RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
TAMU LAWAS



EPISODE 133


Beberapa hari sejak Suya siuman, kesehatannya semakin membaik. Bekas luka jahitan pasca operasinya pun tidak ada masalah.


Hari ketika ia dinyatakan boleh pulang, Ken sengaja datang menjemput Suya dengan mobil yang ia pinjam dari Kenie.


Karena biaya rumah sakit tidak perlu dibayar lagi, mereka pun hanya perlu membereskan baju-baju yang dibawa ke sana.


"Apa kau sudah selesai bersiap?" tanya Ken begitu sampai di kamar Suya.


"Iya, sudah. Benar kan, kek, nek?"


Nenek Tama dan kakek Hiro pun mengangguk pelan sambil menjinjing dua tas besar dan beberapa yang kecil.


"Kalau begitu, ayo berangkat sekarang."


"Hmm."


Karena Yuna sudah membantu Suya duduk di kursi rodanya, Ken meraih dua tas besar yang dijinjing ayah mertuanya, "Biar aku yang membawanya, ayah."


"Eh?? I iya baiklah...."


Kakek Hiro dan nenek Tama berpandangan. Mereka memandangi gerakan cekatan dari menantu mereka.


Ketika sudah di parkiran, mereka pun segera masuk ke dalam mobil. Ken dan Yuna berada di depan, sedangkan Suya, kakek dan neneknya duduk di kursi belakang.


BRUMM


Tidak lama kemudian, sampailah mereka semua di rumah sewa Suya. Namun mereka terkejut ketika semua barang mereka berada di luar. Bahkan rumah sewa mereka itu sudah dihuni oleh keluarga lain.


"Apa yang terjadi?" tanya Ken tidak mengerti.


"Sayang! Apa yang terjadi selama aku ada di rumah sakit?" tanya nenek Tama pada suaminya.


"Ituu..."


"Itu apa??"


"Sebenarnya kemarin malam, nyonya Kahiwa menemuiku untuk meminta bayaran uang sewa. Aku mengatakan padanya untuk memberi kesempatan beberapa hari lagi karena uang yang kita miliki masih kurang."


Kakek Hiro mendekat dan memunguti barang mereka, "Tapi aku tidak menyangka bahwa nyonya Kahiwa tega melakukan ini pada kita."


Dalam keadaan bingung dan merana, suami istri itu memeluk cucu mereka dan duduk bersedih memandangi barang-barang mereka.


"Emm, ayah, ibu. Sepertinya aku mempunyai sebuah jalan keluar. Bagaimana kalau kalian ikut denganku ke suatu tempat?"


"Apa maksudmu?" tanya kakek Hiro lesu.


Ken memberesi beberapa barang yang perlu dan memasukkannya ke dalam bagasi dibantu oleh Yuna.


"Mau kau apakan barang kami?" tanya nenek Tama heran.


"Begini. Kali ini, percayalah padaku. Jadi bisakah kalian masuk ke dalam mobil, sekarang?"


Setelah berpandangan, kedua mertua Ken itu pun menuruti permintaan sang menantu. Perlahan, mereka masuk ke dalam mobil kembali.


Rupanya, Ken membawa orang tua Suzy kembali ke rumahnya. Yaitu rumah tinggal mereka yang sempat ditinggalkan begitu saja.


"Nah. Kita sudah sampai."


"Ini kan?" kakek dan nenek itu pun terkejut sambil perlahan turun dari mobil.


"Bagaimana bisa ini kembali seperti semula? Apakah?" nenek Tama heran.


"Hmm. Sebenarnya, aku tinggal di sini sejak keluar dari penjara dan memperbaiki yang beberapa bagian yang perlu."


"Baiklah. Mari kita masuk, kek,nek. Ayo Suya.." Yuna merangkul anak itu dengan lembut.


Satu jam kemudian,,,


Ketika Ken dan Yuna selesai membereskan dua kamar yang akan dipakai para tamu, Yuna datang membawa minuman hangat dan duduk menemani mertua dari kekasihnya itu.


"Silahkan diminum dulu, kek, nek," Yuna meletakkan tiga gelas berisi teh panas untuk mereka.


