
EPISODE 144
GREB
Dengan perlahan, Ken menutup pintu kamarnya. Kemudian karena tidak mau terburu-buru bertanya soal mata Yuna, ia pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Setelah mereka bertemu di atas ranjang barulah Ken menanyakan soal mata Yuna yang tampak bengkak.
"Apa hari ini ada sesuatu yang membuatmu sedih?" tanyanya sambil merengkuh Yuna dari balik punggung.
DEG
Yuna tersenyum kecut, "Tidak ada."
"Sungguh?"
"Hmm. Kenapa kau berpikir aku sedang bersedih?"
"Aku lihat, kedua matamu bengkak. Apa kau menangis, tadi?"
"Ah, ini? Tidak. Aku tidak menangis. Ini hanya efek mengantuk saja."
Ken bangkit dan menjulurkan kepalanya untuk melihat Yuna lebih jelas. Ibu jari tangan kanannya mengusap kantung mata Yuna dengan lembut, "Kau yakin ini bukan karena air mata?"
Yuna mengangguk.
"Baiklah, aku akan menghargai apapun yang tidak ingin kau ceritakan padaku. Tapi Yuna, aku akan mendengar apapun keluh kesahmu. Dan aku akan berusaha untuk membantumu pula. Jadi jangan sembunyikan rasa sakit sekecil apapun itu dariku."
"Hmm. Baiklah."
Karena Yuna tidak mau menoleh padanya, Ken menggelitik perut sang istri bersamaan dengan kepalanya yang mengendus bagian leher.
"Aahahaha.. Apa yang kau lakukan, Ken? Kau bisa membuatku mengompol di kasur," kata Yuna kegelian.
"Apa kau serius?"
"Iya, ahahaha. Jadi lepaskan aku.. aku menyerah.." Yuna menggeliat ke sana kemari.
"Tidak mau. Aku ingin memelukmu lebih lama lagi," Ken menghentikan gelitikannya namun tidak mau melepas pelukannya.
"Eh, S Suya?!" Yuna berpura-pura menyapa Suya.
Mendengar Yuna memanggil Suya dan berlagak melihat putranya di dalam kamar, Ken langsung melepas pelukannya dan menoleh ke belakang dengan gugup.
NGEK
"Mana Suya???"
"Tidak ada. Aku bohong, hihihi!" Yuna menyingkir dan berdiri menjauh seraya memeluk bantal.
Ken menoleh kembali pada Yuna sambil tersenyum. Ia melihat bahwa Yuna yang seperti itulah yang ia kenal. Ceria dan iseng.
Tanpa menunggu lama lagi, Ken turun dari tempat tidur dan menangkap Yuna yang terus berusaha menghindarinya. Bahkan beberapa kali wanita itu memukulkan bantal kapuk ke tubuh suaminya sambil tergelak.
"Oohh, sayang sekali kau tidak bisa menangkapku," Yuna terus saja meledek sambil tertawa.
"Jangan meremehkanku, sayang. Begitu kau selesai tertawa, kau akan berada di dalam pelukanku," jawab Ken merasa pasti.
Dan......
Ketika Yuna lengah, Ken langsung saja menubruknya dan membopong istrinya tersebut dengan cepat.
"Naahh!! Apa kau lihat? Sekarang kau milikku sepenuhnya!" seru Ken dengan tawa lebar.
Yuna merasa sangat senang hingga ia pun tersipu malu. Beberapa tahun menjalin hubungan dengan Ken, ia merasa bahwa suaminya itu selalu membuatnya bahagia dan tidak sekalipun membuatnya sedih.
Maka, ketika Ken membawanya kembali ke tempat tidur, Yuna hanya menurut dan melingkarkan tangan ke lehernya.
"Sudah lama, aku tidak menggendongmu seperti ini. Kau makin berat saja," canda Ken.
"Apa??"
"Hehe, aku harap, tahun ini kita bisa memiliki seorang bayi perempuan. Bagus lagi kalau kembar tiga. Kau dan aku akan sangat sibuk nanti," kata Ken dengan mata yang berbinar.
Yuna mengangguk karena merasa kasihan pada suaminya. Ia merasa bahwa sebenarnya Ken sangat menunggu kelahiran seorang bayi darinya. Apalagi ia sempat mengatakan menginginkan bayi perempuan.
Aahh...
Yuna berpikir apakah dirinya mandul??
Jika iya, bukankah itu artinya dirinya sama sekali tidak berguna?
