
EPISODE 150
TRAK
Ken sedang melanjutkan memotong kayu ketika Ayumi datang menghampirinya.
"Maaf karena mengganggu kebersamaanmu dengan Suya. Kau pasti masih membenciku," ucap Ayumi mengejutkan.
Ken yang sedang mengangkat kapaknya pun berhenti dan menurunkan tangannya.
"Jika sudah tahu, kenapa kau ikut kemari."
"Aku hanya, ingin meluruskan masalah di antara kita berdua. Dan jujur, aku berharap setelah kesalahanku padamu, kau tidak terlalu lama bersikap dingin kepadaku. Aku ingin hubungan di antara kita kembali seperti semula."
Ken menoleh dengan mata marah, "Itu tidak akan bisa."
"Kenapa?"
TRAK
Dilepaskannya kapak yang ada dalam genggamannya begitu saja.
"Apa kau masih bisa bertanya mengapa?" Ken membuang muka.
Kemudian melanjutkan lagi ucapannya, "Setelah semua yang ku lihat di dalam laptopmu, jujur saja aku sangat malu. Aku sangat malu sampai begitu membencimu! Bagaimana bisa kau melihatku dalam keadaan seperti itu?"
Mata Ayumi mengerjap cepat karena menahan air mata. Ia sangat menyesal.
"Jika aku mengajakmu bicara di depan Suya atau semua orang, jangan salah paham. Itu kulakukan hanya untuk bersikap santai seperti biasanya. Karena sampai kapanpun aku tidak bisa memaafkan perbuatanmu."
Ken pergi meninggalkan Ayumi tanpa menoleh lagi padanya. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan keringat.
GREK
Saat keluar dari kamar mandi, Ken yang kebetulan hanya mengenakan celana pendek yang sedikit melorot itu tidak sengaja berpapasan dengan Ayumi saat sedang berjalan ke kamar sambil mengeringkan rambutnya.
Tatapan mata Ayumi pada dada telanjangnya membuat Ken teringat kembali semua adegan yang tersimpan dalam laptop gadis itu. Ia menjadi gugup namun juga kesal karena selain Suzy dan Yuna, Ayumi juga sering melihat tubuh telanjangya.
Cepat-cepat ia pergi dari hadapan Ayumi dan masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu.
BRAKK!
•••••••
Tidak lama kemudian, saat Ken tengah menyiapkan hidangan ramennya, Hari dan Nonaka datang.
"Permisi!"
Ayumi yang sedang mengelap meja makan itu pun bangkit dan membukakan pintu.
"Tunggu sebentar!"
KREK
Ayumi terkejut saat melihat tamu yang datang. Sebab ia mengenal Nonaka sebagai kakak ipar Ken juga Hari sebagai keponakannya.
"Kalian? Em, silahkan masuk."
"Terima kasih."
Setelah dipersilahkan masuk, Hari dan Nonaka duduk sambil meletakkan bawaan mereka. Mereka berdua melihat Ken sedang menyiapkan masakan bersama seorang anak laki-laki yang mereka pikir itu adalah Tatsuya.
"Kalian sudah datang?" tanya Ken dari tempatnya memasak. Ia terlihat manis dengan sweater hitam dan rambut yang disisir ke belakang.
"Ya. Apa itu Suya?" tanya Nonaka.
"Benar."
"Suya?? Benarkah itu kau?" tanya Hari tidak percaya. Ia berdiri kembali dan mendekati Suya yang sedang membantu Ken menyiapkan mie dalam mangkuk.
Suya menoleh pada Ken, "Siapa mereka, ayah?"
Ken tersenyum dan berhenti memotong daging. Kemudian ia menggiring Suya untuk memberi salam pada bibi dan kakak sepupunya.
"Kau ingat ayah pernah menceritakan soal kakak dari ibumu?"
"Hmm. Paman Akiyama?"
"Ya. Mereka adalah istri dan putri dari paman Akiyama."
"Benarkah? Wah, kalau begitu senang bertemu dengan kalian berdua," Suya memberi salam hormat dengan membungkuk setengah badan.
"Kami juga senang bertemu denganmu, Suya. Kau tumbuh besar, sekarang. Seingatku, kau masih bayi yang menggemaskan dan lucu," Hari tersenyum senang.
