
EPISODE 134
Selepas sarapan, Ken duduk bersantai di halaman depan bersama Suya. Ia menceritakan pada Suya bagaimana ia bertemu Suzy dulu. Lalu bagaimana pula mereka akhirnya menjadi anjing dan kucing selama berteman.
"Lalu, apa yang terjadi pada celana ayah?" tanya Suya ketika Ken menceritakan soal tingkahnya yang memanjat tembok hingga celananya tersangkut dan akhirnya robek.
"Ibumu meminta ayah untuk melepasnya. Kemudian mau tidak mau, ayah pun menuruti perintahnya. Seingat ayah, saat itu juga ada paman dan bibimu yang ikut menertawakan kekonyolan ayah."
"Hihihi,, ayah benar-benar konyol. Pantas saja ibu selalu memarahi ayah."
"Apa kau juga berpikir seperti itu? Waaah,, sepertinya kau mirip dengan ibumu," Ken terkekeh.
"Tidak. Jika jadi ayah, mungkin aku juga akan seperti itu. Bukankah anak laki-laki lebih menyukai tantangan?"
"Tentu saja. Kau boleh memiliki kepribadian seperti itu. Tapi, jika kau tidak ingin masa depanmu suram, kau tidak boleh hidup seperti ayah."
"Kenapa? Menurutku ayah sangat keren. Saat berkelahi dengan orang-orang jahat itu, aku berpikir bahwa kelak aku ingin menjadi seseorang seperti ayah."
Ken tersenyum dan mengusap kepala Suya, "Tapi kau harus ingat, nak. Pria sejati tidak menggunakan sembarang tinjunya untuk memukul orang lain."
"Hmm," Suya mengangguk faham.
•••••••
Siang itu, Ken mengajak Yuna bicara. Soal keinginannya untuk menikah dengannya.
"Yuna. Apa kau masih menginginkannya?"
"Menginginkan apa?"
"Menikah denganku."
"Tentu saja."
"Tapi seperti yang kau ketahui, aku tidak bisa mengadakan sebuah pesta untuk pernikahan kita. Dengan kata lain, hanya sebuah pernikahan di hadapan pendeta. Apakah cukup untukmu?"
"Ya. Itu saja sudah cukup bagiku."
"Selain itu, mungkin juga kehidupan ekonomiku tidak terlalu baik seperti harapanmu. Mungkin saja kau akan mengalami kesulitan jika menjadi istriku. Apa kau masih ingin melakukannya?" tanya Ken serius seraya menatap Yuna tajam menanti jawaban.
"Ya. Aku tetap menginginkannya."
Ken meraih tangan Yuna dengan hangat, "Kalau begitu, mari kita lakukan itu sore nanti."
"Apa? Secepat itukah?"
"Hmm. Aku rasa, selama Suya dan orang tua Suzy tinggal di sini, kita tidak bisa tidur satu kamar tanpa memiliki ikatan pernikahan."
"Apa mereka mengomentari kita?" Yuna menutup mulutnya.
"Tidak. Hanya saja, aku tidak ingin membuatmu menjadi buruk di mata mereka. Terutama Suya."
"Baiklah, lakukan apa yang kau mau," Yuna membalas sentuhan tangan Ken.
"Tapi, bagaimana dengan ayahmu? Haruskan aku harus meminta ijin terlebih dulu padanya?"
"Aku akan memberitahunya. Entah dia akan datang atau tidak, kita akan melihatnya nanti," Yuna tersenyum tenang
Karena wanita itu telah setuju, Ken meraih dan mendekapnya pelan.
••••••
Sore itu, Ken dan Yuna duduk berhadapan di depan seorang pendeta Shinto. Saat itu, mereka sedang melakukan upacara ritual san-sankudo. Di mana mereka harus menghirup sake sebanyak sembilan kali dari masing cangkir yang berjumlah tiga buah, secara bergantian.
Pernikahannya kali ini, keluarga Kenie dan Suya datang sebagai saksi. Tidak lupa pula, tiga kawan bengkelnya datang memberi ucapan selamat.
Ketika ritual upacara selesai dan mereka kini sah menjadi suami istri, Ken yang diberi kesempatan oleh pendeta untuk bicara pada Suzy pun menangis cukup lama.
Hingga akhirnya proses pernikahan selesai, Kenie pun mengadakan jamuan makan di rumahnya. Ia sudah memesan banyak makanan untuk syukuran keluarga.
"Maafkan aku, nyonya. Saat pernikahan Ken dengan Suzy dulu, aku tidak datang berkunjung ke rumahmu."
