
EPISODE 16
Ken ditahan di penjara akibat pembunuhan disengaja yang ia lakukan. Meski ia membunuh seorang perampok, tetapi tetap saja ia mempunyai kasus sendiri dalam pembunuhannya. Perampok yang selamat pun juga ditahan. Namun dengan kasus yang tidak terlalu berat.
Begitu masuk penjara, Ken di bawa masuk ke ruang interogasi dan mulai melalui beberapa tes pemeriksaan fisik. Ia ditelanjangi dan diperiksa sedemikian rupa oleh petugas di sana. Bahkan polisi mengambil gambarnya beberapa kali sebagai bahan bukti laporan.
Setelah itu, ia mendapat pengobatan atas beberapa luka tusuknya dan mendapat seragam tahanan. Beberapa jam kemudian, tuan Kido datang untuk menjenguknya.
"Dasar berandal. Apa kau akan terus bertingkah sok jagoan dan melibatkan diri di dalam penjara?!" katanya dari seberang meja.
Ken hanya diam menunduk.
"Jika kau ingin menangkap perampok, kenapa harus membunuhnya juga? Kau tahu bukan, pasal pembunuhan itu mempunyai masa hukuman lebih dari delapan tahun. Apa kau senang bisa mendapat semua itu?"
Ken masih diam saja.
"Ibumu, membesarkanmu dengan penuh kasih sayang dan mempercayakanmu padaku agar aku menyekolahkanmu dengan baik di kota. Tapi apa yang terjadi di sini? Belum selesai masa hukuman skorsmu, kau sudah memiliki kasus baru. Pembunuhan pula."
Ken tetap diam dan merasa muak.
"Takutnya, kau terancam hukuman sepuluh tahun penjara. Apa kau benar-benar puas dengan itu?? Maka masa depanmu akan berantakan dan suram!" tuan Kido mengetuk-ngetuk meja.
"Apa tuan sudah selesai?" kata Ken.
"Apa??"
"Jika tidak mau membantu mengeluarkanku dari penjara, maka kau tidak perlu bersusah payah melakukannya. Tenang saja, tuan. Aku sudah pernah dipenjara selama satu tahun. Jadi sepuluh tahun masa hukuman akan mudah bagiku," ucap Ken datar.
GRETEK!
Ken mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. Dengan tangan diborgol, tidak lupa pula ia memberi hormat pada ayahnya dengan membungkukkan setengah badan.
"Terima kasih sudah datang hari ini. Lain kali kau tidak perlu repot."
"A anak ini,,,"
Ken berbalik dan pergi meninggalkan tuan Kido yang kesal. Selang beberapa jam kemudian, datanglah Suzy menemuinya. Gadis itu benar-benar khawatir dan merasa bersalah. Ia buru-buru datang dari rumah sakit.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ken.
"Apa-apaan kau ini. Aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu," jawab Suzy.
Ken diam.
"Terima kasih sudah datang. Tapi lain kali, sebaiknya jangan kemari lagi."
"Ada apa denganmu? Tentu saja aku akan datang beberapa kali kemari. Kau mengalami masalah ini karena menyelamatkan kami dari perampok. Bagaimana bisa kau menyuruhku berpura-bura buta menghadapi semua ini??"
Ken mendengus.
"Bagaimanapun, kau tunggu saja. Aku akan berusaha membuatmu bebas secepat mungkin," Suzy tersenyum.
•••••••
Beberapa hari kemudian, setelah menjalani beberapa kali persidangan. Akhirnya masa hukuman Ken ditetapkan. Ia dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara. Meski Suzy mengajukan banding, tetapi bukti kesalahan Ken yang pasti tidak bisa merubah apapun.
Maka, dimulailah hari-hari di mana Ken menjalani masa hukumannya. Beberapa bulan menjadi tahanan sebagai pembunuh, Ken dipindahkan ke sel khusus tempat para pelaku kejahatan dengan masa hukuman lebih dari delapan tahun.
Malam itu, ketika baru pindah dari penjara sebelumnya. Ken masuk ke dalam sel tahanannya yang baru. Ia berbagi ruangan dengan pria botak yang mendapat masa hukuman seumur hidup. Rupanya, pria itu tega membunuh kekasihnya sendiri yang meminta pertanggung jawaban atas kehamilannya.
"Selamat datang menuju sepuluh tahun ke depan," katanya sambil menyeringai.
Ken hanya memperhatikannya. Kemudian ia berjalan pelan menuju pembaringannya. Ranjang susun yang terbuat dari besi itu tampak sudah berkarat.
