
EPISODE 145
Di dalam mobil, Ken terus berusaha menghubungi ponsel Yuna yang aktif namun tidak juga ada jawaban. Perasaannya semakin tidak enak saja.
"Sekretaris Ko, tidak bisakah kau melaju lebih cepat lagi? Aku harus cepat menemui Yuna."
"Baik, bos."
Tuan Kogoro pun meningkatkan kecepatan laju mobilnya. Saat tengah menunggu dengan cemas, sebuah telepon masuk. Dari Ichigo rupanya.
"Ken! Kau pasti tidak percaya dengan apa yang akan ku katakan sekarang!"
"Apa itu?"
"Dengar baik-baik. Tuan Tanaka baru saja mengatakan padaku, bahwa dia mengundang kalian berdua untuk makan malam di rumahnya. Malam ini," Ichigo tampak ikut senang.
"Benarkah? Pas sekali. Aku juga berencana akan mengunjunginya sore nanti bersama Yuna."
"Waah.. benar-benar kebetulan yang bagus! Kalau begitu jangan lupa bawa sesuatu untuk mertuamu. Aku lihat, akhir-akhir ini dia sering sakit punggung."
"Hmm. Terima kasih sudah memberitahuku. Sampai jumpa," kata Ken.
Setelah menutup telepon dari Ichiggo, Ken kembali fokus pada jalanan. Ia terus saja memikirkan Yuna yang tidak biasa-biasanya membiarkan panggilannya.
DIN DIN !!
Sesampainya di depan salon, Ken begitu terkejut melihat masa yang membawa poster penolakan untuk Yuna yang seorang L. Saat turun dari mobil, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan orang-orang tentang sesuatu di atas sana.
"Hey, lihat! Dia mau melompat dari atas!!"
Ken yang sedang merapikan jasnya pun reflek mendongakkan kepalanya dan melihat bahwa Yuna sedang di atas gedung D'Mission dan hendak melompat dari atas sana.
GLEK
"Yuna! Jangan!!" serunya.
Tanpa menunggu detik berikutnya, Ken segera berlari memasuki gedung salon disusul oleh tuan Kogoro yang langsung menelepon anak buahnya yang berada di tempat terdekat untuk mengamankan lokasi.
DRAK DRAK DRAK
Jantung Ken berdegup seribu kali dari biasanya. Keringatnya mengalir deras karena cemas. Ia berlari dengan buru-buru menaiki tangga darurat yang menuju balkon D'Mission tempat Yuna berada.
Saat meniti tangga, sesekali kakinya terpeleset hingga membuatnya hampir jatuh. Tidak biasanya ia merasakan kekalutan yang luar biasa seperti ini. Kali ini, ia benar-benar takut!
"Hosh,, hosh,,"
Nafasnya tersengal dengan jantung yang seakan mau copot. Begitu ia sampai di atas, ia langsung berteriak memanggil Yuna.
"Berhenti, Yuna!! Jangan lakukan itu!"
Yuna yang mendengar suara Ken pun menoleh. Angin berhembus kencang sehingga memainkan rambutnya yang mulai memanjang.
"Maafkan aku, Ken.."
Siapa sangka, tatapan Yuna saat itu teramat sedih dan menunjukkan bahwa ia benar-benar mengalami depresi. Sambil menitikkan air mata, ia tersenyum pada Ken yang datang berlari dengan cekatan mendekati dirinya.
Belum sempat tangan Ken meraihnya, Yuna melompat turun dari pagar pembatas.
"Tidak!! Jangan!" teriak Ken putus asa.
Ken merasa sangat gila. Ia melompat cepat dan buru-buru meraih tangan Yuna.
HAP!
Tangan kanannya berhasil memegangi tangan kiri Yuna yang kini menggantung di tepian gedung. Namun tanpa sengaja pergelangan tangannya tersangkut sebuah paku hingga terluka dan berdarah.
"Pegang erat tanganku, sayang! Kau tidak boleh melakukan ini padaku! Apa kau lupa janji kita sore ini? Ayahmu mengundang kita makan malam.."
