RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
MR. K



EPISODE 131


Pada akhirnya, di dalam kamar yang sama, Ken tidur di lantai menemani kedua gadis yang ketakutan karena terbayang film yang mereka tonton.


"Haiih. Apa aku ini petugas keamanan? Kenapa aku harus menemani kalian tidur di sini, heh?" gerutunya.


"Diamlah. Aku tidak bisa tidur karena kau terus mengoceh," kata Ayumi sambil merem.


Ken langsung duduk dan memelototi Ayumi yang tidur, "Kau ini. Mau aku tinggal saja?"


"T tidak, jangan! Hehe,, Iya iya,, kau mau kembali ke kamarmu?" Ayumi melirik Yuna yang sudah tidur.


Melihat Yuna yang sudah tidur, Ken pun mendengus pelan, "Hmm. Sepertinya aku harus kembali ke kamarku."


Ketika Ken hendak bangun, Ayumi memberikan pertanyaan yang cukup pribadi.


"Ken, apa kau serius menjalin hubungan dengannya? Lalu kapan kalian mulai berpacaran?" tanyanya sembari duduk.


"Heh? Em, itu.. Yaah. Baru-baru ini saja kami berpacaran," jawab Ken kembali duduk. "Kenapa? Apa kau tidak suka padanya?" lanjutnya.


"Dia tipe yang ceria dan agresif, ya?" Ayumi menatap Ken tajam.


"Hmm. Dia hampir sama seperti Suzy."


"Jika aku boleh menebak, kalian sudah pernah melakukannya kan?"


"Apa yang kau maksud.."


"Tentunya, kau tahu sendiri apa maksudku. Jadi benar bukan, apa yang aku pikirkan?"


Ken menundukkan kepala dan diam seribu bahasa. Ia tidak menyangka, gadis kecil yang dulu pernah menginginkannya jadi pacar itu sudah mengerti tentang hal seperti itu.


Yaah. Tentu saja. Usia Ayumi juga sudah dua puluh tiga tahun. Banyak di lingkungan kampusnya yang membicarakan hal semacam itu tanpa malu-malu. Bahkan temannya sendiri pun selalu berbagi cerita dan tips untuk menghadapi seorang pria kala berduaan di sebuah kamar.


"Ya. Itu benar," jawab Ken seraya mengangkat wajahnya menatap Ayumi.


GLEK


Ayumi merasa cemburu. Loh? Kok bisa? Bukankah dia adik Ken?


Sebenarnya sejak Ayumi bertemu Ken di depan rumah kala itu dan masih berusia sepuluh tahunan, perasaan sukanya pada Mr. K masih ada.


Siapa yang menyangka bahwa pertemuannya dulu dengan Ken, menjadikan Mr. K sebagai cinta pertamanya. Hanya karena keadaan, ia pun harus menerima Ken sebagai saudara seibu.


Bahkan sebab itu pula, ia menutup hatinya untuk para lelaki di luaran sana. Teman-temannya pun heran, mengapa seorang Ayumi tidak pernah mau pergi berkencan dengan seseorang.


"Tapi jujur. Aku salut juga padanya. Bahkan nona Linzhi saja tidak bisa menggerakkan hatimu. Tapi dia bisa," kata Ayumi.


"Itulah manusia. Kita tidak tahu kapan seseorang akan menyentuh hatimu. Bagaimana caranya. Dengan apa dan siapa. Kita hanya bisa mengikuti takdir dan perasaan."


Ken mengangkat kedua tangannya ke atas kepala dan menerawang langit-langit kamar. Dari tempat tidur, Ayumi diam dan memperhatikannya dengan tatapan yang ia miliki sejak dulu.


Berkat perkara malam ini, ia bisa tidur di kamar yang sama dengan Mr. K. Dengan begitu ia juga bisa memandanginya lama-lama. Mungkin jika dilihat dari status mereka itu tidaklah benar. Tapi tidak mudah menerima orang yang ia sukai menjadi saudara secara tiba-tiba. Dan itu masih berlanjut sampai sekarang.


"Ken.."


Hening.


"Kau sudah tidur?"


Hening.


SRET


Ayumi turun dari tempat tidur dan mendekati Ken. Saat itu pula ia melihat Mr. K yang tengah terlelap dengan tenang. Bibirnya sedikit terbuka dan memperlihatkan dua gigi atas bagian depan.


