RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
TRAGEDI PISTOL AIR



EPISODE 14


Ken bangun saat matahari mulai tenggelam. Ia merasa perutnya sangat lapar. Sejak ia keluar hari ini dan melakukan beberapa kegiatan, rasa laparnya semakin melilit-lilit.


Ia duduk lesu di atas tempat tidur. Hari skorsnya tersisa tiga hari lagi. Hah. Ia sudah tidak peduli. Andai pun ia dikeluarkan dari sekolahnya, ia akan merasa baik-baik saja.


Tok Tok Tok


Suara pintu kamarnya diketuk seseorang. Ken segera mendekatinya dan melihat siapa yang datang.


"Tuan muda kedua, kau pasti lapar. Ini bibi bawakan cemilan untuk mengurangi rasa laparmu,," bisik bibi Yun.


"Wah, kebetulan sekali aku sedang lapar, bibi. Terima kasih untuk makanannya," katanya senang.


Tapi kemudian,,


"Tapi, kalau bibi ketahuan oleh yang lain sedang membawakan aku makanan, bisa panjang urusannya," bisik Ken takut membuat bibi Yun dimarahi.


"Tidak apa-apa tuan muda.Tadi bibi lihat, tuan dan nyonya sedang tidak ada di rumah," kata bibi Yun.


"Baiklah, terima kasih bibi."


Ken bergerak hendak menutup pintu dan pergi masuk ke dalam kamarnya. Tapi belum sempat melakukan itu, sebuah teriakan kencang terdengar dari arah tangga. Maka ia pun berdiri di tengah pintu dan menunggu orang yang berteriak-teriak itu datang kepadanya.


"Siapa yang mengijinkanmu membuatkan makanan untuknya? Bukankah waktu makan masih tiga jam lagi!!" tanya ibu tua marah dan berjalan cepat ke arah mereka.


"Dasar berandal tak tahu diri. Pasti kau yang memintanya membuatkan makanan, bukan?!" lanjutnya sambil menoleh pada Ken.


Bibi Yun kaget. Nampak sekali wajahnya menjadi ketakutan saat ketahuan memberi Ken makanan. Apalagi ibu tua langsung menampar pipinya. Ken yang hendak menutup pintu pun akhirnya mengurungkan niatnya.


"Ma maafkan kelancangan saya nyonya," bibi Yun hampir menangis.


"Sudah tahu itu lancang, mengapa tetap kau lakukan?!! bentak ibu tua.


Ken melangkah ke depan dan berdiri di depan bibi Yun. Ia akan menghadapi ibu tirinya yang marah-marah.


"Kenapa kau menampar pipinya? Meski dia pembantu di rumah ini, dia tetap wanita yang lebih tua darimu. Tidak bisakah kau lebih sopan kepadanya?" Ken berucap pelan.


"Haha. Lucu sekali. Dia bekerja dan menerima gaji dariku. Jadi aku berhak melakukan apapun padanya," jawab ibu tua.


"Hah. Memang susah bicara dengan wanita tua yang kolot dan merasa dirinya paling hebat."


"Apa katamu? Kau terang-terangan mengataiku?"


"Seperti itulah."


"Dasar berandal sialan!!"


Rin si ibu tua sangat kesal. Tangannya bergerak hendak menampar Ken. Tapi Ken segera menangkap tangan tersebut dan meremasnya.


"Selama ini, aku cukup bersabar dan menerima semua perlakuanmu padaku. Tapi kali ini, aku akan berterus terang padamu, nyonya. Aku tidak pernah merasa takut terhadapmu. Selama ini aku hanya menahan diri. Jadi jangan pernah merasa hebat di depanku," tatapannya tajam ke arah Rin.


Ken mulai menunjukkan sikap berontaknya. Sebenarnya sudah sejak lama ia muak dengan semua kelakuan ibu tirinya. Tapi baru kali ini ia mendapat kesempatan yang tepat.


"Lepaskan tanganku!"


"Aku tidak akan memperpanjang keributan. Jadi cobalah untuk diam dan menutup matamu atas kesalahan kecil yang dilakukan bibi."


"Apa??"


Ken melepas tangan ibu tirinya dan menyerahkan piring berisi kue bolu coklat yang dipanggang kepadanya.


"Ambillah. Aku tidak menginginkan itu lagi," kata Ken.


