
EPISODE 147
DOORR
Beberapa saat setelah suara tembakan itu terdengar menggema di sebuah ruangan eksekusi, tubuh Kazuki jatuh bersimpuh ke lantai. Darah segar pun mengalir dari luka tembak serta mulutnya.
Hari itu, akhirnya ia menjalani hukuman matinya. Menyusul sang ayah yang sudah terlebih dahulu mendapatkan hukumannya beberapa minggu yang lalu.
Sebagai bandar narkoba dengan partai besar, ditambah aksi mereka dalam usaha pembunuhan terhadap Suya dan Ken kala itu, membuat mereka tidak bisa lepas dari hukuman berat seperti hukuman kematian.
Dan bulan berikutnya, giliran Yoshi yang menjalani eksekusinya. Ia dibangunkan pagi-pagi sekali oleh sipir penjaga dan digiring menuju tempat eksekusi.
Dalam perjalanan menuju ke sana, Yoshi berkeringat. Ia merasa takut menghadapi hukumannya. Maka dengan cepat ia berbalik dan mencoba melarikan diri. Namun bola beton besi yang sangat berat tidak dapat ia kendalikan.
Ia pun tersandung dan jatuh terjerembab hingga para petugas sipir mendapatkannya kembali dan menyeretnya paksa.
"Mau ke mana kau?"
"Ampun! Tolong batalkan hukuman matiku. Bukankah aku menjadi tahanan yang baik dalam satu bulan ini?"
"Hukumanmu sudah ditentukan. Tidak ada yang bisa merubahnya," ucap salah satu sipir dan memaksa Yoshi bangun.
"Tidak. Jangan bawa aku. Aku belum siap menghadapi kematianku!" teriak Yoshi ketakutan.
"Bawa dia!" perintah salah satu sipir kepada sipir yang lainnya.
Tentu saja Yoshi semakin histeris. Saat melewati barisan sel tahanan, ia meraih-raih jeruji besi dan berusaha berpegangan padanya.
"Tidak! Jangan bunuh aku! Aku berjanji akan menjadi tahanan berbudi luhur! Tapi tolong, jangan paksa aku mati. Huhuhu,, aku masih ingin hidup!" Yoshi berteriak-teriak sambil menangis.
Para tahanan yang saat itu sedang di dalam selnya pun berebutan menonton. Mereka pun akhirnya tahu bahwa hari itu adalah hari di mana Yoshi menjalani hukuman matinya.
Meski ia sudah merengek untuk dibebaskan dari hukumannya, hukuman tetaplah hukuman. Sudah ditentukan saat sidang sebelumnya atas kejahatan yang dilakukan.
Jadi, pantaskah penjahat sepertinya mendapat hukuman seperti itu?
Tanpa persetujuannya, Yoshi diseret kembali menuju ruangan gelap dan pengap. Ada sebuah tiang tinggi dengan tali menggantung di antaranya. Di bawahnya, sebuah bangku untuk injakan pun sudah siap menunggunya.
DEG
Rupanya hukuman gantung yang akan Yoshi jalani. Hanya melihat tali tambang yang tampak kuat itu saja, membuatnya mual dan pusing.
"Apa benar aku akan mati hari ini? Tidak mungkin..."
Yoshi terus berkata dalam hati karena tidak percaya pada apa yang ia lihat. Keringatnya yang sebesar biji jagung pun bercucuran. Terlebih saat para petugas bertopeng menggiring dan menyuruhnya berdiri di atas bangku injakan.
"T tunggu! Bisakah aku menulis surat untuk ibuku?" tanyanya pada kepala sipir yang duduk di sebuah kursi untuk menontonnya.
"Tidak. Jangan membuang-buang waktu! Selesaikan hukumanmu segera!"
GLEK
Yoshi benar-benar gelisah. Ia tidak ingin mati sia-sia seperti ini. Ia merasa kejahatannya tidak sebanding dengan hukumannya. Pada saat ia sedang merinding, masuklah tahanan lain yang juga akan melaksanakan hukuman.