"Maaf, Ken. Aku tidak bisa lagi membuat malu dirimu dan Suya. Jadi biarkan aku pergi, ya?" jawab Yuna sambil memperhatikan luka sayat pada pergelangan tangan Ken itu.
"Tidak. Jangan berkata seperti itu lagi. Fokus saja pada pegangan tanganmu. Aku akan menarikmu dari sana," suara Ken terdengar amat payah sebab tangannya yang terluka itu berusaha menahan kuat tubuh Yuna yang menggantung.
Dan karena posisi Ken yang sedikit menjulur ke bawah, tuan Kogoro membantu memegangi kakinya dan berusaha untuk menyelamatkan keduanya. Mereka berusaha bersama-sama dalam menyelamatkan Yuna dari ambang kematian.
Yuna menggeleng. Sepertinya ia benar-benar dibuat frustasi atas sikap orang-orang terhadapnya hingga kehadiran seseorang yang dicintainya pun tidak berhasil membuatnya berubah pikiran.
Melihat wajah Ken yang semakin lama memerah dan dipenuhi otot di bagian lehernya, serta lengan kanan Ken yang juga mengencang dengan urat-urat yang menonjol, Yuna pun melepas jari telunjuk Ken dari pergelangan tangannya.
"Tidak Yuna! Jangan lakukan itu. Maafkan aku yang gagal menjadi suami dan terlambat mengetahui masalah ini. Tapi aku mohon padamu, Yuna. Jangan lakukan sesuatu yang membuatku akan menyesalinya seumur hidupku!!" Ken menggelengkan kepalanya sambil menangis sampai ingusnya menetes.
Ia merasakan tangannya yang semakin licin karena basah oleh darah yang bercampur keringat.
"Tuan Ko! Cepat lakukan sesuatu!! Aku mohon selamatkan Yuna!!" teriaknya histeris.
"Ini juga sedang ku lakukan, bos..." jawab tuan Kogoro berusaha menarik naik tubuh Ken.
Yuna menangis sedih dan berucap lirih, "Lepaskan aku, Ken. Kau bisa ikut jatuh."
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu!"
Karena tidak ingin Ken ikut jatuh bersamanya, Yuna pun melepas satu persatu jari Ken yang lain.
"Selamat tinggal, Ken... Aku mencintaimu.."
Ken menggelengkan kepala kencang, "Tidak..."
Begitu jari Ken terangkat semua, Yuna pun meluncur jatuh ke bawah dengan cepat.
BRAKK!!
DEG
Meski tuan Kogoro berhasil menariknya ke tempat yang lebih aman, Ken kembali melongokkan kepala ke bawah. Tubuhnya gemetaran dengan tangan kanannya yang masih merasakan sentuhan tangan Yuna.
Dengan kondisi seperti itu, Ken bangkit dan berlari turun menyusul Yuna di bawah lewat tangga. Ia benar-benar syok. Wajahnya tampak sangat pucat dan tidak bahagia.
Begitu sampai di bawah, ia melihat Yuna jatuh di atas mobil yang ia hadiahkan padanya beberapa waktu lalu. Seperti orang gila, ia melompat naik ke atas mobil dan memeluk tubuh Yuna yang berdarah-darah.
"Yuna, bangunlah sayang.. Kau tidak bisa meninggalkanku dengan cara seperti ini. Huhu," Ken berusaha membangunkan Yuna kembali sambil menangis pilu.
"Tuan,-" panggil tuan Kogoro.
"Lakukan sesuatu untukku. Tolong panggil ambulance atau apapun itu. Aku harus menyelamatkan Yuna. Tidak, aku harus membuatnya hidup kembali."
Direngkuhnya kepala Yuna yang berdarah dengan penuh kasih. Ia amat menyesali kejadian yang baru saja terjadi. Jika saja ia menggenggam kuat tangan Yuna, maka kejadian itu tidak perlu terjadi.
Beberapa menit kemudian, anak buah tuan Kogoro berdatangan. Sayangnya mereka terlambat. Tanpa bisa berkata-kata, mereka semua pun ikut menangis.
Begitu pula saat ambulance datang. Mereka mengangkut tubuh Yuna dan membawanya pergi dengan Ken dan tuan Kogoro yang ikut di dalamnya.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Ken terus saja memeluk dan memanggil Yuna. Ia masih berusaha keras untuk membuat Yuna bangun.