Baru saja ia hendak duduk di ranjangnya, pria botak yang berbadan kekar itu menarik kerah bajunya dari samping dan menyeret Ken ke dinding yang ada cerminnya.
Dengan kasar, pria botak itu memiting tangan Ken ke belakang lalu menekan kuat kepala Ken di cermin hingga bibirnya terbuka. Kemudian dengan cepat dimasukkannya rokok yang sedang menyala itu ke dalam mulut Ken.
Astaga! Ken merasa lidahnya terbakar. Dengan cepat ia menepis tangan pria botak itu dan meludahkan rokok yang ada di dalam mulutnya.
"Jangan lakukan itu. Aku tidak ingin berkelahi di sini," kata Ken tegas.
"Hahaha. Kau punya nyali juga rupanya."
Si botak yang bernama Saga itu pun menekan punggung Ken ke dinding, lalu menggeledah pakaiannya dari belakang dan tiba-tiba saja meremas bagian menonjol yang terhimpit dinding.
"Apa yang kau lakukan!" pekik Ken.
Ken diseret ke ranjangnya dan dipaksa menungging. Rupanya ia masuk ke sel di mana seorang pria yang sudah bertahun-tahun diam menahan hasrat.
Karena Saga menekan luka bekas tancapan kapak di punggung dekat pundaknya, tangan kanan Ken kembali merasa nyeri dan terkulai lemah. Ototnya tidak berfungsi dengan baik meski sudah ia paksakan. Bahkan jahitan di luka itu kembali terbuka dan mengeluarkan darah.
"Sssh aah. Singkirkan tanganmu dari sana.." Ken berkata menahan nyeri.
Tapi Saga tidak mempedulikan ucapan itu. Ia justru memelorotkan paksa celana Ken. Bahkan, pria botak itu terus saja mengocok bagian menonjol dan panjang milik Ken yang mulai menegang akibat dimainkan olehnya.
"Aah, diam dan nikmati saja," kata Saga.
"Aaaarrghh!!"
Ken mendongak kesakitan karena menerima serangan mengejutkan seperti itu. Semakin Ken melawan, semakin kuat pula dorongan Saga.
•••••••••
Krik Krik Krik!
Suara jangkrik mewakili perasaan Ken malam itu. Begitu sunyi dan mencekam. Ia berbaring di ranjangnya dengan tangan yang terus mengepal karena menyimpan kebencian.
"Hey kau. Bagaimana rasanya? Nikmat bukan? Aaaah. Sudah lama aku tidak melakukan itu dengan wanita manapun. Hari ini kau mengobati kerinduan yang ku rasakan dan membuatku sangat puas. Lain kali kita lakukan itu lagi. Oke?" Saga berbicara pada Ken dari ranjang atas sambil tertawa-tawa.
Ken tidak menjawab. Ia memijit-mijit tangannya yang sempat lemas terkulai. Jika kondisi fisiknya sedang tidak begitu, sudah pasti ia akan langsung membunuh pria botak itu.
Bagaimana tidak? Hari pertama kepindahannya di penjara khusus, ia malah diperkosa seorang pria.
Hari-hari berikutnya, Ken duduk sendiri di lapangan. Para tahanan baru saja melakukan senam pagi mereka. Kemudian jadwal berikutnya adalah makan siang.
Ken duduk sendiri lagi. Menikmati makan siangnya. Menu yang biasa seperti sosis dengan sayuran. Pada saat makan, datanglah Saga duduk di hadapannya. Pria botak itu berlaku aneh lagi di depannya.
Perilaku seperti mengulum sosis dan menghisapnya kuat-kuat membuat Ken ingin muntah. Maka ia pun berdiri dan meninggalkan makanannya yang tersisa.
Begitu waktu istirahat tiba, lampu-lampu penjara segera dimatikan. Dan para sipir pun memeriksa satu persatu kamar tahanan dari luar jendela. Mereka menyoroti dengan senter untuk melihat pergerakan di dalam sel.
Ken mengerjapkan matanya berulang kali. Sudah beberapa hari ini ia tidak tidur. Berjaga-jaga jika Saga melakukan kekurang ajaran lagi padanya. Tapi, malam tetaplah malam. Membuat semua orang beristirahat untuk mengembalikan kesegaran diri di esok hari.
Ken yang mengantuk pun mulai memejamkan matanya. Tiga puluh menit pertama tidak terjadi apa-apa. Begitu tenang dan dingin. Tetapi pada menit-menit berikutnya, Ken merasakan sesuatu yang membuat linu tongkatnya.