Tanpa mengeluarkan suara, Ayumi duduk di dekat Ken dan terus memandangi wajah Mr. K yang masih sama sejak mereka bertemu pertama kali. Hanya sekarang, wajah itu tampak sedikit tirus. Mungkin karena beban hidup yang menggerus kebahagiaannya.


Tiba-tiba saja Ayumi memberanikan diri menyentuh wajah Ken. Dibelainya pelan rambut Ken lalu turun ke pipi.


"Seandainya aku bukan saudaramu, apakah aku juga bisa menempati posisi Yuna?" gumamnya lirih.


Pandangan Ayumi perlahan merambat. Dari bagian wajah, bibir lalu turun ke bagian yang menggunduk di balik selimut. Cukup lama tatapannya berhenti di sana.


Dan dengan nekatnya, ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh gundukan tersebut. Entah mengapa ia seperti itu, Ayumi juga tidak tahu. Ia hanya mempunyai keinginan kuat untuk melakukannya, itu saja.


Setelah berhasil meletakkan tangannya di sana dan Ken juga tidak bangun, Ayumi pun merasakan ada sesuatu di dalam dirinya yang bergejolak. Sebab ia dapat merasakan keberadaan dan ukuran benda itu.


Ditelannya ludah beberapa kali saat ia mulai merasa kepanasan. Dengan buru-buru ia menarik kembali tangannya. Ini gila! Benar-benar gila!


Jantung Ayumi berdegup kencang. Apalagi saat matanya kembali menatap bibir Ken. Pikiran yang gila membisikkan sesuatu padanya agar melakukan satu hal yang belum pernah ia lakukan dengan siapa pun. Cium bibirnya! Kapan lagi kesempatan datang!


DEG


Ayumi menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia berusaha menahan keinginan gilanya itu. Namun beberapa detik kemudian, ia menyerah pada bisikan. Dipagutnya bibir saudara laki-lakinya itu dengan amat pelan.


"Ah? Inikah yang mereka rasakan? Lembut dan hangat?" serunya dalam hati merujuk pada Yuna dan Suzy.


••••••••


Esok paginya, Ken membuka mata setelah semalam mengantuk berat. Ia menggosok matanya dan menggeliat sebelum menyadari bahwa Yuna dan Ayumi sudah tidak ada di kamar tersebut.


Ketika akhirnya ia tahu kamar tersebut sudah kosong, Ken pun turun ke bawah dan menemukan dua gadis itu sedang membantu Kenie menyiapkan sarapan.


"Ya. Apa kalian semua bangun pagi-pagi sekali?"


"Iya. Hanya Kau yang bangunnya siang. Apa kau sedang memimpikan sesuatu?" kata Ayumi mengecek sesuatu.


"Mimpi? Tidak. Aku tidak bermimpi. Hanya saja...." Ken seperti ingat sesuatu.


"Hanya saja apa?" Ayumi bicara dalam hati.


"Aku merasa melihat seseorang semalam. Tapi aah,, lupakan."


Ken mengusap kepala belakangnya dan melirik pada Yuna.


"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Ken.


"Hmm. Sangat nyenyak."


Yuna dan Ken saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain. Ayumi melihat itu dan menatap mereka dengan lirikan matanya yang beralih dari Ken ke Yuna, kemudian kembali lagi pada Ken.


Saat Ken menyadari tatapan Ayumi padanya, Ken berdehem dan mengalihkan pembicaraan, "Ehemm. Apa ayah sudah bangun?"


"Dia sedang membaca koran di halaman samping," jawab Ayumi cepat.


"Benarkah?" Ken beranjak menghampiri ayahnya.


Sampai di halaman samping rumah tersebut, Ken menyapa ayahnya yang sedang menyeruput kopi.


"Apa tidur ayah nyenyak, semalam?"


Tuan Hide menoleh dan tersenyum, "Ya. Cukup nyenyak untuk kesibukan akhir-akhir ini."


"Syukurlah jika begitu," Ken menerawang langit pagi yang cerah dan membentuk lukisan alam dengan awan. Kemudian, ia mengomentarinya. "Waah, langitnya begitu cerah. Sepertinya hari ini akan dipenuhi kebaikan."


