
EPISODE 59
Di ruangan kamar yang hangat itu, Ken menunggui Suzy yang tengah tertidur nyenyak. Ia masih bersin-bersin beberapa kali meski sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih hangat.
Dari bawah, terdengar panggilan nyaring dari ibu mertuanya.
"Menantu, kemarilah!"
Ken berpaling sejenak dan bergumam lirih pada Suzy, "Aku turun sebentar, ya."
Kemudian ia berbalik pergi setelah menaikkan selimut yang dikenakan wanitanya tersebut.
Sambil merapikan baju tidurnya, Ken turun menemui ibu mertuanya.
"Apa Suzy tidak bangun?"
"Iya. Dia cukup bekerja keras hari ini, ibu."
"Hemm. Begitu, ya. Baiklah..." bibi Tamako duduk di kursi meja makan. "Ini, minumlah. Air jahe hangat bisa meredakan flu dan masuk angin.." lanjutnya.
"Ah? Terima kasih."
Ken menerima gelasnya dan langsung mencicipi air jahe yang dibuat ibu mertuanya dengan senang. Tak lama kemudian, datang pula Akiyama yang juga menginginkan minuman tersebut.
"Wah, wah. Sepertinya enak, aku juga mau Bu!"
"Kau baru pulang?" tanya bibi Tamako sambil mengambil gelas dari rak dan menuangkan air jahe ke dalamnya.
"Ya. Pelanggan datang lebih banyak hari ini. Jadi aku baru sempat menutupnya sekarang. Apa Hari sudah tidur?"
"Dia menunggumu sejak tadi untuk menunjukkan nilai pelajaran Matematikanya," bibi Tamako menyodorkan segelas air jahe pada Akiyama.
"Apa dia mendapat nilai tinggi?"
"Ya. Dia mendapat nilai A."
Akiyama merasa senang dan bangga pada putrinya.
"Kau lihat? Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Putriku pandai berhitung sepertiku, hahaha," Akiyama bicara pada Ken.
Ken tersenyum, "Mungkin, Hari lebih unggul darimu kakak ipar."
"Hey?"
"Ada apa?"
"Cepat punya anak. Aku berani bertaruh, anakmu nanti pasti sama seperti Suzy dan dirimu. Pandai berkelahi," seringai Akiyama seraya menepuk punggung Ken.
Ken diam dan tersenyum kecut. Ia meneguk cepat minuman jahenya dan meminta ijin untuk naik ke atas kembali.
"Terima kasih untuk minuman jahenya, ibu. Aku pergi istirahat dulu," katanya sambil menunduk sopan.
"Ya..."
"Hei,, mau ke mana? Kita belum selesai mengobrol,,," Akiyama melambaikan tangannya.
••••••
Satu bulan kemudian, ketika Ken sedang lari pagi di komplek perumahan dekat taman, ia melihat seorang anak yang sedang diganggu beberapa temannya. Mengingat ia begitu paham dengan situasi tersebut, maka dihampirinya mereka.
"Bukankah ini jam sekolah? Sedang apa kalian di sini?" Ken melirik anak laki-laki yang ia pikir baru saja dipukuli.
Ken bertanya tiba-tiba sehingga membuat anak-anak pengganggu menoleh.
"Kenapa?"
Seorang anak yang diperkirakan sebagai pemimpin menyeringai pada Ken dengan penuh ejekan.
"Apa kau mau ikut campur urusan kami?" si ketua mendekati dan mendorong dada Ken dengan sok.
"Huhh...." Ken menghela nafas. "Apa seperti ini bersikap pada orang yang lebih tua darimu?"
"Lalu, jika kau lebih tua dariku apa bagusnya? Cuih!" anak bandel itu meludah di depan Ken dengan sengaja.
Ken tersenyum. Lalu.....
"Pergilah!"
Ken menoleh lalu memerintah anak yang penuh lebam itu untuk menyingkir. Mendapat bantuan dari seorang laki-laki dewasa, anak tersebut langsung menyingkir dan bersembunyi.
"Ahahaha!! Kau datang untuk menjadi pahlawan?" tawa si ketua.