"Bos."
"Rai? K kau juga hari ini?"
Rai mengangguk pasrah, "Ini sudah berakhir, bos."
Kepala sipir yang datang bersama Rai mulai membacakan naskah hukuman yang akan mereka jalankan hari itu.
"Sesuai dengan kejahatan yang kalian berdua lakukan, yaitu bersekongkol dalam rencana pembunuhan keji seorang gadis dan memfitnahkan semuanya pada seseorang, maka keputusan hakim sudah ditentukan. Pagi ini, tanggal 23 Juni. Tahanan 547 dan 553 akan menjalani hukuman gantung mereka secara benar."
Kepala sipir menutup laporannya dan mengutus petugas menyeret mereka ke tempat penggantungan.
"Siapkan mereka."
"Baik."
Rai maju ke depan. Ia menurut saja ketika penjaga menyuruhnya naik ke bangku injakan dan memasang tali ke lehernya. Dengan berani, Rai menendang bangku injakannya hingga tubuhnya pun menggantung dengan leher terjerat.
Butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya Rai menghembuskan nafas terakhirnya. Melihat kematian di depan matanya, Yoshi semakin takut. Tubuhnya gemetaran saat harus memasang tali ke lehernya.
Namun, meski tali sudah terpasang, ia tidak juga menendang bangku injakannya. Ia benar-benar tidak ingin melakukannya!
Melihat tahanannya ragu, kepala sipir pun memerintahkan petugas untuk menyingkirkan injakan. Begitu bangku tempat Yoshi berpijak itu ditendang petugas, tali itu pun menjerat kuat lehernya.
"Hhekkghh! Akkkh ghkk!" suara dari mulut Yoshi yang mulai susah bernafas.
Kedua tangannya berusaha menahan jeratan tali agar tidak membunuhnya. Kedua kakinya pun bergerak-gerak seirama dengan rasa tersiksa yang ia dapatkan.
Dalam situasi seperti itu, bayangan wajah Kenzhi yang tersenyum lebar melintas di benaknya. Ia berpikir bahwa pria itu datang untuk mengejeknya karena kalah dalam pertarungan.
"Keparat kau Kenzhi! Hegkkh! Aku akan membalas semua ini di kehidupan selanjutnyaaaaa! Haighkk! Akhhkk!"
Teriakan Yoshi menggema di ruangan. Ternyata ia belum juga menyadari kesalahannya sampai datang waktu kematian.
Malam itu, Ken duduk bersama Suya. Ia datang mengunjungi rumah nenek Tama karena Suya sedang tidak menginap di rumah Kenie. Sebenarnya, besok ia akan pergi ke suatu tempat. Maka dari itu ia menemui Suya terlebih dahulu sebelum pergi.
Saat mengobrol berdua di halaman depan, Ken mengutarakan keinginannya untuk pindah ke desa tempat Yuna dimakamkan dan membuka sebuah restoran kecil di sana.
"Suya, seandainya ayah berhenti bekerja dan pindah dari tempat ini, apa kau mau ikut bersama ayah?" Ken bertanya karena mungkin saja putranya ingin tetap tinggal di rumah neneknya.
"Hmm. Ayah tidak akan memaksamu untuk ikut dengan ayah, hanya saja ayah ingin menanyaimu terlebih dahulu seandainya kau mempunyai pilihan sendiri untuk tetap bersama kakek dan nenek," lanjutnya.
"Pindah? Mengapa?"
"Sepertinya ayah ingin menjalani sisa hidup ayah di Nagiso-Nagano, dengan tenang."
"Desa yang lokasinya dekat makam mama itu?"
"Ya."
Suya mengangguk mengerti, "Lalu, bagaimana cara ayah bertahan hidup di sana?"
"Kemungkinan ayah akan membuka restoran kecil ramen."
"Kalau begitu, ayah akan meninggalkan posisi ayah sebagai penerus kakek Hide?"
