RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
PENUH KEHARUAN



EPISODE 18


Begitu keluar dari ruang kunjungan, Ken mendapatkan bungkusan makanan yang dititipkan Suzy untuknya, di hari itu pada sipir.


Semua makanan yang dikirim untuk tahanan telah melewati pemeriksaan terlebih dahulu. Sehingga aman dari model penyelundupan apapun.


Ken berjalan kembali ke selnya sambil menjinjing bungkusan kain dari Suzy. Begitu sampai di selnya, Ken menarik sebuah kursi dan meletakkan bungkusan tersebut di atasnya. Sambil mendekati ranjang, dilepasnya baju atasan yang ia kenakan hingga menyisakan kaos dalam saja.


Ia duduk di atas ranjang dengan satu kaki naik ke atasnya dan dilipat. Perlahan ia mulai membuka kain penutupnya yang berwarna merah tua.


Beberapa kotak makanan buatan bibi Tamako dan sebuah kotak musik berbentuk mobil kuno klasik. Rupanya itulah hadiah dari Suzy.


Ken menyisihkan kotak makan itu sementara dan meraih kotak musik berwarna gold dengan roda mobilnya yang berwarna hitam. Kemudian dengan tersenyum ia mencari tombol on/off-nya. Rupanya ada di bawah bagian mobilnya.


Klik...


Ting Ting Ting Ting........


Terdengarlah alunan musik khas dari sebuah kotak musik. Ken memejamkan matanya dan bernafas pelan. Begitu tenang dan damai. Kemudian perlahan ia merebahkan diri ke ranjang dengan mata yang tetap terpejam.


Cukup lama Ken mendengarkan alunan lagu dari kotak musik pemberian Suzy. Setelah puas melakukannya, Ken duduk kembali dan menyimpan kotak musik itu ke dalam laci meja.


Diraihnya kotak makan dari bibi Tamako. Lalu dibukanya satu persatu kotak tersebut. Dengan sumpit yang sudah tersedia, ia pun mulai melahap isinya. Ken mengunyah makanan tersebut dengan perlahan. Memejamkan mata dan menikmatinya dengan sangat pelan.


Nasi yang begitu lembut di mulutnya juga terasa manis di lidahnya. Bercampur daging kecap yang dibumbui dengan sangat sempurna, terasa menyatu begitu pas dengan sayuran lain yang dimasak setengah matang. Masakan bibi Tamako adalah yang terbaik untuknya selama beberapa tahun belakangan.


Ken tersenyum tiada hentinya. Semakin ia meresapi rasa masakan bibi Tamako, semakin dalam pula rasa sedihnya. Ia begitu merindukan ibunya, namun juga merasa kecewa. Selama ia di penjara, ibunya sekali pun belum pernah datang. Entah karena tidak tahu keberadaannya atau memang tidak peduli padanya.


Setelah semua habis, Ken mencuci kotak makanannya di bak yang tersedia di dalam kamar selnya. Beberapa menit kemudian terdengar suara alarm yang menggema di seluruh ruang tahanan.


Rupanya sudah waktunya kerja bakti. Ia merapikan kotak makan yang sudah dicuci itu di atas meja dan meraih bajunya kembali. Belum sempat mengenakannya kembali, para sipir sudah memintanya keluar. Begitupun tahanan yang lain.


Ken berjalan ke lapangan sambil mengikatkan baju atasannya melingkari pinggang. Beberapa tahanan menyapanya dengan sopan. Tentu saja Ken membalas sapaan itu dengan senyuman dan sedikit gerakan kepala.


Kegiatan kerja bakti kali ini, diawali dengan senam jasmani terlebih dahulu. Para tahanan diberi kesempatan untuk menyegarkan tubuh sebelum memulai aktifitas berat. Dan setelah senam selesai, para tahanan membersihkan lapangan tanpa ada secuil rumput pun yang tertinggal.


