
EPISODE 50
Ken melangkah masuk memasuki gerbang rumah dan duduk di kursi yang ada di serambi depan. Ia menopangkan kedua siku tangan ke atas lutut kakinya.
Pikirannya masih tertuju pada undangan pernikahan yang baru saja ia terima. Mengapa tuan Kido, ah tidak. Ayahnya, maksudnya. Mengundang dirinya ke acara pernikahan Yoshi? Bukankah selama ini ia telah dibuang tanpa ada sedikitpun komunikasi?
Ah, apapun alasannya, Ken menganggap itu hal yang ganjil. Jika saja tidak ada alasan tertentu, tidak mungkin ia akan diundang turut serta.
"Kau masih memikirkan soal Linzhi?" tanya Suzy mengejutkannya.
Ken menoleh, "Ah, tidak."
Suzy duduk dan memperhatikan Ken yang baru saja memberi jawaban tidak padanya, namun tampak jelas pria itu sedang memikirkan sesuatu.
Pada saat mereka berdua sedang dalam mode hening, seekor kecoa melintas di bawah kaki Suzy.
Wah! Seekor serangga yang paling membuat Suzy merasa jijik dan geli. Apa yang terjadi kemudian?
Tentu saja Suzy melompat ke atas kursi dan berteriak histeris sampai-sampai Ken menjadi kelimpungan karenanya.
Setelah mengetahui bahwa Suzy takut pada kecoa yang kebetulan melintas, Ken meraih antena serangga itu, memungutnya dan membuangnya ke tempat sampah.
Dan setelah mencuci tangannya, Ken kembali mendekati Suzy yang masih nangkring di atas kursi sambil tertawa.
"Hey.. kau itu burung atau apa? Kenapa betah sekali bertengger di sana?" kata Ken sambil duduk kembali.
"Apa? Sialan, kau menyamakan aku seperti burung? Jika aku burung, kau itu apa?" Suzy monyong-monyong.
"Hehe,, Sepertinya aku akan menjadi pemilik burung itu.." jawab Ken menyeringai genit.
"Oh astaga. Baiklah, baiklah. Kalau begitu bantu aku turun," kata Suzy sengaja berlagak kesulitan untuk turun.
"Kau tidak bisa turun? Haiiss, aku tidak percaya itu. Bukankah kau itu dulunya gadis tomboi? Kita berdua pernah memanjat tembok sekolah bersama-sama, bukan?" Ken berkacak pinggang.
"Kau masih ingat itu?" senyum Suzy mengembang.
"Tentu saja. Bahkan aku juga pernah memanjat dinding komplek rumahmu sampai celanaku tertancap paku, waktu dikejar olehmu," jawab Ken lagi.
"Benar, bukan? Lalu, gadis cantik mana yang menjahit celanamu waktu itu?" Suzy membanggakan dirinya sendiri.
"Aku pikir itu Nonaka, tapi apa itu kau?" Ken sengaja membuat Suzy kesal.
"Hih, dasar pikun. Aku membungkuk berjam-jam hanya untuk menjahit celanamu yang robek waktu itu. Dan kau malah lupa? Kelewatan sekali," Suzy menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Ken tersenyum dan berpura-pura membuka undangan Linzhi.
"Hey! Bantu aku turun."
"Hmm. Maaf. Sepertinya tidak bisa. Kau lihat sendiri, aku sedang membaca undangan ini," kata Ken penuh percaya diri.
Suzy yang melihat posisi undangan itu terbalik merasa geram. Akhirnya ia turun untuk membalik posisi undangan yang sedang dibaca oleh Ken tersebut.
Sebelum melangkah maju, ia bertanya lebih dahulu.
"Apa kau yakin sedang sibuk membaca undangan itu?"
"Ya."
"Baiklah. Tanggal berapa acaranya?"
"Minggu depan," jawab Ken tanpa menoleh.
SRET....
Suzy membalik posisi kertas undangan yang ada di tangan Ken.
"Aku baru tahu kalau kau bisa membaca tulisan terbalik,,,," katanya tersenyum geli.
"Heh??"
Ken menyadari bahwa ia memegang undangan tersebut dengan posisi terbalik.
"Ah, ini? Aku hanya sedang,," kini Ken merasa terciduk.
"Sedang apa?"
"Itu,,, emmm,,,,"
Kebetulan, bibi Tamako keluar membawa rendaman beras dalam baskom.
"Kalian sudah pulang?"
"Ah, iya Bu. Eh? Apa kau mau membuat fermentasi beras?"
"Hmmm. Sake buatan ibu adalah yang terlezat. Bulan depan adalah perayaan ke 14 tahun pernikahan Akiyama dan Nonaka. Jadi ibu membuatnya untuk perayaan mendatang," jawabnya masih ingat.
"Oh, benar sekali. Bulan depan 14 tahun usia pernikahan mereka. Wah, tidak disangka, Hari juga semakin dewasa. Tapi ngomong-ngomong, apa mereka tidak ingin mempunyai bayi lagi? Aku ingin melihat keponakan tampan dari mereka," ucap Suzy sumringah.
PLAK!
Bibi Tamako memukul pantat putrinya. Hey? Mengapa?
"Kau ini. Kau sendiri, kapan kau akan membuat bayimu sendiri?? Buatlah seorang cucu laki-laki yang tampan dan sehat untukku!"
Glek....
Mulut Suzy tiba-tiba seret. Sambil mengangkat bibir sebelah, ia melirik ke arah samping. Matanya yang tajam menatap Kenzhi itu, seakan membuat lemparan maut dari shuriken.
