RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
KEJUTAN



EPISODE 95


Minggu berikutnya, Ken bekerja mati-matian untuk mendapatkan gaji dan uang lembur. Dengan begitu ia mampu menyisihkan uang untuk mengganti senjata api milik Arai.


Saat ia sibuk bekerja, beberapa pesan dari Linzhi ia biarkan begitu saja. Bahkan saat wanita itu menghubunginya, Ken tidak menanggapi. Dalam situasi seperti itu, ia tidak ingin berdebat dengan Linzhi.


Di lain tempat,


Sebenarnya, Yuna mengetahui bahwa Arai telah mengambil pistol yang disimpan Ken sebelum pria itu datang mencarinya. Ia mengutarakan ketidaksetujuannya pada Arai.


"Apa kau sengaja melakukan itu? Aku tahu kau sudah mengambil pistol milikmu terlebih dahulu dengan diam-diam," ucap Yuna sambil mengupas apel.


"Kau menyadarinya?"


"Tentu saja. Jangan bilang kau melakukan itu karena aku," Yuna mengunyah apel kupasannya.


Arai mendekati Yuna dan meminta disuapi apel juga, "Kau selalu pandai menerka."


"Bukankah sudah ku bilang, dia hanya lewat di hidupku dan jangan pernah mengganggunya? Aku sudah memutuskan untuk tidak terlibat perasaan padanya. Apa kau tidak menghargai keputusanku?"


"Aku menghargainya. Tapi, aku juga ingin membuat dia jera."


"Kenapa?"


"Baru kali ini aku mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak ku pikirkan. Dan semua itu karena dirinya. Jadi, dia harus mengembalikan uang yang sudah ku keluarkan."


"Tapi itu jauh berbeda. Kau hanya keluar sepuluh ribu, sedangkan dia harus mengganti pistolmu dengan harga satu jutaan. Kurasa kau keterlaluan," Yuna mengambek.


Arai melihat wajah kekasihnya itu kecewa. Ia pun berusaha mengembalikan wajah cantik Yuna seperti biasanya. Maka, Arai mendekati Yuna. Dicumbuinya leher teman wanitanya itu dari belakang.


"Sayangku, apa kau marah padaku?"


"Ya. Kali ini kau bertidak berlebihan."


"Lalu apa yang harus aku lakukan supaya kau tidak marah?" Arai meraih rahang Yuna dengan tangan kirinya agar menengok ke belakang.


"Batalkan itu," Yuna menatap mata Arai.


Mendengar permintaan Yuna, Arai meraih irisan apel dan melahapnya. Lalu dengan perlahan ia mendekatkan apel yang ia lahap itu ke bibir Yuna menggunakan mulutnya.


Irisan apel itu mereka lahap bersama-sama hingga habis dan akhirnya tinggal bibir-bibir mereka yang berpagutan dan saling menyesap kuat.


"Aahh.. Manis seperti biasanya," ucap Arai menikmati bibir Yuna.


Dari belakang tubuhnya, kedua tangan Arai bergerilya menyusup di balik pakaiannya. Jari-jarinya dengan lihai mempermainkan dua gundukan kembarnya.


Sesekali, Arai mengusapnya dengan rem*san yang cukup kuat. Ketika tangan kanan Arai mulai merangsek masuk ke dalam celana dan membelah dua bibir bawahnya, Yuna pun memejamkan matanya.


Ya. Kira-kira sudah sejak SMA, mereka berdua melakukan aktivitas s*ksual seperti itu.


"Apa terasa nikmat?" Arai menciumi leher dan punggung Yuna.


"Yaaahhh..." suara Yuna parau dan bergetar.


Ia menikmati gerakan lincah yang Arai ciptakan pada bagian itu. Keluar masuk dan sesekali menggeseknya nakal. Yuna melenguh kencang sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.


Ketika hasrat mereka semakin menggebu, dilepaskannyalah pakaian-pakaian mereka hingga keduanya telanjang.


Arai membantu Yuna menekuk kedua kakinya ke samping. Kemudian ia menundukkan kepala di depan kaki Yuna.


Lenguhan panjang dari bibir Yuna menggema di dalam kamar apartemen mereka. Semakin kencang lenguhan Yuna, membuat Arai semakin bersemangat melakukannya.


TINGGG TUUNGGGG


Suara bel terdengar beberapa kali disaat Arai tengah menyesap nikmat bagian milik Yuna itu dengan bibirnya.


