
EPISODE 143
Setelah sebelumnya Ken mengajak Suya ke sebuah toko alat musik dan membeli sebuah gitar akustik elektrik berwarna coklat kekuningan dan gitar akustik merah metalik, kini seharian penuh, ia mengajari Suya cara memainkan gitar yang mereka beli tersebut.
Sebagai pemula, Suya cukup cepat dalam belajar hingga Ken tidak terlalu kesulitan mengajarinya.
Meski seharusnya hari itu adalah hari yang tepat untuk Ken istirahat, namun siapapun bisa melihat bagaimana Ayah dan anak itu tampak akrab dan bergembira ria dalam berlatih menyanyikan lagu yang akan dibawakan oleh kelompok Suya nanti.
Ketika selesai berlatih, Suya meminta Ken untuk menyanyikan sebuah lagu untuk mama Yuna.
"Ayah,, Coba nyanyikan sesuatu untuk mama."
"Eh? Sebuah lagu?" Yuna yang sedari tadi duduk menyaksikan duo pria itu berduet pun terkejut sambil tersenyum.
"Bagaimana, ayah? Apakah tantangan diterima??"
Ken menoleh pada Yuna dan menatapnya sambil tersenyum pula, "Kau mau ku nyanyikan lagu apa?"
"Emm, apa ya? Bagaimana kalau lagu Koi wo Shita no wa dari Aiko saja?" kata Yuna setelah memikirkan sebuah judul lagu.
"Hmm, lagu itu ya? Baiklah," angguk Ken.
Karena Yuna yang meminta, Ken pun mulai memetik senar gitarnya. Dinyanyikannya sebuah lagu tentang cinta dari Aiko, Koi wo Shita no wa.
#
~Darling~
(Sayang......)
~Mayowanu you aruite yakeru tatta hitotsu no michishirube~
(Hanya ada satu petunjuk jalan dalam perjalanan kita agar tak tersesat)
~Nee mae muite atashi wa koko ni itu desho?
Dakara mou nakanaide
Komoro ga wareta toki mo tokubetsu na bibi wo kureta~
(Hey, pandang ke depan, aku ada di sini, kan? Karena itu jangan menangis lagi
Bahkan saat hatimu sakit, kau memberiku hari-hari istimewa)
#
"Kapan aku jatuh cinta padamu? Dan berapa kali aku menangis? Jika aku menghitungnya, ternyata sudah fajar,, aku bingung,, sayang..." lirik terakhir.
Ken mengakhiri lagunya dengan senyuman manis untuk Yuna. Dan.. Yuna yang mendengarkan lagu itu dengan penuh penghayatan pun segera memeluk Ken dengan penuh cinta.
"Aku mencintaimu, Ken."
"Aku juga," jawab Ken malu-malu, sebab ia mendapat ungkapan cinta dari Yuna tepat di hadapan putranya.
"Yeaahh!!" Suya bertepuk tangan melihat kedua orang tuanya saling mencintai.
Meski kini ayahnya tidak lagi bersama ibunya, namun ia ikut bahagia melihat ayahnya tersenyum seperti saat ini.
••••••••
Pada acara pentas seni yang diadakan sekolah Suya, Ken tidak bisa menghadirinya sebab ia harus pergi ke rapat pertemuan penting menggantikan tuan Hide.
Maka sebagai gantinya, Yuna yang datang ke acara pentas seni tersebut. Pada pertunjukan yang disuguhkan oleh kelompoknya Suya, terdengar tepuk tangan riuh yang menggema di ruangan.
Para penonton rupanya menyukai penampilan yang baru saja mereka lihat. Apalagi, lagu yang mereka bawakan amat terkesan.
Cukup lama, acara pentas seni itu pun akhirnya selesai. Yuna berjalan menuju belakang untuk menemui putra tirinya. Ketika melewati kumpulan para orang tua siswa, Yuna mendengar seseorang tengah membicarakannya sambil berbisik dengan teman sebelahnya.
Perempuan itu rupanya menggunjingkannya tepat saat ia melewatinya. Berita di sosial media saat itu ternyata benar-benar mempengaruhi masyarakat umum. Orang yang tidak mengenalnya dengan baik pun dapat berkomentar seenak jidatnya.
Dalam pendengaran Yuna, suara wanita itu seakan menusuk-nusuk jantungnya. Ucapan yang tajam dari lidah wanita itu terlalu menyakiti hatinya.
