RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
PENGARUH OBAT HERBAL



EPISODE 51


Langkah Ken sedikit berat dan entah mengapa badannya terasa amat gerah. Mungkin efek dari ramuan herbal yang ia dapatkan dari ibu mertua.


Ketika ia membuka pintu kamar dan melangkahkan kaki ke dalam, dilihatnya Suzy sedang duduk di depan cermin sambil menepuk-nepuk kulit wajahnya. Wanita itu baru saja mengenakan serum kolagen untuk wajahnya.


"Kau sudah selesai mengobrol?" tanya Suzy saat melihat Ken masuk.


Ken mendongakkan kepala menatap Suzy sebentar dan mengangguk pelan. Kemudian ia meraih kasur lipat dan bantal yang ada di lemari.


Dengan perlahan ia menjatuhkan diri di atasnya dan mencoba memejamkan matanya. Namun tidak bisa. Ia pun meraih buku bacaan yang ada di atas rak kemudian duduk membaca dengan kaki berselimut.


Sesekali ia menggerakkan baju di bagian dadanya karena merasa gerah.


"Kau kenapa? Wajahmu aneh sekali?" tanya Suzy.


"Tidak apa-apa."


"Ohya. Kau mau coba serumku? Sepertinya, wajahmu membutuhkan sedikit vitamin."


"Ah, tidak. Itu serum untuk wanita."


"Kata siapa? Ini bisa untuk pria. Baiklah, aku akan mencobakannya padamu," kata Suzy berdiri dan mendekati Ken.


Ketika akhirnya Suzy mengoleskan sedikit serum di tangannya dan mengusap serta menepuk-nepukkannya ke wajah Ken, mereka pun tanpa sengaja berpandangan.


"A aku rasa sudah cukup," Ken gugup.


"Belum. Kau harus meratakannya sampai ke leher lebih dulu," jawab Suzy sambil mengusap leher Ken.


Sentuhan tangan Suzy yang lembut itu rupanya membuat darah Ken mendidih dengan cepat. Sesuatu yang ia jaga supaya tetap tidur pun tiba-tiba saja terbangun dibuatnya.


GLEK...


Ia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya saat Suzy melakukan hal itu. Apalagi, tubuh mereka benar-benar dekat tanpa ada penghalang. Aroma serum yang wangi dan gerakan tangan Suzy yang sensual pun menggelitik hasratnya. Diam-diam, Ken mulai terangsang.


Perlahan, tangannya bergerak hendak memeluk punggung Suzy. Namun, disaat puncak rangsangan yang diterimanya, Ken justru menyingkirkan tangan Suzy dengan cepat. Ia menekan kuat hasratnya dan berlari ke kamar mandi.


"Ada apa dengannya?" Suzy bingung menatap Ken yang tampak terburu-buru masuk ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Ken duduk di atas kloset. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan apa yang sedang ia rasakan. Tubuhnya dibuat panas dingin oleh ramuan herbal yang menyesatkan.


"Hosh Hosh,,, Ada apa denganku? Apakah ini efek ramuan jahe yang ibu berikan padaku? Ough,, Apa itu obat perangsang?" gumam Ken terengah-engah.


TOK TOK TOK


Suzy mengetuk pintu kamar mandi.


"Ken, apa kau baik-baik saja?" Suzy cemas.


Mendengar Suzy ada di depan pintu kamar mandi, Ken semakin gerah.


"Yya. Aku baik-baik saja," suara Ken terdengar parau.


"Benarkah?"


"Hmmm."


Beberapa kali Suzy mengetuk pintu, membuat jantung Ken semakin bergejolak. Maka, dengan cepat Ken membuka celananya dan berniat melakukan itu dengan tangannya sendiri.


Namun, niatnya itu ia urungkan. Ia tidak bisa melakukan hal yang merusak kesehatannya. Maka, dengan langkah gontai ia keluar dari kamar mandi dan langsung disambut oleh Suzy.


"Ada apa? Apa kau sakit?" tanyanya.


"Tidak."


Ken kembali pada kasur lipatnya. Tanpa berkata lagi ia juga menyelimuti dirinya sendiri.


"Sudah larut malam. Sebaiknya kau tidur," ucapnya dengan suara masih parau.


"Kau mau tidur sekarang?" Suzy memperhatikan wajah Ken.


"Hmm..." Ken berusaha menghindari tatapan mata Suzy.


