
EPISODE 82
Lima tahun kemudian,
Sudah lama sekali sejak operasi hari itu, tampaklah seorang pria dewasa yang duduk sendiri menatap langit biru mendung. Meski tidak turun hujan, anginnya terasa mendung menyejukkan sukma.
Menghabiskan kehidupannya di penjara, membuat Ken semakin bijaksana. Usianya yang bertambah dan semakin tua pun membuatnya tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan.
Benarkah??
Di usianya yang ke empat puluh ini, sebuah kehidupan normal bersama keluarga kecilnya, itulah impian terbesarnya. Namun ia menyadari bahwa fakta tentang dirinya hanya akan menambah beban bagi Suzy maupun putranya jika ia menampakkan diri di hadapan mereka.
Sebenarnya...
Sejak melakukan operasi cangkok hati untuk Suzy kala itu, Ken menolak untuk bertemu siapapun. Tak terkecuali Suzy sendiri. Ia meninggalkan surat yang berisikan pesan agar Suzy berhenti memperdulikannya dan melanjutkan hidup dengan tenang bersama putra mereka.
"Meski ragaku di sini dan tidak bisa melihatmu lagi. Setidaknya, sebagian dari tubuhku kini ada bersamamu dan menemanimu bernafas setiap hari."
Itulah kata-kata yang selama ini selalu Ken ucapkan dikala rasa sepi menyelimuti hatinya. Ia memilih untuk menghindari orang tercintanya meski itu sangat menyiksa.
Karena dirinya, Suzy dan keluarganya mengalami masa sulit yang cukup ekstrim. Dimana masyarakat lain mengucilkan dan menghakimi mereka sebagai keluarga pembunuh.
Dan beberapa tahun berlalu, Suzy tidak lagi menemuinya. Sepertinya wanita itu menuruti apa yang diinginkannya. Yaitu hidup dengan tenang dan berpura-pura tidak pernah mengenalnya demi masa depan serta kebaikan sang putra.
••••••
Pagi itu....
Matahari bersinar terang di langit. Cahayanya menembus jendela sel tempat Ken berada. Pintu-pintu besi tempat para tahanan diketuk-ketuk oleh para sipir.
"Cepat keluar!"
Rupanya hari itu adalah jadwal bersih-bersih lapas. Satu persatu penghuni penjara itu pun keluar dan berjalan menuju lapangan dan tempat lain untuk menjalankan tugasnya.
Seperti biasa, ia dan kelompok biasa-biasa saja bertugas membersihkan gorong-gorong dan pipa saluran di bawah tanah. Beberapa kali menjalani tugas di sana, Ken terlihat baik-baik saja dan tidak merasa terintimidasi.
"Nampaknya kau sudah terbiasa sekarang," kata seorang tahanan yang bertugas bersamanya.
Ken menoleh, "Yah.. begitulah."
"Lihatlah, mereka keterlaluan sekali. Tidak bisakah mereka merolling tugas kita? Sekali-kali coba serahkan tugas menjijikkan ini pada kelompok A. Aku ingin sekali melihat mereka muntah-muntah," ucapnya.
Ken mendengus menahan tertawa.
"Sudahlah. Jangan mengeluh. Lakukan saja tugas kita dan selesaikan dengan cepat," Ken menyuruh pria itu kembali bekerja alih-alih mengeluh.
"Apa kau tidak kesal?"
"Kesal? Tidak."
Pria itu membuang nafas lelah, "Itulah salahmu. Tidak punya keinginan untuk merubah keadaan."
Ken berhenti bekerja dan duduk di pinggiran selokan besar. Ia duduk dengan satu kaki ditekuk.
"Tidakkah kau berpikir bahwa kita adalah bagian terpenting di tempat ini?"
"Maksudmu?"
"Coba pikirkan. Dari semua tugas yang ada, kelompok kita adalah orang-orang yang sangat berguna. Tanpa adanya kita di sini, toilet dan air keran atau apapun itu, tidak akan dapat digunakan dengan baik."
Teman Ken itu pun membuka lebar matanya seolah mendapat harta Karun di depan mata.
"Kau benar!"
Ken menepuk pundak teman sepekerjaan dengannya itu, "Ayo lanjutkan. Kita sudah hampir selesai."
Dan akhirnya, pekerjaan melelahkan siang itupun selesai. Para pekerja kelompok Ken ramai-ramai membersihkan diri dan lanjut pergi ke kantin untuk mendapatkan makan siang mereka.
Perlahan namun pasti, Ken dapat mengambil hati para penghuni lapas tempatnya berada. Tidak ada lagi yang mengganggunya seperti awal mula ia datang. Apalagi sejak melihat kebrutalan Ken dalam berkelahi dengan ketua Sato, kebanyakan dari mereka memilih untuk berdamai dan menjadi temannya.