Melihat Yuna jadi diam melamun, Ken segera mengalihkan pembicaraan. Ia menyadari bahwa ucapannya mungkin saja menyinggung.
"Sayang. Apa kau tahu?"
"Apa?"
"Ichigo meneleponku sore tadi. Dia bilang, ayahmu menanyakan kabar tentangmu padanya."
"Sungguh?"
"Hmm. Bagaimana kalau besok kita pergi menemuinya. Aku rasa dia sangat merindukanmu."
"Tapi.. Apa kau tidak apa jika dia menolak kedatanganmu kembali?"
Ken tersenyum, "Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan hatinya. Bukankah nenek Tama juga seperti itu."
"Tapi itu berbeda."
"Tidak apa. Aku tidak akan menyerah."
Yuna menatap wajah suaminya dengan cepat. Aih, ia selalu bisa merasakan kedamaian jika bersama Ken. Itulah mengapa ia bertekad untuk merubah hidupnya dengan mencintai seorang pria. Bukan lagi wanita.
Untuk beberapa alasan, bergurau seperti tadi juga mampu membuat pikiran rileks. Jika semua itu dilihat dengan mata biasa, hal seperti tadi itu persis seperti anak kecil yang bermain-main di dalam kamar.
Namun jika diamati lebih dalam lagi, keduanya tengah merajut asa dan cinta yang beberapa waktu ini sedikit longgar, dingin dan terhalang oleh waktu.
Bahkan, Ken sendiri menyadari betul hubungannya dengan Yuna yang sedikit merenggang. Namun bukan karena mereka sudah tidak lagi saling mencinta. Melainkan karena kesibukan masing-masing.
••••••••
Sebuah kotak rahasia yang baru-baru ini telah muncul, tertutup rapat dan menunggu terkuak oleh Ken. Berita besar yang menyebar di jejaring sosial belum sedikitpun diketahuinya sebab ia begitu sibuk menangani urusan perusahaan.
Di lain pihak, Ayumi yang mendengar berita itu berbicara pada Kenie, ibunya. Ia menyesalkan masa lalu iparnya yang menyangkut soal kepribadian itu.
"Ibu, lihat ini. Benarkah, kakak ipar adalah seorang L? Wah, yang benar saja. Beritanya sudah sangat menyebar di media sosial."
"Apa yang kau katakan?"
"Seorang pekerja salonnya membuat pengakuan bahwa dia baru tahu jika pemilik salon adalah seorang L."
"Apa maksudnya?"
Ayumi menunjukkan unggahan seorang pekerja salon yang diterima Kenie untuk bekerja di salon menantunya.
"Wanita ini kan?"
"Ibu mengenalnya?"
"Ya. Ibu yang melakukan interview saat dia datang melamar."
"Jadi benar, dia bekerja di salon kakak ipar?"
"Kenapa dia mengunggah hal seperti ini? Apa dia membenci kakak ipar?"
"Tidak. Harusnya tidak ada yang membenci anak itu."
"Tapi lihat ini, bu. Ada juga yang menulis di media sosialnya kalau dia pernah mengenal dan berfoto bersama kakak ipar yang sedang berduaan dengan seorang wanita yang disebut buchy di klub beberapa tahun lalu."
"Apa itu buchy?"
"Wanita yang memerankan pria. Lihat, bahkan dia mencantumkan sebuah foto."
GLEK
Kenie merasa cemas. Sudah beberapa waktu kehidupan putranya menjadi agak lebih tenang. Namun jika sekarang ada masalah kembali dan menyangkut sang istri, ia takut jika nantinya masa lalu Ken juga akan terseret-seret dan terkuak kembali.
"Itu tidak bisa dibiarkan," Kenie segera meraih ponselnya dan menghubungi seorang asisten kepercayaannya.
"Kau sedang di mana?"
"Saya di kantor, nyonya. Ada apa?"
"Kau sudah mendengar berita soal nyonya muda?"
"Ya. Itu...."
"Selidiki siapa saja yang mengunggah postingan itu dan periksa juga apa saja berita yang mereka posting mengenai nyonya muda. Lalu hubungi perusahaan yang terkait dan mintalah untuk menghapus semuanya dari media sosial."
"Baik, nyonya. Akan saya kerjakan secepat mungkin."
"Bagus. Tapi tolong, jangan sampai tuan muda tahu soal berita ini. Dia masih banyak pekerjaan. Aku khawatir jika nanti pikirannya terganggu dengan berita konyol seperti ini."
"Baik, nyonya. Saya mengerti."
