
EPISODE 130
KLIP
Lagi-lagi mata Ken tidak juga mau terpejam. Ia melirik ke arah kiri badannya dimana Yuna menyandarkan kepala pada lengannya.
"Huuff.. Ini tidak benar. Bagaimana kalau ibu melihat dia berada di kamarku? Ibu pasti akan mengira Yuna sebagai gadis gampangan."
Ken mengangkat kepala Yuna dan menyingkirkannya dengan pelan ke bantal yang ada di sisinya. Kemudian, dengan perlahan pula ia menjunjung tubuh Yuna.
"Kau mau apa?" tanya Yuna lirih.
"Kau belum tidur?" Ken terkejut melihat Yuna membuka mata.
"Aku tidur, tapi bangun lagi saat kau mengangkat tubuhku.."
"Em, aku pikir lebih baik kau tidur di kamarmu. Akan ada banyak masalah jika kau kepergok tidur di kamarku."
Ken membawa Yuna keluar dengan posisi tetap dalam gendongan depannya menuju kamar sebelah.
Mereka memasuki kamar yang sudah disiapkan untuk Yuna. Dibaringkannya wanita itu di atas kasur dengan perlahan.
"Nah, tidurlah sekarang. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur."
"Kau tidak tidur si sini?"
"Tidak. Kita harus menjaga sikap di rumah ini. Ibu dan adikku akan berpikir macam-macam jika melihat kita tidur bersama," Ken bicara sambil duduk di pinggir kasur.
"Hmm. Baiklah. Tapi sebelum aku tidur beri aku ciumanmu," Yuna bersikap manja.
Ken tersenyum lalu meraih kepala Yuna dan mendaratkan bibirnya dengan mesra.
CEKREK
Tiba-tiba saja pintu kamar Yuna dibuka seseorang. Tampaklah Ayumi dengan pakaian tidurnya datang membawakan sebuah lilin aromaterapi.
"Yuna. Kau sedang ap,-" Ayumi terkejut melihat Ken sedang mencium Yuna.
Bersamaan itu pula, saat mendengar suara dibuka seseorang, Ken refleks menarik dirinya dengan cepat dan berdiri menjauh dari wanitanya.
"Kau tidak mengetuk pintu lagi?" Ken memelototi Ayumi karena sudah ke dua kalinya gadis itu membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Eh,,, ini. Aku hanya mau meletakkan ini di kamar Yuna. Kau sendiri mengapa di sini? Bukankah kamarmu ada di sana?"
"Ah. Aku juga hanya ingin memeriksa apakah dia tidur nyenyak atau tidak."
"Memeriksa?"
"Eh, terima kasih lilinnya, Ayumi, hehe," Yuna menyela agar pembicaraan kedua kakak beradik itu selesai.
Ken mengangkat alisnya, "Kenapa kau jadi ingin tahu urusan kakakmu?"
"Em, hehe... " Ayumi terkekeh seraya menatap Ken dengan mata yang melirik ke atas.
"Woo, apa itu? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Aku melihatnya, lho..."
Ken melotot dan menoleh pada Yuna sebentar kemudian kembali lagi fokus pada Ayumi, "M melihat apa maksudmu?"
Dengan cepat Ayumi mengerucutkan tangan kanan dan tangan kirinya lalu menempelkannya satu sama lain untuk mengisyaratkan ciuman.
"Oops?" Yuna yang ketahuan baru dicium Ken itu lantas menutup mulutnya karena malu pada Ayumi.
"Aissh," Ken menepuk jidatnya pelan sambil berbalik membelakangi adiknya.
Kemudian, karena tidak ingin adiknya mengadu pada ibunya, Ken pun menariknya keluar kamar.
"Dengar, Ayumi. Hmm, yaah. Yang kau lihat memang benar. Aku mendatangi kamar Yuna dan menciumnya. Tapi kau tidak punya hak untuk mengatur kehidupanku atau mengadukan semua itu pada ibu. Aku bukan anak kecil lagi, kau tahu?" Ken tersenyum.