••••
Waktu berjalan tanpa kita sadari. Semua umat manusia menjalani kehidupannya masing-masing dan dengan cara mereka masing-masing pula.
Setelah Ken memberi pesan untuk Suzy agar melupakan semua tentangnya, ia merasa rasa bersalahya sedikit teratasi.
Meski begitu, ia tetap menaruh harapan untuk bisa melihat Suzy dan putranya yang semakin tumbuh besar meski dari jauh, suatu hari nanti.
Ia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa ia sangat merindukan keduanya. Tapi apalah daya, sebuah pilihan harus ia lakukan demi kehidupan tenang anak istrinya
Namun siapa sangka. Tanpa sepengetahuan dirinya, sebuah kecelakaan maut merenggut nyawa orang tercinta.
Kejadian itu bermula ketika Suzy hendak pergi menjemput Tatsuya, putranya. Ia bertemu dengan Akiyama di persimpangan jalan dan akhirnya pergi bersama ke sekolah Tatsuya.
"Kau tidak pulang lagi?" tanya Suzy saat itu.
"Hmm. Aku harus membuka toko lebih lama untuk mendapatkan pemasukan uang lebih banyak."
"Tapi kau butuh istirahat dan mengasihi dirimu sendiri, Yama. Selama Ken di penjara, kau telah berjuang melunasi tunggakan rumah sakit. Dan juga, menafkahi kami semua sampai sekarang."
"Tidak juga."
"Tidak juga? Maksudnya? Kau ini, siapa lagi yang ku lihat bekerja ke sana kemari selain kau?"
"Sebenarnya, ada yang belum ku ceritakan padamu. Tetapi, aku ragu karena seseorang meminta untuk merahasiakannya," Akiyama mengusap wajahnya.
"Cerita yang rahasia?"
"Ya. Selama ini, rahasia itu terus mengganjal di hatiku."
"Kalau begitu, ceritakan sekarang. Jangan membuatku penasaran terlalu lama."
Akiyama menghirup nafas dan mengatur kata-kata sebelum ia ucapkan.
"Tunggakan rumah sakitmu, sebenarnya Ken yang melunasinya. Dia memberikan semua uang di rekeningnya untuk membiayai pengobatanmu. Sisa uang yang masih ada di tabungannya pun aku gunakan untuk kebutuhan sehari-hari kita," ucap Akiyama pelan.
"B benarkah? Dan,,, apakah kau tidak berusaha menolak uang itu?" Suzy melotot dengan mata merah.
"Aiss,, aku tidak percaya ini,,," Suzy menunduk haru menahan air mata.
"Satu lagi...."
Suzy menoleh sedih dan menunggu ucapan yang keluar dari mulut saudaranya.
"Dia juga yang mendonorkan hati untukmu."
"Apa? H hati?" Suzy benar-benar terkejut. Ia syok selama beberapa menit. "K kenapa kau tidak pernah memberitahuku dan merahasiakannya selama ini?" lanjut Suzy sambil menarik kerah mantel kakaknya.
"Sejak suamimu masuk penjara, Ibu jadi membencinya. Itulah sebabnya, Ken tidak ingin kalian mengetahuinya dan memintaku merahasiakannya."
"Kenapa kau melakukan ini padaku, Yama? Apa kau sengaja membiarkanku menuruti permintaannya tanpa sempat mengucapkan terima kasih padanya??" Suzy menangis sesal.
"Maaf."
"Cepat putar mobilmu, kita harus menemuinya sekarang juga," seru Suzy.
"Tapi bukankah kita harus menjemput Tatsuya?"
Suzy meraih ponsel dan mengirim pesan pada guru pengajar putranya. Ia mengatakan bahwa dirinya akan terlambat datang menjemput.
"Aku sudah mengirim pesan pada nona Dami untuk menjaga Tatsuya sebentar. Jadi cepat putar balik! Cepat!" Suzy ingin cepat-cepat menemui Ken.
Selain rindu, ia ingin berterima kasih untuk semua yang telah Ken berikan.
"B baiklah."
Akiyama mencoba memutar balik mobilnya. Namun karena terlalu buru-buru, ia tidak melihat bahwa ada sebuah truk yang melaju kencang di belakangnya.
Alhasil.. begitu ia memutar jalur, mobilnya tersambar truk tersebut dengan kencang.
BRAAKKKK!
Mobil Akiyama terseret beberapa meter dari jalur mereka. Kondisinya ringsek di bagian muka terutama samping bagian kemudi. Seketika itu juga, jalanan menjadi ramai tak terkendali sehingga polisi berdatangan.
