RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
HARI YANG MENYEDIHKAN



EPISODE 30


Suatu malam di hari Selasa, Ken kembali mengunjungi rumah ibunya. Ia membawa sekotak Unagi goreng buatannya. Kenapa harus Unagi?


Ken merasa bahwa Unagi akan selalu ada di ingatan ibunya. Selain karena itu adalah makanan kesukaannya sejak kecil, Unagi juga menjadi salam perpisahan di antara mereka.


Di depan gerbang berwarna hitam itu, ia berdiri cukup lama dengan ragu-ragu. Antara menekan bel atau tidak. Ia terus menatap ke depan dengan cemas.


Lampu di rumah itu menyala semua. Pertanda bahwa pemilik ada di dalamnya. Namun begitu, Ken tidak mampu menampakkan diri di hadapan ibunya yang kini mempunyai keluarga baru. Ia takut akan merusak kebahagiaan wanita tersebut.


Maka, diraihnya buku note yang ada dalam tasnya. Kemudian ditulisnya sebuah pesan untuk ibunya.


***


Nyonya,,


Semoga kau sehat selalu....


Berbahagialah dan damai bersama keluarga barumu. Aku, sudah memaafkanmu sejak 17 tahun yang lalu. Dan sebagai permintaan maafku yang tak bisa menemuimu, nikmatilah Unagi goreng dariku.


Mr. K.


***


Ken meletakkan surat singkat itu di dalam kotak. Kemudian ia menekan bel beberapa kali dan berlari menjauh, bersembunyi di balik dinding rumah lain. Lalu ia mengintip dari sana.


Kebetulan sekali, yang keluar membuka pintu gerbang adalah Kenie, ibunya. Wanita itu nampak cantik di usianya. Sepertinya, kehidupan bersama keluarga barunya, membuatnya bahagia.


Ken tersenyum sedih dari jauh. Ia ingat betul bagaimana saat terakhir bertemu ibunya. Kala ia datang membawa Unagi dan mendapat pukulan darinya. Dipandanginya wanita yang kebingungan di depan gerbang karena tidak menemukan siapa-siapa.


Siapa yang membunyikan bel?? Pikir Kenie.


Ketika hendak kembali masuk ke rumah, tanpa sengaja kakinya menyandung sebuah kotak berpita yang tergeletak di bawah.


Dengan heran diraihnya kotak tersebut dan dibukanya perlahan. Unagi! Di dalamnya terdapat Unagi goreng. Dan ada sepucuk surat.


SRET


Kenie meraih surat itu dan menoleh ke kanan dan kiri. Karena sepi, ia masuk kembali ke dalam rumah dan berjalan sambil memasukkan kembali surat tersebut ke dalam kotak.


"Siapa yang iseng melakukan ini?" Kenie berjalan melewati halaman yang cukup luas.


Sampai di depan pintu rumah, ia meletakkan kotak tersebut di atas meja teras begitu saja. Dan ia sendiri kembali menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan malam. Pada saat yang kebetulan, Hari keluar dari kamarnya dan berjalan keluar untuk mencari udara segar malam.


"Kira, di depan meja teras ada sebuah kotak berisi Unagi. Tolong buanglah. Atau jika kau mau, kau bisa membawanya pulang, nanti. Tapi sebelum itu, kemarilah. Bantu aku menyiapkan mangkuk."


"Baik, nyonya."


Aih, Kenie begitu ceroboh. Ia tidak melihat lebih dahulu apa yang tertulis di surat itu. Tidakkah ia tahu, Ken berusaha keras untuk menyapanya lewat tulisan singkat tersebut.


Jika Ken tahu, ibunya tidak ingat akan kenangan tentang Unagi, pasti hatinya akan terluka. Sebab, Unagi sendiri begitu istimewa di hatinya. Makanan yang selalu dimasak ibunya di hari ulang tahunnya.


"Ibu, apa makanan sudah matang?"


"Belum, sayang. Kau bisa menunggu masakan matang sebentar lagi," jawab Kenie pada putrinya.


"Kalau begitu aku akan melihat bintang di luar,," Ayumi berlari keluar rumah.