"Kau aneh sekali?"


Meski Suzy masih ada di dekatnya, Ken mencoba untuk mengabaikannya. Sambil memposisikan tidurnya dengan memunggungi Suzy, Ken berkata lirih.


"Tidak ada yang aneh. Aku hanya sedang berusaha menahan diriku untuk tidak melewati batas. Jadi cepatlah tidur, sebelum aku berubah pikiran."


Setelah berkata seperti itu, Ken menyembunyikan kepalanya di dalam selimut agar Suzy pergi dari sisinya. Ketika mendengar langkah Suzy yang menjauh, Ken sedikit merasa tenang.


Di dalam selimut tebal yang dapat menghantarkan panas, tubuh Ken semakin berkeringat. Dengan susah payah ia menekan hasratnya yang membara.


Tapi tiba-tiba saja, Suzy menarik selimut yang menutupi tubuhnya hingga tersibak sepenuhnya. Ken terkejut.


"A apa yang kau lakukan?" Ken duduk.


"Aku curiga kau menyembunyikan sesuatu..."


Suzy duduk di hadapan Ken dengan cepat. Matanya memperhatikan reaksi Ken yang gemetaran dan selalu membuang muka menghindari tatapannya. Kemudian karena ia merasa kesal, Suzy melakukan sesuatu pada Ken.


Melakukan apa??


Tanpa ragu, Suzy menjitak kepala Ken dan mengomelinya.


"Apa kau mencoba menyembunyikan rasa sakitmu? Sudah ku bilang. Jika sakit itu datang kembali, bahkan jika sakitnya tidak tertahankan, katakan padaku segera."


Suzy menatap mata Ken lekat. Karena tubuh dan pikirannya tidak sejalan, tiba-tiba saja Ken meraih kepala Suzy dan menyesap bibirnya dengan amat bergairah.


"Aku menginginkannya,,," ucap Ken sama terengahnya.


"T tapi, Ken,," jawab Suzy tegang.


"Kau tahu, pria sepertiku sudah melewati masa pertahanan diri yang amat panjang. Dan itu amat sangat melelahkan," Ken berkata lirih.


Ken menatap wajah Suzy yang merona. Mata mereka bertatapan dan sedikit demi sedikit mulai menuangkan gairah cinta di dalamnya. Secara perlahan, didekatinya kembali wajah Suzy yang nampak gugup.


Dilum*tnya bibir kecil yang ada di hadapannya dengan amat lembut. Dengan kedua tangan yang memegangi kepala Suzy, Ken memberikan ciumannya.


Oh!


Alangkah mesranya mereka berdua. Suara nafas yang mulai tidak teratur menandakan kesiapan diantara keduanya. Sambil tetap berpagutan, perlahan Ken membaringkan tubuh Suzy ke atas kasur lipatnya.


Ia dapat merasakan detak jantung Suzy yang semakin kencang. Bahkan, detak jantungnya sendiri pun tidak kalah kencangnya saat ia merasakan gejolak cinta yang tengah menguasainya.


Pertahanan Suzy sedikit goyah. Selama puluhan tahun, baru kali ia berciuman dengan seorang pria. Meski ia meminta Ken untuk tidak melewati batas, namun nyatanya hasrat dalam dirinya meronta-ronta.


Tangannya pun bergerak tanpa sadar, meraba pinggang Ken dan menyelinap masuk ke dalam pakaiannya. Hasrat yang ia miliki pun meluap-luap. Dirabanya punggung serta dada pria yang bermesraan dengannya hingga ciuman itu memanas.


Karena hasratnya tak terbendung lagi, Ken menggeser kaki kanannya hingga lututnya berada di tengah-tengah kaki Suzy. Tangannya pun mulai melepas satu persatu kancing baju pada pakaian tidur Suzy hingga terbukalah kain yang menutupi buah dada wanita itu.


Namun sayang, pada saat Ken benar-benar bergairah dan menurunkan ciumannya ke bagian leher, seseorang tiba-tiba saja memasuki kamar tersebut tanpa mengetuk pintu.


"Suzy! Boleh aku minta serum wajahmu?"


Tentu saja Ken terkejut dan menyingkir dengan cepat dari atas Suzy. Matanya berkedip cepat dengan nafas yang tersengal.


