RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
EMPAT...



EPISODE 136


Usai bercinta dengan Yuna di balik pintu kamar, lalu berlanjut di ranjang dan kamar mandi, Ken merasa sangat kehausan. Badannya pun gemetaran seakan tulang sendinya lepas dari tempatnya.


Melayani hasrat Yuna yang notabene adalah seorang gadis muda, Ken sedikit kewalahan. Apalagi itulah moment pertama dalam pernikahan mereka. Yuna menjadi amat bersemangat dan memiliki ide-ide briliant mengenai gaya bercinta.


Untung saja di usianya ini, ia tidak mempunyai gangguan disfungsi ereksi ataupun impoten. Jika itu terjadi, Yuna pasti akan sangat kecewa.


Saat Ken tengah berbaring mengatur nafas, Yuna yang sedang berdandan itu iseng mengolesi bibir Ken dengan lipstik merah miliknya. Ken sendiri pun hanya diam membiarkan istrinya itu melakukan hal iseng.


"Kau cantik juga kalau jadi anak perempuan.." kata Yuna cekikikan.


Kemudian, saat Yuna mengusap dada Ken, ia melihat kaki suaminya itu gemetaran.


"Hihihi,, Lihat, Ken! Kakimu sampai gemetaran seperti itu? Apa karena olahraga kita barusan??" Yuna terkekeh geli.


"Huff,, Benar. Sepertinya, aku begini karena mengeluarkan banyak tenaga," kata Ken masih terengah.


"Hihihi. Kau bekerja sangat keras, ya? Ngomong-ngomong, apa kau hanya bisa melakukannya sampai empat ronde saja?"


"Uhuk! Uhuk! Kau bilang itu, saja????" Ken tertegun.


"Ya. Itu belum apa-apa bagiku," Yuna tertawa.


"Aiih.. kita melakukan itu sejak pagi tadi. Dan sekarang sudah sore. Kau bilang itu masih belum apa-apa?"


"Hihihi, iya."


GLEK


Baru kali ini Ken melihat Yuna amat menggilai persenggamaan sampai-sampai memintanya mengulang beberapa kali.


Ken melirik jam dinding di kamar tersebut dan melihat bahwa sudah waktunya untuk Suya pulang. Ia pun bergegas mengenakan pakaiannya dan mengatakan pada Yuna bahwa dirinya akan menjemput Suya pulang sekolah.


"Aku keluar dulu, ya. Sepertinya Suya sudah menungguku," Ken beranjak dan mengecup pipi kanan dan tulang selangka Yuna terlebih dahulu dengan sengaja untuk meninggalkan bekas merah lipstik di sana.


"Ahahah, geli, sayang!"



"Hmm. Pulangnya belikan aku es krim ya."


"Es krim?"


"Iya,," Yuna menampakkan wajah manja dan memelas.


"Iya baiklah. Sampai jumpa nanti."


TAP


TAP


TAP


Menuruni tangga seperti itu, membuat Ken merasa amat lelah. Entah mengapa, dua ratus anak tangga di tempat itu terasa seperti dua puluh ribu untuknya.


Karena merasa haus, Ken mampir sebentar ke dapur untuk mengambil air minum. Di sana, sudah ada Ayumi yang duduk di meja dapur dengan kursi tinggi ala bar.


"Kau mau pergi lagi?" tanyanya seraya memperhatikan dahi Ken yang berkeringat.


"Ya. Mungkin Suya sudah pulang sekolah," Ken menoleh setelah meneguk air minum dari botol mineral dingin yang ia ambil dari dalam kulkas.


Ayumi diam-diam mengamati bibir Ken yang basah. Ia kembali memikirkan apa yang beberapa menit lalu ia saksikan secara tak langsung.


"Aku pergi dulu, ya."


BRUM


Ken melaju kencang mengendarai motornya menuju sekolah Suya yang tutup sampai jam tiga sore. Begitu ngebutnya, sampai gemetaran hebat pada kakinya makin terasa.