Sambil menunggu ibunya selesai menyiapkan makan malam, Ayumi berjalan keluar teras untuk melihat bintang-bintang. Tanpa sengaja, ia melihat kotak di atas meja tersebut.


Gadis kecil itu penasaran dan membuka tutup kotak. Begitu ia menemukan sepucuk surat, ia membacanya perlahan.


"Mr. K??" serunya saat usai membaca surat.


"Ada apa nona?" Kira yang datang setelah selesai membantu menyiapkan peralatan makan merasa penasaran.


"Lihat, aku rasa tadi Mr.K datang! Dia datang dan membawa Unagi goreng. Padahal aku yakin betul. Aku minta padanya untuk membawakan mochi untukku," Ayumi sedikit kecewa.


"Coba ku lihat?" Kira mendekati nonanya dan ikut melihat isi surat.


Begitu membaca isi surat tersebut, ia merasa bahwa itu tidak ditujukan untuk Ayumi. Dengan cepat ia meminjam surat yang ada di tangan Ayumi dan membawanya masuk ke dalam untuk diberikan pada nyonya Kenie.


"Nyonya! Nyonya!" serunya.


"Ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu?" kata Kenie.


"I ini nyonya. Coba lihat sebentar," Kira menyerahkan sepucuk surat pada Kenie.


"Buang saja," ucap Kenie sambil mengelap pinggiran piring dengan tissue tanpa menoleh pada surat yang diulurkan padanya.


"Tapi nyonya, pengirimnya pernah datang kemari sebelumnya dan bertemu nona," jawab Kira.


"Kau melihatnya? Siapa dia?"


"Entahlah. Dia seorang pria berbadan tinggi yang masih muda dan tampan. Namanya Mr. K."


"Mr. K?"


Akhirnya. Kenie menerima surat yang disodorkan kepadanya. Kemudian dibacanya dengan cermat isi dari surat tersebut.


DEG!


Jantung Kenie seketika berhenti berdetak. Ia merasa bahwa tulisan itu datang dari Ken. Putranya.


"Kira. Apa pria itu sering datang kemari?" tanyanya tiba-tiba dengan tidak sabar.


"Yang aku tahu, dia pernah datang sekali, nyonya."


Di dalam ruang pengawas, Kenie memeriksa rekaman CCTV di setiap sudut rumahnya. Ia mencari rekaman di sudut luar gerbang. Dan, benar saja. Di layar komputernya, ia melihat Kenzhi sedang berdiri menatap rumahnya dari depan bel pintu gerbang.


Kenie tiba-tiba saja menangis, ia menyesal karena melewatkan pertemuan dengan putra pertamanya. Dari layar, ia juga melihat bahwa putranya tumbuh dengan baik menjadi pria yang cakap.


Selain itu, ia juga melihat rekaman beberapa bulan yang lalu saat Ken datang untuk pertama kalinya dan bertemu Ayumi. Kenie menangis sesenggukan.


"Nyonya..." Kira merasa heran.


"Kira. Jika dia datang lagi kemari, panggil aku segera. Tahan dia selama mungkin dan jangan biarkan dia pergi sebelum menemuiku. Dan satu lagi. Tolong, rahasiakan ini dari tuan. Mengerti?!" katanya sedih.


"Me mengerti, nyonya."


Kenie menangis sambil memeluk erat surat dari putranya. Kenie benar-benar menyesal. Putranya yang malang, kini datang menemuinya. Tapi sebagai ibunya, ia tidak pernah merasakan ikatan batin. Hingga putranya itu datang pun, ia benar-benar tidak merasakan firasat apapun.


Aah. Ibu macam apa dirinya?


Setelah memastikan surat tersebut benar-benar datang dari Ken, ia pergi ke teras dengan tergopoh-gopoh untuk mengambil kembali kotak berisi Unagi.


Rupanya, Ayumi duduk di dekat kotak tersebut dan sudah memakan beberapa diantaranya.


"Ibu, ada apa?" Ayumi melihat mata ibunya yang berurai air mata.


"Tidak ada apa-apa sayang. Apa yang kau makan?"