"Hey. Bukankah itu wanita pemilik salon yang seorang L?"
"Benar. Dia wanita itu. Aah, kasihan sekali suaminya."
"Sedang apa dia di sini?"
"Aku dengar dia ibu tirinya Suya."
"Benarkah? Memalukan sekali. Tidak seharusnya dia muncul di sini."
"Betul sekali. Aku jadi mual."
SRET
Yuna berhenti dan menoleh cepat.
"Apa kalian semua merasa paling suci hingga mampu menghakimi seseorang hanya dengan melihat tulisan orang yang membuat cerita bohong?"
"Apa?"
Wanita-wanita itu terkejut saat Yuna berani menegur mereka.
"Sekali lagi kalian menggunjingkan seseorang tanpa melihat kebenarannya, maka aku akan mencabik-cabik mulut kalian semua!"
"Apa katamu? Be beraninya mengatakan itu pada orang yang lebih tua?"
"Benarkah? Aah,, jadi kalian merasa sudah tua, ya? Kalau begitu, bersikaplah seperti layaknya orang tua yang mengerti tata krama."
"Isshhh..." wanita-wanita itu geram karena merasa kalah.
Setelah mengatakan itu, Yuna berusaha bersikap sewajarnya seraya menyambut Suya yang keluar dari ruang khusus siswa.
"Suya! Kau sangat mengagumkan!" ucapnya gembira.
"Terima kasih, mama."
"Jadi, apa sekarang kau sudah mau pulang?"
"Yah. Kami sudah selesai di sini."
"Bagaimana kalau kita cari makan dulu?"
"Baik."
"Apa kalian mau ikut?" tanya Yuna pada teman-teman Suya yang baru tampil bersamanya.
"Terima kasih banyak, bibi. Tapi sayang sekali, kami sedang ada urusan di tempat lain."
"Aah, sayang sekali, ya? Kalau begitu, kami pergi dulu, ya."
Teman-teman Suya itu cukup ramah. Mereka sangat sopan dan baik pada Yuna maupun Suya. Mereka bahkan mengantarkan Yuna sampai pintu panggung depan.
Saat Yuna kembali melewati wanita-wanita yang bergosip bersama Suya, ia menyembunyikan perasaannya yang panas di hadapan putra Ken.
Sampai akhirnya ia dan Suya sampai di salah satu restoran pangsit, mereka pun memesan beberapa porsi.
"Maaf, ya. Ayahmu tidak bisa datang karena dia harus menghadiri rapat penting perusahaan," kata Yuna seraya meletakkan sepotong pangsit kukus di atas piring Suya menggunakan sumpit.
"Iya. Aku mengerti. Ayah berjuang sangat keras untuk hidup normal seperti ini."
"Ahh, itu hanya karena aku sedikit tahu tentang cerita kehidupan ayah dulu."
"Benar sekali. Ayahmu, hidup dengan sangat sulit. Aku juga merasa senang jika sekarang dia bisa tersenyum dan memilikimu."
Selesai bicara seperti itu, Yuna melahap sepotong pangsit penuh-penuh ke dalam mulutnya. Ia juga diam dan tampak melamun memikirkan ucapan wanita tadi.
Suya yang sama-sama tengah menyantap hidangan pangsit lezat itu pun mengamati ibu sambungnya. Ia merasa bahwa wanita muda itu sedang menghadapi sebuah masalah.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Eh??"
"Kau memikirkan sesuatu??"
"Ah, tidak. Ayo makan lagi," Yuna tertawa menutupi rasa sedihnya.
"Baik."
Lagi-lagi Yuna melamun. Ia tidak menyadari bahwa putra Ken itu terus mengamatinya dengan khawatir. Sebab, sebenarnya ia tahu tentang berita di sosial media yang tengah menggunjingkan ibu tirinya tersebut.
"Apa benar mama seorang L? Selama ini aku melihat bahwa dia begitu mencintai ayah dan selalu romantis. Jika itu masa lalunya, dia pasti melewati masa sulit seperti ayah."
Suya bicara dalam hati sambil terus menatap Yuna yang melamun.
••••••••
Pulang dari kantor, Ken buru-buru masuk ke dalam rumah. Ia mencari Suya dan ternyata Suya sedang menonton televisi bersama Ayumi.
