RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
AIR PANAS



EPISODE 108


TIK TIK TIK


Suara keran air di washtafle menetes pelan. Satu meter dari sana, tampaklah Ken yang sedang duduk di dalam bak mandi tanpa air.


Ia sedang kebingungan saat hendak mengeramasi rambutnya.


"Kau perlu bantuan?" Yuna berdiri di tengah pintu kamar mandi dan bertanya tiba-tiba.


"Aku rasa tidak perlu," tolehnya


Ken meraba tempat kosmetik. Kosong.


"Semua kosmetik yang ada di sana sudah kadaluwarsa. Jadi aku membuang semuanya," kata Yuna.


"Benarkah itu?"


"Ya. Apa kau mau mencuci rambutmu?"


"Hmm. Tapi sepertinya aku harus membeli shampo dulu," kata Ken.


"Tidak perlu. Kebetulan, aku baru dari toko dan membeli perlengkapan mandi," Yuna menjinjing tinggi kresek belanjaannya.


"Apa?" tanya Ken datar.


"Oh, iya aku lupa. Kedua matamu sedang diperban. Mana bisa melihat belanjaanku," gumam Yuna.


Ken duduk diam dengan kedua tangannya terkulai di tengah kedua kakinya yang duduk bersila longgar.


"Baiklah, aku akan membantumu mencuci rambut. Kalau begitu, bersandarlah ke sini," Yuna menuntun Ken untuk bersandar pada tepian bathup.


"Eh, tunggu. Aku bisa melakukannya sendiri. Berikan saja shamponya padaku."


Yuna membiarkan Ken mencuci sendiri rambutnya. Untuk beberapa saat ia mengamati gerak-gerik Ken dalam melakukan pekerjaannya. Begitu rambutnya dipenuhi shampo, Ken berusaha meraih kembali shower yang ada di sisi bathup.


Namun tiba-tiba saja shower yang ada di dekatnya mati hingga tidak keluar airnya.


"Heh? Ada apa ini?"


"Kenapa?"


"Airnya tidak keluar."


"Masa?"


"Iya."


Yuna mengecek shower yang ada di bathup. Benar. Tidak keluar.


"Apakah macet? Jangan-jangan kau telat membayar tagihan?"


"Tidak. Aku sudah membayar tagihan bulan ini," Ken merasa tidak nyaman dengan busa shampo yang ada di rambutnya.


"Kalau begitu biar aku tolong coba pakai shower yang atas saja," kata Yuna saat melihat shower yang ada di dinding.


"Ah, iya. Aku lupa ada yang itu."


"Nah, baiklah. Kemarilah," Yuna meraih shower tersebut dan menekan tombol merah tanpa ia sadari.


Rupanya, shower di atas adalah untuk dua jenis air. Ada dua tombol pengatur suhunya. Yaitu panas dan dingin.


HAAAARRRHH....


"Panas!!"


Teriakan Ken menggema di seluruh rumah tatkala siraman air panas itu mengguyur kepala dan tubuhnya dengan deras.


"Aduh aduh,, maaf, Ken. Aku salah menyetel airnya," seru Yuna kelabakan dan buru-buru mematikan nyala airnya.


"Aih,, Yuna. Tidak bisakah kau lebih berhati-hati? Kulit kepalaku akan melepuh jika begini," Ken bicara setelah menyelamatkan diri ke pojokan.


Warna tubuh Ken menjadi sedikit kemerahan seperti baru saja direbus. Ia merasa amat kepanasan. Bahkan, luka-lukanya yang mendapat beberapa jahitan menjadi terasa perih saat air panas itu mengguyurnya.


"I iya maafkan aku," Yuna tampak menyesal.


Ken mendekati shower tersebut dan menyalakan air dingin. Setelah membilas rambutnya sampai bersih, ia pun beranjak dari kamar mandi.


"Baiklah. Aku sudah selesai. Tolong kemarikan handukku," kata Ken.


Dengan langkah perlahan, Ken melangkah keluar dari kamar mandi. Ia hampir saja melepas baju basahnya ketika Yuna mendekat.


"Keluarlah sebentar, aku akan mengganti pakaian."


"Iya. Baiklah."


Setelah Yuna keluar dari kamar, Ken melepas baju dan celananya yang basah. Kemudian ia mengganti pakaian hanya mengenakan celana dan bertelanjang dada karena sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


SRET


Ia duduk di depan meja rias milik Suzy dan melepas perban yang menutup matanya dengan perlahan.


