
EPISODE 12
Pada suatu hari di hari ke sembilan masa skorsnya, Ken duduk di sebuah jalan kecil di gang dekat sekolahnya. Ia memandang jauh ke halaman sekolahnya sambil menghisap rokoknya.
Ia tidak khawatir guru akan mengenalinya karena ia mengenakan topi untuk menutupi wajahnya jika diperlukan.
Pada saat sedang duduk santai, seseorang datang dan menepuk pundaknya. Rupanya Akiyama datang bersama kawannya. Dialah Hiro. Anak yang membuatnya masuk penjara waktu itu.
"Hey! Kau sedang apa di sini?" tanya Akiyama.
"Hmm. Hanya duduk melihat-lihat," jawab Ken menghisap kembali rokoknya.
Diraihnya bungkus rokok dari saku celana kirinya. Ia menawari Akiyama dan Hiro untuk merokok bersama. Mereka pun mengambil masing-masing satu.
"Kalian mau?"
"Boleh," jawab Akiyama sambil menyenggol Hiro sebagai kode.
Ken menyalakan api untuk mereka. Ia tahu Hiro datang padanya untuk minta maaf, tapi ia berpura-pura tidak mempedulikan itu.
"Em,, Ken. Aku minta maaf soal-"
"Aku tahu apa yang kau maksud. Jadi tenang saja. Aku tidak akan dendam kepadamu. Untuk saat ini, aku sudah melupakan kasus itu."
"Benarkah? Tidak apa jika sekarang kau masih dendam padaku, tapi karena kau mengatakan akan melupakannya, aku sedikit lebih tenang," kata Hiro tegang.
"Tidak apa," Ken menepuk kepala Hiro Tiga kali.
Akiyama membisikkan sesuatu pada Ken. Ia mengajak Ken pergi ke galery tato milik temannya. Hari ini, Akiyama akan mencoba membuat tato di lengannya.
"Apa kau mau ikut?"
"Boleh."
Begitu sampai di tempat kawan Akiyama yang kerap dipanggil Robet, mereka segera melihat-lihat model tato yang terpajang di album. Banyak model yang menarik. Tetapi tato yang digemari kalangan gangster adalah motif naga, ikan koi, samurai dan iblis.
Saat Robet keluar, pria itu langsung mengenali Ken. Sebab Ken adalah teman satu kamarnya di sel penjara waktu itu.
"Berandal kecil? Kaukah itu?" tanya Robet pada Ken.
"Eh?"
"Ah, benar. Rupanya kau."
Robet mendekati Ken dan memukul akrab lengan Ken. Sewaktu mendekam di penjara dulu, dirinya membuatkan sebuah tato naga di perut bawah bagian kiri Ken sebagai kenang-kenangan.
Meski Ken dan dirinya berbeda lima tahun, tapi saat di penjara dulu, Ken justru yang sering melindunginya dari berandal muda lainnya.
Setelah cukup bertanya kabar, Ken duduk membaca komik. Di ruang tunggu galery milik Robet, ada berbagai macam bacaan. Mulai dari komik, novel, koran dan majalah dewasa. Benar, majalah dewasa. Khusus yang satu inilah paling banyak digemari pengunjung.
Pada saat Akiyama menato lengannya dengan nama pacarnya, Hiro berbaring di kursi sebelah Ken sambil membaca majalah dewasa.
"Hey, kalian kenapa hanya membaca saja? Apa tidak tertarik untuk mencoba sesuatu sepertiku?"
Baru saja Akiyama berkata seperti itu pada kawannya, tiba-tiba suaranya terdengar melengking karena merasa kesakitan. Ken tersenyum mendekati Akiyama dan duduk dengan posisi terbalik di sebuah bangku kayu. Sambil memperhatikan proses tato di lengan Akiyama, ia membaca komik tentang makhluk Golum.
