
EPISODE 45
Jika kehidupan Ken ia lalui dengan penuh rintangan, berbeda dengan hidup Yoshi. Pria itu berada dalam situasi yang mampu membawanya berhura-hura.
Ketika perusahaan tuan Kido sedikit mengalami pemerosotan, mereka mendapat investasi saham dari sebuah perusaan besar. Hingga perusahaan mereka mampu berjalan kembali dengan baik.
Namun siapa sangka?
Perusahaan yang menanam saham di perusahaan mereka adalah suami Kenie. Hingga pada saat jamuan makan di antara kedua keluarga inti perusahaan, tuan Kido pun terkejut begitu melihat tuan Hideaki Yamazaki datang bersama Kenie.
"S selamat datang, tuan Hide. Kami merasa bangga atas kedatangan anda sekeluarga," sapa tuan Kido.
"Aah,,, Anda berlebihan dalam menyambut kami, tuan Kido," sapa tuan Hide balik.
"Tentu saja tidak, haha. Mari, mari silahkan duduk, tuan, nyonya," tuan Kido mempersilahkan tuan Hideaki dengan sangat ramah.
Begitu keluarga rekan bisnisnya duduk, tuan Kido memperkenalkan keluarganya.
"Ohya. Perkenalkan. Mereka ini, istri dan putraku."
Karena ayahnya sudah memperkenalkan dirinya, Yoshi berdiri untuk mengenalkan dirinya sendiri.
"Senang bertemu denganmu, tuan Hide. Aku Yoshi," sapanya ramah dan sopan.
"Hahaha,, Kau mempunyai putra yang cakap, tuan" tuan Hide tidak kalah ramah.
Kenie yang duduk di sebelah suaminya hanya tersenyum memperhatikan sikap basa-basi yang terjadi diantara pria itu sambil menahan diri. Di dalam hatinya, ia menyimpan kemarahan atas apa yang dilalui putranya. Kenzhi.
Di lain tempat, Ken yang belum pulang ke rumah itu duduk bersandar di meja dapur. Wajahnya tampak pucat karena darah yang keluar dari lengannya cukup banyak.
"Ssh,, aargghh,," erangnya.
Dengan perlahan, Ken membalut lukanya dengan sobekan kain yang ia ambil dari sebagian bajunya. Luka di lengannya itu ada di bagian belakang menyambung dengan punggung sebelah kanannya sehingga ia harus menengok ke belakang untuk melihatnya dengan jelas.
Kedua punggung jari tangannya pun terluka akibat tergesek aspal saat ia menahan kepala anak-anak agar tidak membentur ke jalan.
Meski ia berhasil membalut lengannya, namun ia tidak bisa melakukan apapun pada luka yang ada pada punggung sebelah kanannya.
TRAK!
Tiba-tiba terdengar suara dari luar. Sepertinya, Pintu restoran dibuka seseorang dengan pelan. Ken menoleh dan berkedip pelan menunggu siapakah gerangan yang datang. Tubuhnya bersandar tidak berdaya dengan nafasnya yang semakin lemah.
Suzy masuk ke ruangan dapur dan seketika itu juga melihat Kenzhi tengah duduk terkulai di lantai bersandar pada meja dapur.
"Ken?!" pekiknya terkejut.
Tanpa berpikir dua kali, Suzy menghamburkan dirinya pada Kenzhi.
"Apa yang terjadi?" dilihatnya balutan kain dengan rembesan darah pada lengan Ken.
"Aku tidak apa-apa," jawab Ken lirih.
"Tidak apa-apa bagaimana? K kau terluka!" Suzy memeriksa tubuh Ken dan menemukan luka memar dan berdarah pada punggung pria itu.
"Daripada berlebihan mencemaskanku, lebih baik ambilkan aku minum. Aku haus sekali," kata Ken.
"M minum? Ah, ya. Baiklah. Tunggu sebentar, akan ku ambilkan untukmu," jawabnya dengan gugup dan cemas.