Sedikit demi sedikit dibukanya kedua mata yang beberapa hari ini tertutup oleh kain tersebut. Pantulan sinar matahari yang tertangkap ke dalam cermin juga tampak sangat menyilaukan baginya.


Beberapa menit kemudian, ia pun membuka jendela dunianya. Warna merah dan bengkak di sekitar matanya sudah hilang.


TOK


TOK


TOK


Yuna mengetuk pintu tiga kali sebelum masuk ke kamar Ken. Ia melihat bahwa pria itu tengah mengeringkan rambutnya.


"Kau sudah melepasnya? Aku baru mau mengganti perbannya," kata Yuna seraya memelototi punggung telanjang Ken.


Ken menoleh pelan, "Sepertinya, mataku sudah bisa digunakan kembali."


"Tapi kata dokter,,," pandangan Yuna tidak bisa teralihkan.


"Aku rasa tinggal sehari besok itu tidak apa. Aku harus membiasakan mataku dengan cahaya matahari mulai dari sekarang."


"Kalau begitu, apa besok aku juga harus pulang?" Yuna bersedih hati.


"Hmm. Kau harus pulang," jawab Ken kembali mengeringkan rambut dengan handuk.


"Apa kau tidak suka bila aku menemanimu?"


Yuna pun ikut tertawa mendengar ucapan Ken. Sambil ditatapnya pria yang sesaat tadi sempat ia guyur air panas itu, ia bertanya pelan.


"Hey, ken. Apa kau mau bercinta denganku sebelum aku pulang, besok?"


Ken menoleh lagi. Ia menatap Yuna cukup lama. Tanpa ia bayangkan, wanita muda itu menawarkan sesuatu yang menurutnya amat riskan.


"Apa maksudmu bicara seperti itu?" perlahan diturunkannya tangan yang tengah mengeringkan rambut dengan handuk itu.


Mata sayu nan teduh itu menatap Yuna dengan bibir yang sedikit terbuka.



"Em, seperti yang kau dengar barusan," jawab Yuna tersenyum malu-malu dari atas ranjang.


Dengan tatapan yang fokus pada satu titik, Ken berdiri dan melangkah menghampiri Yuna.


SRET


Tanpa ragu-ragu, Ken mendorong pelan tubuh Yuna agar berbaring di ranjangnya dengan posisinya yang memagari tubuh wanita muda itu dengan kedua tangan dan kakinya.


"Apa kau begitu menginginkannya?" tanyanya.


Yuna menatap Ken dengan tatapan yang benar-benar mengharapkan sesuatu. Beberapa kali ia terlihat menelan ludahnya seraya menatap lekat bibir Ken.


Tangannya bergerak meraba lengan dan dada Ken yang dipenuhi bekas luka. Baru kali ini ia melihat dengan dekat tubuh Kenzhi.


Perlahan namun pasti, Ken menurunkan kepalanya seraya mengangkat sedikit kaos yang dikenakan Yuna hingga tampaklah perut yang putih bersih dengan tindik di pusarnya.


Seketika itu juga, Ken menghirup aroma tubuh Yuna yang segar. Tanpa ragu, ia menurunkan lidahnya dan menjilat lembut pusar tersebut sampai ke cekungan di tengah dua gunung kembar. Kemudian dengan bibirnya yang lembab, ciumannya pun merambat naik ke atas menuju bibir Yuna.


Begitu mata mereka bertemu, tiba-tiba saja Ken menyentil dahi Yuna secepat kilat.


CETAK!


"Dasar bocah nakal! Apa sekarang kau sedang berusaha menggodaku?"


"Auh!" Yuna terkejut saat mendapat serangan seperti itu.


Ken bangkit dan menyingkir dari atas tubuh Yuna. Ia kembali ke meja rias dan meraih baju yang ia letakkan di atas mejanya.


"Ayo keluar jalan-jalan," kata Ken seraya melenggang pergi dari kamar.


Yuna mengumpulkan nafasnya yang sesaat tadi sempat dikacaukan oleh Ken. Ia benar-benar berpikir bahwa Ken akan terpancing untuk melakukannya. Siapa sangka, pria itu justru menyentil dahinya?


