang."


"Benar juga, aku juga sudah mengantuk,,," jawab Suzy bersandar di atas meja.


"Kalau begitu, tolong antar dia ke kamarnya," perintah bibi Tamako pada Ken.


Ketika dipanggil namanya, Ken menoleh dan menengadahkan kepalanya dengan lesu. Ia juga bersandar pada meja karena mabuk berat.


"Ouughh..." suara Ken setengah sadar.


"Ayo bangun! Bangun! Kalian harus kembali ke kamar," seru Akiyama sambil membantu Ken berdiri. Begitu juga Nonaka yang membantu Suzy berdiri.


Rupanya, mereka sengaja menjebak Suzy dan Ken untuk tidur bersama. Apalagi kalau bukan satu hal? Yaitu, agar alasan untuk menikahkan keduanya dapat dengan mudah didapatkan. Dengan begitu, mereka pun mau tidak mau harus menandatangani surat nikah yang sudah didaftarkan.


Akiyama memposisikan tubuh keduanya sedemikian rupa. Namun kaki Ken dan Suzy yang bergerak berpindah tempat membuat Akiyama dan Nonaka kewalahan. Sebab, lagi-lagi mereka keluar dari jalur perjodohan.


Dalam keadaan mabuk seperti itu, baik Suzy maupun Ken rupanya mempunyai satu kesamaan. Benarkah? Apa itu? Tentu saja karena cara tidur mereka yang sama. Sama-sama tidak bisa diam di tempat.


Beberapa kali Nonaka dan Akiyama memperbaiki posisi mereka agar tidur di dalam selimut yang sama. Namun tetap saja, akhirnya mereka kembali keluar menggelinding ke samping dengan kaki yang ke sana kemari.


"Aaish! Sulit sekali membuat mereka tidur berpelukan!" maki Akiyama.


"Benar sekali. Mau sampai kapan kita memperbaiki posisi mereka yang menggelinding ke samping seperti ini, sayang?" Nonaka kelelahan.


"Aiihh! Entahlah. Biarkan saja mereka seperti ini. Yang penting kita sudah melakukan tugas dengan benar," jawab Akiyama kesal.


Tiba-tiba Nonaka punya ide.


"Hey, sayang. Aku punya ide. Cepat tidurkan kepala Suzy di atas lengan Ken. Dengan begitu, mereka akan tidur dengan tenang," ucapnya bersemangat.


"Aha! Benar juga kau, sayang!" Akiyama meraih kepala Nonaka dan menciumi bibir istrinya dengan amat bernafsu.


"Sudah,, sudah,,, lepaskan aku. Sekarang, ayo urus mereka terlebih dahulu. Setelah itu, kita bisa lanjut bermesraan," Nonaka tersenyum centil pada suaminya.


"Baiklah. Dengan senang hati," Akiyama bersemangat dan tidak kalah genit.


•••••••


Pukul 09.22,


Dikala sinar matahari yang semakin terik menyongsong dengan mudah memasuki celah-celah jendela, Suzy terbangun lebih dulu. Ia mengerjapkan mata beberapa kali.


Setelah selesai mengumpulkan nyawanya, ia menyadari bahwa Ken tidur di dalam selimut yang sama dengannya di kasur lantai. Bahkan pria itu sedang merengkuh tubuhnya dengan santai.


"Astaga!!" pekiknya.


Lebih mengejutkan lagi, ketika ia melihat ayah dan ibunya rupanya ada di dalam dan sedang duduk bersila menatap dirinya.


"Hah??? Ayah? Ibu??" Suzy kaget dan melempar selimut dengan cepat.


"Kalian tidur bersama?!" seru ayah Suzy berlagak marah.


"Ti tidak ayah. Bukan seperti itu keadaan sebenarnya," Suzy menyangkalnya.


"Mau menyangkal seperti apa lagi? Kalian terbukti sedang bersama dan tidur berpelukan!!"


Suzy merasa lesu. Ia membuat gerakan menyesal namun tanpa suara. Kemudian ia membangunkan Ken yang masih enak-enakan tidur.


"Ken! Bangun!!"


Mendapat panggilan seperti itu, Ken membuka mata dan mencubit tulang hidung yang ada di antara kedua matanya. Kepalanya masih terasa berat.


"Ada apa?" Ken menguap santai karena masih mengantuk.


"Lihat di sana," kata Suzy menabok pipi Ken.


"Houh? Siapa? Itu hanya ayah dan ibu,,,," Ken menguap dengan santai sambil menarik selimut dan mencoba melanjutkan tidurnya kembali.


Tanpa sadar, ia membetulkan posisi bantal tidurnya dan mulai tidur nyenyak. Namun sedetik kemudian, ia membuka mata kembali dengan spontan lalu berkedip pelan sambil berpikir.


Ketika akhirnya nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya, Ken kelabakan. Ia bangun dengan cepat dan gelagapan akibat sadar bahwa orang tua Suzy sedang duduk di hadapannya dengan mata yang melotot.


"Pa paman? Bibi?" pekiknya terkejut menyesali dirinya yang tidak sopan.


"Kalian berdua tidur bersama?!"


"A apa?" Ken terkejut.


Ia menoleh ke samping dan menemukan Suzy juga berada di atas kasur lipat. Wanita itu duduk bersimpuh bersamanya menghadapi kemarahan ayah dan ibunya.


Wajah mereka seketika pucat karena bukti nyata keberadaan mereka yang tidur bersama terlihat jelas oleh ayah dan ibu Suzy. Meski itu tidak seperti yang terlihat, namun mereka menjadi gemetaran. Maka, ketika ayah Suzy berkata lantang tentang pernikahan keduanya, mereka berdua hanya bisa terkejut tidak dapat berkata-kata.


"Bagaimanapun, ini tidak bisa dibenarkan! Ayah dan ibu sepakat untuk menikahkan kalian berdua secepatnya!!"


"Apa? Mmm menikah ssss secepatnya??"


Teriak Suzy dan Ken bersamaan.


.


.


.


Bersambung ke Episode 41


❤️