RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
TES KEHAMILAN



EPISODE 60


Ken masuk ke kamar mengikuti Suzy dengan ragu. Ia bahkan berusaha membantu menyelimuti Suzy meskipun gugup.


"Apa yang kau rasakan? Tidakkah kau perlu pergi ke dokter?" tanyanya.


"Tidak usah," Suzy mencoba memejamkan matanya.


"Lalu, apa yang bisa ku lakukan untukmu?" Ken berlutut di samping ranjang.


"Tidak ada. Biarkan aku istirahat, ya?"


Ken mengangguk dan berdiri perlahan. Ketika mendengar Suzy batuk, dengan sigap dirinya mengambilkan gelas berisi air putih dan memberikannya pada Suzy.


"Minumlah...."


Karena suaminya begitu peduli padanya, Suzy tidak punya alasan untuk menolak gelas yang disodorkan padanya. Maka ia pun menerimanya.


Belum sempat minum air tersebut, Suzy kembali mual. Ia mengembalikan gelas ke tangan Ken lalu menyibak selimut yang dikenakannya dan berlari ke kamar mandi.


Dengan wajah kebingungan, Ken memperhatikan tingkah Suzy.


"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" Ken bergumam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Baru saja ia merasa heran, tiba-tiba suatu pikiran cerdas melintas di dalam benaknya.


GLEK!


"Apakah dia hamil?"


Ken menurunkan tangan yang ia gunakan untuk menggaruk rambutnya tadi dan kini mulai menyentuh dadanya yang berdegup kencang.


"Benarkah dia..." Ken benar-benar gugup.


Tanpa menunggu lama lagi, ia menghampiri Suzy dan membantunya membersihkan diri dan kembali ke tempat tidur.


"S sayang, apakah bulan ini kau sudah mendapatkan haid?" tanya Ken.


Suzy menoleh segera dengan terkejut, "Haid?"


"Ya. Menstruasi."


Suzy berpikir sejenak lalu membuang badan dari hadapan Ken, "Sudah ah.. jangan berpikir macam-macam."


"Tunggu sayang. Apa kau belum mendapatkannya?"


Ken mencoba keras mengambil jawaban dari Suzy yang kini justru memunggunginya. Tapi karena Suzy bersikeras untuk tidur, akhirnya Ken mengalah.


Ia keluar dari kamar dan berdiri mematung di depan pintu kamar mereka dengan wajah kosong.


"K kapan itu? Tanggal berapa kami melakukannya? Apakah secepat ini?"


Ken mengingat kembali hari dimana mereka melakukannya. Ia juga ingat bahwa saat itu ia membuang semuanya di luar.


"Apakah aku melewatkannya?"


Keringat dingin pun keluar membasahi keningnya. Bahkan ia juga membenturkan kepalanya ke dinding dengan pelan.


"Bagaimana kalau dia benar-benar hamil? Apa yang harus aku lakukan?"


Ken menggigit kukunya karena takut. Lalu tiba-tiba saja ia marah pada dirinya sendiri dan menggelepar kesal.


"Aiss!! Kenapa aku harus takut? Bukankah kami sudah suami istri?"


Dengan kasar ia membuang nafasnya. Pada saat itu juga, tanpa sepengetahuan dirinya, Nonaka berjalan mengendap-endap mendekatinya.


"Apa kau heran??!"


"Heh?" Ken amat terkejut.


"Apa kau heran dengan sikap istrimu?"


Ken mengangguk.


"Aku rasa aku tahu mengapa."


"Benarkah?"


"Ya."


"Apa itu?"


"Dia hamil."


DEG!


"Aah. Jadi benar begitu,,,"


"Eh?" kini Nonaka yang heran.


"Aku hanya menduga. Jadi, kau juga berpikir dia sedang hamil?"


"Ya. Aku juga dulu begitu. Mual dan tidak nafsu makan. Jadi, bawalah dia ke dokter. Dengan begitu kalian akan mendapatkan kepastiannya."


"Hmm. Baiklah."


"Akhirnya. Selamat atas kerja kerasmu!" Nonaka menepuk-nepuk pundak Ken sambil cengengesan dan berlalu pergi.