"Apa? Bayi? Hehe,, sepertinya itu sudah lama sekali..." jawab Suya malu-malu.
"Pergilah mengobrol. Ayah akan lanjutkan sisanya," Ken menyuruh putranya untuk mengobrol dengan Hari dan bibinya yang baru ia temui.
"Tapi..."
"Sudah sana.."
"Iya deh."
Suya mempersilahkan bibi dan kakak sepupunya untuk duduk dan menikmati minuman dingin. Dalam beberapa waktu saja, mereka terdengar sangat akrab. Ken senang dengan situasi seperti itu.
"Nah, makanan sudah siap," Ken datang membawa nampan berisi tiga mangkuk ramen lebih dahulu.
"Waah.. sepertinya lezat..."
Suya segera berdiri membantu ayahnya menyiapkan semuanya di atas meja. Setelah semua terhidang, kemudian mereka pun bersama-sama menikmati ramen panas dengan kuah yang gurih.
"Bagaimana rasanya? Apa kalian suka?" tanya Ken.
"Ini lezat sekali!" Hari bicara sambil memelototkan matanya.
"Benarkah?"
Hari mengangguk cepat. Diikuti senyuman Nonaka. Wanita itu juga berpikir sama seperti putrinya. Kemampuan memasak Ken rupanya belum hilang.
"Kalau begitu makan lagi. Silahkan."
Semua yang ada di sana pun mengangguk senang sambil melanjutkan makan.
"Chaah! Ini, ayah tambahkan daging berprotein tinggi untukmu, Suya," ucap Ken sambil meletakkan selembar daging tebal ke dalam mangkuk Suya.
"Waaah.. " Suya melongo senang.
"Rasakan. Bagaimana rasanya. Apakah terlalu asin?"
"Nyam, nyam,,, Aku tidak percaya! Ini meleleh di dalam mulutku. Aku menyukainya, ayah!" ungkap Suya girang.
"Tentu saja kau harus menyukainya. Ayah berikan itu khusus untukmu."
"Ya! Aku suka sekali, ayah. Tidak ku sangka, ayah sangat pandai membuat ramen,," ungkap Suya jujur.
Ken tersenyum melihat putranya yang semakin hari semakin beranjak remaja. Matanya bersinar saat memperhatikan Suya yang ia pikir mirip sekali dengannya di masa muda.
Saat-saat itulah dirinya merasakan kesulitan dan tertekan karena hidup bersama Yoshi, ibu tua Rin dan tuan Kido, ayahnya.
Jika saja dulu, Kenie bisa mengerti kesulitan yang ia hadapi dan merangkulnya dengan semestinya, mungkin hidup yang kelam tidak akan menghampirinya. Sayangnya, saat itu Kenie justru memarahi dan menyalahkan dirinya atas kasus pertamanya.
Namun, semua adalah masa lalu. Kini, Ken sudah menjalani kehidupan barunya. Hatinya yang layu dan terpuruk, terobati seiring berjalannya waktu. Meski masih dapat merasakan sakit dan tidak dapat melupakannya sedetik pun, Ken menutupinya dengan menyibukkan diri di restoran.
••••••••
Dua hari sudah Suya menginap di rumahnya. Hari ini, anak itu akan kembali ke rumah nenek Tama. Karena Nonaka dan Hari ingin menemui kakek Hiro dan nenek Tama, maka mereka berdua ikut serta dengan mobil Ayumi.
"Sampai jumpa, ayah. Aku akan datang berkunjung lagi nanti."
"Ya. Sampaikan salam ayah pada kakek dan nenek, ya."
"Baik. Dah ayah!" seru Suya sambil melambaikan tangan.
Ken mengangguk.
"Baiklah. Kami juga pergi, paman."
"Hmm. Bersenang-senanglah kalian di sana."
"Kami pergi, ya."
Begitu mobil yang ditumpangi Suya dan yang lainnya pergi, Ken duduk di pelataran teras rumahnya. Ia kembali merenung sendirian.
"Mereka tampak gembira, bukan?" kata Ken pada orang yang muncul dan duduk di sebelah kanan serta kirinya.