"Iya aku tahu. Tenang saja, aku tidak kekanakan seperti dulu," Ayumi menepuk lengan kiri Ken.
"Baguslah kalau begitu."
Lalu, karena Ayumi masih saja berdiri di hadapannya, Ken pun bertanya, "Lalu, kenapa kau masih di sini?"
"Aku mau mengobrol berdua dengan Yuna, jadi aku pikir sebaiknya aku tidur di sini," Ayumi tersenyum mengejek sambil berjalan masuk kembali ke kamar Yuna.
"T tunggu," Ken mencoba menahannya.
"Ada apa lagi?" Ayumi melotot curiga.
Ken diam sejenak, "Ah, i itu."
"Itu apa?"
"Sepertinya ponselku ketinggalan di dalam."
SRET
Ken masuk kembali ke kamar Yuna dan mencari ponselnya dengan cepat. Karena Ayumi mengatakan bahwa dirinya hendak tidur di kamar Yuna, maka ia pun bergegas pergi.
Begitu kembali ke kamarnya, Ken menjatuhkan diri di atas kasur dengan kasar. Ia menarik selimut dan mencoba memejamkan mata.
Hanya bertahan lima menitan, matanya kembali terbuka. Sebab ia memikirkan hal yang tidak-tidak mengenai masa lalu Yuna bersama Arai.
GLEK!
Disibaknya selimut putih yang menutupi tubuhnya dengan cepat. Sepertinya sesuatu yang menggelikan sempat mengganggu pikirannya.
Di waktu yang singkat itu, Ken membayangkan saat Ayumi tidur bersama Yuna dalam satu selimut. Saat Ayumi tidur pulas, dilihatnya Yuna yang seolah diam-diam mendekati adiknya dengan tatapan mata yang sangat genit.
Dan dalam bayangannya pula, Yuna mencoba menggerayangi Ayumi sambil menampakkan wajah iblis pecinta perempuan.
"Tidak! Itu tidak boleh terjadi!" dada Ken naik turun dengan mata yang mendelik.
Tanpa menunggu waktu lama, ia berlari menghampiri kamar Yuna dan membuka pintu kamar tersebut secara tiba-tiba sambil berseru cemas.
"Tunggu Yuna, k kau tidak boleh melakukannya!!"
Krik
Krik
Krik
Suara jangkrik terdengar melintas saat suasana sepi dan garing.
Di dalam sana, Yuna dan Ayumi rupanya sedang menonton film misteri horor dan memeluk bantal mereka masing-masing.
Tidak terjadi apa-apa!
Hanya pikiran Ken saja yang mungkin sedikit berlebihan.
"Ada apa lagi?" tanya Ayumi.
"T tidak ada apa-apa."
JREEENGGG...
Merdengar musik latar film misteri horor yang sedang ditonton dua gadis tersebut.
"Mengerikan sekali! Bisa-bisanya pria gila itu menusukkan gunting taman ke rongga mulut orang tua itu!" pekik Ayumi kengerian.
"Hmm. Dia terlalu gila sebagai pria yang tampan. Cih! Benar-benar tidak bisa dipercaya," komentar Yuna yang tampak lebih tenang.
"Kalian menonton film horor larut malam? Serius? Apa kalian tidak takut akan kesulitan tidur?? Kalian bisa terbayang-bayang adegan sadisnya."
"Tidak akan, tenang saja. Sudah sana, pergi. Kau hanya mengganggu kami," kata Ayumi.
"Iya. Kami berani loh. Jangan khawatir," senyum Yuna penuh percaya diri.
Setelah memperhatikan keseriusan dua wanita itu, Ken pun pergi meninggalkan mereka dan kembali ke kamarnya sambil menelengkan kepala.
Ken mengambil nafas pelan dan menarik selimutnya. Sambil mendendangkan sebuah nyanyian, ia memejamkan mata mencoba untuk tidur. Lambat laun, ia pun mulai mengantuk.