Di jalanan sekolah Suya, cukup ramai dengan anak sekolah yang ramai hendak pulang ke rumah. Ketika Ken celingak-celinguk mencari Suya, putranya itu memanggilnya dengan suara lantang.


"Ayah!" panggil Suya dari seberang jalan.


Ken menoleh dan melambaikan tangannya pada anak yang sekarang duduk di kelas empat itu seraya memarkirkan motornya ke sisi jalan.


"Kau sudah lama menunggu?"


Belum sempat Ken turun dari motornya, Suya sudah naik membonceng saja.


"Tidak. Ayo cepat pulang, ayah. Perutku mulas sekali," kata Suya buru-buru.


"Eh, apa kau salah makan?"


"Sepertinya aku makan banyak sekali pagi ini. Masakan nenek Kenie sangat lezat. Jadi aku tidak bisa menolaknya," Suya memegangi perutnya menahan keinginan untuk buang air besar.


"Baiklah, tahan sebentar ya,," Ken mengebut agar Suya bisa secepatnya pulang ke rumah.


Wuuzzz....


Lagi-lagi, Ken ngebut di jalanan. Getaran yang belum hilang akibat permainan empat ronde bersama Yuna itu semakin menjadi saat angin dingin sore hari menembus sampai ke tulang-tulangnya.


Ketika akhirnya mereka sampai di rumah Suzy, bocah itu segera melompat dan berlari masuk ke dalam rumah untuk menuntaskan hasratnya.


"Kenapa dengannya?" seseorang yang baru saja dari rumah tetangga sudah kembali.


"Eh, ibu? Dia sakit perut."


"Apakah di sekolah dia salah makan?" nenek Tama berdiri sambil membawa ikan yang baru didapatnya dari nenek Fuka, tetangga mereka.


"Menurutnya, dia kekenyangan karena sarapan pagi ini."


"Oh, begitu ya. Jika dilihat dari seberapa banyak dia menyarap pagi ini, itu pasti akan membutuhkan waktu lama mendekam di kamar mandi," nenek Tama berjalan masuk ke pintu samping rumah yang menuju dapur.


Namun, baru melangkah beberapa kaki, nenek Tama yang menuju dapur itu berhenti dan menoleh heran pada Ken.


"Lalu kau sedang apa?" nenek Tama memperhatikan kedua kaki Ken yang gemetaran.


"Apa?"


"Kau kedinginan?"


"Eh? S sepertinya begitu," Ken gugup dan memegangi kakinya agar berhenti gemetaran.


"Kalau begitu apa kau mau mampir lebih dulu untuk minum teh?" lanjut nenek Tama sambil terus menatap mantan menantunya itu.


"Ah, tidak perlu, ibu. Sebaiknya aku langsung pulang saja. Sampaikan saja pada Suya, mungkin lain kali aku akan mampir."


"Hmm. Baiklah."


Setelah memberi salam hormat, Ken melangkah pergi menuju luar gerbang di mana motornya ia parkirkan. Karena nenek Tama terus saja memperhatikannya, Ken berusaha keras untuk berjalan dengan santai di hadapannya.


Begitu ia berhasil keluar dari pintu gerbang dan nenek Tama juga sudah tidak tampak, Ken membuang nafas lepas. Ia tidak menahan lagi getaran yang ada.


Dengan kaki gemetar dan langkah meleyot seolah semua tulang lemas, Ken mendekati motornya yang tidak jauh darinya.


"Hais, aku bisa gila! Kenapa kakiku berulah seperti ini? Benarkah ini akibat dari empat ronde???"


Pada saat ia tengah berusaha mendapatkan motornya, seorang tetangga menyapanya.


"Hey, Ken! Selamat untuk pernikahanmu, ya!"


Ken yang mendengar suara sapaan dari arah belakangnya langsung berusaha berdiri tegap.


"Ah, ya. Terima kasih, bibi."


"Kali ini lakukan yang benar. Ini pernikahanmu yang ke dua, bukan?" tetangganya itu menepuk-nepuk dada Ken.