Rin merasa sangat geram. Begitu dilihatnya Ken berbalik dan berjalan masuk ke kamar, dengan cepat ia melemparkan piring berisi kue itu ke arah Ken hingga mengenai kepalanya dan membuatnya berdarah.


Ken menoleh karena terkejut.


Belum puas melukai kepala Ken, ia juga mendekati dan menjambak rambut Ken yang sedikit gondrong dengan cepat. Spontan saja bibi Yun menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


"Hiyaa! Rasakan ini, dasar anak gundik kurang ajar!! Kau sama saja dengan ibumu. Kalian sama saja tidak tahu malu. Tidak punya etika! Mau bertingkah seperti apapun, kalian tetap manusia hina dan rendah!!"


Tentu saja hal itu juga membuat Ken hampir jatuh ke belakang akibat tarikan kencang dari ibu tirinya. Karena ibu tua terus saja menghina ibunya, Ken berbalik. Kemudian ia pun memojokkan wanita paruh baya itu ke dinding.


"Apa yang kau katakan barusan?!!" kata Ken marah sambil mencekik ibu tua.


Rin terkejut saat Ken berani bertindak sejauh itu. Bahkan dari sorotan mata anak tirinya itu, ia dapat melihat amarah luar biasa di dalamnya.


"Ibu dan anak sama saja. Kalian hanya bisa melihat keburukan orang lain! Tapi pernahkah kalian berkaca? Aku yakin, meski kalian berkaca beratus-ratus kali, hanya ada bangkai busuk yang kalian temukan berdiri di depannya," kata Ken kesal.


Rin gelagapan dan berusaha melepas tangan Ken yang sedang mencekiknya. Bibi Yun yang sedari tadi hanya menonton mencoba menyadarkan Ken.


"Sudah tuan muda, jangan dilanjutkan lagi."


Karena Ken juga tidak ingin berlama-lama dengan ibu tirinya, akhirnya ia melepas cekikannya dan pergi kembali ke kamarnya untuk mengambil jaket.


••••••


Malam itu ia pergi keluar rumah mencari hiburan di jalanan. Ketika melewati mesin penjual minuman, ia berhenti dan membeli beberapa kaleng minuman soda.


Kemudian sesampainya di sebuah taman kota, Ken duduk beristirahat sambil menikmati minuman soda yang baru saja ia beli.


Tidak disangka, angin malam itu sedikit membuatnya kedinginan. Taman kota yang biasanya ramai juga tampak lengang.


"Ada apa dengan tempat ini? Kenapa sepi sekali," gumam Ken.


Wuzzzz.....


Diteguknya minuman soda miliknya dengan nikmat. Sambil menatap langit yang dipenuhi bintang, Ken memasang headset ke telinganya untuk mendengarkan lagu kesukaannya.


Setelah menghabiskan beberapa kaleng minuman soda sendirian, tiba-tiba saja ia merasakan hasrat ingin buang air kecil. Tanpa basa-basi ataupun menunggu kedatangan siapapun, Ken pergi ke semak-semak dekat sebuah pohon.


Baru saja ia mengeluarkan pistolnya keluar, terdengar suara angin yang seolah memanggilnya.


"Keeennzhiiii......" desiran angin bersuara seperti bisikan gaib.


Ken menghentikan pekerjaannya sesaat. Dilepasnya headset yang sedang ia pakai di telinganya. Lalu ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tetapi tetap saja sepi. Tapi siapa yang memanggilnya barusan? Sambil berpikir, Ken memiringkan kepalanya ke samping.


"Apa ini? Mengapa tiba-tiba suasana berubah seperti mistis? Ah, sudahlah. Pasti hanya perasaanku saja. Sssh,, aku tidak bisa menahannya lagi," gumam Ken sambil merinding.


KRUCUK


KRUCUK


KRUCUK


Suara air seni yang mulai keluar mengucur menuju semak-semak. Ketika Ken baru saja menghayati pekerjaannya sambil memejamkan mata, lagi-lagi terdengar suara yang sedikit lebih jelas seakan berbisik di telinganya.


"Keennn....."


Tentu saja Ken langsung membuka mata terkejut. Ia mendengar bisikan itu lagi. Tapi tempatnya berdiri tetap saja sepi.