"Ayah rasa, itu bukan bagian ayah. Ada bibimu yang akan mewarisi dan mengurus semua itu dengan baik."
"Jadi seperti itu? Hmm, sebenarnya aku ingin sekali ikut dengan ayah. Tapi aku juga tidak enak jika harus meninggalkan nenek dan kakek yang sudah tua. Lagipula, mungkin aku lebih mudah jika tetap di sini karena jarak sekolahku yang lumayan dekat dengan rumah. Apa ayah marah?"
"Tidak apa. Ayah tidak akan marah. Kau bisa sesekali datang mengunjungi ayah di sana. Sendiri maupun mengajak teman-temanmu. Atau, bisa juga nanti ayah yang datang berkunjung ke rumah, sesekali."
"Hmm. Maaf, ya ayah. Aku tidak bermaksud mengecewakan ayah."
"Tenang saja, ayah tidak apa-apa," Ken menepuk-nepuk pundak Suya. "Kalau begitu, ayo masuk. Nenekmu sudah memanggil," lanjut Ken saat mendengar panggilan dari dalam.
"Hmm," angguk Suya.
•••••••
Benar saja. Esok harinya, Ken yang sudah berkemas itu pun membuat Kenie dan Ayumi terkejut. Sepertinya ia tidak memberitahu mereka terlebih dahulu tentang keputusannya. Hanya tuan Hidelah yang mengetahui niatannya.
Malam sebelumnya setelah bicara pada Suya, ia menemui ayah tirinya dan mengutarakan semua yang ia ingin lakukan. Seperti meninggalkan perusahaan dan pindah dari rumah.
Karena itu pembicaraan sesama orang dewasa, tuan Hide dapat mengerti apa yang menjadi pilihan Ken. Ia pun memberi ijin dan restu untuk putra tirinya hidup seperti apa yang ia mau.
"Kau mau ke mana, Ken?" tanya Ayumi buru-buru berlari menahan kepergian Ken.
"Benar. Kau tidak mengatakan apapun semalam. Kenapa tiba-tiba saja seperti ini?" sahut Kenie.
"Aku akan pindah ke Nagiso dan menghabiskan hidupku di sana."
"Lalu bagaimana dengan perusahaan?" Kenie merasa keputusan Ken sangat mendadak.
Ken berhenti mengenakan helmnya, "Aku sudah menyerahkan semuanya kembali pada ayah. Dan ayah sudah memberiku ijin."
"Lalu bagaimana dengan Suya?" tanya Ayumi mencoba untuk terus menahan Ken agar tidak pergi.
"Dia tetap tinggal," jawab Ken seraya mengenakan helmnya.
TREK
Ken menyalakan mesin motornya, "Baiklah, ibu. Aku pergi dulu. Jika ada waktu sesekali aku akan datang menjengukmu. Sampai jumpa."
Usai mengatakan itu, Ken pergi meninggalkan rumah kediaman Kenie. Ia sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan menyesali keputusannya ini.
Sebelum pergi ke Nagiso, Ken mampir sebentar ke salon D'Mision. Ia membawa seikat bunga untuk ia letakkan di tempat Yuna bunuh diri.
"Sampai jumpa sayang, aku akan pindah ke Nagiso dan membuka restoran kecil di sana. Mungkin itu lebih baik karena rumah yang aku sewa lumayan dekat dengan lokasi pemakamanmu."
Kemudian, ia pun melanjutkan perjalanannya menuju desa. Sepanjang perjalanannya itu, angin hangat musim panas di bulan Juni kali ini berhembus mengantar kepergian Ken.
Mulai hari itu, Ken meninggalkan semua kehidupan masa lalunya. Sebentar lagi, ia akan melanjutkan hidupnya di tempat yang sunyi dan cukup tenang dari beban derita.
Selamat datang dunia baru!
Selamat tinggal pula masa lalu....
.
.
.
.
BERSAMBUNG...