
EPISODE 103
DOONGG..
DOOONGG...
YEEEAYYY!!
YEEEEAAYY!!
Suara ketukan bola basket di lapangan panti asuhan berpadu serasi dengan suara riuh penuh sorak sorai dari mulut anak-anak.
Tampak di sana, Ken sedang bermain lempar bola basket bersama anak laki-laki lainnya.
Karena sore itu Ken datang tepat saat anak-anak sedang berlatih, mereka semua langsung mengajaknya bermain.
"Sekarang giliranmu, paman!" seru anak-anak sambil melempar bola padanya.
"Baiklah."
Ken menerima bola yang dilempar kepadanya dan mendribble bola tersebut sebelum melemparnya ke dalam ring.
SPLASSHH!
Lemparan Ken tepat memasuki jaring ring yang ada di atas dinding. Saat itu juga terdengar teriakan riang anak panti atas keberhasilan Ken dalam melempar bola. Teriakan lantang itu terdengar dari anak-anak perempuan khususnya.
Karena itu hari libur, hampir seluruh anak panti berada di sana. Mereka berlarian menyambutnya dengan senang hati saat melihat Ken datang berkunjung.
Ketika semua merasa senang atas kunjungannya, ada salah satu anak perempuan yang kini menginjak bangku SMA yang tidak suka dengan keberadaan Ken.
Saat dulu Ken baru datang ke panti tersebut, sebenarnya anak perempuan itu begitu mengidolakan sosok pria sepertinya.
Bahkan beberapa kali ia menulis surat untuk Ken, tetapi ia urungkan niatnya karena merasa malu jika harus memberikan surat itu pada Ken.
Dan rasa cinta yang tumbuh dalam diri anak itu, ternyata mampu membuatnya menjadi pribadi yang iri dengki.
Meski saat itu Ken yang menjadi anggota baru berusaha ramah pada semua orang yang ada di panti, namun nyatanya anak perempuan itu merasa iri dengan kedekatannya bersama beberapa teman perempuan lain.
Apalagi beberapa teman perempuannya terlihat centil dan selalu mengerumuni Ken hingga dirinya tidak mempunyai kesempatan sedikitpun untuk bercakap-cakap.
Lebih-lebih saat pesta ulang tahun Ken waktu itu. Disaat semuanya menyanyi dan berkumpul, Sora, begitu nama anak perempuan tersebut. Justru menghindari kebersamaan itu karena mengira Ken tidak peduli padanya.
Sejak itu ia terus menghindari pertemuan dengan Ken.
Dan saat sore itu Ken datang dan bermain basket bersama anak laki-laki, Sora memilih menyingkir saat anak-anak perempuan lain sibuk membuat makanan untuk makan malam.
"Apanya yang bagus dari dia? Kenapa semuanya berusaha menarik perhatian pria menyedihkan sepertinya?" Sora menggerutu lirih di halaman belakang panti sambil mengais-ngais tanah berumput.
Tiba-tiba ia merasakan perutnya sakit.
"Aah, kenapa sakit sekali? Apa ini sudah waktunya datang bulan?" Sora memegangi perutnya yang melilit.
Pada waktu yang kebetulan, Ken lewat di tempat Sora berjongkok. Ia melihat anak perempuan yang sedang memegangi perutnya seperti sedang kesakitan.
Maka dihampirinya anak itu, "Kau baik-baik saja, Sora?"
Sora mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat Ken sedang menatapnya.
"Apa?"
"Kau baik-baik saja? Paman lihat, kau tampak sedang menahan sakit. Apa kau sakit perut?" tanya Ken peduli.
"Tidak. Minggir sana!"
Ken heran. Dia tidak mau beranjak dan mengawasi Sora karena khawatir. Namun anak gadis itu justru marah-marah dan buru-buru pergi.
Siapa sangka, bagian belakang roknya tertembus darah menstruasi. Melihat hal itu, Ken segera mendekati Sora untuk mengingatkannya.
"Sora!" panggilnya.
"Ah, bagaimana aku mengatakannya?" gumam Ken sambil menggaruk-garuk lehernya. Ia bicara sendiri dan berusaha menutupi tembusan darah Sora dari anak-anak lain yang lewat.
"Ada apa sih? Kenapa paman terus mengikutiku?" Sora merasa kesal.