"Siapa?" tanya Arai merasa terganggu.


Wanita itu bangkit dan berjalan keluar kamar. Lalu dikenakannya bathrobe warna putih sebelum membukakan pintu.


Rupanya Ken datang untuk membayar ganti rugi atas hilangnya senjata api yang ia sita. Karena gugup, Arai mempersilahkan Ken masuk dan menunggu di ruang tamu. Ia pergi ke kamar mandi sebentar untuk mencuci muka.


Pada saat Arai di kamar mandi, tanpa sengaja Ken melihat Yuna turun dari ranjang dengan keadaan telanjang. Saat wanita itu melihat Ken datang, ia segera meraih bathrobenya dan berjalan menghampirinya.


"Kau membawa uangnya?" tanya Yuna dengan wajah yang masih memerah karena serangan hebat yang baru saja ia terima.


Wanita muda itu duduk di seberang Ken dengan kaki yang disilangkan. Bathrobe yang diikat longgar itu membuat paha hingga bokong Yuna terlihat jelas oleh kedua mata Ken.


Apalagi, sepertinya Yuna juga sengaja melonggarkan bagian leher bathrobenya sehingga belahan dadanya yang gembul pun membuat jakun Ken naik turun.


Sepertinya, andai saja tali bathrobe itu ditarik sedikit saja, Ken akan melihat tubuh polos Yuna.


GLEK


Karena merasa risih dan tidak nyaman, Ken hanya mengangguk pelan. Pandangannya ia alihkan ke samping agar pikirannya tidak terfokus pada sesuatu yang negatif.


Aih... Ekspresi dingin seperti itu justru membuat Yuna merasa penasaran. Tipe seperti apakah Kenzhi sebenarnya?


"Apa kau datang sendiri?" Yuna sengaja bertanya kembali agar Ken menatap dirinya.


"Ya. Aku datang sendiri," jawabnya seperlunya.


"Lalu, dari mana kau mendapat alamat ini? Apa kau diam-diam mengikuti kami?"


"Tuan Shibuki yang memberitahukannya padaku," Ken menatap Yuna sebentar kemudian membuang kembali pandangannya.


"Ya. Begitulah. Lihat aku. Bagaimana? Apakah kau tertarik setelah melihatnya?"


Yuna memperhatikan Ken dengan tatapan seperti ingin menelannya bulat-bulat. ia mencoba menghitung detik waktu berharap Ken akan tertarik dengan kemolekan tubuhnya.


"1, 2, 3, 4....."


Namun ternyata Ken tidak tertarik sama sekali dengannya. Wajah datar Ken tidak berubah sedikitpun. Aneh sekali. Pikir Yuna.


Biasanya, jika ia menampakkan lekuk tubuhnya pada pria-pria di luar sana, mereka akan langsung bereaksi seperti keledai dungu yang mengejar betinanya. Penuh hawa nafsu!


"Ada apa dengannya? Apa dia tidak tertarik sedikitpun padaku?" pikir Yuna.


Ketika akhirnya Arai datang, Yuna dengan cepat merapikan bathrobenya dan berdiri mendekatinya.


"Baiklah. Berapa uang yang kau punya?" tanya Arai.


"Hmm, bagaimana ya?" Arai mencoba mengambil keuntungan lebih.


"Aku bekerja keras untuk mendapatkan uang itu. Aku harap, kau menghargainya."


"Bekerja keras?"


"Ya. Orang miskin sepertiku tidak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu hanya dengan ongkang-ongkang kaki. Benar bukan?"


"Baiklah. Aku akan menerimanya."


"Kalau begitu, mulai saat ini aku anggap kita berdua tidak mempunyai urusan apapun lagi."


Ken berdiri dan pergi begitu saja. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat mereka.


••••••••


Sore mendung di lain hari, Ken dihubungi pihak panti asuhan untuk datang. Ia tidak tahu, bahwa anak-anak panti menyiapkan pesta ulang tahun kecil-kecilan untuknya.


Sebenarnya, beberapa hari sebelum hari itu, Suya dan anak-anak panti bertanya tentang tanggal kelahiran paman Ken pada suster Teri. Karena sudah menjadi bagian dari panti, Ken meninggalkan data dirinya.


Suster Teri mencari tanggal kelahiran Ken di buku besar. Mengetahui bahwa ulang tahun Ken hanya beberapa hari lagi, mereka pun merencanakan sebuah kejutan.