Telepon ditutup.
"Ibu menyuruh tuan Kogoro untuk mengurus semua itu?
"Ya. Ibu tidak akan membiarkan berita itu memacu kemunculan berita lain."
"Berita lain."
"Masa lalu kakakmu."
DEG
Ayumi baru menyadarinya. Benar juga. Jika masa lalu iparnya terus menyebar, bisa-bisa masa lalu Ken yang sudah terkubur dalam-dalam akan ikut terkuak.
••••••
TIK TIK TIK TIK
Suara jari-jari Ken yang menari di atas keyboard pada laptopnya terdengar sangat sibuk. Tidak jauh berbeda dengan raut muka Ken yang sama seriusnya.
Seseorang mengetuk pintu dan masuk sambil membawa tablet merk iP*d untuk menunjukkan laporan mingguan pada Ken.
"Ini laporan mingguan yang anda minta, pak. Semua barang yang dikirim juga sudah diterima," kata sekretaris Ko seraya menunjukkan grafik keuangan.
"Hmm," Ken mengangguk mengerti sambil melihat laporannya.
Setelah selesai dengan urusan itu, Ken meminta sekretaris Ko untuk menyiapkan mobil. Ia hendak pergi menemui Yuna di salonnya.
Hari ini mereka sudah membuat janji untuk mengunjungi ayah Yuna. Sebelum beranjak dari ruangannya, Ken pergi ke toilet untuk mencuci muka lelah yang seharian sibuk mengurus dan menandatangani berkas.
Saat kembali dari toilet, tidak sengaja ia mendengar dua orang karyawan wanita sedang bergunjing.
"Sungguh? Itu istri wakil ketua?"
"Lihat saja, beritanya sudah sangat ramai," kata salah seorang menunjukkan sesuatu dari ponselnya.
SRET
Ken meraih ponsel tersebut secara mengejutkan.
"Wakil ketua?"
Dua karyawati itu pun gugup dan takut. Karena mereka ketahuan sedang menggunjingkan istri bos mereka itu.
"Berita macam apa ini? Istriku seorang L? Siapa yang berani mengunggah berita bohong seperti ini. Sejak kapan pula ini tersebar di internet?" kata Ken merasa sangat terganggu dengan berita tersebut.
"T tidak tahu pak, kami hanya membacanya. Itu saja," jawab seorang dengan takut.
Ken berdiri mematung cukup lama sambil berpikir. Kemudian ia mengembalikan ponsel yang ada di tangannya pada sang pemilik.
"Jangan menggunjingkan sesuatu yang bahkan kalian sendiri tidak tahu kebenarannya jika tidak ingin dipecat."
"B baik. Maafkan kami, pak."
Karena dua pekerja kantornya sudah meminta maaf, Ken pun beranjak pergi. Namun saat ia melangkah pergi, didengarnya karyawati itu mengatakan bahwa semua berita yang baru saja ia lihat telah dihapus.
Wooh?? Tunggu. Ada apa ini? Tiba-tiba saja semua berita dihapus?"
Ken menoleh dan memelototi dua pekerja kantornya itu dan disadari oleh mereka. Akhirnya mereka berdua pun pergi setelah membungkuk memberi ucapan maaf untuk kedua kalinya.
Dengan buru-buru, Ken melangkah pergi seraya merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya.
Ia menghubungi Yuna beberapa kali namun tidak juga diangkat. Rupanya, Yuna sedang menghadapi demo dari para hatersnya.
Mereka datang memenuhi halaman salon dan menuntut agar salon D'Mission segera ditutup jika pemiliknya tidak pergi dan mengganti kepemilikan.
Suara ramai dan teriakan menyudutkan itu membuat Yuna terguncang. Sesaat yang lalu, ia menghadapi mereka dengan menepis tuduhan dan membela diri dengan percaya diri, namun beberapa orang justru melemparinya dengan telur dan tepung sambil mengucapkan kata-kata kasar tentunya.
Di sudut ruangan, Yuna duduk gemetaran sambil melipat kedua kaki di depan dada. Wajahnya tampak sangat kalut dan ketakutan. Kali ini, ia benar-benar dibuat frustasi. Sikap kasar orang-orang itu membuatnya tersudut dan kehilangan akal.
"Apa yang salah denganku? Tidakkah mereka melihat bahwa aku sudah berubah dan hidup bersama seorang suami? Kenapa mereka terus menggali masa laluku dengan Arai...."
.
.
.
BERSAMBUNG......