"Terima kasih," sambut kakek Hiro.


Saat mereka sedang duduk bersama, datanglah seorang kurir pengirim makanan.


"Permisi, pesanan dari rumah makan Gingza sudah datang," serunya dari luar.


Yuna berdiri dan menemui pengantar pesanan dengan heran, "Sepertinya kau salah alamat, tuan. Kami tidak memesan makanan di tempat kalian."


"Tapi di catatanku, alamat ini sudah benar. Atas nama tuan Kenzhi."


"Benarkah? Apa benar Ken yang memesan?" Yuna bergumam.


"Ya. Itu aku. Aku yang memesan makanan," seru Ken begitu datang. Rupanya ia baru selesai mandi.


"Aah, rupanya benar. Baiklah, terima kasih."


"Sama-sama," jawab kurir.


Kini, dua kotak Pizza dan sekotak besar ayam goreng tepung ada di hadapan mereka. Aromanya yang harum dan gurih mampu menggelitik perut-perut yang lapar.


"Yuna, tolong ambilkan piring untukku."


"Iya, baiklah."


Yuna mengambil lima buah piring dan sebuah kotak sarung tangan plastik. Kemudian ia kembali ke meja depan dengan cepat.


"Sebaiknya kita makan dulu. Setelah itu, kalian bisa beristirahat di kamar," ucap Ken setelah menerima piring dari Yuna.


Suya mengangguk dan menerima ayam goreng yang diulurkan ayahnya, "Terima kasih."


"Nah. Ini untuk ayah dan ini untuk ibu," Ken mengambilkan ayam tepung berukuran besar untuk ayah dan ibu mertuanya itu.


Kemudian ia juga mengambilkan untuk Yuna, "Kau juga makan yang banyak, Yuna."


"Terima kasih. Tapi aku rasa, kau terlalu sibuk melayani kami. Sekarang biarkan aku melayanimu juga. Nah,, kau juga perlu makan banyak, Ken. Sekarang, mari kita nikmati makanannya!" jawab Yuna seraya meraih ayam tepung dan meletakkannya di atas piring Ken. Lalu mempersilahkan semuanya untuk menikmati makanan yang ada di atas meja.


Untuk beberapa alasan, suasana rumah itu menjadi sedikit lebih hidup. Rekaman masa lalu tentang suasana rumah itu pun muncul kembali dalam ingatan semuanya. Kecuali Yuna dan Suya.


••••••


Ken bangun dan melirik jam weker di atas meja. Ia sedikit terkejut saat mendapati jarum jam di sana sudah menunjuk angka sembilan siang.


Disisinya, Yuna yang masih tidur lelap sambil memeluk tubuhnya itu belum juga bangun.


"Aahh, sepertinya aku kesiangan," dengus Ken seraya mengusap mukanya.


Perlahan, ia menyingkirkan tangan Yuna lalu turun dari tempat tidur dan bergegas pergi mandi. Ia merasa tidak enak pada mertuanya jika bangun kesiangan bersama Yuna.


SRET


Ken beranjak dari kamar mandi dan mengambil baju ganti. Ketika ia meletakkan pakaian kotor di keranjang cucian, ia menjadi heran sebab keranjang itu sudah kosong. Seingatnya, keranjang itu memiliki beberapa baju untuk ia cuci.


"Eh? Ke mana semua baju kotorku?" gumamnya heran.


Kemudian, ia turun ke lantai satu dan tidak melihat Suya maupun mertuanya. Perasaan cemas seketika menyelimuti dirinya. Namun ketika ia sampai di halaman samping, ia melihat nenek dan cucu itu sedang menjemur cucian. Ken segera menghampiri mereka.


Ken melihat bahwa pakaian yang sedang dijemur itu adalah pakaiannya.


"Heh? Apa itu pakaianku?"


"Eh, i iya. Kau sudah bangun? Maaf, tadi ibu masuk ke kamarmu tanpa ijin untuk mengambil cucian kotor."


GLEK


Ken gugup mendengar bahwa ibu mertuanya itu masuk ke dalam kamarnya diam-diam. Dengan begitu, bukankah ia melihat dirinya tidur bersama Yuna?


