
EPISODE 76
Malam itu, Ken duduk melamun memikirkan Suzy dan bayi dalam kandungannya. Tidak terasa, sudah lima bulan ia mendekam di dalam penjara. Rambut panjangnya yang pada saat datang ke penjara dicukur cepak dan sangat tipis pun sudah tumbuh kembali.
Menjalani masa hukuman selama 10 tahun? Itu tidaklah mudah. Bahkan baru lima bulan saja, hari-hari yang ia lalui terasa amat sunyi.
Jika dipikir-pikir, saat itu ia tidak sempat mengucapkan salam perpisahan dengan baik pada Suzy. Meski pada bulan-bulan pertama istrinya itu rutin menjenguk dirinya, namun pada akhirnya, beberapa bulan kemudian Suzy tidak lagi datang menjenguknya.
Dan dua bulan terakhir ini, setiap malam Ken merasakan resah dan gelisah. Jantungnya berdebar seakan merasakan sesuatu yang mendebarkan. Ia tidak bisa memejamkan mata barang semenit pun. Wajahnya yang pucat lesu pun semakin tampak tirus.
Diusapnya keringat yang membasahi wajah dan lehernya. Lagi-lagi ia tidak bisa tidur. Seakan ada sesuatu yang menyuruhnya untuk tetap terjaga.
Ada apa?
Apa ada yang terjadi?
Ternyata, jauh dari sana, Suzy sedang jatuh sakit. Ia terbaring di rumah sakit sudah dua bulan lamanya.
*Flashback on*
Ketika pengadilan memutuskan penahanan Ken, esok harinya Suzy dan keluarganya diusir dari tempat tinggal mereka.
Mereka mengontrak rumah semi permanen dengan dua kamar, ruang tamu, dapur serta kamar mandi yang masing-masing berjumlah satu.
Kondisi plafonnya pun sudah mengkhawatirkan. Mereka ingin menyewa rumah yang lebih baik, namun bagaimana? Mereka hanya bisa mengontrak rumah dengan harga yang murah.
Sebab, mereka harus menghemat simpanan uang mereka. Restoran ayam Suzy pun tidak ada pemasukan karena sepi pelanggan. Bahkan aksi brutal masyarakat kembali terulang.
Mereka merusak properti dan menghancurkan apapun yang ada di sana.
Lambat laun, restoran itu bangkrut dengan sendirinya.
Ketika Kenie menemui Suzy di rumahnya untuk menjenguk Kenzhi bersama-sama, ia begitu terkejut. Sebab rumah itu kosong dan berantakan. Begitu pula restoran ayam Suzy. Kondisi kedua tempat itu sama.
Kenie pun tidak tahu soal keberadaan Suzy dan keluarganya. Sepertinya ia benar-benar kehilangan jejak. Bahkan saat ia menghubungi nomor ponsel Suzy, nomor tersebut tidak tersambung.
"Astaga, sebenarnya ke mana mereka pergi?" keluh Kenie seraya mengulang panggilannya.
Ketika Kenie datang ke penjara dan bermaksud memberitahu Ken soal istri keluarganya, ada larangan baru untuk tahanan Ken. Yaitu, tidak boleh bertemu siapapun.
Sejak itu, Kenie tidak lagi berhubungan dengan Suzy.
**
Keluarga Suzy pun menggantungkan diri pada pendapatan toko mereka. Meski tidak ramai pelanggan, toko mereka masih ada pemasukan yang cukup.
Namun, siapa sangka. Tiga bulan masa Ken dipenjara, kesehatan Suzy semakin memburuk. Kandungannya yang lemah pun membuatnya tak sadarkan diri dan terpaksa dirawat di rumah sakit.
Oleh karena itu, mereka benar-benar membutuhkan uang banyak untuk pengobatan Suzy. Satu per satu benda-benda berharga di rumah pun terpaksa mereka jual. Seperti emas dan beberapa alat elektronik.
Dalam keterpurukan mereka, Nonaka beberapa kali meminta bercerai dari Akiyama. Ia tidak tahan harus hidup menyedihkan bersama keluarga suaminya. Terlebih lagi, sekarang ini keluarga suaminya tersebut harus mencari uang untuk biaya rumah sakit Suzy.
"Sayang, tolong mengertilah. Mereka keluargaku. Bagaimanapun kita harus membantu," seru Akiyama sambil meraih tangan Nonaka.
"Tapi mengapa kau yang harus bersusah payah mencari uang tambahan untuk biaya rumah sakit? Minta uang saja pada keluarga Ken. Bagaimanapun, mereka kaya, kan?!"