"Owwhh??!! Ma maaf, maaf. Aku tidak melihatnya,, silahkan lanjutkan,," kata Nonaka salah tingkah dan melangkah mundur.


GLEK!


Begitu Nonaka pergi, Ken mencoba melanjutkan ciumannya yang tertunda. Namun Suzy kembali menolak.


"Cukup, hentikan sekarang, Ken. Sungguh, ini memalukan," ucap Suzy merasa malu dan berusaha menyingkir.


Suzy berusaha menyingkirkan tangan Ken yang memagari kepalanya. Tetapi rupanya, Ken tidak mau menghentikan kegiatan tersebut.


"Apa yang kau pikirkan?" Suzy gelisah dan menahan tubuh Ken agar tetap jauh darinya.


Sekali lagi. Ken memagut bibir Suzy. Begitu kuat, begitu berhasrat. Ciuman di bibir yang perlahan turun ke belahan dada itu rupanya membuat Suzy kewalahan. Ia mencoba melepaskan diri dari dekapan pria yang sebenarnya sudah menjadi suaminya itu.


Tanpa pikir panjang, Suzy menjambak kuat rambut Ken hingga kepalanya mendongak ke atas.


"Aa aakhh!!" Ken merasa kesakitan.


"Sudah cukup, Ken. Jangan lanjutkan lagi."


Meski Suzy meminta berhenti dan memberi penolakan dengan menjambak rambut serta mendorong dadanya, Ken tidak berhenti begitu saja. Dengan gerakan yang sensual, tangan kanan Ken pun mulai meraba paha Suzy dan menyusup masuk ke dalam underwearnya.


"Hentikan! Hentikan di sana!"


Suzy yang berusaha mendorong tubuh Ken, merasakan tidak nyaman saat tangan Ken mulai mengusap area sensitifnya. Maka, tangannya berpindah cepat ke bawah untuk mencegahnya sekuat tenaga.


"Tidak! Jangan! Cepat singkirkan tanganmu, Ken. Jangan berani melewati batasanmu!"


Suzy menggelinjang karena ia tidak mampu mencegah tangan Ken yang lebih bertenaga. Akhirnya, meski terpaksa ia merasakan rangsangan hebat dari bawah sana. Ia pun menyerah dan menerima sentuhan tersebut.


"Aaa'hhh...." desah Suzy.


Siapa sangka? Pada saat Suzy tengah terangsang hebat dan mengacak-acak rambut Ken, Nonaka kembali lagi ke dalam kamar mereka!


DAMN!!


"Permisi... hehe. Semangat! Buatkan kami seorang bayi yang imut dan lucu!" serunya tanpa basa-basi sambil terkekeh riang memberi semangat.


Aih, tentu saja Suzy mendorong Ken dengan kuat dan kembali menjauh satu sama lain. Mereka tidak mampu berkata-kata lagi tentang apa yang mereka rasakan. Hasrat bercinta yang semula meluap-luap kini tak tersisa.


Setelah Nonaka keluar dengan cepat, Ken maupun Suzy kini hanya berpandangan. Mereka menjadi gugup dan berpikir ulang untuk melanjutkan pekerjaan mereka kembali.


"Aku tidak tahu setan mana yang merasukimu. Tapi sungguh, kau benar-benar membuatku marah," seru Suzy sambil menyingkir.


Bahkan akhirnya, Suzy buru-buru merapikan kancing baju tidur yang sempat dibuka oleh Ken dan berdiri menjauh.


"Aku mau tidur. Jangan ganggu aku," ucap Suzy gugup dan pergi ke tempat tidurnya.


Ken tidak memberikan jawaban dan hanya mampu menelan ludahnya. Sambil meraih selimutnya, ia merasakan perasaan yang tiba-tiba hilang begitu saja darinya.


Sepanjang malam, Ken tidak dapat tidur. Ia memikirkan kembali bagaimana reaksi Suzy saat dirinya mulai berani seperti tadi. Ia membayangkan pula bagaimana wajah wanita itu saat menolak keinginannya. Dan bagaimana pula akhirnya wanita itu menerima dan menikmati sentuhan tangannya.


Dan tidak ia kira, suara ******* lirih yang sempat ia dengar beberapa menit yang lalu itu pun terus mengganggu pikirannya.


"Apakah dia menikmatinya?"


Ken membuang nafas dan menarik selimutnya sampai batas dagu.


.


.


.


.


Bersambung ke Episode 52