•••••••••
Lengan kanan Akiyama selesai diproses. Pemuda itu terus saja berkaca melihat hasil tato yang memuaskan untuknya. Sedangkan Hiro tidak berani membuat tato karena takut pada syarat dan ketentuan warisan ayahnya. Salah satunya tidak boleh bertato.
Pada saat Robet meminta Ken menunjukkan kembali tato buatannya. Akiyama terkejut.
"Apa??" Akiyama merasa salah dengar.
"Ru rupanya, kau sudah memiliki tato? Wah, aku merasa salah mengajak orang," kata Akiyama melongok tato milik Ken dan diikuti Hiro dengan gelagapan.
Ken hanya tersenyum saat Akiyama penasaran memperhatikan tato naganya. Tato itu menghiasi perut bawah kiri Ken dan menjalar ke bagian pinggul dan pahanya.
"Waah,, menurutku ini keren sekali," Akiyama mengusap gambar tato di perut dan paha atas Ken yang terasa sangat berkarakter.
"Aku akan menyempurnakan gambar yang ku buat tempo dulu. Bagaimana?"
"Apa menurutmu itu harus?"
"Saat di penjara, aku membuatnya dengan alat seadanya sehingga highligt yang ku buat nampak kurang rapi. Jadi sekarang, ijinkan aku membuatnya lebih rapi dan hidup."
"Baiklah, apapun yang menurutmu bagus."
Ngiiiiiiingg,, Ngiiieenng,,,
Suara alat autographic painting pen atau mesin tato itu terdengar lagi. Robet memperbaiki jalinan tinta di bawah kulit Ken.
"Waah.. kau memang tangguh Ken, alat itu terasa menyakitkan sekali saat menusuk dagingku, tapi kau nampak biasa-biasa saja?" kata Akiyama.
"Hey. Memangnya aku ini iron man, si manusia baja?? Aku juga merasakan yang sama denganmu," jawab Ken.
"Tapi, kau sepertinya,,,"
"Aku hanya sudah terbiasa dengan rasa sakit seperti ini. Jadi, aku rasa tubuhku tidak terkejut lagi.
•••••••
Ken, Akiyama dan Hiro berjalan menyusuri jalanan yang mulai ramai anak sekolah. Mereka berpisah di jalan karena Akiyama dan Hiro ada urusan bersama kekasih mereka.
Karena kembali sendiri, Ken berjalan pelan menuju jalan berundak dekat sekolah yang kebetulan juga biasa dilewati Suzy untuk pulang ke rumah.
Ia duduk sambil menggigit batang ilalang yang ia ambil sewaktu berjalan melewati rerimbunan semak dan ilalang. Ketika ia sedang santai duduk di sana, ada lima anak sekolah lain yang menyudutkan seorang pelajar di sekolahnya. Rupanya lagi-lagi ia melihat perilaku pembullyan di kawasan sekolah.
Anak-anak itu meminta uang pada anak satu sekolahnya dan mengancam akan melukai jika tidak menurut. Untuk sementara, Ken hanya memperhatikan dari jauh karena anak itu masih dalam batas aman.
Namun ketika para berandal sekolah lain sudah mulai memukul, Ken tidak bisa diam saja.
"Suiitt!! Hey! Sampah masyarakat!! Di sini bukan tempatmu mencari uang!" Ken bersiul dan sengaja membuat panas keadaan.
Kelima anak dari sekolah lain bersamaan menoleh pada Ken. Mereka langsung marah dan menghampiri Ken yang tetap duduk santai. Karena pikiran mereka sudah teralihkan, Ken memberi isyarat pada teman satu sekolahnya untuk kabur.
"Hey! Apa maksudmu memanggil kami dengan sebutan sampah??!!" seorang pemimpin meraih kerah baju Ken.
"Kalian memang sampah. Sampah yang baunya menyebar ke mana-mana. Apa kalian tidak menyadarinya?"
"Cih! Siapa kau? Beraninya kau memanggil kami sampah!!" ketua mereka marah dan langsung meninju Ken hingga topinya terlepas.