Suzy berbalik pergi dan mengambil air putih dari dalam kulkas. Kemudian dengan cepat ia berikan air tersebut pada Ken.
"Minumlah," kata Suzy membantu Ken minum.
GLEK...
GLEK...
GLEK......
Ken minum dengan amat kehausan.
"Pelan-pelan, Ken," ucap Suzy seraya mengusap punggung Kenzhi.
"Aaahh,,," Ken membuang nafas dari mulut.
Setelah meletakkan gelas minum ke atas meja, Suzy kembali bertanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Ayo pergi ke rumah sakit. Sepertinya kau terluka cukup parah."
"Tidak perlu. Aku rasa, ini akan segera sembuh."
Suzy menghela nafas karena tidak bisa berbuat apa-apa jika Ken sudah berkata demikian. Akhirnya, ia duduk menemani Ken.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu pergi ke rumah sakit. Tapi, tidak bisakah kau menceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
Suzy menunggu jawaban dari mulut Kenzhi.
"Itu.. Em, aku hanya kurang berhati-hati saat menyeberang jalan. Itu saja," jawab Ken berbohong.
"Benarkah? Tapi kenapa bisa terluka seperti ini? Apa sesuatu menabrakmu?"
"Hmm.." jawab Ken sambil memejamkan matanya.
Suzy memperhatikan wajah Ken yang pucat dan tampak sangat tidak bertenaga. Wajahnya basah oleh keringat sehingga sebagian rambut menempel pada dahinya.
Tanpa pikir panjang, Suzy mengecup pipi kiri Ken dengan lembut. Tentu saja hal mengejutkan itu membuat Ken membuka kembali matanya.
"A apa itu tadi?" Ken menoleh pada Suzy dan bertanya.
Suzy yang malu menjadi salah tingkah. Ia menjawab pertanyaan Ken dengan gugup.
"Itu,, em, itu,,, ah iya benar. Aku mengusap pipimu karena ada noda darah di sana. Hehehe. Ya. Benar seperti itu."
Ken mengernyitkan alisnya karena tidak percaya. Sebab ia merasakan sentuhan itu sedikit aneh.
"Benarkah?"
Suzy membuang muka dengan cepat.
"Tentu saja benar. Memangnya apa lagi?"
"Tapi itu, seperti,,," Ken menyentuh pipi yang dicium Suzy dengan jarinya secara perlahan.
"Seperti apa?"
Mata Ken berputar untuk mencari jawaban, "Itu sepertiii,,,"
GLEK!
Sesekali ia melirik kembali ke arah bibir Suzy. Itu sangat kacau! Kenapa? Semakin ia memperhatikannya semakin berasa berlebihan produksi air liurnya. Belum lagi saat dilihatnya leher jenjang wanita itu. Entah mengapa, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu di dalam dirinya.
"Khah,,, Baiklah, kalau kau merasa baik-baik saja. Ayo pulang sekarang," kata Suzy sambil berdiri menepuk-nepuk bajunya.
"S sebentar lagi. Beri aku waktu untuk tidur lima belas menit saja," jawab Ken gugup.
"Hey??"
"Apa??"
"Apa enaknya tidur seperti itu? Bukankah lebih enak tidur di atas kasur?"
"Hmm. Tidak masalah.. di sini juga enak, kok. Sebentar saja, ya?" Ken memposisikan dirinya supaya lebih nyaman.
Tiba-tiba saja, Suzy memaksa Ken berdiri. Akhirnya, Ken yang sudah menikmati posisi tidurnya pun menjadi terkejut.
"Wooh? Apa-apaan ini?"
"Bangun! Ayo pulang," seru Suzy berusaha mengangkat badan Ken.
"Tidak. Aku tidak mau," Ken berusaha tidur kembali.
"Hey.. Jangan keras kepala, ya! Ayo ikut saja," ucapnya menjewer telinga Ken.
"A' aa aa aahh,,," pekik Ken terpaksa mengikuti langkah Suzy.