"Yaah,, Tapi aku rasa, tidak sopan meminta uang pada mereka. Meski Suzy adalah menantu mereka, tapi tetap saja. Kita adalah keluarganya. Sudah sepantasnya kita yang mengurus semuanya."
"Hissh! Pemikiran yang bodoh! Itu sebabnya kau tidak bisa mengumpulkan uang untuk diri sendiri. Apa kau tidak berpikir, Hari butuh uang lebih untuk sekolah?!"
"S soal itu, aku juga tahu. Tapi...."
"Sudahlah! Aku tidak tahan lagi hidup denganmu. Lebih baik ceraikan aku sekarang juga!" Nonaka menepis tangan Akiyama dengan kasar dan pergi begitu saja.
"Apa maksudmu? Tunggu! Tunggu, sayang!" teriak Akiyama.
*Flashback off*
•••••••••
Esok paginya, suara alarm tanda saatnya membersihkan diri dan berkumpul di aula terdengar memekakkan telinga. Ken yang tidak tidur semalaman menoleh ke arah pintu selnya yang digedor-gedor para sipir.
"Bangun!! Bagun!!"
Dikerjapkannya matanya dua kali. Ia yang sedang duduk bersandar di dinding bergerak dengan malas.
"Cepat, ayo keluar!" seru seorang sipir.
"Iya, iya. Tidak perlu berisik," jawab Kazuki sambil menggeliat dan turun dari ranjangnya.
Ia menyusul dan merangkul Ken yang berjalan di depannya. Mereka berdua berjalan beriringan bersama yang lainnya menuju tempat pemandian.
Di dalam penjara itu, tempat mereka mandi tidaklah seperti yang ada di rumah pada umumnya. Tidak ada sekat ataupun dinding yang memisahkan satu per satu ruangan. Hanya ada shower di atas kepala masing-masing dan wastafle panjang tempat meletakkan alat mandi.
Sehingga, bagaimanapun juga mereka harus membuang rasa malu ketika harus bertelanjang bulat di hadapan sesama tahanan dan terpaksa menikmati suasana itu.
"Hei, kau belum jawab pertanyaanku, kan? Tato nagamu itu. Apa ada filosofi di dalamnya?" Kazuki memperhatikan bagian perut bawah Ken sambil menggosok ketiaknya.
"Entahlah. Aku hanya iseng membuatnya."
Baru saja Ken selesai mengatakan itu, tiba-tiba saja sebuah sabun batang melayang dan mengenai kepalanya. Rupanya, seseorang sengaja melemparnya dengan kuat.
Ken menoleh dan melihat ketua geng botak berdiri di seberang sambil menyeringai padanya bersama para anak buahnya yang tengah menertawakannya. Awalnya ia tidak menggubris perbuatan mereka.
"Ck Ck Ck,, Filosofi? Tato naga dan samurainya itu pasti hanya untuk menutupi ukuran burungmu yang kecil," ledek ketua botak sambil cengengesan bersama anak buahnya.
Ken mengacuhkan ucapan geng botak tersebut dengan tetap menyabuni badannya. Sebab ia tidak ingin membuat gara-gara untuk kesekian kalinya.
Kazuki memperhatikan Ken sambil meliriknya tipis-tipis. Ia tahu bahwa pria itu sedang berusaha menahan dirinya. Namun, ketika ledekan mereka mulai menyangkut urusan pribadi, Ken tidak bisa diam.
"Wanita mana yang mau mencicipi burung gereja kecil seperti itu jika dia bukan perawan tua yang tidak laku! Haha!"
"Siapa yang kau maksud burung gereja?"
"Entahlah. Mengapa kau kemari? Apa kau merasa burung gereja itu punyamu? Haha."
Ketua botak dan anak buahnya tertawa cekikikan sampai terpingkal-pingkal, mereka terang-terangan meledek Ken.
"Baiklah. Jika milikku adalah burung gereja, lalu apa punyamu?" Ken hendak memberi pelajaran.
"Punyaku? Tentu saja burung Albatros. Besar dan panjang. Hanya gadis-gadis muda yang menginginkannya."
"Coba buktikan padaku."
"Apa?"
"Buktikan kalau burungmu itu burung Albatros dan hanya gadis muda yang menginginkannya. Jika tidak terbukti, aku akan mematahkannya menjadi dua. Begitu pun sebaliknya," kata Ken tegas.
"Khah.. Apa kau serius?"
"Hmm."
"Baiklah. Aku pegang ucapanmu. Kita lihat apa kau tetap berlagak setelah aku mengalahkanmu dalam hal ini," jawab ketua botak percaya diri.