"Uuhh,, kenapa tidak dia lanjutkan? Padahal aku sudah kepanasan dibuatnya," gerutunya.


•••••••••


Di jalan kucing menuju taman Ueno, Ken berjalan di depan Yuna dengan kedua tangannya yang ada di belakang tubuhnya.


"Apa kau sengaja keluar rumah untuk menghilangkan pikiran soal tadi?" tanya Yuna memperhatikan langkah Ken.


"Hmm."


"Kenapa?"


"Ingin saja."


Yuna berjalan menyamai langkah pria yang benar-benar membuatnya dimabuk kepayang itu.


"Jangan bilang, kau masih memikirkan dan tidak bisa hidup tanpa istrimu?"


"Yap. Aku memang seperti itu."


"Apa kau benar-benar belum bisa melupakannya?"


"Ya."


Pada saat mereka sedang bicara, seseorang berjalan mendekati mereka dengan langkah tergesa.


"Ken!"


Mendengar suara Linzhi, Ken menoleh ke samping.


"Ke mana saja kau beberapa hari ini?" dengan percaya diri, Linzhi memeluk Ken.


"Aku ada urusan."


Yuna dan Linzhi saling bertatapan dan sama-sama tidak nyaman dengan kehadiran mereka masing-masing.


"Siapa dia?" tanya Yuna seraya menyilangkan kedua tangannya karena tidak suka melihat wanita berpakaian seksi seperti Linzhi.


Linzhi menatap Yuna tajam. Ia juga tidak suka melihat Ken bersama gadis muda yang tampak kasar dan tengil di depannya. Ia melanjutkan pembicaraannya dengan Ken tanpa mempedulikan pertanyaan Yuna.


"Aku baru saja bertemu dokter Mioko. Dia mengatakan bahwa bayi kita sudah mulai tumbuh rambut. Dia juga sudah bisa melihat dan mendengar suara orang di sekitarnya," kata Linzhi seraya menggelendoti lengan Ken dengan manja.


Yuna terkejut mendengar ucapan wanita berpakaian seksi yang ada di hadapannya. Ia menatap Ken lama dan menelan ludahnya. Ia ingin bertanya. Namun nyatanya, ia hanya bisa memandangi pria itu tanpa berkata-kata.


"Baguslah."


"Apa kau ingin melihat fotonya?" Linzhi mengambil sesuatu dari dalam tas dan menunjukkannya pada Ken. "Lihat, dia sudah semakin besar, bukan?"


Ken menyingkirkan kedua tangan Linzhi dan meraih kertas hasil USG kandungannya. Tampaklah di sana sebuah foto janin yang sudah tumbuh dan berkembang. Anggota badannya juga sudah mulai terbentuk dengan sempurna.


Tanpa mengomentari apapun, Ken mengusap foto tersebut dengan ibu jarinya. Ia tidak membayangkan akan memiliki seorang bayi dari Linzhi.


"Dia mirip sekali denganmu, bukan?" Linzhi melihat hidung janinnya yang condong menuruni Ken.


"Aku belum bisa mengomentari apapun," kata Ken seraya mengembalikan kertas foto janin bayinya pada Linzhi.


"Baiklah tidak apa, aku yakin kau akan menerima bayi ini tidak lama lagi. Ohya, bagaimana kalau kita makan malam bersama? Sepertinya Ken junior ingin menghabiskan malam bersama ayahnya," Linzhi kembali bergelayut di lengan Ken seraya mendongakkan wajah untuk menatapnya.


"Aku sedang ada urusan. Mungkin lain kali saja," Ken menyingkirkan tangan Linzhi dengan cepat.


Pada saat itu, Yuna memperhatikan ekspresi Ken yang tidak terlalu bahagia dan sedikit memaksakan senyumannya. Apakah wanita itu benar-benar mengandung bayi Ken?


"Siapa dia? Apa kau akan pergi dengannya?" Linzhi meraih tangan Ken dan menoleh cemburu pada Yuna.


"Seorang teman. Hmm. Aku ada urusan dengannya."


Untuk memastikan keberadaannya pada Linzhi, secepat kilat Yuna memberikan komentarnya.


"Benar. Maaf sekali, dia sedang ada urusan denganku. Kalau begitu, ayo pergi sekarang, Ken!" Yuna berbicara lantang seraya menggandeng lengan Ken yang sebelah lagi dan menyeretnya pergi.


BERSAMBUNG......