"Itu... "
Tiba-tiba saja Sora mendorong Ken kencang. Hampir saja Ken terjengkang ke belakang jika keseimbangannya tidak baik.
Gadis yang bernama Sora itu melanjutkan langkahnya sambil terus memegangi perutnya.
"Asshh, sedang apa sih dia? Kenapa mengikutiku terus?" gerutunya sambil sesekali menoleh ke belakang.
Karena merasa kasihan pada anak tersebut, Ken melepaskan jaketnya dan menutupkannya ke pinggul Sora.
SRET
"Apa kau sedang datang bulan? Ada tembusan darah di rokmu. Kau bisa pakai jaket paman dan masuk ke dalam," Ken bicara sambil tersenyum.
Kemudian ia menepuk-nepuk pelan kepala Sora sambil berlalu pergi.
"Kau bisa kembalikan nanti kalau sudah selesai!" Ken berseru sambil berlari kecil.
DEG
Sora berhenti melangkah. Ia benar-benar merasa malu sekali. Darah mensnya tembus? Dan paman Ken melihatnya??
Dengan cepat ia memeriksa roknya. Benar saja. Ada rembesan darah di sana. Dan siapa sangka, jaket yang dipinjamkan Ken rupanya benar-benar bermanfaat.
"Issh! Aku tidak butuh bantuan paman. Aku bisa urus urusanku sendiri! Untuk apa paman meminjamkan jaket kumal ini!" Sora menggerutu mengenai sikap Ken yang sok peduli padanya.
Tapi nyatanya, ia tidak juga melepas jaket yang dipinjamkan Ken padanya. Ia justru mengikatkan kedua lengan jaket tersebut ke sekeliling perutnya. Kemudian berjalan cepat memasuki bangunan panti asuhan menuju kamarnya.
••••
Sora sudah mengganti pakaiannya dan kini berdiri mematung menatap jaket milik Ken yang ada di tempatnya. Ia terus saja merenung. Berkat paman Ken, ia melewati kerumunan anak-anak panti lainnya tanpa ditertawakan oleh mereka.
"Apa ini? Apa paman sedang mempermainkan perasaanku??" ucap Sora lirih.
"Kenapa paman baik pada semua gadis di sini? Kenapa! Kenapa bukan hanya padaku saja?" Sora marah-marah pada jaket Ken.
Merasa dipermainkan, Sora melempar jaket tersebut ke lantai dengan kesalnya.
"Ichh!! Ichh!! Ichh!!" ia menginjak-injak jaket tersebut dengan kedua kakinya yang telanjang.
Setelah melakukan itu, Sora menatap jaket yang tergeletak di lantai itu dengan mata yang berair. Ia tidak percaya, telah melampiaskan kekesalannya pada benda mati itu.
Maka dengan cepat diraihnya kembali jaket tersebut. Kali ini, ia mendekap benda itu ke dalam dadanya sambil sesekali menghirup aroma tubuh Ken yang tertinggal di sana.
"Tidak bisakah paman fokus padaku saja? Jika paman tidak peduli pada perasaanku, aku takut rasa cinta ini akan menjadi bumerang untuk paman," Sora menangis sedih.
TOK
TOK
TOK
Suara pintu kamar tiba-tiba saja diketuk seseorang. Sora jadi kelabakan dibuatnya. Ia buru-buru menyembunyikan jaket milik Ken ke dalam sebuah kotak kardus dan mengusap air matanya dengan kasar.
"Siapa?"
"Kami!! Kenapa kau mengunci pintunya?" dua teman Sora hendak masuk ke dalam kamar yang memang diisi oleh beberapa anak.
"Sebentar!"
CEKREK
"Sedang apa sih kau di dalam? Mengapa mengunci pintu saat semua anak sedang di luar?" tanya Yukio.
"A aku sedang ganti baju.." alasan Sora.
"Benarkah? Kau tidak sedang mencuri barang anak lain, kan?" Megume yang centil bicara agak keterlaluan.
"Kau menuduhku mencuri?"
"Bisa saja, kan?"
"Jaga mulutmu, Megume! Jangan asal bicara."
"Aku tidak asal bicara! Dulu kau juga pernah mencuri coklat natal di meja perjamuan. Hal seperti itu bisa saja terjadi lagi, kan?"