Satu jam berlalu dengan tenang, tiba-tiba saja dua gadis yang tadi sok jagoan itu berlari memasuki kamar Ken dan langsung melompat cepat ke atas kasur. Mereka berdua histeris dan menubruk pria yang sudah mulai tidur itu.
"Astaga! Apa yang kalian lakukan di sini?" pekik Ken sangat terkejut dengan matanya yang sudah berat.
"K Ken, pria itu memotong-motong tubuh korbannya," Ayumi mengguncang-guncang tubuh Ken.
"Hmm, alur cerita The Psychopath's Secret memang begitu, kan?" kata Ken sambil ngantuk.
"T tapi kepala itu, me menggelinding di lantai!" Yuna memeluk Ken karena merasa ngeri.
"Sudah ku bilang, bukan. Kalian pasti akan terbayang adegan di film itu. Hoaaheem! Sudah ah. Aku mau tidur lagi," Ken menguap dan melanjutkan tidurnya.
Ketika Ken melanjutkan tidur, baik Yuna maupun Ayumi langsung menarik tubuhnya dengan paksa dan membuatnya terduduk. Tidak hanya itu, mereka juga mengguncang-guncangkan tubuh Ken agar pria itu membuka mata menemani mereka.
"Ken!!" panggil mereka serempak.
"Apa sih? Kalian sungguh akan menggangguku terus seperti ini? Aku mengantuk sekali. Sana, lanjutkan menonton saja...." Ken bicara sambil tidur dengan suara khas orang yang ngantuk berat.
"Tidak, Ken! Temani kami! K kami sangat takut. Pria itu,, pria itu muncul di dinding kamar dan tersenyum memanggil nama kami..." Ayumi gemetar ketakutan.
"Ken!! Bangunlah...." Yuna mengguncang-guncang Ken kembali agar membuka matanya.
Bahkan ia mempermainkan kelopak mata Ken yang tertutup dengan membukanya dengan jari. Karena suara berisik dan tingkah dua gadis itu terasa menyebalkan, Ken pun membuka mata dan memarahi keduanya.
"Haissh! Hentikan rengekan kalian yang menyebalkan itu," ucap Ken seraya menepis kedua tangan gadis yang menempel di sebelah kanan kirinya.
"Keeennn....."
"Baiklah. Sekarang kembalilah ke kamar kalian dan matikan filmnya. Lalu pergi tidur dan lupakan semuanya."
"Temani kami, yaa..."
"Tidak. Aku mau tidur."
"Ken, please!" Yuna memeluk Ken sambil merengek. Begitu pula Ayumi yang sama merengeknya di sisi sebelah lagi.
"Aaarrhhh! Iya, iya baiklah. Mari lakukan itu! Siapa yang tadi mengatakan berani menonton dan mengusirku, heh?" Ken berjalan keluar kamar sambil menggerutu.
"Iya, kami minta maaf..." ucap Ayumi.
Ketika mereka bertiga memasuki kamar yang disiapkan untuk Yuna, Ken langsung mematikan TV yang sedang menyala.
Kedua gadis itu bersembunyi di belakang punggung Ken dan sesekali melongokkan kepala dari balik badannya. Mereka tampak takut pada tirai yang melambai-lambai diterpa angin.
"Di mana pria gila itu?"
"I itu, dia ada di depanmu."
Apa? Tirai? Astaga... Kalian takut pada tirai yang melambai??"
"Benarkah?"
"Lihat baik-baik. Ini hanya tirai, bukan pria gila di Psychopath's Secret. Mengerti?"
Ucapan Ken dibalas dengan anggukan serentak dari keduanya. Mereka benar-benar tidak akan lagi menonton film sadis seperti itu. Jujur saja, mereka berdua hampir terkencing saat adegan mutilasi dipamerkan di sana.
..
....
.......
Bersambung....