Begitu sampai depan restoran, Ken berhenti dan menepis tangan Suzy.
"Lepaskan tanganmu. Sakit, tahu?" katanya kesal sambil memelototi Suzy.
"Apanya yang sakit? Aku menarik telingamu belum menggunakan tenaga. Jadi jangan merengek seperti anak kecil."
"Hissh. Dasar, kau..."
Ken membuang nafas. Kemudian berjalan tertatih-tatih meninggalkan Suzy. Melihat Ken meninggalkannya, Suzy menjadi bingung. Ia mengerucutkan bibirnya karena menganggap kekesalan Ken tidak ada dasarnya.
Namun begitu ia menyadari ada masalah pada kaki Ken, Suzy segera berlari mengejarnya.
"Kenapa kakimu?"
"Bukan masalah besar."
"Lalu?"
"Hanya keseleo."
"Berhenti. Biar aku lihat sebentar."
"Tidak perlu. Ayo pulang."
•••••••
Mereka terus berdebat hingga sampai depan rumah Suzy. Untung saja, kehadiran bibi Tamako membuat situasi menjadi netral kembali.
"Nah, kalian sudah pulang?"
Ken berdiri mematung.
"Ya, Bu," jawab Suzy cepat.
"Makanlah lebih dulu. Ibu sudah menyimpan makanan di kulkas. Tinggal kau hangatkan saja sebentar," kata bibi Tamako pada putrinya.
"Iya Bu. Biarkan kami ganti baju lebih dulu."
"Makan saja dulu, ya? Setelah makan kalian bisa pergi tidur," kata bibi Tamako sambil mendekati Ken.
Dan saat melihat ada darah di baju dan lengan Ken, ibu mertua Ken pun berseru cemas.
"Ah?!! Ada apa dengan tanganmu, menantu? Apa kau terluka?" tanyanya khawatir.
"Hmm. Sedikit. Tapi tidak perlu khawatir, ibu. Aku baik-baik saja, kok."
Mendengar ucapan Ken. Suzy segera menepuk pundak suaminya itu dengan keras.
"Heeyy? Apa kau akan terus membual bahwa kau baik-baik saja??"
"Yah?"
"Kau yakin baik-baik saja?" Suzy segera melepas pegangannya pada tangan Ken hingga suaminya tersebut hampir terjatuh.
"Apa kau yakin, tidak memeriksakan diri ke rumah sakit?" tanya bibi Tamako.
"Dia bersikeras tidak ingin pergi ke sana. Jadi apa boleh buat, aku akan merawatnya sendiri, ibu," jawab Suzy.
"Ya. Kau benar, Suzy. Rawat suamimu dengan baik. Ya?"
Suzy mengangguk dan menggandeng Ken menaiki tangga menuju kamar mereka. Ken tidak banyak bicara dan menuruti saja perintah Suzy. Begitu sampai di kamar, Suzy membantunya berbaring di ranjang.
"Berbaringlah. Aku ambil air sebentar. Lukamu perlu dibersihkan lebih dulu sebelum diobati," ucapnya segera pergi.
Setelah kembali membawa air kompresan, Suzy segera meminta Ken duduk dan melepaskan pakaiannya.
"Berbaringlah kembali dan miringkan badanmu."
Sambil duduk di belakangnya,, Suzy juga meminta Ken memiringkan tubuhnya. Lalu ia pun mulai membersihkan luka-luka yang ada. Tidak lupa, ia juga membuka balutan kain yang dibuat Ken saat di restoran.
Selama perawatan yang dilakukan Suzy, Ken hanya diam tanpa suara. Hanya sesekali, Ken mengerang kesakitan saat kain washlap mengenai tepat pada lukanya.
"Haaiihh,, sshh,,, aaahh. Tolong sedikit lebih pelan,,," erangnya dengan hidung dan bibir yang gemetaran.
"Ah. Iya, maaf. Baiklah, aku berusaha lebih hati-hati,,,,"
Suzy tersenyum sendiri.
.
.
Bersambung ke Episode 46