Tentu saja Ken terkejut dan merasa aneh saat dilirik Suzy dengan wajah seperti itu. Bahkan ia merasa tatapan itu setajam senjata samurai.
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu? Bukankah ucapan ibu ada benarnya? Kapan kita akan membuat bayi?"
Ken bicara dalam hati. Karena merasa di pihak yang sama dengan ibu mertuanya, ia pun mencibirkan bibirnya meledek Suzy.
"Kau juga, menantu. Aku akan membuatkanmu sup daging dan tauge setiap hari. Jadi kau hanya perlu berusaha setiap malam untuk menghasilkan bayi yang tampan sepertimu, setuju?"
Uhuk Uhuk....
Saat itu juga Ken terbatuk-batuk. Ia seperti dipaksa menelan sebuah bola berduri yang bernama ketidakmungkinan. Bagaimana dia bisa menghasilkan seorang cucu untuk ibu mertuanya? Untuk bermesraan dengan putrinya saja rasanya sulit sekali.
Suzy yang melihat itu pun tertawa geli. Sebab, wajah Ken saat itu benar-benar lucu.
"Ada apa, menantu? Apa kau merasa keberatan dengan permintaan ibu yang meminta cucu darimu?" bibi Tamako bertanya serius.
"Tidak, ibu. Itu,,,, em, Ah! Baiklah, akan kuusahakan, hehehe," Ken tertawa gila karena merasa dirinya terjebak dalam kemalangan.
"Baguslah. Kalau begitu, jangan lupa minum ramuan herbal yang ibu buatkan untukmu di kulkas. Minum setiap malam saat kau mau tidur," ucapnya sambil menepuk-nepuk lengan Ken.
Usai bicara pada Ken, bibi Tamako pun berlalu membawa rendaman beras dan menuangnya ke dalam guci yang ada di halaman depan rumah.
••••••••
Malam harinya, saat mereka usai menyantap makan malam, Ken hendak pergi duduk-duduk di halaman samping rumah.
"Kau masih mau mengobrol?" tanya Suzy.
(Yang dimaksud adalah mengobrol dengan keluarganya)
"Hemm," Ken mengangguk.
"Baiklah. Aku tidur dulu," kata Suzy sambil lewat.
"Ya."
Suzy berlalu dan pergi ke kamarnya. Sedangkan Ken kembali menuju samping rumah. Namun belum sempat melangkah jauh, bibi Tamako memanggilnya.
"Menantu!"
Ken menoleh, "Eh? Ibu memanggilku?"
"Ya. Kemari sebentar," ucap bibi Tamako.
Ken menurut dan mengikuti ibu mertuanya ke dapur. Rupanya, bibi Tamako memberikan gelas besar berisi air berwarna gelap seperti teh hitam.
"Minum dan habiskanlah."
"Apa ini?"
"Ini ramuan herbal. Ayo, cepat minum"
Ken sedikit ragu dengan penampakan ramuan itu. Saat dicium pun ada aroma pedas dan menyengat seperti jahe atau...
Ah apalah itu, tapi Ken meragukannya. Berulangkali ia membaui minuman itu.
"Kenapa? Apa kau pikir ibu akan meracunimu?" bibi Tamako berpura-lura tersinggung.
"B bukan seperti itu, ibu."
"Kalau bukan, ayo lekas minum."
"B baiklah."
Perlahan dan dengan sedikit keraguan, Ken meneguk minuman yang belum pernah ia lihat itu. Rupanya, rasa minuman itu tidak seburuk yang ia pikir. Aroma segar yang tercipta dengan campuran herbal berkualitas membuat dadanya hangat.
"Apakah kau suka rasanya?" tanya bibi Tamako ingin tahu.
"Hmmm. Ini enak," jawab Ken memperhatikan dengan seksama gelas yang isinya sudah habis ia minum.
"Baguslah."
Bibi Tamako tersenyum senang. Ia membayangkan bagaimana efek ramuannya nanti. Menurut penjual herbal tersebut, kandungan akar maca dan ginseng merah yang ia dapatkan, akan berefek kuat pada kasus penanganan libido seorang pria.
Tanpa kata-kata, Ken berbalik pergi sambil mengusap tengkuknya. Ia memanyunkan bibirnya karena entah mengapa ia merasakan bahwa tubuhnya terasa amat sehat.
Dengan langkah pelan ia menapaki anak tangga menuju lantai atas. Kebetulan Nonaka yang melihat itu pun menoleh heran dan bertanya pada ibu mertuanya.
"Kenapa dia, ibu?"
"Jika ramuan buatanku berhasil membuat menantu pria membuat bayi malam ini, maka beberapa bulan kedepan, kita akan mendengar kabar tentang kehamilan Suzy," bibi Tamako sangat berharap.
"Aaww! Ibu, kau jenius sekali!" seru Nonaka.
"Jadi, ramuan apa itu, ibu? Bisakah kau sedikit memberikannya pada putramu?" Nonaka lanjut merayu.
"Heih?? Jangan berani menyentuhnya,. Ini khusus untuk menantu, Ken," bibi Tamako melotot.
"Iyaaaa, baiklah."
Ibu dan menantu itu pun tersenyum-senyum membayangkan apa yang akan terjadi malam ini.
Jadi?
Menurut kalian,,,
Apakah akan ada yang terjadi di antara Ken dan Suzy malam ini???
.
.
.
Bersambung ke Episode 51
Baca lanjutannya dan kasih likenya,,, 👍🏻😘