"Aissh. Dasar setan sialan! Apa kau juga akan mengganggu manusia yang sedang buang air kecil, ha?!!" Ken kesal.


Tepat pada saat Ken sedang kesal itulah, muncul di depannya sesuatu. Sesuatu yang tiba-tiba muncul dari semak-semak dan berdiri di hadapannya.


"Kau sedang apa??" tanya Suzy muncul di depan Ken dengan mengagetkan.


"Kyaaaaaa!!!"


Ken yang sangat terkejut itu pun berteriak dan tidak sengaja mengarahkan pistolnya ke arah Suzy sehingga air kencingnya pun mengarah pada gadis itu.


Suzy yang sama terkejutnya itu pun sama-sama berteriak. Ia tidak menyangka bahwa Ken berdiri di sana karena sedang buang air kecil. Tapi kemudian ia merasa kesal karena Ken menyiramkan air kencing kepadanya.


"Hey! Kau menyiram ke arahku!" Suzy berteriak heboh.


"M-maaf. K Kau mengejutkanku."


Sambil mengibas bajunya yang tersiram air kencing Ken, Suzy menatap lekat pistol yang keluar dari celana pria yang baru saja mengencinginya.


Ken yang melihat Suzy menatap ke arah pistolnya itu tanpa sadar ikut melihat miliknya sendiri, lalu kembali menatap Suzy dan kemudian kembali melihat pistol yang sedang ia pegang.


Sekali lagi, Ken berteriak. Ia tidak mengira, kegiatan buang air kecilnya ini akan berjalan rumit.


"J Jangan lihat! Biarkan aku menyelesaikan hasratku sebentar," kata Ken gugup.


Suzy pun ikut gugup. Ia berbalik memunggungi Ken dengan perasaan tak menentu. Apalagi bayangan pistol air yang terus saja melintas di kepalanya begitu mengganggu pikirannya.


Beberapa menit kemudian, Ken sudah selesai. Ia merapikan celananya dan berjalan mendekat ke arah Suzy.


Belum juga Ken mendekat, Suzy sudah merasa gelagapan. Ia menutup mukanya karena sangat malu.


"Jangan mendekat! Kau pria mesum! Akan ku laporkan kau ke polisi karena sengaja melakukan itu dihadapan seorang wanita!" kata Suzy.


"Apa? Pria mesum?" Ken tidak percaya.


Bagaimana bisa ia dilaporkan sebagai pria mesum yang sengaja melakukan hal porno di hadapan wanita. Bukankah Suzy sendiri yang mendatanginya?


Karena Suzy berlari menjauh, Ken mengejarnya. Untung saja gadis itu dapat ia tangkap.


"Tunggu! Bagaimana bisa kau akan melaporkanku pada polisi hanya karena kasus kecil seperti ini?"


"Kasus kecil katamu?" Suzy menoleh pada Ken masih tetap menutupi wajahnya.


"Benar. Dalam hal ini, bukankah aku tidak seratus persen bersalah? Kau sendiri yang menghampiriku kemari, bukan?"


"Apa??" Suzy merasa itu benar.


"Kau sendiri yang menghampiriku saat sedang buang air kecil. Lalu, aku juga tidak sengaja membuatmu melihatnya."


"I itu...."


"Sebenarnya, aku yang seharusnya marah. Kau sengaja mengintipku atau bagaimana? Bisa-bisanya kau muncul di hadapanku seperti hantu yang ingin menculik pemuda tampan sepertiku!"


"A Apa??"


"Jika seperti itu, aku juga bisa melaporkanmu ke polisi dengan tuduhan gadis cabul!" Ken berlagak pergi menuju kantor polisi.


GLEK


"Apa?!! Ga gadis ca cabul?? T Tunggu!!" panggil Suzy akhirnya.


Ken tersenyum.


Perlahan Suzy mengintip Ken dari celah jarinya. Ia mengamatinya dari kepala hingga kaki. Perlahan ia menurunkan tangan yang menutupi wajahnya. Kemudian ia berkata pelan pada Ken.


"Aku pikir, mungkin aku bisa menarik kembali tuduhanku mengenai pria mesum," ucapnya sambil memainkan kaki kanannya dan sedikit menggoyangkan badannya.


.


.


.


.


.


Bersambung Episode 15 ya🤗