"Karena hubunganku dengan Ken kala itu belum terjaga baik seperti sekarang ini, aku sampai terlambat mengetahui hubungan mereka. Aku harap, kau bisa memakluminya nyonya," Kenie meraih tangan nenek Tama dengan setulus hati.
"Kami bertemu kembali setelah belasan tahun berpisah. Tepatnya sejak suatu kejadian yang membuat aku salah paham terhadapnya dan dengan tega melukai hatinya. Aku sangat bersyukur ketika dia datang menemuiku terlebih dahulu setelah bertahun-tahun lamanya. Jika aku tahu pernikahan mereka, tentu saja aku ingin merayakannya dengan pesta yang meriah."
"Tidak apa, nyonya. Semua sudah menjadi masa lalu. Sekarang kita hanya bisa melanjutkan kehidupan dan membesarkan Suya dengan sebaik-baiknya."
Dua wanita tua itu pun berpelukan dan mencoba saling memahami.
Di lain ruangan, Ken dan yang lainnya duduk di ruang tengah.
"Hey, Ken. Kenapa kau menyembunyikan kekayaanmu? Tau begini, dulu aku akan sering-sering memintamu mentraktir makanan, hehe," kata Kurosaki asal bicara.
"Makanan pant*tmu! Yang kau pikirkan hanya makanan. Sekarang lihatlah! Dia benar-benar tampan dengan setelan jas ini. Astaga.... penampilanmu sungguh mempesona!"
"Alaaahh.. Kau ini. Siapa yang dulu mengatakan kalau dia lusuh dan tidak ramah?"
"Aiissshh! Kau tidak perlu mengatakan itu, bodoh!" Kurosaki dan Tekeda saling mengunci dan bercanda.
Ken menghabiskan minumannya dengan hanya sekali telan. Ia hanya tersenyum mengamati kedua kawannya yang konyol.
"Hello?? Apa kalian akan berkelahi sampai malam? Hemm, sayang. Ayo pulang lebih dulu, perutku terasa tidak enak," tiba-tiba istri Takeda datang dan mengajak pulang. Perut yang sedang ada bayinya itu berasa tidak nyaman.
"Apa yang kau rasakan, sayang?" Takeda menghampiri istrinya.
"Mulas."
"Baiklah, Ken. Aku rasa kami harus pulang duluan. Pokoknya, selamat untuk pernikahan kalian! Buatlah banyak bayi bersama Yuna," seru Takeda.
"Apa?"
Istri Takeda yang bernama Sodou itu pun refleks memukul punggung suaminya karena gemas menghadapi kekonyolannya, "Kau ini, apa mulutmu bisa diam?"
"Uppss!" Takeda menutup mulutnya cepat.
Karena Takeda dan Sodou sudah pulang, Kurosaki yang sedang menyomot kue beras itu pun melirik Ichigo, "Apa kau mau pulang juga? Nikmati makanan yang ada di sini lebih dulu, baru pulang..."
"Ya, baiklah. Lima menit," jawab Ichigo sambil terkekeh melihat tingkah kawannya.
"Aihh. Mengapa kau terburu-buru? Aku ke sana dulu, sepertinya makanan di sana lezat!" kata Kuro bersemangat.
Pada saat Kuro pergi, Ken melanjutkan obrolannya dengan Ichigo.
"Apa ayah Yuna bertanya sesuatu tentang kami? Misalnya jam berapa ia harus datang ke kuil?"
"Begitu, ya?"
"Hmm. Mungkinkah dia masih mengharapkan Kazuki sebagai menantunya?"
"Hufft.." Ken menghela nafas.
Tepat saat itu juga, Yuna dan Ayumi datang bergabung. Mereka tampak cantik dengan ciri khas masing-masing.
"Di mana temanmu yang lain?" tanya Ayumi.
"Di sana," Ken menunjuk keberadaan Kurosaki yang sedang berkeliaran mencicipi makanan dengan gerakan dagunya.
"Temanmu lucu sekali," kata Ayumi.
"Lucu? Ahahaha. Tidak. Dia tidak lucu sama sekali," Ken tertawa lebar kemudian berhenti mendadak dengan wajah yang berubah tanpa ekspresi.
Kemudian Ken meraih tangan Yuna dan menggiringnya duduk di sampingnya.
"Apa Suya sedang bersama ibu?"
"Iya. Sepertinya ibu sangat senang mengobrol dengan Suya," kata Yuna.
"Hmm. Aku rasa juga begitu."
"Syukurlah."
Ayumi turut duduk di sisi Ken yang lain. Ia menumpangkan kaki kirinya ke atas kaki kanan sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa kau mendadak sekali tadi?" tanyanya pada Ken.