••••••••••


Beberapa tahun lamanya menjadi tahanan penjara, Ken menampakkan sikap yang baik. Selain itu, ia juga rajin mengikuti kegiatan pembinaan. Bahkan meski ditakuti oleh kalangan tahanan di sana, Ken mencoba mendekati mereka dan bersikap ramah. Sehingga lambat laun, rasa takut itu berganti dengan rasa hormat kepadanya.


Siang itu, beberapa tahanan berkumpul saat waktu istirahat datang. Mereka sedang membicarakan berakhirnya masa hukuman Ken. Yaitu Minggu depan.


Ya. Waktu delapan belas tahun hampir selesai. Ken mendapat keringanan satu tahun karena selama ini mampu membuktikan diri menjadi tahanan yang baik.


"Sepertinya, Minggu depan ketua sudah akan pergi meninggalkan kita."


"Dari mana kau dengar?"


"Siapa yang tidak dengar, jika para sipir terus saja memperbincangkannya?"


"Benarkah? Ah, aku ketinggalan kabar kalau begitu."


"Memangnya kenapa kalau ketua akan segera bebas? Bukankah itu yang terbaik? Biarkan dia menikmati masa mudanya di luar sana. Aku sempat kasihan padanya karena masa mudanya habis di penjara ini," kata seorang kakek tua.


"Yah. Kau benar, pak. Tapi sepertinya penjara ini lebih hidup jika ada ketua. Dulu saat pertama kali dia menghabisi Saga, jujur aku takut sekali padanya. Tapi setelah beberapa tahun mengenalnya, sebenarnya dia anak yang baik dan sopan. Aku pun jadi menyukainya."


"Kau benar. Dulu kita semua takut karena dia pembunuh sadis. Tetapi pada akhirnya, kita semua tahu. Pembunuh sadis pun mempunyai hati yang lembut jika kita mampu menyentuhnya."


Tiba-tiba saja, Ken mengagetkan mereka semua dengan kemunculannya.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


Semuanya menoleh ke arah Ken. Kemudian ramai-ramai meraih tangannya dan mengajaknya duduk bersama.


"E e eh, ada apa ini?" Ken heran karena mereka menariknya duduk.


"Apa kau sudah dengar? Masa hukuman setahunmu dicabut?" tanya seorang pria berkacamata.


"Ya. Memangnya ada apa?"


"Itu artinya kau akan bebas Minggu depan. Benar, kan?" tanya kakek tadi.


"Hmm. Kalau tidak salah begitu," jawab Ken datar sambil mengikat baju di pinggang seperti biasanya.


"Kenapa ekspresimu biasa saja? Padahal sudah mau bebas?"


"Sebenarnya bebas atau tidak, sama saja bagiku. Tetap tidak mempunyai keluarga. Lagipula, mengapa mereka memberiku satu tahun saja? Bukankah sebaiknya tiga tahun atau lima tahun? Dengan begitu aku bisa menikmati masa muda sesungguhnya dengan mengencani para wanita," jawab Ken terkekeh.


"Kau itu anak nakal. Pantas saja kau mampu menghabisi Saga si pria berdarah dingin itu dengan mudah. Kau pasti menggunakan taktik yang tepat saat menghadapinya. Aku penasaran saat mendengar kau berhasil membunuhnya," orang itu tertawa dan tidak sadar telah membuka kembali ingatan Ken tentang Saga.


Semuanya langsung diam. Begitupun orang yang baru saja menyeletuk.


"Ada apa?"


"Hiss! Kau ini! Diamlah!!" pria berkaca mata menabok pantat orang yang menyeletuk.


"Aduuuh,,, apa-apaan kau ini? Kenapa kau memukul pantatku keras-keras??!"


Mendengar itu kakek tua yang duduk di dekat Kenzhi berdehem kencang. Maka, mereka semua kembali diam dan saling melirik.


"A Aku kembali ke dalam dulu. Kalian teruskan saja mengobrol," kata Ken berbalik dan melangkah pergi sambil melamun.