Dan ketika hari itu tiba, selepas lelah bekerja Ken pulang ke rumah untuk membersihkan badan terlebih dahulu. Sebelum ia pergi menemui anak-anak, ia harus dalam keadaan segar dan bersih. Ia tidak mau datang berkunjung dengan tubuh kotor dan bau oli.


Pada saat ia sampai di panti asuhan, suster Teri dan Nanao menyambutnya. Ia mengatakan ada ruangan yang listriknya mati. Maka mereka meminta bantuan pada Ken untuk melihatnya.


"Baiklah. Ruangan mana yang mati listrik?" tanya Ken tidak tahu akan ada kejutan untuknya.


"Di ruang baru."


Ken sampai di depan ruang baru. Begitu ia masuk ke dalam, listrik di ruangan itu memang padam. Dengan perlahan, Ken melepas jaketnya sehingga hanya mengenakan kaos putih.


Pada saat ia mencari sakelar lampu, tiba-tiba saja listrik di ruangan itu menyala sendiri dan terdengar seruan selamat ulang tahun yang ditujukan kepadanya.


"Selamat ulang tahun, paman Ken!!" anak-anak berseru penuh semangat.


"Ahh??"


Ken terkejut karena sambutan penuh kasih dari anggota panti. Matanya berkaca-kaca karena merasa sangat terharu. Ia tidak menyangka, anak-anak begitu peduli padanya.


Lebih-lebih, ia melihat Suya ada di dalam barisan anak-anak tersebut. Kebahagiaannya tak dapat terlukiskan.



Perlahan, Ken melangkah maju. Ia mendekati anak-anak yang membawa kue tart berbentuk hati yang berhias bunga.


Karena ia begitu terharu, kedua sudut bibirnya pun tampak melengkung ke bawah karena menahan tangis. Sambil menutupi wajahnya yang bersedih dengan tangan kiri, Ken mengucapkan terima kasih dan rasa syukurnya.


"Terima kasih anak-anak. Dari mana kalian tahu hari ini ulang tahun paman?"


"Dari suster Teri!" seru semuanya serempak.


Ken menoleh pada pengasuh bernama Teri dan melihat bahwa wanita itu tersenyum.


"Ayo paman, berdoalah.." pinta anak-anak.


"Hmm," Ken mengangguk.


Maka, disatukannya kedua tangannya dan membentuk kepalan di depan dada. Kemudian ia memejamkan matanya sambil berdoa dalam hati.


"Tuhan, tolong beri kesehatan untuk Suya dan anak-anak panti ini. Bahagiakanlah mereka dengan masa depan yang indah."


Begitulah doa Ken.


"Tiup lilinnya, paman!"


Karena sudah berdoa, Ken pun meniup lilin yang menyala di tengah-tengah kue. Begitu selesai, semuanya bertepuk tangan gembira.


"Apa yang paman minta?" tanya Suya.


"Hmm, rahasia," jawab Ken seraya mengusap-usap kepala Suya.


Anak-anak tersenyum dan mempersilahkan ibu direktur yaitu nyonya Hanami untuk memberikan suaranya.


"Kenzhi, aku tidak tahu apa yang harus ku katakan padamu. Tapi,,, yah. Selamat ulang tahun! Berbahagialah dan lepaskan bebanmu. Itu saja," ucap nyonya Hanami seraya mengusap bahu Ken dengan penuh perhatian.


Ken mengangguk menanggapi ucapan dari direktur panti, "Terima kasih, nyonya."


Setelah semua mengucapkan selamat, mereka semua melanjutkan acara dengan makan-makan dan menyanyi bersama.


"Paman."


"Ya?"


"Ini untuk paman," Suya mengulurkan sebuah kotak pada Ken.


"Untukku?" Ken menerimanya dengan jantung yang berdebar.


"Hemm. Bukalah nanti saat di rumah ya, paman. Aku membuatnya sendiri, semoga paman suka," Suya tertawa memperlihatkan barisan giginya yang rapi.


"Baiklah. Terima kasih banyak, Suya."


"Emmm..."


"Ada apa?"


"Bolehkah aku memeluk paman?"


"Yah. Tentu saja," ekspresi Ken bercampur antara sedih dan bahagia.


Sebelum Suya mengucapkan permintaan yang kedua kalinya, Ken segera meraih tubuh anak itu dan merengkuhnya erat.


Oh, putraku! Maafkan ayah.....


Pekik Ken dalam hati.


BERSAMBUNG.....