Geng bandel itu cekakakan melihat sikap sok pahlawan yang ada di depan mata mereka. Dengan sekali anggukan, ketua mereka memberi isyarat untuk mengeroyok Ken.
Dan...
BAG
BUUG
BAG
BUG
Perkelahian itu pun terjadi. Lima pemuda berusaha menghajar Ken dengan penuh tenaga. Namun,,,
30 menit kemudian, terlihatlah anak-anak bandel itu berjejer dan berlutut di depan Ken dengan penampilan yang kacau. Sedangkan Ken tengah mengambil alih kartu pelajar mereka dan menangkap gambarnya dengan kamera ponsel.
"Jadi, namamu Nento?" Ken bertanya pada si ketua geng.
"I iya benar."
"Kalian satu sekolah di SMU MEIKEI?"
"Benar," jawab mereka berbarengan.
"Apa kalian akan mengulangi perbuatan kalian lagi?!" tanya Ken tatapan tajam.
"Tidak, paman."
"Katakan lebih keras!!"
"Tidak. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" seru lima pemuda itu serempak dengan kepala menunduk.
"Bagus. Jika suatu hari aku melihat kalian semua membuat ulah lagi, maka aku benar-benar akan melaporkan kasus ini pada kepala sekolah kalian. Atau,, aku pikir, lebih menarik lagi jika aku menyerahkan kalian ke kantor polisi sekarang juga."
Ken berbalik dan berpura-pura hendak pergi. Mengejutkan! Anak-anak itu berdiri dan berlari menyusul Ken dengan ketakutan.
"Tunggu! Jangan laporkan kami, paman!!"
Kelimanya menggelayuti tangan dan kaki Ken. Meminta agar diampuni untuk kali ini saja.
"Tolong jangan lapor polisi, paman. Kami berjanji sungguh-sungguh tidak akan melakukan itu lagi pada siapapun...." rengek mereka.
"Benar, paman. Tolong ampuni aku, ya? Ya? Aku tidak ingin ayahku tahu jika aku bolos sekolah untuk ini," rengek salah satunya.
Setelah berpikir sejenak, maka Ken memanggil anak yang sempat ditindas dan menyuruh lima anak tersebut meminta maaf kepadanya.
Setelah meluruskan situasi di antara mereka, Ken berjalan pulang karena perutnya sudah merasa lapar.
•••••••
Begitu masuk kamar dan bersiap mandi, ia melihat Suzy sedang menyisir rambutnya. Dengan senang hati ia mendekatinya perlahan.
"Apa kau baru selesai mandi?" tanyanya sambil memeluk Suzy dari belakang.
"Iya maaf. Aku baru olahraga,,," Ken menyingkir sambil tersenyum.
"Aku tahu,,, Huek!"
Tiba-tiba Suzy menutup mulut karena merasa mual dan ingin muntah.
"Woo? Apa itu? Apa bau badanku mengganggumu? Mm maafkan aku," Ken merasa tidak enak.
"Tidak. Bukan begitu," Suzy mencoba menjawab namun masih menutupi mulutnya.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu, aku mau mandi dulu."
"Baiklah."
Suzy mengerjapkan matanya dan berusaha menahan rasa eneg pada perutnya. Ia berdiri dan mengatakan akan pergi lebih dulu ke bawah untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan.
Tak berapa lama kemudian, setelah Ken selesai mandi. Ia turun untuk menyapa keluarga istrinya.
"Hmmm,, paman pasti baru selesai mandi, ya? Aku suka aroma sabun paman. Aroma apa itu?" Hari bertanya dengan semangat.
"Aroma?"
"Ya. Aromanya segar! Merk apa itu?"
"Oh itu? Entahlah, bibimu yang membeli semua perlengkapan mandi," Ken tersenyum sambil mengusap kepala Hari.
"Apa kau pergi ke restoran, hari ini?" tanya Akiyama saat datang.
"Eh? Ya. Kenapa?"
"Apa kau bisa gantikan aku sehari saja?"
"Gantikan? Maksudnya?"
"Aku akan pergi ke seminar di perusahaan pusat. Maka toserba akan tutup. Tapi kalau dipikir-pikir, sayang sekali jika membuang uang meski sehari. Jadi aku memintamu menggantikanku sampai aku selesai seminar. Bagaimana?"
