RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
SATU HARI YANG PENUH ARTI



EPISODE 91


Mulut Suya menganga lebar ketika motor yang ia naiki masuk ke pekarangan luas sebuah rumah.


"Whooaaah?? Rumah siapa ini paman??"


"Kau akan mengetahuinya nanti," jawab Ken tersenyum.


Setelah memarkirkan motornya di depan serambi, Ken mengajak Suya masuk. Kebetulan, Ayumi ada di ruang tamu dan terkejut melihat kakaknya pulang setelah hampir dua tahun menghilang tiada kabar. Lebih-lebih pria itu datang membawa seorang anak.


"Ken?" Ayumi menatap sosok Ken yang berbeda. Sebab pria bertubuh jangkung itu kini tampak kurus.


"Hmm. Di mana ibu?"


"Dia sedang di dapur."


"Ibu? Apa maksud paman Ken? Apa ini rumah paman?"


Suya membatin bingung.


"Ah, begitu ya? Kalau begitu ayo ikut paman, Suya," Ken menggiring punggung Suya agar pergi mengikutinya.


"He-em."


Ketika Ken berlalu dari hadapannya, Ayumi menarik pelan lengan Ken dan berusaha bertanya soal anak yang dibawa kakaknya itu. Diangkatnya kedua alis dengan bibir yang membentuk kata "Siapa?".


Tapi Ken tidak menjawab pertanyaannya dan hanya menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya.


Apa itu rahasia?


"Apa sih? Kenapa dia memintaku diam?"


Ayumi bicara dalam hati karena belum paham siapa anak yang datang itu. Dan karena ia penasaran, ia tidak mau ketinggalan cerita. Diikutinya Ken hingga ke dapur menemui ibu mereka.


"Apa ibu masih memasak sendiri semuanya? Di mana bibi yang terakhir kali ku lihat?" Ken menyapa ibunya.


"Ken? Benarkah itu kau??" Kenie menoleh terkejut. Hampir sembilan tahun lamanya ia tidak bertemu dengan putranya itu.


Maklum. Sejak diberlakukan larangan tamu bagi tahanan Ken, Kenie tidak dapat menjenguk dan bertemu putranya itu sekali pun.


Kenie mendekati putranya dan memeluknya erat. Ia amat bersyukur bahwa Ken masih tampak sehat walau postur tubuhnya menjadi sedikit kurus.


"Siapa itu? Kau membawa seorang teman?" lanjutnya.


"Ya. Hari ini, dia menjadi tamu kita. Tolong perlakukan dia dengan baik, Ibu, Ayumi," Ken mengedipkan sebelah matanya pada sang ibu.


"Aahh... iya baiklah. Ibu akan melakukan semua yang kau minta. Tapi sebelumnya, bisa kau ikut ibu sebentar?" tanya Kenie canggung.


"Baiklah. Em, Suya. Kau bermainlah dulu bersama kak Ayumi, ya? Paman akan bicara sebentar dengan ibu paman."


"Baik, paman."


Di ruang lain, Ken bicara pada ibunya secara terus terang. Ia mengatakan bahwa anak yang ia bawa adalah putranya. Akan tetapi, ia tidak bisa mengatakan kenyataan yang sebenarnya pada anak itu, sebab ibu mertuanya menginginkannya untuk menutup mulut.


Terlebih, dia sendirilah yang meminta Suzy untuk memulai hidup tenang bersama putranya kelak tanpa mengenalkan siapa dirinya.


"Jadi, dia putramu? Cucu ibu?" suara Kenie bergetar.


"Ya. Itu benar."


"Kalau begitu, beritahu juga adikmu."


Ken meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Ayumi.


Ken : "Maaf merepotkanmu. Baik-baiklah padanya. Dia keponakanmu."


Ayumi : "Serius?"


Ken : "Ya. Tetap berpura-puralah tidak tahu soal ini. Suya tidak tahu kalau aku ayahnya."


Ayumi : "Baiklah."