Suzy dan Yuna yang muncul sebagai halusinasinya itu tidak memberi jawaban dan hanya tersenyum menatap jalanan di mana mobil yang membawa Suya itu pergi menjauh.
Ken menoleh pada Suzy yang duduk di sebelah kanan, "Putra kita sudah besar, sayang. Dia mirip denganku sewaktu muda. Apa kau setuju?"
Suzy mengangguk dan tetap menatap jalanan. Wanita itu tampak tenang menikmati kesunyian.
Kemudian Ken menoleh pada Yuna yang duduk di sebelah kiri, "Sayang, karena semua orang berbahagia, aku ingin kau juga berbahagia di sana. Sekarang inilah saatnya melepaskan semua rasa sakit di hatimu."
Yuna mengangguk dan tersenyum sambil tetap memandang ke depan. Wanita itu tampaknya benar-benar sudah melepas rasa sakitnya dan terlihat lebih damai.
Karena saat itu Ken juga merasakan kedamaian, dengan perlahan diraihnya kedua tangan sang istri dengan tangan kanan dan kirinya. Baik Suzy maupun Yuna.
••••
Beberapa hari kemudian, Ken tampak sedang menurunkan beberapa kotak makan di panti asuhan Takaoka. Anak-anak yang sudah lama tidak bertemu dengan paman Ken pun berkerumun membantunya.
Sebagian lagi bersorak gembira dan membuat heboh panti tersebut.
"Paman Ken datang!!"
"Paman Ken datang!!"
Sora yang sedang berganti pakaian dan mendengar seruan itu pun keluar dari kamarnya dengan terburu-buru.
"Apa? Benarkah itu?" gumamnya gugup.
Benar saja. Saat ia keluar ke halaman depan, tampaklah paman yang ia sukai itu sedang menurunkan banyak sekali kotak makan dan dibantu beberapa anak laki-laki. Tentu saja, ia menjadi gugup dengan jantung yang ingin melompat keluar.
Setelah mendapat sambutan yang hangat, kegiatan di panti pun berlanjut dengan menikmati makanan yang dibawa Ken itu bersama-sama.
Ken juga mengajak anak-anak mengobrol dan membuka kesempatan bagi mereka yang ingin mencurahkan isi hati ataupun meminta pendapat tentang masalah yang dihadapi para remaja. Khususnya remaja laki-laki.
"Apa kabarmu, paman?" sapa Sora saat Ken tengah berjalan-jalan di taman belakang panti.
"Eh? Sora?" Ken menoleh kaget karena Sora tiba-tiba muncul di belakangnya.
Sora tersenyum sambil berdiri dengan mengetuk-ngetukkan ujung kakinya ke tanah.
"Kau tampak berbeda sekarang."
"Benarkah?"
"Ya. Kau semakin cantik saja."
Pujian dari bibir Ken membuat jantung Sora berdegup kencang.
"Aah, paman menyanjungku berlebihan," Sora tersipu malu.
"Emm, paman baik-baik saja. Kau sendiri, bagaimana hubunganmu dengan Megume dan Yukio?"
"Mereka? Kami tidak begitu akrab. Setelah lulus sekolah, kami mempunyai pekerjaan yang berbeda."
Ken mengerucutkan bibirnya, "Begitu, ya? Lalu, apa sekarang kau sudah bekerja di suatu tempat?"
"Ya. Ada sebuah butik yang pemiliknya dari Paris. Nama butiknya Le Bon Ella's. Sudah tiga tahun ini, aku bekerja di sana."
"Butik? Baguslah kalau begitu. Kau bisa belajar sedikit tentang busana di butik tersebut."
Sora mengangguk, "Hmm. Aku bahkan sedang belajar tentang mode pakaian yang sedang tren di tahun-tahun ini."
Sora menyeimbangkan langkahnya agar berjalan beriringan dengan Ken. Diam-diam, diperhatikannya pria dewasa itu berjalan dengan kedua tangannya yang masuk ke dalam saku celana sambil mendongak ke atas melihat-lihat pohon sakura yang tumbuh lebat.
"Masih tetap tampan.." ucap Sora dalam hati.
Tiba-tiba saja, Sora mengingat sesuatu saat sedang menatap wajah Ken. Ia seperti sedang melihat seseorang yang lain.