"Tentu saja. Mari buktikan sekarang."
GLEK!
Ketua botak merasa salah strategi. Namun ia juga harus melakukannya karena penasaran dan berharap Ken kalah. Dengan begitu ia akan mematahkan burung milik Ken seperti apa yang dikatakannya.
Mendengar tantangan yang diberikan Ken pada ketua botak, semua tahanan yang sedang mandi pun berkerumun untuk menonton pertarungan kali ini.
Satu menit kemudian, keduanya berlomba mengocok burung mereka masing-masing untuk mendapatkan hasil yang besar dan panjang. Suara suporter yang berdiri di sekitar mereka pun terdengar nyaring membuat suasana semakin panas dan berkeringat.
Kazuki tersenyum tidak percaya dengan apa yang dipertaruhkan Ken. Meski cara itu sedikit konyol, namun taruhannya tidak main-main. Salah satu burung mereka akan dipatahkan!
"Aah,, aaah,,,"
Hasil kocokan sudah mulai terlihat. Ken pun menyudahi gerakan tangannya dan meminta ketua botak melakukan hal yang sama. Kedua pria yang bertaruh itu sampai berkeringat dengan otot-otot tubuh mereka yang timbul.
Para tahanan mulai melempar pendapatnya masing-masing saat menyaksikan burung ketua botak tidak bisa berdiri tegak dan ternyata hanya seekor burung gereja. Berbeda dengan milik Ken yang mampu berubah ukuran dan berdiri menantang.
Kazuki pun dengan cepat menjadikan dirinya wasit, "Baiklah semua. Karena kita sudah lihat siapa yang ternyata memiliki burung Albatros, bukankah itu artinya kita memiliki juaranya?"
"Benar!!" jawab semuanya.
Ketua botak menelan ludah. Ia kalah telak. Tanpa disangka, milik Ken lebih jantan dari miliknya. Namun jika boleh memilih, ia tidak bisa menerima hukuman taruhannya.
"Dialah pemenangnya!" Kazuki mengangkat tangan Ken tinggi-tinggi.
"YEAAH!!!"
Semuanya riuh.
"Patahkan!"
"Patahkan!"
"Patahkan!"
Para suporter menginginkan hukuman yang sudah disepakati.
Tetapi.
Ketua botak melarikan diri pada seruan ke tiga para suporter. Ia menerjang dan mendorong tahanan lain dan berlarian ke sana kemari. Melihat ketua botak lari darinya, Ken tidak memberinya kesempatan. Dikejarnya pria itu sampai dapat.
Di dalam kamar pemandian itu, mereka berlarian dengan sorakan dari penonton. Para sipir yang sedari tadi ada di sana juga hanya menonton pertarungan seru tersebut. Pikir mereka, hiburan seru seperti itu jarang-jarang mereka lihat.
SRAK!
Ken mendapatkan ketua botak dan membantingnya ke lantai. Mereka bergumul dan saling pukul hingga berdarah.
"Asal kau tahu! Bukan perawan tua yang menginginkannya! Dia gadis muda! Cantik! Dan segala yang ada padanya, sangat berarti untukku!!" Ken meninju wajah ketua botak berulang kali tanpa ampun.
Pada saat yang tepat, Ken meraih burung ketua botak dan mematahkannya. Teriakan ngilu pria itu pun terdengar menyayat telinga. Membuat semua pria yang menyaksikan kejadian itu cepat-cepat meneguk ludah.
•••••••••
Atas peristiwa tersebut, ketua botak dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan serius. Sedang Ken, mendapat hukuman seperti biasa di sel isolasi. Namun kali ini ia merasa amat senang mendapatkannya.
Ketika akhirnya ia dikembalikan ke dalam selnya, ia pun tergelak penuh kemenangan.
"Kau gila!" kata Kazuki.
Setelah puas tertawa, Ken berhenti dan kini justru menangis. Kazuki yang melihat itu mengernyitkan dahinya karena heran.
"Issh. Dasar gila," gerutunya. "Ini, pakai bajumu," lanjutnya menyodorkan pakaian ganti pada Ken.
Setelah mengusap wajah dan air matanya, Ken menerima pakaian tersebut dan mengenakannya dengan cepat.
"Kenapa?"
Ken diam.
"Apa yang kau maksud tadi adalah istrimu?" Kazuki penasaran dan bertanya dengan hati-hati.
Ken mengangguk.
"Ooohhh.. Pantas saja,,," gumam Kazuki lirih sambil melirik pria gila yang satu sel dengannya.
Bersambung......