
EPISODE 128
Setelah seharian kemarin hujan badai mengguyur daerah tempat tinggal mereka, hari ini Ken bekerja bakti membersihkan lumpur yang mengotori halaman rumahnya.
Di halaman samping rumah pun, beberapa tanaman dan pohon tampak rusak dengan dahan dan ranting yang patah memenuhi tempat.
SREK
SREK
SREK
Ken tampak sedang menyapu dedaunan yang gugur akibat dihempas badai kemarin menggunakan sapu lidi. Sesekali ia memindahkan dahan-dahan patah ke pinggiran halaman untuk ia bakar nanti jika sudah kering.
Tiba-tiba Yuna datang dari luar sambil menggendong kelinci.
"Lihat, Ken! Malam ini kita akan makan daging kelinci!" serunya saat memasuki halaman dan membuat kaget.
"Astaga, kaget aku!" Ken kaget dan memegangi dadanya. "Kau? Kenapa bisa datang dari sana? Sejak kapan kau keluar dari rumah?" tanyanya lanjut.
"Saat kau mulai sibuk membersihkan dahan dan ranting kayu yang patah, mungkin?" senyum Yuna sembari mengusap lembut bulu kelinci. Ia juga memonyongkan bibirnya seakan mau mencium si kelinci yang ada dalam gendongannya.
"Kenapa aku sampai tidak menyadari kau keluar rumah?" gumam Ken sambil menggaruk kepalanya.
"Sudahlah. Jangan terlalu lama heran. Eh? Apa kau sudah selesai dengan itu? Bagaimana kalau kita masak sekarang? Di luar sepertinya juga seru. Banyak ranting kayu,, kita bisa membuat Yakiniku kelinci!" Yuna mengangkat kelincinya tinggi-tinggi.
Tepat setelah Yuna mengatakan soal masakan daging bakar dari daging kelinci, kelinci yang ada di tangan Yuna itu tiba-tiba melompat turun dan melarikan diri seakan ia tahu bahwa sebentar lagi hidupnya akan berakhir menjadi Yakiniku kelinci.
"Eeiih!!! Kelincinya lari! Cepat tangkap dia, Ken!!" pekik Yuna terkejut.
Melihat kelinci itu melompat-lompat di halaman rumahnya, Ken segera menutup pintu gerbang dan mencoba menangkapnya dengan tangan kosong.
HAP!
Ken menubruk kelinci yang ada di dekatnya. Namun sayang, kelinci itu ternyata tidak kena. Kemudian ia mencoba lagi untuk menangkapnya, namun ia justru tersungkur di atas rerumputan.
"Itu, Ken! Dia di sana!" Yuna yang ikut menghadang berteriak memberi arahan saat kelinci berbulu putih coklat itu berlari di belakang Ken.
"Di mana?"
"Di belakangmu!"
Ken berbalik dan melihat kelinci itu sedang menikmati rumput di dekatnya. Dengan pelan, ia berjongkok untuk membuat situasi tenang.
"Apa sebaiknya kita biarkan dia makan terlebih dahulu?"
Tanyanya seraya menatap tajam ke arah kelinci.
"Untuk apa? Itu hanya akan menambah kotoran dalam perutnya. Bukankah kita akan memasaknya sekarang?" kata Yuna.
"Benar juga."
Yuna bergerak dan melangkah maju dengan perlahan. Ia bahkan menggunakan ilmu meringankan tubuh saat mendekati si kelinci. Begitu dekat dengan binatang tersebut, Yuna langsung melompat dan menubruknya.
"Aku dapat!!" teriaknya saat memegangi kelinci.
Namun sayang, saking senangnya dia, Yuna kurang kencang dalam memeganginya hingga si kelinci dapat melarikan diri kembali.
"Aaaisshhh!! Sialnya!" umpat Yuna kesal sambil merebahkan diri di atas rumput.
"Psst! Diamlah. Dia sedang mendekatimu, Yuna. Aku akan menangkapnya."
Sialnya, Ken yang merindik mendekati si kelinci itu justru terpeleset karena dedaunan basah yang licin hingga ia jatuh terjengkang ke belakang.