"Ah, maaf," diakuinya bahwa ia begitu mendadak memberitahu ibunya soal rencana untuk menikah.
"Untung saja ibu dan ayah sedang ada di rumah. Aku sendiri sedang di kampus dan hampir saja pergi ke tempat karaoke bersama temanku."
"Benarkah? Lalu mengapa kau tidak pergi saja bersama temanmu?"
"Ichh! Bagaimana mungkin aku melewatkan pernikahanmu," Ayumi memukul paha Ken.
"Kalau begitu, terima kasih adikku yang cantik. Karena sudah meluangkan waktumu menyaksikan upacara pernikahanku," sambil tersenyum, Ken mencondongkan wajahnya sedikit dekat dengan Ayumi lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
DEG
Perasaan Ayumi tak karuan. Meski sebentar, ia tidak dapat melupakan wajah Ken yang cukup dekat dengannya beberapa detik lalu.
Ia terus terbayang akan bibir yang pernah ia cium itu. Begitu dekat dan tersenyum amat manis kepadanya.
••••••
Karena malam itu Suya, nenek Tama dan kakek Hiro menginap, Kenie dan tuan Hide belum juga pergi tidur meski jarum jam sudah menunjuk angka 12 malam.
Tanpa sengaja, Ken yang sudah sangat mengantuk itu pun menguap.
"Hoaahheemm!!" Ken menguap sambil memejamkan mata.
"Pergi tidurlah kalau kau sudah mengantuk," respon Kenie.
"Heh? Tapi.."
"Kami sebentar lagi akan menyusul. Kau bisa pergi tidur lebih dulu," kata kakek Hiro.
"I iya baiklah. Kalau begitu aku istirahat lebih dahulu," diseruputnya minuman dalam gelasnya sebentar kemudian bangun dan memohon diri.
Ken naik ke lantai atas dan mendatangi kamar tempat Suya tidur. Anak itu sudah terlelap sejak jam sembilan tadi. Sambil duduk di sisi Suya, diusapnya pelan kepala anak itu.
Tiba-tiba saja Suya tergelak meski sedang tidur. Ken yang tertegun pun hanya bisa memandangi wajah bahagia putranya.
"Apa kau sedang bermimpi? Sepertinya, mimpimu sangat indah. Buktinya, kau sampai tersenyum seperti itu."
Ken terus memandangi senyuman yang tersungging di bibir Suya, "Hmm. Jika kau sedang bertemu dengan ibumu di alam mimpi, bisakah kau sampaikan permintaan maaf ayah padanya?"
Ken diam beberapa saat sambil terus memandangi putranya yang masih tersenyum karena mimpi. Kemudian setelah membetulkan selimutnya, ia pun pergi keluar dengan perlahan.
GYUUTT
Ken sampai di kamarnya sendiri dan langsung merebahkan diri di atas kasur dalam posisi tengkurap. Ketika matanya mulai mengerjap karena mengantuk, ia dikagetkan oleh penampakan mata yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
"Oh astaga!" serunya begitu melihat Ayumi di hadapannya. Ia sampai melompat dari ranjang karena terkejut.
"Ehehehe. Maaf, ya. Apa kau terkejut?"
"Haiss! Kau lihat sendiri bagaimana? Di mana Yuna?" Ken celingak-celinguk mencari Yuna.
"D dia ada di kamar mandi."
"Lalu mengapa kau ada di sini?" Ken melotot.
"Sebenarnya..." Ayumi hendak mengatakan pada Ken bahwa ia sedang membantu Yuna mencarikan cincin pernikahannya yang hilang.
Namun dengan kecepatan penuh, Yuna berlari dari kamar mandi menghampiri Ayumi dan langsung menutup mulutnya.
"A apa kau sudah mau tidur?" tanya Yuna gugup. Tangan kanannya menutupi mulut Ayumi dengan rapat.
"Tadinya begitu, tapi sepertinya rasa kantukku hilang begitu saja," Ken duduk di kasurnya.
"Kalau begitu, k kenapa kau tidak mengobrol lagi dengan ayah dan ibu?" kata Yuna mencoba mengusir Ken dari kamar.
"Tidak. Aku bisa mengobrol lagi besok," kini Ken merebahkan dirinya sambil mengangkat kedua tangannya dan menjadikannya bantalan kepala.
"Begitu, ya?"
GLEK
Yuna merasa takut. Bisa-bisanya ia menghilangkan cincin yang disematkan oleh Ken beberapa jam yang lalu.
Aih! Dasar ceroboh!
.
.
.
.
BERSAMBUNG....