Setelah semua dibicarakan dengan baik, Ken kembali menemui Suya. Ia mengajaknya bermain bola basket di halaman samping rumah. Sementara Kenie menyiapkan makanan spesial untuk cucu pertamanya.


Ayumi datang membantu ibunya menyiapkan makanan.


"Ibu."


"Ya?"


"Benarkah itu?"


"Apa? Soal Suya?"


"Iya. Apa menurut ibu ini akan baik-baik saja?" tanyanya sambil menyomot irisan stroberi.


"Kita hanya bisa mendoakan kakakmu agar dia menikmati hidupnya. Sejak dia kecil, ibu tidak pernah membuatnya bahagia. Meski memiliki orang tua, namun nyatanya dia hidup sendiri tanpa mendapat kasih sayang."


"Bukankah ibu bilang, kakak ikut dengan ayahnya? Tuan Kido?"


"Benar. Ibu pikir dengan mengirimnya ke rumah ayahnya, hidupnya akan menjadi lebih baik."


"Hmm. Dia pasti kesulitan di sana. Benar, kan?"


Kenie mengangguk haru. Kemudian ia menoleh ke samping, memperhatikan Ken dan Suya yang sedang berebut bola. Sesekali terdengar gelak tawa dari halaman samping rumah tersebut.


"Mereka terdengar akrab, bukan?" tanya Kenie.


"Iya. Aku merasa lega. Kakak bisa mengatasi kesedihannya atas kepergian kakak ipar. Meski butuh waktu yang lama memang. Aku rasa, anak itulah yang membuatnya bertahan hidup di luar sana dan menjadi kuat."


Kenie menyelesaikan masakan terakhirnya, "Sudah selesai. Cepat bantu ibu menata meja."


Suya begitu menikmati makan siang di rumah keluarga paman Ken. Orang-orang di sana juga ramah, bahkan nyonya yang dipanggil paman Ken sebagai ibu itu memberinya ijin untuk memanggilnya nenek.


Begitu bahagianya, Suya sampai mengajak Ken menyanyi seperti saat di atas panggung pada peringatan hari ayah kala itu. Suasana kegembiraan itu juga dimeriahkan lagi oleh Ayumi.


Meriah?


Gadis itu mengajari Suya melukis dengan kuas di canvas miliknya dan bermain-main dengan selang air saat membersihkan tangan dari cat lukis.


"Oh, tidak, tidak. Jangan semprot aku kak!" Suya berteriak dan mencoba bersembunyi di balik tubuh Ken saat Ayumi menyemprotnya dengan air.


"Hey, jangan bersembunyi di belakang punggung paman, Suya!"


Ken bagai berada di tengah-tengah peperangan. Dari depan, Ayumi menyiramnya dengan air begitu deras dan membuatnya gelagapan. Sedang dari arah belakangnya Suya berpegangan pada pinggangnya sehingga membuatnya kegelian.


Usai permainan perang-perangan dan bersenang-senang bersama keluarganya, Ken juga mengajak Suya pergi ke taman bermain. Ayumi pun ikut pergi dengan mengendarai mobil sendiri.


Begitu sampai di taman bermain, mereka bertemu di pintu masuk utama. Tanpa halang dan rintang, ketiganya bersenang-senang bagai satu keluarga utuh, ayah, ibu dan anak.


"Yeeaah,, akhirnya kita sudah mencoba semua wahana di sini!" seru Ken sambil mengangkat tangan kanannya yang sedang menggandeng tangan Suya.


Otomatis, tangan kiri Suya juga ikut terangkat ke atas.


"Apa kau senang, Suya?" tanya Ayumi.


"Senang sekali!" senyuman di bibir Suya tidak hilang-hilang.


"Kalau kau senang, kapan-kapan kita datang lagi kemari. Oke?" Ken tersenyum melihat putranya bahagia.


"Wuih, kalian lihat itu?" Ayumi tiba-tiba saja memekik takjub melihat penjual gula-gula dari gula pasir.


"Waaah, besar sekali??" Suya ikut memperhatikan apa yang diserukan Ayumi.