Ketua mereka pikir, Ken hanya banyak omong dan bernyali ciut. Sebab, selama ia memukulinya, anak yang memanggilnya dengan sebutan sampah itu hanya melindungi wajahnya dan tidak bisa melawan.
Tak lama setelah meninju dan menendang Ken, ketua mereka memerintahkan yang lain untuk menghajar Ken habis-habisan.
Anak-anak itu memukuli dan mencoba mengambil uang miliknya dengan cara menarik paksa pakaian dan saku celananya. Mereka pun berhasil menggasak uang dari kantong celana Ken.
Karena masih kurang, mereka memaksa mencari di pakaian Ken. Begitu kancing bajunya terlepas beberapa, pakaiannya pun terbuka. Nampaklah tato samurai dan pedang yang baru dibuat Ken. Tato yang akhirnya membuat nyali mereka menciut.
Dari sanalah, aksi Ken dimulai. Ken yang semula kalem-kalem saja, tiba-tiba berubah menjadi berandal tengik. Ia meraih dan mengenakan kembali topi hitamnya sambil menundukkan kepala.
Lalu perlahan ia mengangkat kepalanya dan menatap tajam pada anak-anak sampah itu, dari balik topinya. Kemudian tanpa ampun, ia balas memukuli anak-anak itu dan menjatuhkan mereka dengan mudah.
Akhirnya mereka semua ditaklukan dan bersimpuh di hadapan Ken yang kembali duduk santai di undakan tangga jalan sambil menghitung uang yang sempat diambil mereka.
"Maafkan kami, kami janji tidak akan melakukan ini lagi di sekolah kalian," kata pemimpin mereka.
"Hmm. Baiklah. Sebaiknya berhentilah memalak. Jika sekali lagi aku menemukan kalian sedang memalak, aku tidak akan membiarkan sampah bau hidup di depanku. Paham kalian?!!"
"P P Paham. Kami paham," jawab mereka serentak dan berkeringat dingin.
Ken memukul kepala mereka masing-masing dan membiarkan mereka pergi. Anak-anak seperti itu memang pantas diberi pelajaran. Jika tidak, mereka akan seenaknya berbuat jahat dan merugikan anak lain.
Ken sendiri lagi. Ia menepuk-nepuk uang yang ada di tangannya dan menyimpan kembali uang miliknya di saku celana kiri. Kini tersisa beberapa Yen milik teman satu sekolahnya. Ia berniat mengembalikan uang tersebut. Tapi bagaimana caranya? Anak itu sudah pergi saat ia menyuruhnya kabur.
Begitu ramai murid sekolah keluar, Ken memperhatikan mereka. Ada satu pikiran muncul saat melihat Suzy, Nonaka dan Temi yang sedang berjalan ke arahnya.
Ternyata ketiga gadis itu tidak mengenali Ken. Bahkan mereka berpisah di persimpangan jalan itu dan pulang masing-masing ke rumah.
Suzy berjalan sendiri menuju gang tempat Ken duduk. Sambil memperhatikan pria aneh bertopi hitam itu, Suzy berjalan dengan begitu waspada.
Begitu pula saat Ken menoleh sedikit ke arah Suzy. Suzy pikir, pria itu pasti berpikiran jahat. Tanpa menunggu kesialan datang, Suzy berjalan tenang dan tetap waspada menghindari pria mencurigakan itu. Tapi siapa sangka, pria itu justru membuntutinya!
Ken sengaja menggoda Suzy dengan sikap mencurigakan seperti itu. Sebagai cewek tomboi, Suzy cukup tenang menghadapi keadaan yang mencekam.
Pada sebuah tikungan kecil, Ken kehilangan Suzy. Tempat itu sepi sekali. Tapi mengapa ia bisa kehilangan jejak?
Baru saja ia hendak melangkah pergi, seseorang menekan pinggangnya dengan benda tajam. Rupanya sebuah pisau lipat.
Ken tersenyum menyeringai.
.
.
.
.
Bersambung ke Episode 13 🤗