Mendapat nasehat itu, Ken mengangguk sambil tersenyum simpul. Siapa yang tahu? Jika otot-otot kakinya sudah tidak tahan lagi untuk berpura-pura tenang.


Dan ketika akhirnya bibi itu pergi, Ken langsung naik ke motornya dan memacunya pergi secepat mungkin.


••••••


Sudah beberapa hari ini, sesuai keputusan yang diambil Ken, ia ikut tuan Hide ke perusahaan. Di sana, ia memulai kehidupan barunya sebagai pekerja pemagang. Berbeda dengan Ayumi yang dulu langsung menerima posisinya sebagai manager. Ken justru memilih untuk menjadi asistennya terlebih dahulu.


Ia kurang percaya diri karena masalah ijazah SMA yang tidak ia kantongi. Terlebih, ia tidak melanjutkan kuliah sama sekali dan tidak tahu menahu soal dunia bisnis.


Sebagai asisten manager, ia mendapat bantuan dari Ayumi dan tuan Kogoro yang mengetahui bahwa dirinya kakak dari nona Ayumi. Kedua orang itu membimbingnya dalam belajar.


KRUCUK KRUCUK


Suatu hari, Ken sedang membuat kopinya sendiri dengan mesin kopi. Ia menuangnya ke dalam gelas dengan perlahan.


"Oh? Pak Kenzhi? Kau membuat kopi sendiri?" sapa Kagome, seorang karyawan magang yang datang melamar bersamaan dengannya.


"Eh? Iya, nona Kagome. Kau mau kopi juga?" sapanya balik.


"Boleh."


Ken mengambil satu gelas lagi dari rak dan menuangkan kopi ke dalam gelas tersebut. Lalu memberikannya pada wanita bernama Kagome itu.


"Silahkan."


"Terima kasih. Em, bagaimana pekerjaanmu di kantor utama?"


"Cukup sulit."


"Benarkah? Kalau begitu kita mengalami kendala yang sama, ehehe. Bahkan di hari pertamaku, aku sudah melakukan kesalahan," Kagome mencurahkan perasaannya pada karyawan yang menurutnya bernasib sama sepertinya.


"Tidak apa-apa. Kau harus semangat, nona. Ini baru permulaan!"


Kagome menatap Ken lalu mengangguk setuju, "Hmm!"


"Kau di sana?" kata Ayumi yang datang tiba-tiba.


Ken dan Kagome pun langsung membungkuk memberi hormat pada atasan yang berpangkat lebih tinggi dari mereka.


"Selamat siang, Bu Ayumi," sapa Kagome.


Sedangkan Ken hanya diam menatap dan bertanya pada Ayumi dengan gerakan matanya. Karena gadis itu mengatakan agar dirinya mengikutinya, maka Ken pun beranjak pergi.


"Ikut aku, pak Kenzhi! Ada pekerjaan yang menunggumu!"


"Iya. Baik."


SRET


Di ruangan Ayumi.


"Kau sudah makan siang?"


"Belum. Hanya kopi," kata Ken sambil menunjukkan gelas kopinya.


"Tara! Kalau begitu makanlah dulu," Ayumi meraih tas dari bawah meja dan menunjukkannya dengan senang.


"Apa itu?"


"Tentu saja makanan. Kau pikir apa?"


"Aku tidak lapar."


"Heh?" Tidak bisa. Kau harus makan, sekarang. Kakak ipar yang memintaku menjagamu di kantor," Ayumi bergegas mendekati Ken dan menyeretnya duduk di kursi untuk menikmati makan siangnya terlebih dahulu.


"Benarkah?"


"Ya. Dengan berat hati, aku akan mengadukan padanya kalau kau tidak melakukan apa yang dia inginkan."


"Tapi, kalau ada yang melihat aku bersantai menikmati makan siang di sini?"


"Tenang saja. Tidak akan ada yang melihat. Seandainya ada pun, kau asistenku. Jadi wajar saja."


"Carh!! Baiklah. Mari habiskan makanannya!"


.


...


.


BERSAMBUNG...