•••••••••
Di ruang yang sunyi dan berbau obat, Ken berdiri mematung memandangi tubuh Yuna yang tengah tertutup kain putih dan hanya terbuka di bagian wajah putihnya.
Setengah tidak percaya, ia terus menatap wanita yang dicintainya itu seraya membelalakkan mata dengan mulut yang menganga. Hatinya sungguh teramat perih. Ia tidak percaya, bahwa dengan tangannya sendiri ia mengantarkan sang istri pada kematiannya.
Degup jantungnya yang berdetak amat cepat. Diselingi air matanya yang terus saja mengalir. Ia teramat sedih. Tubuhnya pun menjadi lemah dengan pendengaran yang sedikit kacau.
Pada kondisi seperti itu, sayup-sayup didengarnya langkah cepat setengah berlari dari orang-orang yang datang dari belakangnya. Kenie, Ayumi dan Suya datang bersamaan dengan kesedihan.
"Mama!!" teriak Suya tak kalah histerisnya dengan sang ayah.
Suya memeluk Yuna dengan tulus seperti pada ibunya sendiri. Begitu pula Kenie yang mengasihi menantu keduanya. Ia tidak menyangka bahwa putranya akan merasakan kehilangan belahan jiwanya kembali.
Meski keluarganya sedang menangisi Yuna dan sesekali mengajaknya bicara, Ken tetap tak bergeming. Ia mematung dengan hati yang hancur lebur.
Kemudian dengan tangan yang masih gemetaran, ia meraih ponselnya dan menelepon ayah Yuna.
"Ayah mertua, maafkan aku."
"Ada apa dengan nada bicaramu?" tuan Tanaka merasakan firasat buruk.
"Maafkan aku,,," Ken tidak bisa berkata-kata dan justru menangis tertahan."
"Ada apa? Apa ada yang terjadi??"
"Yuna..."
"Ada apa dengan Yuna?!" tanyanya lantang.
Karena merasa ada sesuatu yang terjadi, tuan Tanaka yang sedang ada di kantor bengkel pun merasa gelisah. Ia bertanya dengan keras hingga Takeda, Ichigo dan Kurosaki pun menoleh dan berhenti mengerjakan sesuatu untuk ikut mendengarkan.
"Aku,, membunuh Yuna."
Kenie, Ayumi dan Suya yang mendengar pengakuan Ken itu pun mencegahnya melakukan itu.
"Ken! Apa yang kau katakan?? Itu tidak benar," Kenie merasa kasihan pada putranya.
"Kami tahu kau sangat terpukul dengan kejadian ini, tapi bukan salahmu jika Yuna tiada!" Ayumi ikut angkat bicara.
"Ayah, sadarlah!!"
DEG
Tuan Tanaka mendengar semua perkataan di antara mereka dari telepon. Yuna tiada? Apa maksudnya itu? Seperti disambar petir, kabar tersebut membuatnya syok. Tubuhnya lemas lunglai dan hampir saja jatuh jika tiga sekawan itu tidak menghampirinya.
"Bos, apa yang terjadi??" seru Takeda.
Karena tangan bosnya lemas dan tidak sanggup menggenggam ponselnya, Ichigo mengambil alih ponsel tersebut.
"Ken! Apa yang terjadi??"
Di pihak Ken pun sama. Ken sendiri tengah bersimpuh di lantai dan tidak mampu menahan kesedihannya.
"Halo, ini Ayumi. Apa tuan masih mendengarkan?"
"Ya. Ini Ichigo, kawan Ken."
"Ah, aku minta maaf. Untuk saat ini kami tidak bisa menceritakan semua yang terjadi. Tapi bisakah anda datang ke rumah sakit Soyang."
"Baiklah. Kami akan datang segera."
Telepon pun ditutup. Ichigo mencium sesuatu yang tidak beres. Maka, ia menyuruh Kurosaki menyiapkan mobil dan berangkat bersama-sama menuju rumah sakit yang disebutkan Ayumi.
.
.
.
.
BERSAMBUNG......