"Wooaaakhh!!" pekik Ken.
Yuna yang melihat Ken jatuh terjengkang malahan tertawa cekikikan. Tentu saja, berkat hal itu Ken yang baru saja jatuh pun ikut menertawakan dirinya sendiri.
"Astaga! Hahaha," gumamnya sambil terkekeh.
"Ayo, Ken. Semangaat!" seru Yuna sambil tidak henti-hentinya menertawakan Ken.
"Tidak! Kita lepaskan saja kelinci itu."
•••••
KRETEK
KRETEK
Suara bunga api terdengar saat Yuna meletakkan tusukan daging kelinci yang baru saja dipotong-potong oleh Ken.
Asap pembakaran mengepul di udara menyebarkan aroma lezat Bakaran daging. Karena Yuna sangat menyukai daging, apapun jenis dagingnya selalu membuatnya ngiler.
"Hmmm,, aromanya lezat sekali."
"Kau sudah lapar?"
"He-em. Perutku terasa keroncongan karena aroma daging kelinci ini," Yuna menggigit sumpitnya sambil memperhatikan Ken yang sedang membolak-balik daging bakarnya.
Jika biasanya Yakitori terbuat dari daging ayam, kali ini mereka menggantinya dengan daging kelinci.
"Nah, kemarikan piringmu," perintah Ken.
"Siap!" Yuna amat bersemangat.
Disodorkannya piring makannya untuk mendapatkan yakitori kelinci nan lezat. Mereka mencampurnya dengan tomat dan brokoli sebagai sayurnya.
"Makanlah yang banyak," Ken meletakkan lima tusuk daging kelinci ke piring Yuna.
"Terima kasih, sayangku," ucap Yuna.
Ken tertawa geli.
"Kenapa tertawa?"
"Tidak apa. Hanya saja, mendengarmu memanggilku seperti itu rasanya menggelikan," kata Ken terus terang.
"Heh?" Yuna melotot sambil menikmati satenya.
"Sebenarnya, kau seumuran dengan keponakanku," jawab Ken tersenyum simpul.
"Sekitar dua tigaan."
"Wiihh, kalau begitu benar. Kami seumuran."
"Kalau begitu, apa kau masih ingin lanjut hidup denganku?" Ken melirik Yuna tipis-tipis.
"Jarak usia kita tujuh belas tahun jauhnya."
"Benarkah tujuh belasan? Waah, cukup menggelikan juga. Aku juga tidak mengerti, mengapa aku jatuh cinta pada paman tua sepertimu," ejek Yuna.
"Uhuk! Kau jujur sekali," Ken tertawa mendengar cara Yuna menggambarkan dirinya. Ia mengusap kepala bagian belakangnya.
Memang benar, Yuna tidak tahu mengapa dirinya bisa jatuh cinta pada pria yang usianya jauh berbeda. Namun siapa yang bisa melihat jarak usia mereka? Jika ia sendiri memandang paman yang usianya terpaut jauh berbeda dengannya itu masih tampak muda dan tampan.
Tiba-tiba, Yuna melompat memeluk tubuh Ken. Ia tertawa seraya mendongakkan kepala menatap wajah prianya dari bawah.
"Sepertinya baru kemarin kau mencukur kumis, ini sudah mau tumbuh lagi..." kata Yuna meraba dagu dan bagian atas bibir Ken dengan jari telunjuknya.
"Apa harus aku cukur lagi? Kau selalu kegelian saat aku menciumimu," Ken reflek ikut mengusap bagian dagunya.
"Tidak perlu sekarang, nanti saja."
••••••
Linzhi membuka jendela kamarnya dan menatap keluar memandang langit. Ia menerawang ke atas awan merindukan orang tersayang.
Uwaaa...
Uwwaaaa....
Terdengar suara tangis bayi. Ah! Apakah ia sudah melahirkan bayinya?
Benar. Sejak ia meninggalkan rumah Ken waktu itu dengan hati yang luka, ia memutuskan untuk pergi ke Paris seorang diri. Dimana negara itu dijuluki sebagai negeri pusat mode. Di sana, ia sekolah lagi di sekolah desain milik Pierre Balmain.