"Lihat ibu! Unagi ini lezat sekali. Gurih dan manis. Apa ibu tahu? Mr. K yang membawanya. Dia pacarku," Ayumi tersenyum tanpa mengetahui bahwa sebenarnya Mr.K adalah kakaknya.


Kenie mengambil kotak tersebut dan membawanya masuk.


"Makanlah di dalam. Ayahmu segera pulang."


"Baik."


••••••


SRAK!


Dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana, Ken berjalan pulang sambil sesekali menendang batu kerikil yang ada di tengah jalan agar tidak mengganggu perjalanan orang lain yang lewat.


Karena jalan pulang ke rumah Linzhi harus melewati rumah pijat tempat Linzhi bekerja, Ken membelok ke jalan tersebut.


Ketika ia melewati tempat itu dengan langkah yang santai dan sedikit bersiul, tanpa sengaja ia melihat Linzhi keluar menuju sebuah mobil bersama seorang pria yang memeluk pinggangnya.


Ken berhenti melangkah dan memperhatikan apa yang terjadi di seberang jalan. Nafasnya seakan berhenti ketika ia menyadari bahwa pria itu adalah Yoshi.


"Apa yang mereka lakukan?" gumamnya heran.


Tanpa ia duga, Linzhi menampakkan wajah yg sumringah tatkala mereka berjalan memasuki mobil Yoshi. Saat itu juga, Ken teringat ucapan Yoshi soal dirinya yang akan membuat Linzhi memilihnya.


Begitu sadar, Ken buru-buru mengejar mereka, menyeberang jalan dengan asal hingga mengganggu lalu lintas. Suara klakson pun terdengar menegur dirinya karena hampir saja tertabrak mobil.


Namun, meski ia sudah berlari dengan cepat, tetap saja mobil tersebut sudah jauh melaju pergi.


Hosh Hosh...


Ken ngos-ngosan sambil berdiri berpegangan pada lututnya. Tepat pada saat ia berdiri di depan rumah pijat tersebut, seseorang terapis lain dari sana keluar mengantar pergi pelanggannya.


Begitu pelanggannya pergi, wanita itu menyapa Ken yang berdiri memegangi lututnya.


"Hai tuan, sedang apa kau di luar? Apa kau mau mampir?" sapa ya sangat ramah.


"Tidak. Aku hanya,,"


Dan karena wanita itu masih ingat pada Ken yang pernah datang beberapa waktu lalu, Ken akhirnya bertanya padanya.


"Maaf nona. Apa kau tahu ke mana stroberi pergi? Baru saja, aku melihatnya pergi bersama seorang pria."


"Stroberi? Aah. Dia pergi bersama direktur Yos. Aku dengar, direktur menyewanya selama beberapa hari."


"Beberapa hari?"


"Hmm. Kenapa? Apa kau mau melakukan perawatan? Jika iya, kau tidak perlu menunggu stroberi. Aku bisa melakukannya lebih baik dari dia," wanita itu menggunakan kesempatan untuk mempromosikan dirinya sambil mengusap dada Ken.


"Baiklah. Lain kali, aku akan memikirkannya. Kalau begitu aku pergi dulu."


Ken berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Ia kembali berjalan menuju rumah Linzhi yang berjarak beberapa kilometer lagi. Sepanjang perjalanan, Ken diam saja.


Perasaannya terluka...


Pikirannya pun berkecamuk. Antara benci, marah dan kecewa karena cinta. Saat itu juga, ia merasa dikhianati oleh Linzhi, kekasihnya.


Siapa sangka, langit malam pun menambah deritanya. Tanpa terdengar gemuruh ataupun petir, tiba-tiba saja hujan deras mengguyur tubuhnya. Jalanan menjadi basah dan orang-orang yang berlalu lalang di trotoar pun berlarian mencari tempat aman untuk berteduh.


Ken tidak peduli pada dirinya yang kini menjadi basah kuyup. Ia justru menengadahkan kepalanya, menerima guyuran air hujan dengan santai. Kedua tangannya mengusap kepala dan wajahnya dengan perlahan.


Huff.....


.


.


Bersambung ke Episode 31


Jangan lupa like 👍🏻