"Ohya, paman. Dibutik tempat kerjaku, ada seorang anak perempuan manis. Dia putrinya mis Ella,, pemilik butik."
"Hmm.. kenapa dia?"
"Rasanya aku seperti mengingat wajah seseorang saat sedang bermain dengannya."
"Maksudnya?"
"Sekarang aku ingat. Saat pagi ini aku bertemu denganmu, aku semakin yakin. Anak perempuan itu mirip sekali denganmu. Haha, tapi bagaimana bisa semirip itu, jika dia bukan putrimu, hahaha. Benar kan, paman?" Sora bicara dan tertawa tanpa ada pikiran lain.
DEG
"Benarkah? Mungkin wajahku ini sedikit pasaran. Jadi ada beberapa yang menyamainya," kata Ken berusaha ikut tertawa.
"Eh? Tidak juga. Wajah tampan paman tidak ada yang menyamai kok,," jawab Sora cepat-cepat.
Ken tertawa sejenak. Kemudian diam dan memikirkan ucapan Sora tentang anak perempuan dari Paris yang mirip dengannya. kenapa begitu kebetulan? Bukankah Linzhi juga pergi ke Paris saat tengah mengandung.
"Mungkinkah?"
••••••
Sore itu, Ken berjalan santai menuju sungai yang airnya mengalir dari pegunungan. Selain berbelanja ke pasar, ia juga melakukan itu sebagai aktivitas rutinnya sepulangnya dari pasar.
Di tepi sungai, ia duduk di atas bebatuan. Dibasuhnya mukanya dengan air dari sungai. Saat dirinya tengah mencuci muka dengan air sungai, lewat dua orang petani yang baru pulang dari ladang.
"Sore pak Ken!"
"Sore juga,,, Kalian mau pulang?"
"Ya. Kami akan pulang."
"Baiklah. Hati-hati, tuan-tuan!"
"Ya. Terima kasih," dua orang itu pun pergi.
Ken kembali sendiri.
GYUT
Digulungnya celana jins yang ia kenakan sampai batas lutut. Kemudian setelah ia melepas sepatu dan duduk nyaman di atas batu, dijulurkannya kakinya ke dalam air sungai.
Ditatapnya langit yang berhias awan putih cerah dari tempatnya duduk sambil dihirupnya udara pagi yang begitu segar karena pengaruh dari uap mata air pegunungan.
"Suzy, Yuna. Semoga sekarang, kalian hidup tenang di sana. Jangan lupa. Kalian harus datang bersama-sama saat menjemput kematianku nanti."
Ken tersenyum. Ia mengenang kembali masa-masa hidupnya yang berat dan penuh air mata. Banyak sekali kesulitan yang telah ia lewati hingga percaya atau tidak, hal itu berhasil membuatnya membenci akan takdir hidupnya.
Namun sekarang, Ken merasa lelah. Ia berpikir, inilah saatnya ia berdamai dengan keadaan.
"Huuff,,, Memang tidak ada yang tahu tentang kehidupan seseorang. Bahkan, aku sendiri pun tidak menyangka akan takdir hidupku. Takdir kejam dan memaksaku menjalani hidup yang keras ini."
"Akan tetapi, sekarang aku mengalah. Sekeras apapun aku menolak, itulah takdirku. Yang tidak bisa dihindari begitu saja tanpa dijalani."
"Jika masa lalu tidak bisa diubah, hanya ada satu kunci yang dapat mengubah masa depan. Yaitu tekad kuat dan usaha keras untuk melakukan yang terbaik."
Ken bangkit dan berdiri sambil merapikan kembali pakaiannya. Ia tersenyum dengan mata yang bersinar menatap langit sore yang mulai berwarna jingga.
Matahari pun mulai turun dan bersembunyi di belakang awan-awan tebal.
"Chhaaahh.. Baiklah, Ken! Mari lakukan sisanya dengan baik."
Ya. Seperti itu, Ken!
Lakukan semua yang terbaik dalam sisa hidupmu. Dan jangan pernah menyerah untuk mendapatkan kedamaian. The End.
.
.
.
.
.
.
~ TAMAT ~