Setelah beberapa bulan menekuni sekolahnya, ia pun melahirkan di negri tersebut. Seorang diri di perantauan, ia benar-benar belajar untuk mandiri.
"Sayang, sayang, sayang... Sudah bangun, ya cantiknya mama?" Linzhi menciumi putrinya yang bergerak aktif menendang ranjang tidurnya.
Balita cantik menggemaskan itu tersenyum manis begitu ibunya mengangkat tubuhnya yang mungil. Hari itu, genap tiga bulan usianya. Jika diperhatikan, ada wajah Ken di wajah anak tersebut.
"Sayang,, Kau mengingatkan mama pada sosok papamu."
Linzhi mengusap air matanya yang menggenang di sudut mata. Ia benar-benar merindukan pelukan pria itu. Sudah hampir setahun ia tidak bertemu dengannya. Bagaimana kira-kira kabarnya?
Linzhi menggendong putrinya dan mengajaknya berjalan-jalan di depan apartemennya. Pada saat itu, seorang wanita lima puluhan bernama Maria datang dengan gembira. Rupanya, wanita itu adalah ibu baptis putrinya.
"Aami cantik, kau sudah bangun, nak?" sapa Maria pada bayi kecil itu.
Seakan sudah mengerti bahwa dirinya bernama Aami, Aami pun tersenyum lebar menyambut Maria ibu baptisnya.
"Uunncch,, Menggemaskan sekali," ucap Maria mengambil alih Aami dari gendongan Linzhi.
"Apa kau mau berangkat sekarang?" lanjutnya.
"Iya. Tolong jaga Aami ya mama," begitu panggilannya pada ibu babtis putrinya.
"Tentu saja, dengan senang hati," Maria menciumi Alami dengan kasih sayang.
Di sanalah, putri Ken yang bernama Aami Kenzhiwara telah lahir dan dirawat oleh seorang ibu tunggal yang dibantu suster wanita dari gereja.
Linzhi sengaja memasukkan nama Ken ke dalam nama putrinya untuk mengenang keberadaannya yang jauh di mata dekat di hatinya.
Maria membawa Aami masuk kembali ke dalam rumah dan membacakan buku cerita untuknya. Lucunya, pada saat suster Maria tengah membacakan cerita dengan gambar anak kecil yang sedang bergandengan tangan dengan ayahnya, bayi itu menepuk-nepuk buku bacaannya sambil tersenyum cerah.
"Ada apa sayang? Kau ingin bertemu dengan papamu? Aaah.. Manis sekali,, Semoga jauh disana, papamu sedang merindukanmu, sayang."
"Papappppapaap,,,"
Maria terkejut. Tanpa sengaja, bayi kecil itu mengeluarkan bunyi mulut yang menyerupai panggilan untuk papanya. Maka diciumnya anak baptisnya tersebut sambil berdoa.
••••••
Ken yang sedang berganti pakaian, tiba-tiba saja merasakan hatinya pilu sepilu-pilunya. Degup jantungnya pun mendadak penuh getaran hingga membuatnya lemas.
Maka, ia terduduk di pojokan lantai sambil memegangi dadanya.
"Aaahh,, Apa yang terjadi? Kenapa jantungku tiba-tiba terasa sesak seperti ini?" pikirnya sambil separuh memejamkan mata.
Disandarkannya kepalanya ke dinding saat merasakan tubuhnya yang lemas seakan tak bertulang.
"Oh Astaga! Kau sedang apa di sana?" Yuna terkejut melihat Ken duduk di pojokan saat dirinya keluar dari kamar mandi.
"Yuna...."
"Ya?"
"Bisa bantu aku bangun?"
"A apa? Kau kenapa?"
"Entahlah. Tolong bantu aku bangun dulu. Badanku terasa lemas tidak bertenaga."
Yuna akhirnya menolong Ken untuk berdiri dan membawanya ke tempat tidur.
"Aah, terima kasih."
.
.
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejakmu ya,,
Dengan Like,, like like like like like like 🤗
BERSAMBUNG...