Tuan Hide pun ikut menerawang ke atas langit.


"Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan pembangunan rumah sakit di Shibuya?"


"Hmm. Sekarang sudah delapan puluh persen jadi. Peralatan kesehatan pun sudah siap. Tinggal menjaring para pekerja untuk ditempatkan di sana dengan membuka lowongan pekerjaan. Apa kau mau mencoba menghandle tugas di sana?"


"Apa? Ah, tidak. Aku merasa tidak sanggup melakukannya."


"Kenapa? Apa kau tidak percaya diri karena tidak lulus SMA??"


"Eh? Apa ibu pernah mengatakannya?" Ken menoleh cepat pada ayah tirinya.


Sambil mengangguk, tuan Hideaki melanjutkan ucapannya, "Itu tidak masalah. Kau bisa bekerja sambil belajar mengenai dunia bisnis. Ada tuan Kogoro yang akan membimbingmu dalam menangani pekerjaan."


"Tuan Kogoro? S siapa dia?"


"Asistenku."


Tepat saat itu, panggilan dari para wanita pun datang karena sarapan sudah siap. Maka dengan segera mereka menyarap sebelum pergi dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Dan karena Ken sudah berjanji pada Kenie akan membawanya ke rumah sakit untuk menjenguk Suya, maka setelah tuan Hide pergi ke kantor, mereka pun bersama-sama berangkat ke rumah sakit tempat Suya dirawat.


Sesampainya di rumah sakit Han'ei, mereka bergegas menuju kamar inap Suya. Tampak seorang wanita tua yang tengah mengelap tangan cucunya yang masih koma itu dengan washlap basah.


Ken masuk lebih dulu dan menyapa ibu mertuanya. Namun penerimaan yang ia dapat tidaklah baik. Ia didorong dengan kasar oleh ibu dari Suzy itu hingga terdorong ke belakang beberapa langkah.


"Sudah kukatakan, pergi dan jangan kembali! Untuk apa kau datang kemari lagi!"


Ken diam mematung dan terus memandangi Suya. Ia begitu ingin memeluk putranya.


"Selamat pagi, nyonya?" Kenie yang melihat putranya diperlakukan kasar seperti itu pun menyela dan mencoba menyapa besannya lebih dulu.


"Kau?" nenek Tama melihat mertuanya Suzy lagi. Sejak pemakaman putrinya waktu itu, ia belum pernah bertemu dengannya lagi.


"Apa kau masih membenci putraku? Dia memang bersalah telah meninggalkan putrimu yang sedang hamil besar karena masuk penjara. Tapi kau tahu sendiri, nyonya. Bahwa akhirnya pelaku kasus itu bukanlah dirinya. Dan juga, putraku tidak berkaitan dengan kematian menantu dalam kecelakaan waktu itu. Jadi, tidak bisakah kau memaafkannya?" Kenie meraih tangan nenek Tama dan bicara lemah lembut dengan tulus.


Nenek Tama terlihat sedih. Ia menangis dan menjatuhkan diri di lantai karena merasa bahwa perkataan wanita yang ada di hadapannya memang benar. Entah mengapa ia bisa begitu membenci menantunya yang bahkan diam-diam mendonorkan hati untuk putrinya. Bahkan ia juga tahu bahwa Ken lah yang membayar semua biaya rumah sakit Suzy dulu.


Lalu apa yang ia benci dari Ken?


Rupanya, masa lalu Ken sebagai pembunuhlah yang membuat nenek Tama merasa kehidupan putrinya menjadi hancur setelah Ken menikahinya.


Karena suasana sudah seperti itu, Ken pun melangkah pelan mendekati mertuanya dan bersimpuh di hadapannya.


"Aku tulus meminta maaf padamu, ibu. Tolong maafkan aku. Aku akan melakukan apapun untuk membuat Suya bangun dan hidup kembali. Sekalipun aku harus memberikan jantungku padanya aku akan melakukannya," Ken bicara sungguh-sungguh.


Baik nenek Tama, Kenie, Ayumi maupun Yuna terkejut mendengar ucapan dari mulut Ken. Memberikan jantungnya? Bukankah itu sama saja bunuh diri?


"Oh tidak, jangan lakukan itu, Ken," Yuna bicara lirih dan sedih pada diri sendiri.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.....