"Bagaimana dengan Nonaka?"
"Dia pergi bekerja."
Ken berpikir.
"Hmm. Baiklah. Sepertinya tidak masalah."
"Oke. Terima kasih, bung," Akiyama meninju pelan lengan Ken.
Pada saat mereka sudah mencapai kesepakatan, Suzy datang membawa panci hidang bersama ibunya.
"Apa kalian sudah menunggu makanannya?" Suzy meletakkan panci di atas meja.
"Ya."
"Hari, tolong panggilkan kakek dan ibumu, ya," perintah bibi Tamako pada cucunya.
"Baik, nek," Hari berlari untuk memanggil kakek dan ibunya.
••••
Pada akhirnya, semua selesai menikmati sarapan mereka. Suzy kembali merasa mual ketika tubuh Ken sedikit condong di depan dirinya saat menuangkan minuman untuk ayah mertuanya.
"Huek!!" Suzy benar-benar mual.
"Eh? Apa kau baik-baik saja?" tanya Ken mencoba menyodorkan tissu.
"Tidak. Jangan mendekat!" Suzy semakin mual dan benar-benar ingin muntah. Kini ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menolak tubuh Ken.
Mata Ken mengerjap. Ia merasa bingung. Begitu pula yang lainnya. Situasi canggung itu berlanjut ketika Suzy berlari ke kamar mandi yang berada di dekat dapur. Merasa dirinya bersalah, Ken menyusul Suzy segera.
"Huek! Hueeekk!"
Terdengar suara Suzy dari dalam kamar mandi. Ken mendekat dengan ragu.
"A apa kau sakit?"
"Hueekk!" Suzy muntah-muntah.
Ken mendekat lebih dekat dan mencoba memijit pundak Suzy. Namun tangannya disingkirkan oleh istrinya tersebut.
"Tolong singkirkan tanganmu..."
Ken terdiam.
"Apa bau badanku mengganggumu lagi?" Ken mencoba mencium bau kedua ketiaknya. Tapi ia pikir, di sana tidak ada bau yang bisa membuat orang mual.
Lalu apa?
Maka, ia berdiri mematung sambil mengamati istrinya yang memuntahkan cukup banyak air. Ia ingin membantu, tapi ia juga tidak mau Suzy marah.
Selesai dari kamar mandi, Suzy melewati Ken begitu saja dan mengatakan pada keluarganya bahwa dirinya tidak enak badan dan hendak istirahat di kamar. Lagi-lagi, Ken hanya mampu menyusul di belakang Suzy dengan diam.
Di meja makan,
"Apa menurut kalian Suzy tidak aneh?" tanya Nonaka.
"Hmm. Cukup aneh. Kenapa dia bersikap seolah ia mual karena bau badan suaminya?" Akiyama heran.
"Aahh, aku rasa mimpiku soal buah persik benar-benar terjadi!"
"Buah persik?" tanya paman Akihiro.
"Ya. Buah persik besar yang bersinar terang!"
"Lalu apa hubungannya dengan putrimu?" lanjut paman Akihiro.
PLAK!
Bibi Tamako menepuk pundak suaminya sambil tersenyum.
"Apa?"
"Apa kau tidak ingat saat aku mengandung putramu, suamiku?"
"Mengandung Yama?"
"Ya."
Semuanya menunggu dan menyimak obrolan dengan asyik.
"Saat itu, kau tidak suka bau nasi. Jika mencium bau nasi, kau langsung mual dan muntah-muntah. Apa aku salah?" jawab paman Akihiro.
"Nah, itu!!" Bibi Tamako membuat semuanya kaget.
"Benar sekali! Itu pasti karena Suzy sedang hamil dan bayinya tidak suka bau badan ayahnya!" Nonaka berseru riang.
"Benarkah itu?"
Mendengar cerita itu, semua yang ada di meja makan tersenyum senang. Mereka merasa bersyukur bahwa putri di keluarga mereka akhirnya benar-benar akan memiliki keluarga yang lengkap.
❤️❤️❤️
Bersambung..........