••••••••


Menurut Ken, hari yang ia lewati kali ini serasa amat panjang. Apalagi pagi hari yang membingungkan seperti tadi membuatnya terus berpikir.


Ia tahu Suzy sakit dan tidak pergi ke restoran, tetapi ia harus tetap memenuhi janjinya untuk menggantikan Akiyama menjaga toserba. Apalagi ia sudah mengatakan pada anak-anak resto bahwa hari ini mereka akan tutup. Maka ia menitipkan Suzy pada ibu mertuanya.


Dan di tengah-tengah waktunya di toko, ia terlihat sedang berdiri menempel di sebuah rak obat. Ia tidak sengaja menemukan sesuatu yang amat berharga baginya saat itu.


Apa yang ia temukan?


Rupanya Ken tengah mengamati sebuah produk kesehatan yang mengatakan bahwa itu adalah alat tes kehamilan yang ada di dalam kotak kaca.


"Weh? Bukankah ini...."


Pada saat yang tepat, seseorang menyapanya.


"Maaf kak, apa kau yang jaga di sini?"


Ken menoleh, "Ya. Ada yang bisa aku bantu?"


"Hmm. Bisakah kau ambilkan tes pack itu satu?" kata seorang pria muda yang menjadi pengunjung.


"Apa?"


"Tes pack itu."


"Aaah. Baiklah," Ken merogoh saku celananya mengambil kunci kotak kaca sambil tersenyum kecut.


Ketika berada di meja kasir, Ken menyempatkan mengajukan pertanyaan pada pemuda di depannya.


"Apa pacarmu hamil?"


"Ya," jawab pemuda itu santai.


Ken mengamati pria muda itu lagi. Bagaimana dia bisa begitu santai mengatakan kehamilan pacarnya pada orang lain?


SERRT SEEERTT


"500 Yen."


"Hmm,,," pemuda itu mengambil uang di dalam sakunya untuk membayar.


Ketika ia hendak pergi, Ken menghentikannya.


"Tunggu."


"Ada apa?"


"Apakah menurutmu itu cukup akurat?"


"Sebenarnya, aku melakukan dengan ini beberapa kali. Dan semuanya akurat."


"Begitu, ya?"


"Memangnya kenapa? Apa pacarmu juga hamil?"


"Aah, tidak."


"Benarkah? Baiklah, aku pergi dulu."


Sepeninggal pemuda itu, Ken kembali mendekati rak obat dimana alat tes kehamilan tertata rapi di dalam kotak kaca. Ia mendengus pelan dan perlahan mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah.


"Apa ini perlu?"


"Haiss. Suzy akan mengataiku konyol jika aku membawa ini padanya," katanya pada diri sendiri begitu satu bungkus tes pack ada di tangannya.


Setelah melewati keragu-raguannya, akhirnya ia pun mengambil sebuah. Kemudian mengunci kotak kaca itu kembali. Tidak lupa ia juga membayar dengan harga semestinya di kasir.


Begitu Akiyama muncul, Ken langsung memberikan sekumpulan kunci yang ada padanya lalu pergi dan pulang ke rumah.


KRIETT


Suara gerbang kayu depan terdengar seret saat Ken membukanya. Ia berjalan sedikit tergesa-gesa karena suhu di luar sangat dingin karena salju turun cukup lebat.


Tanpa sengaja, ia tersandung sebongkah es yang cukup besar di tanah dan membuatnya jatuh tertelungkup. Kotak tes pack yang ia bawa juga jatuh terpental beberapa meter di depannya.


"Astagaa.. memalukan sekali. Untung saja tidak ada yang melihatku seperti ini," kata Ken berusaha bangkit sambil mengusap wajahnya yang dipenuhi bunga salju.


"Benarkah? Kata siapa?" suara Nonaka membuatnya terkejut.


Tanpa menunggu lama, Ken merangkak untuk mengambil kotak tes pack yang ada beberapa meter darinya itu.


"Eh? Apa itu?" Nonaka mengenali wujud dari kotak yang berusaha diambil Ken.