"Itu sudah lama berlalu. Kenapa kau mengungkit masalah itu!!"
"Kenapa tidak? Kau selalu menyendiri dan tidak mau ikut kegiatan."
"Ichh, dasar kau!!" Sora menjambak rambut Megume.
"Aaarrrrhhh!" Megume menjerit sambil berusaha membalas serangan yang ia dapat.
Maka terjadilah perkelahian antara kedua gadis itu. Yukio bingung harus bagaimana saat melihat kedua kawannya itu berkelahi. Maka, ia berlari keluar untuk meminta pertolongan.
Pada saat pertarungan sengit dua gadis itu, tanpa sengaja keduanya menubruk kotak kardus yang ada di atas meja belajar hingga apa yang ada di dalamnya jatuh berhamburan ke lantai.
Tak terkecuali jaket Ken.
"Apa itu? Bukankah itu milik paman Ken?" Megume berseru lantang saat dilihatnya jaket milik Ken.
Sora menoleh dan langsung memungut jaket tersebut, "I ini...."
"Benar, bukan? Kau mencuri barang milik orang lain!!"
"T tidak! K kau salah faham!"
Dan pada saat yang tepat, nona Teri, nona Nanao, Ken dan beberapa anak panti berdatangan. Mereka melihat perkelahian itu sudah selesai. Namun....
"Paman Ken! Lihat! Dia mencuri jaketmu!!" Megume berteriak kencang sambil menuding Sora dengan mata yang memojokkannya.
"I itu tidak benar!!" Sora mendekap jaket tersebut dan menggelengkan kepala menatap Ken.
Maka ramailah anak-anak yang berdiri di sana sambil berbisik-bisik dan sesekali menghujat Sora. Penampakan seperti itu sangat familiar di mata Ken. Ia juga pernah diperlakukan seperti itu pada masa lalu.
Ken maju selangkah ke depan. Lalu didekatinya Sora sambil ia menepuk-nepuk punggung gadis yang tengah gemetar ketakutan.
"Kalian salah faham."
"Apa? Bagaimana bisa, paman? Jaket paman ada di tangannya, bukan?" Megume agak ngotot.
"Benar. Itu memang jaket paman. Tapi Sora tidak mencurinya," ucap Ken mencoba meluruskan kesalahfahaman yang terjadi.
Sora gemetaran sambil mencurahkan air matanya. Meski ia senang karena paman Ken membelanya, namun ia juga khawatir jika pria itu mengatakan hal sebenarnya.
"Sebenarnya, paman melihat Sora duduk sendirian di halaman luar. Karena udara sedang dingin seperti ini, jadi paman meminjamkannya agar dia tidak kedinginan."
"Oooohh,, jadi begitu?" anak-anak lainnya menanggapi dan percaya.
"Benarkah?" Megume bergumam.
"Hmm. Itu benar, Megume. Baiklah, kalau begitu. Kalian berjabat tanganlah," Ken meminta kedua gadis itu untuk berbaikan.
Namun, Megume meninggalkan keramaian begitu saja. Ia tidak mau berbaikan dengan Sora.
"Megume!" panggil nona Nanao.
Anak bernama Megume itu tidak peduli saat nona Nanao memanggilnya dan terus pergi.
"Sora, maafkan aku ya. Aku tadi hanya diam saja saat Megume mengataimu," Yukio mendekati Sora dan memeluknya.
"Iya, tidak apa-apa."
•••
DRAK
DRAK
DRAK
"Tunggu paman!"
Ken menoleh ke belakang dan melihat Sora berlari menghampirinya.
"Ini, jaket paman. T terima kasih sudah meminjamkannya. Dan... terima kasih juga sudah berbohong untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi."
Sora mengulurkan jaket tersebut dengan kedua tangannya. Kepalanya pun menunduk tidak berani menatap Ken secara langsung.
Ken tersenyum, "Kau boleh memilikinya."
"Apa?" Sora mengangkat kepalanya dan menatap ken.
"Pakailah jaket itu kapanpun kau memerlukannya," Ken mengusap kepala Sora kemudian berbalik pergi.
Begitu Ken meninggalkannya, Sora memperhatikan paman yang dicintainya itu seraya mendekap benda pemberiannya.
BERSAMBUNG......