Mobil ambulance pun datang dan membawa korban kecelakaan ke rumah sakit terdekat. Mereka menerima dan merawat pasien kecelakaan dengan segera.
Mendengar kecelakaan yang menimpa putra putri mereka, bibi Tamako dan paman Akihiro pun datang dengan tergopoh-gopoh. Rupanya, pihak rumah sakit yang menelepon dan memberitahu mereka.
Nahasnya, nyawa Suzy dan Akiyama tidak dapat diselamatkan. Mereka berdua tewas dalam kecelakaan siang itu.
oh Tuhan, benarkah itu?!
Bibi Tamako dan paman Akihiro menangis histeris mendapati putra dan putrinya tengah menutup mata untuk selamanya. Tak berapa lama kemudian, Nonaka dan Hari datang berlarian dengan air mata menuju ruangan tempat Suzy dan Akiyama terbaring.
***
Di tempat lain, Ken yang sedang menikmati makan siang tiba-tiba tersedak dan terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah.
Kazuki yang duduk di sebelahnya langsung membantu menepuk-nepuk punggung Ken dengan cepat. Sementara tahanan yang lain memperhatikan.
"Hey, makan pelan-pelan saja, kawan! Tidak ada yang akan meminta jatah makan siangmu," ucapnya.
Ken yang sedang batuk dan berusaha mengambil nafas itu membungkuk seraya memegangi bahu Kazuki.
Begitu batuknya reda, Ken minum dengan perlahan. Ia merasa ada sesuatu yang membuat jantungnya gemetar. Entah mengapa, ia juga merasakan pilu.
Ketika berjalan menuju lapangan bersama Kazuki, sekali lagi Ken mendapat kesialan. Sebuah lempengan seng penutup bangunan di sayap timur penjara tiba-tiba jatuh dan hampir mencelakainya.
Untung saja, gerak reflek Ken saat menghindar masih sangat baik. Sehingga lempengan seng itu hanya menggores lengan kirinya.
CRAASS!
Ken terkesiap. Ia menatap lempengan seng tersebut cukup lama tanpa memperdulikan darah yang mengalir dari lengan kirinya.
"Ada apa ini? Apakah sesuatu yang buruk sedang terjadi?"
Ken berpikir dalam hati.
Kazuki yang berada tidak jauh dari sisi Ken itu pun ikut memelototi lempengan seng tersebut. Kemudian selang beberapa detik ia pun tersadar bahwa kawannya terluka.
"Lihat! Lenganmu terluka. Ayo pergi ke klinik," suara Kazuki membuyarkan lamunan Ken.
"Apa?"
"Lenganmu terluka."
"Aah.. benarkah?" dengan manik mata yang bergerak-gerak, Ken mengangkat tangan kanannya dan bergerak pelan mengusap darah pada lukanya.
Mereka berdua pun pergi ke klinik untuk mendapatkan pengobatan Ken. Meski Luka itu tidak seberapa bagi Ken, kenyataan bahwa lempengan seng yang berkarat dapat menyebabkan infeksi ataupun tetanus pun membuatnya bersedia pergi ke klinik.
•••••
Kini...
Sudah satu bulan berlalu sejak kepergian Suzy dan Akiyama. Kedua orang tua mereka masih saja menangisi kepergian kedua saudara kandung itu.
Namun, ada satu hal yang pasti. Bahwa bibi Tamako enggan memberi kabar soal kematian Suzy pada Ken. Sebab ia pikir, semua masalah yang datang pada keluarganya, Kenlah yang bertanggung jawab besar.
Kini, Suzy telah pergi. Tatsuya yang kini berusia lima tahun pun belum mengerti betul bagaimana cara dia kehilangan ibunya. Sesekali, ia hanya bertanya dimanakah gerangan ibunya?
Setiap hari, ia pun bermain sendiri sambil menunggui sang nenek yang menjajakan Daigaku imo, ubi manis jualannya.
(Mulai di episode ini, penulis akan panggil bibi Tamako dengan sebutan nenek Tama. Begitu pula paman Akihiro yang menjadi kakek Hiro)
Ubi manis yang dijual nenek Tama dapat dinikmati secara langsung ketika panas-panas. Rasanya lumer di mulut dan manis tanpa meninggalkan pahit.
Jika sore datang, nenek Tama mengajak Tatsuya pulang. Begitu sampai di rumah, ia akan menyiapkan makanan sebelum kakek Hiro pulang dari bekerja.
Kemudian, mereka bertiga pun menikmati makan malam bersama dengan dua buah mangkuk lengkap dengan porsinya yang sengaja mereka sediakan di atas meja untuk Suzy dan Yama.
BERSAMBUNG......