"Benar, kan? Ayo kita lihat!" Ayumi menggandeng tangan Suya dan berlari bersama menghampiri penjual gula-gula.


Ken memperhatikan dari kejauhan keceriaan itu. Ia berharap, putranya selalu tertawa seperti itu meski hidup tanpa ayah dan ibunya.


Sudut bibir Ken terangkat dengan gemetar. Antara sedih dan bahagia, ia mensyukuri kebersamaan mereka. Hingga tak terasa ada genangan air di sudut matanya.


"Wah, bentuk hatikah itu?" tanya Ken saat mendekati Suya dan Ayumi.


"Iya. Itu milikku," jawab Ayumi.


"Lalu, kau terakhir?"


"Hmm. Untuk menjadi pria sejati, aku harus mengalah pada seorang gadis seperti kak Ayumi," jawab Suya tak terduga.


"Apa? Kau bilang dia gadis?" Ken terkekeh.


"Issh, memangnya apa kalau bukan gadis?" Ayumi menoleh kesal.


"Aku melihatmu masih sebagai anak kecil yang merengek meminta mochi padaku," jawab Ken menggoda.


"Hisss! Kau masih mengingat itu?" Ayumi menyincingkan sebelah bibirnya.


"Tentu saja."


Gula-gula pesanan Suya akhirnya selesai juga. Ia begitu senang menikmati makanan ringan berbentuk seperti sarang burung itu. Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar permainan, ia mendongengkan beberapa temannya yang selalu bercerita tentang liburan mereka.


Menurutnya, satu hari menikmati kebersamaan bersama paman Ken dan kakak Ayumi, cukup untuk menggantikan liburannya yang panjang dan membosankan.


Suya sangat berterima kasih. Ia terus berpikir, meski ia bukan bagian dari keluarga paman Ken, tetapi mereka memperlakukannya sebagai seorang anak yang berharga.


Ia merasa, kerinduan akan ayah dan ibunya, telah terwakilkan oleh kedua manusia yang benar-benar baik hati dan tulus menyayanginya.


Terutama paman Ken. Diam-diam, ia menganggapnya sebagai ayah dan kebanggan tersendiri untuknya.


••••••


Ken turun dari motornya dan berjalan memasuki rumah Suzy. Ia baru saja mengantar Suya pulang ke toko kakeknya.


Meski ia sedikit terlambat mengantarnya pulang, namun ayah mertuanya dapat memahami dirinya. Apalagi wajah ceria Suya membuktikan bahwa Ken memperlakukannya dengan sangat baik.


TRUK!


Suara benturan kaleng-kaleng bir yang ia beli dari toko terdengar melenting ketika Ken meletakkannya di atas meja.


Ken duduk di bangku meja makan yang berdebu dengan kasar. Lalu membuka tutup kaleng-kaleng yang ada di depannya dengan cepat.


Setelah menikmati bir dari sebuah kaleng, tangannya meraih sebuah kotak rokok dari saku jaketnya dan dinyalakannya pula sebuah dengan korek api elektrik.


PUUSSH..


Asap rokok mulai membumbung tinggi. Menyebar dan bersatu dengan udara yang pengap sebab tidak ada cahaya.


Disandarkannya punggungnya pada sandaran kursi. Sambil menengadahkan kepala, Ken terus mengepulkan asap rokok dari celah bibirnya. Sesekali, ia mendengus perlahan.


Jika dipikir-pikir, sejak remaja dulu hidupnya sudah berantakan. Apa yang ia pikirkan tentang kelahirannya yang sial dan sengsara ternyata benar adanya.


Meski ia telah berumah tangga dan berusaha menciptakan dunia yang sempurna, namun nasib sial terus saja mengikutinya.


Walaupun begitu, hari ini ia cukup terhibur dengan keseruannya bersama Ayumi dan putranya. Gelak tawa nan riang dari bibir Suya itu mampu membuatnya tersenyum.


Ya. Tersenyum.


Dengan pengaruh alkohol, Ken memejamkan matanya sambil bibirnya tersenyum menyeringai.


BERSAMBUNG.......