"Ahaha.. Tidak. Ini bukan apa-apa," Ken berhasil mendapatkannya sambil meringis dan langsung menyelinapkannya ke dalam saku jaketnya.


"Benarkah??"


"I iya."


Nonaka tersenyum-senyum melihat tingkah Ken. Sebenarnya ia tahu betul apa yang sedang disembunyikan Ken itu.


"K kau. Apa kau mau pergi keluar?"


"Ya. Aku mau menjemput Hari."


"K kalau begitu silahkan,,," Ken mempersilahkan kakak iparnya itu pergi lebih dulu.


"Baiklah aku pergi dulu. Jangan lupa tunggu beberapa menit untuk melihat hasilnya!" Nonaka tertawa cekikikan dan berlalu.


"A apa?" Ken menoleh terkejut karena ternyata Nonaka tahu apa yang ia sembunyikan.


••••••


Begitu masuk ke dalam rumah, ia melihat Suzy sedang duduk di ruang tamu sambil minum kopi. Maka dengan terburu-buru, Ken mengajaknya naik ke lantai atas.


"Ada apa sih? Coba katakan."


Suzy merasa tingkah suaminya itu aneh.


"Ayo pergi ke dokter."


"Apa? Aku tidak mau."


"Apa kau tidak penasaran dengan mualmu pagi ini?"


"Memangnya ada apa dengan mualku?"


Ken menggandeng Suzy masuk ke kamar dan mengajaknya bicara secara intim.


"Bagaimana, apa kau ingat? Sudah telat berapa minggu?"


Karena Ken bertanya sambil menggenggam kedua tangan dan berdiri sangat dekat di depan Suzy, wanita itu pun bisa merasakan kehangatan tubuh suaminya. Bahkan, aroma tubuh Ken yang sebenarnya tidak mempunyai masalah itu pun lagi-lagi membuat Suzy mual.


HUEEK!


Suzy yang akhirnya selesai muntah-muntah itu keluar dari kamar mandi dengan memegangi perutnya yang terasa keram.


"Ooh.." erangnya.


"Ada apa? Apakah perutmu sakit?"


"Tidak, tidak apa-apa."


"Aku mohon, ayo pergi ke dokter," Ken sangat khawatir.


"Tidak perlu. Ambilkan saja aku obat sakit perut."


Ken menolak. Maka dari itu Suzy hendak mengambilnya sendiri di laci meja. Namun Ken menghalanginya.


"Apa kau gila?!"


"Apa? Gila? Maksudmu?"


"Kau bisa saja sedang hamil! Jika benar kau hamil, kau tidak boleh sembarangan minum obat!" Ken merasa sangat stres sehingga nada bicaranya sedikit tinggi.


DEG


Mata Suzy berkaca-kaca. Sepertinya sebentar lagi mendung dan turun hujan dari matanya.


"Oh tidak. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukai hatimu dengan ucapanku," Ken menyadari dirinya terlalu keras.


Suzy berdiri mematung dan air matanya pun mulai mengalir.


"Sayang, dengarkan aku. Jika kau tidak mau ke dokter, setidaknya periksalah sebentar menggunakan tes pack untuk melihat apakah kau benar-benar hamil. Ya? Aku mohon," Ken memegangi kedua lengan Suzy sambil menatapnya penuh arti.


Setelah cukup lama mendengar permohonan Ken, Suzy pun menerima alat tes tersebut dan pergi ke kamar mandi.


SRET


Di dalam kamar mandi, Suzy merasa bingung. Benarkah ia hamil? Jika ya, apa ia harus senang?


"Ya Tuhan... Benarkah? Benarkah aku hamil? Dan apakah itu bayi Ken?" gumamnya terus menerus.


"Sayang? Apa sudah selesai? Kenapa begitu lama?" Ken bertanya dari luar karena Suzy lama sekali keluar.


Dengan gugup, Suzy mencelupkan alat tersebut ke dalam air seni yang ia tampung. Kemudian ia menunggu beberapa menit untuk melihat hasilnya.


Dan setelah lima menit menunggu....


Bersambung......