Begitu membuka mata kembali, Ken melihat Saga bersembunyi di balik selimutnya sambil menghisap kuat tongkat miliknya. Dengan cepat disibaknya selimut itu. Benar. Pria botak itu sedang mengulum naik turun dan menghisapnya kuat-kuat.
"Sialan!! Menyingkirlah dariku!!"
Ken mencengkeram kepala Saga. Tapi entah mengapa, pria botak itu justru semakin bernafsu melakukannya. Ken tidak bisa membiarkan hal seperti ini berlarut-larut hingga sepuluh tahun masa hukumannya.
Maka, dengan kesal ia duduk dan mencekik leher Saga kuat-kuat. Karena perlawanan dari Ken lumayan serius, Saga menggigit tongkat Ken kuat. Jika gigitan itu tidak segera dilepas mungkin saja kepala tongkatnya bisa terputus.
"Aaaarggghhh!!!" teriak Ken kencang sehingga mengundang para sipir.
Mereka berdatangan namun hanya menonton aksi gila yang dilakukan Saga pada Ken.
"Diamlah. Jika melakukan itu, lakukan dengan tenang dan jangan berisik!!"
"Tidak!! Penjaga! Tolong aku! Dia sedang memperkosaku!!"
Ken semakin gila. Apalah gunanya para penjaga berdatangan bila kasus seperti ini hanya dipandang sebelah mata?
Sambil terus mencekik leher Saga, Ken menunduk dan mencondongkan tubuhnya ke depan dan berusaha membalikkan tubuh Saga. Berhasil! Saga terjatuh dari ranjang Ken. Ken melompat dan segera meraih pena yang ada di atas meja.
"Jika kalian tidak memindahkanku ke sel lain, aku akan membunuhnya sekarang juga!!"
Begitu Ken selesai bicara, Saga menubruknya dan kembali melakukan pemaksaan. Bahkan kali ini pria itu gantian mencekik lehernya.
"Kau tidak akan bisa membunuhku. Karena kau berada di sini untuk melayani hasratku."
Saga tersenyum menyeringai dan mulai meremas kembali tongkat milik Ken. Kejadian itu disaksikan para sipir dan anehnya mereka justru tersenyum-senyum seakan melihat film porno di bioskop.
Rupanya, Saga adalah orang paling ditakuti di penjara khusus tersebut. Selain mudah membunuh, Saga juga sering memperlakukan rekan sekamarnya seperti itu. Dan para sipir tentunya hanya menikmati pemandangan yang ada di depan mata mereka.
Di udara sedingin malam itu, aksi panas dalam sel tempat Ken dan Saga membuat para sipir berimajinasi dalam pikiran mereka masing-masing.
Ken benar-benar tidak bisa menerima perlakuan dari Saga. Dengan mengumpulkan kekuatannya yang saat itu sedang lemah, Ken menggenggam erat pena yang sempat ia ambil.
Dengan penuh kebencian, ia menusukkan ujung pena yang runcing itu ke leher Saga beberapa kali hingga leher itu berlubang dan mengucurkan banyak darah. Begitu Saga kesakitan dan lengah, Ken menendang dan memukuli kepalanya.
Mereka bergumul di lantai penjara yang dingin. Saling pukul dan menyerang dengan keras. Hingga terakhir, Saga sempat melawan dengan memukul balik Ken tepat di matanya. Meski matanya kini berdarah, Ken tidak akan berhenti lagi. Ia benar-benar marah dipermainkan seperti itu.
Para sipir terkejut akan keberanian Ken yang tidak main-main. Begitu Saga terkapar lemas, Ken menikam dada dan perut Saga berulang kali hingga tercabik-cabik dengan pena.
Ken mengusap darah yang muncrat ke wajahnya dengan puas. Ia tidak peduli lagi jika ia dianggap penjahat keji. Apapun itu, asal ia menghabisi nyawa pria botak yang melecehkannya, ia merasa dapat hidup dengan tenang.
Baru setelah perkelahian berakhir, para sipir masuk dan menyingkirkan jasad Saga. Mereka melirik Ken yang berlumuran darah. Sebenarnya ada kengerian di dalam diri mereka saat berhadapan langsung dengan pembunuh muda itu. Apalagi saat Ken tertawa terbahak-bahak seorang diri.
Nyali mereka menciut. Seakan hidup mereka sedang dipertaruhkan dengan memasuki sel iblis. Begitu jasad Saga dibawa keluar, Ken kembali ke ranjangnya dan tidur dengan tenang.
.
.
.
.
Bersambung ke Episode 17.....