Ken yang tidak melihat putranya duduk di ruang itu pun berhenti melangkah dan menoleh saat Suya menyapanya.
"Ayah sudah pulang?"
"Eh? Kau di sana, Suya?"
"Hmm. Aku menunggu ayah pulang. Apa ayah sudah makan malam??"
Ken melongok jam tangannya, "Sepertinya sudah sangat terlambat untuk menikmati makan malam."
"Tidak apa-apa, ayah. Aku temani, ya?"
"Kalau begitu, aku akan menghangatkannya untukmu," kata Ayumi seraya beranjak dari kursi sofa.
Mendengar tawaran dari Ayumi, cepat-cepat Ken menolak dan berlalu pergi, "Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri."
Ayumi berhenti melangkah dan menunduk. Ia merasa bahwa Ken belum bisa memaafkan kesalahannya.
"Baiklah."
Setelah Ken berlalu, dipandanginya punggung pria yang masih dicintainya itu. Sambil membatin, matanya berkaca-kaca.
"Maaf Ken, aku sangat menyesal karena mengekspresikan rasa cintaku dengan cara yang salah. Tapi tidakkah kau tahu? Aku sedih bila kau dingin padaku seperti itu."
Di ruang makan, Suya menuangkan air putih ke dalam gelas untuk ayahnya. Ken sendiri baru selesai memasukkan makanan ke dalam microwave untuk dihangatkan.
"Bagaimana acaramu tadi. Apakah sukses?" Ken duduk dan menerima segelas air dari Suya.
"Hmm. Seperti saat kita latihan kemarin. Aku tidak menyangka akan setenang itu saat membawakannya."
"Keren. Sayang sekali ayah tidak bisa menontonmu, tadi."
"Tidak masalah, ayah. Mama datang menontonku."
"Benarkah?"
"Ya. Dia pendukung yang paling cantik di barisan penonton!" Suya memuji ibu tirinya.
"Hahaha, apa menurutmu begitu?"
"Tentu saja. Ayah benar-benar pandai memilih pasangan."
Lagi-lagi Ken tertawa mendengar ungkapan putranya. Namun sesaat kemudian, ia diam merenung. Dengan senyuman kecut, ia mengenang Suzy.
"Ibumu juga sangat cantik. Karena itulah, ayah menyukainya."
Suya mengangguk, "Benar. Walaupun aku hanya melihatnya dari foto, aku yakin ibu lebih cantik bila dilihat dari aslinya."
Ken mengambil ponselnya dan membuka galeri fotonya. Ia menunjukkan beberapa fotonya saat bersama Suzy dulu. Baik di restoran maupun di tempat lain.
"Lihat. Dia menggemaskan, bukan?"
"Apa saat muda ibu sedikit tomboi seperti mama?"
"Ya. Mereka 11-12. Tapi, ibumu sedikit lebih manis. Sedangkan mama cukup berani dalam bertindak."
"Karena itulah ayah jatuh cinta pada mama, bukan?"
Ken menoleh dan tersenyum.
PIP PIP PIP
Suara tanda makanan sudah hangat dengan sempurna terdengar.
"Nah, sepertinya makanannya sudah hangat. Ayo selesaikan makan malam kita," kata Ken sambil mengambil makanannya.
Saat Ken meletakkan piring makanan ke atas meja, Suya segera mengambilkan nasi ke dalam mangkuk untuknya.
"Selamat makan, ayah."
"Wah, kau sudah pulang tapi tidak bersuara??" suara Yuna membuat Ken kaget.
"Ah, sayang..."
Yuna menghampiri suami dan putra tirinya itu dengan santai. Ia menuangkan air dalam sebuah gelas dan meneguknya cepat.
"Apa pekerjaanmu hari ini lancar?"
"Sedikit ada masalah, tapi untungnya bisa cepat diatasi."
"Tapi aku lihat tadi Ayumi sudah di rumah?"
"Dia menemani ayah di kantor dan pulang jam delapan seperti biasanya."
"Ooh.."
"Kau sudah makan?"
"Sudah, bersama ayah dan ibu. Oh ya, Suya. Setelah ini, biarkan ayahmu istirahat. Jadi, pergilah tidur setelah kau habiskan makananmu."
"Baik."
Ken melahap makanannya seraya mengangkat alis. Ia memperhatikan kantung mata Yuna yang tampak bengkak seperti seharian menangis.
.
.
.
BERSAMBUNG....