Untung saja semalam ia tidak melakukan apapun bersama Yuna sehingga ia tidur dengan pakaian yang lengkap. Tapi tetap saja, ibu dari Suzy itu melihat dirinya tidur seranjang bersama wanita yang menggantikan putrinya.


Apakah itu baik-baik saja? Ken jadi berkeringat dingin dibuatnya.


"Ibu,, k kau tidak perlu mencucikan bajuku seperti ini," katanya merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Mulai sekarang, biar ibu yang mencucikan pakaian kotormu."


"Tidak, tidak perlu, ibu. Aku bisa melakukannya sendiri. Jadi jangan repot-repot melakukannya," Ken meraih pakaiannya yang sedang diperas ibu mertuanya dengan sopan.


Suya memperhatikan ayahnya, "Ayah, tidurmu semalam pasti nyenyak. Kau terlihat lebih segar pagi ini."


"Haha, benarkah? Apa kemarin-kemarin ayah terlihat lesu?" Ken memberi jawaban sambil menjemur pakaiannya.


"Tidak juga. Kemarin ayah juga segar. Hehe."


"Kau ini, Suya."


"Ngomong-ngomong, apa bibi Yuna belum bangun? Aku ingin bermain bersamanya."


"Eh? Iya, tadi dia sedang tidur. Mungkin sekarang dia sedang mandi. Kau bisa bermain dengannya nanti."


"Begitu, ya? Kalau begitu apa ayah mau sarapan lebih dulu?"


"Benar, kau menyaraplah lebih dulu. Ibu sudah menyimpan sarapan untuk kalian," nenek Tama dan Suya bergegas masuk ke dalam rumah.


Dengan cepat Ken menyelesaikan jemurannya yang tinggal beberapa lembar. Kemudian pergi menyusul Suya dan ibu mertuanya ke dalam.


"Apa kakek sudah berangkat ke toko?" tanya Ken pada Suya.


"Ya. Tadi sekitar jam tujuh."


"Aah. Seperti itu.."


Setelah Ken duduk di ruang makan, nenek Tama memberinya semangkuk nasi, sup miso, ikan makarel, nato, tamagoyaki, sayuran dan acar lobak.



"Habiskan sarapanmu, kau bisa tambah lagi nanti. Jika diamati, kau terlihat sangat kurus sekarang," kata nenek Tama yang kini merasa kasihan pada Ken. Ketika ia membuka kulkas pagi itu, ia hanya menemukan beberapa botol air mineral, bir kalengan, telur dan wortel.


Di lemari penyimpan pun sama. Lemari itu hampir kosong dengan beberapa bungkus mie instan atau ramen. Dari itu, nenek Tama berpikir dan menyadari bahwa sebenarnya, menantunya memiliki kehidupan yang sangat berat untuk dilalui.


Baik di dalam penjara maupun setelah bebas. Ia hidup sendiri tanpa seorang teman yang berarti. Jika sekarang ia lihat ada seorang wanita yang menemani hidup menantunya, maka ia akan menerimanya tanpa berat hati.


"Benarkah? Aah, iya. Sepertinya berat badanku turun beberapa kilo," Ken tertegun melihat sarapan paginya yang begitu lengkap. Setahu dirinya, ia belum mengisi kulkas dengan bahan-bahan makanan.


"Apa ibu repot-repot pergi ke pasar untuk menyiapkan sarapan?" tanyanya tidak enak seraya meraih sumpit.


"Ya, benar, ayah. Aku dan nenek pergi ke pasar pagi-pagi sekali. Kami juga berburu ikan makarel di pelelangan. Seru sekali!" kata Suya penuh semangat.


"Benarkah?"


Ken menundukkan kepalanya karena merasa sudah sangat merepotkan. Jika ia tahu akan membawa Suya dan mertuanya ke rumah, ia akan memenuhi kulkasnya dengan berbagai macam bahan makanan terlebih dahulu.


...----------------...


BERSAMBUNG....


Terima kasih sudah mampir....


Jangan lupa like & votenya ya..🙏🏻