Begitu Ken pergi, kakek tua memukul kepala orang yang menyeletuk.


"Sudah aku katakan jangan sebut nama Saga di depan Ketua, kenapa kau lancang sekali?" ucapnya.


"Kenapa memangnya?"


"Kau tahanan lantai atas tahu apa? Kalian tidak akan pernah tahu cerita yang sebenarnya. Ada sesuatu yang membuatnya terluka dalam kasus tersebut. Jadi hati-hati dengan ucapanmu. Jika kau salah bicara, ketua bisa menghabisimu dengan mudah karena kau lancang mengusik luka hatinya kembali," nasehat kakek tua.


"B Benarkah itu? Apakah separah itu? K Kalau begitu aku harus menjaga mulutku mulai sekarang," kata orang yang menyeletuk sambil memukul mulutnya berkali-kali.


"CK Ck Ck,, Tamatlah riwayatmu,,,"


Semua tahanan yang berkumpul menatapnya tajam. Pria yang sempat menyeletuk itu pun mendelik dan kesusahan menelan ludah. Ia benar-benar menyesal karena berbicara omong kosong.


••••••••


Menjelang hari kebebasannya, Ken mendapatkan tas untuk membenahi barang pribadinya. Tentu saja surat dari Suzy adalah barang pertama yang masuk ke dalamnya. Kemudian kotak musik dan sepasang pakaian miliknya yang sempat ia pakai sebelum masuk sel tahanan.


Malam itu, Ken duduk melamun memikirkan perkataan seorang tahanan siang tadi. Mengenai Saga. Sudah bertahun-tahun lamanya ia lupakan soal itu, kini muncul kembali ingatan ketika ia diperkosa pria itu.


"Haaahh...."


Ken mengusap wajahnya sambil membuang nafas. Meski ia tidak pernah takut pada apapun, tapi ia selalu berkeringat dan gemetaran saat bayangan itu melintas di benaknya.


Dengan susah payah, Ken mencoba membuang ingatan buruknya tersebut. Namun terasa sulit sekali. Ditengah kecemasan hatinya, Ken meraih kotak musik pemberian Suzy dan menyetelnya.


Perlahan, kedamaian merambat ke dalam hatinya. Begitu tenang mengobati lukanya. Bayangan wajah Saga yang gila pun tergantikan oleh senyuman manis Suzy yang selalu hadir memberinya semangat.


Ken merebahkan tubuhnya dan memeluk kotak musik Suzy. Perlahan-lahan ia pun mengantuk dan mulai tertidur.


•••••••


SRIIIIINGGG!!!!


Ken sudah selesai berkemas ketika dua orang sipir menjemputnya di sel. Mereka mengantarkan Ken menuju ruang melapor sebelum akhirnya keluar bebas.


Ketika melewati lapangan, tahanan lain yang selalu bersamanya melambaikan tangan padanya. Dan saat mendapatkan ijin untuk menyapa kawan-kawannya, Ken segera menghampiri mereka.


Begitu datang, semuanya memeluk Ken dengan rasa haru. Perpisahan dengan sang ketua, sedikit sulit untuk mereka. Tetapi itu semua sudah semestinya berjalan.


Mereka tidak mungkin menghalangi keberuntungan yang datang pada ketua mereka. Setelah saling mengucapkan pesan dan nasehat, mereka kembali berpelukan. Salam perpisahan yang sederhana namun begitu mengharukan itu menjadi kenangan tersendiri bagi Ken.


Ia melangkah kembali. Melambaikan tangan sebagai perjumpaan terakhir. Ia yakin, akan ada kenangan tersendiri tentang kawan-mawan napinya tersebut.


KRANG!


Setelah para sipir memastikan kebebasannya, Ken diantar ke gerbang depan.


Hari itu, akhirnya ia bebas.


.


.


.


.


Bersambung ke Episode 19