RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
BERTEMU KAWAN ATAU LAWAN



EPISODE 74


Ken duduk menyendiri di dekat pagar kawat di area lapangan. Sambil memainkan batu di tangannya, ia menyapukan pandangan ke seluruh lapangan tersebut.


Berbagai bentukan tahanan menghiasi tempat itu. Semuanya terasa menyesakkan dada sebab mata-mata mereka begitu tajam menatapnya. Tiba-tiba, datanglah padanya seorang pria tua.


"Ketua, benarkah itu kau?" tanya pria tua berkacamata itu gagap.


Ken menoleh dan memperhatikan pria tua yang datang kepadanya itu. Siapa?


"Apa kau mengenalku?"


"Tentu saja. Kau ketua Ken, pembunuh Saga!" pekiknya senang.


"Saga?"


"Ya. Pria botak yang...." orang tua berkaca mata itu tidak melanjutkan.


Ken mengingat kembali siapa Saga. Kenapa dan di mana dia membunuhnya? Tapi sebenarnya Ken tidak pernah melupakan peristiwa yang menyangkut orang bernama Saga itu.


Hanya saja, hati nuraninya sudah lama melupakan nama pria bejat yang memperkosanya sewaktu di dalam sel penjara.


"Aah. Aku ingat sekarang. Tapi siapa kau?" tanya Ken benar-benar tidak ingat karena wajah pria berkacamata itu mempunyai bekas luka bakar.


"Aku pria berkacamata, teman kakek tua yang dulu suka memberimu nasehat," kata pria itu.


"Kakek tua? Aah, jadi kau paman Seiji yang dulu bersama kakek Han?" Ken mengenalinya sekarang.


"Ya. Itu aku."


"Tapi, apa yang terjadi pada wajahmu?" Ken ingin tahu.


"Ini luka bakar. Kami mendapat luka ini sewaktu terjadi kebakaran tahun lalu."


"Kebakaran? Di penjara ini?"


"Ya."


Keduanya pun berpelukan karena bahagia bisa bertemu kembali. Namun sebenarnya, entah itu kebahagiaan atau justru kesedihan karena mereka bertemu kembali di dalam penjara. Bukan saat bebas di luaran sana.


"Jadi, apa kakek Han masih di sini?"


"Dia,,, sudah tiada setahun yang lalu. Karena peristiwa kebakaran itu, kami kehilangan dirinya," jawab Seiji sedih.


"Benarkah? Apa yang terjadi? Sungguh disayangkan. Padahal aku ingin menemuinya di sini," jawab Ken sedih.


Pertemuan dengan pria bernama Seiji siang itu sedikit menghibur Kenzhi. Setidaknya ada seseorang yang sesekali dapat ia ajak bicara di tengah keramaian yang sunyi meski kakek Han tidak lagi ada diantara mereka.


•••••••


Setiap istirahat ataupun makan siang, semua warga penjara tidak ada satu pun yang mendekati Ken. Mereka menjauh dengan urusan mereka masing-masing.


Apalagi di dalam penjara itu, terdapat dua geng atau kelompok yang memiliki kekuasaan besar sehingga para tahanan lain memilih untuk tidak melakukan hal yang mencolok.


Suatu hari, kasus pembunuhan Keiko, yang ternyata seorang putri dari seorang wali kota yang tengah menjabat kota mereka saat itu, muncul di beberapa chanel siaran televisi. Beritanya pun disiarkan selama berhari-hari.


Tentu saja, wajah Kenzhi yang menjadi tersangka pembunuhan itu pun terpampang jelas di seantero negri.


Ketika siang itu Ken berjalan memasuki kafetaria, semua orang memandang sinis padanya. Bahkan di beberapa meja, nampak jelas orang-orang sedang membicarakannya.


Ken berpura-pura tuli dan tidak menghiraukan situasi tersebut. Ia tetap melakukan apa yang ingin ia lakukan tanpa mempedulikan cemoohan orang.


SRET


Ken meletakkan nampan makanannya di atas meja yang kebetulan sudah ada dua orang yang duduk di sana. Namun dengan terang-terangan, orang-orang itu pergi meninggalkan Ken sambil berbisik-bisik.


Ken hanya menoleh sebentar pada mereka yang bergegas pergi dari hadapannya lalu duduk dengan santai. Disuapkannya sesendok nasi dan lauk pauknya ke mulut. Kemudian ia mengunyahnya perlahan sambil sesekali memperhatikan situasi di sana.


Begitu ia fokus pada makan siangnya, datanglah seseorang yang baru saja mengambil jatah makan dan memilih duduk di hadapannya.


"Jadi, kau yang membunuh putri wali kota itu?" tanya Kazuki teman sekamar Ken.


Ken melirik siapa yang mengajaknya bicara dan tetap melanjutkan makan tanpa mempedulikannya.


Cukup lama berdiam diri, akhirnya ia pun memberi jawaban, "Aku pikir, rasa keingintahuanmu lumayan besar."


"Jadi, apa benar kau membunuhnya?" tanya Kazuki.


"Menurutmu bagaimana?"


Kazuki terkekeh, "Hmm, kalau dilihat dari penampilanmu, bisa juga. Auramu semacam aura pembunuh yang sudah pensiun."


"Apa katamu? Pensiun?"


" Ya. P E N S I U N."


Ken mengacak-acak makanannya menggunakan sendok yang ia gunakan. Kemudian dengan kesal ia mematahkan sendoknya menjadi dua bagian.


"Apa kau kemari hanya untuk membuatku kesal?" tanya Ken.


"Kenapa kau kesal?"


Ken menghela nafas. Kemudian meletakkan kedua sikunya di atas meja dengan telapak tangan yang bersatu dan saling terkait.


Ditatapnya pria yang menjadi teman sekamarnya itu.


"Sepertinya kau berusaha menjaga jarak denganku," kata Kazuki.


Ken terus memperhatikan Kazuki dengan cermat. Pria itu terlihat membuka dirinya dengan santai. Mungkin, dia sama kesepiannya dengan dirinya.


"Maaf jika itu membuatmu tersinggung. Tapi jujur saja, di tempat seperti ini aku tidak bisa mempercayai siapapun."


"Aku setuju. Aku pun begitu."


"Lalu kenapa kau masih di sini?" Ken berdiri dan bergegas meninggalkan kafetaria.


"Apa? Hey!" seru Kazuki.


Ketika Ken tengah berjalan melewati geng yang selalu beradu tinju dengannya, ketua geng membuat masalah lagi. Pria botak itu menahan dada Ken dengan tangannya saat lewat.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Ken.


"Dasar penjahat kel*min. Kau melewati daerah kuasaku, menurutmu apa yang akan aku lakukan?" jawab ketua geng botak dengan nada merendahkan.


Ken mengerjapkan mata sambil kedua tangannya masih berada di dalam saku celana.


"Kau memanggilku apa barusan?"


"Penjahat kel*min! Kau hanya berani menghabisi wanita yang lemah!"


Ken tersenyum kecut.


"Aku sedang tidak ingin berkelahi, jadi minggir lah," Ken beranjak pergi.


Namun pria botak itu menarik dan menekannya ke atas meja hingga nampan-nampan pun berantakan, "Beraninya kau tidak mempedulikan ucapanku!"


Karena dipojokkan, akhirnya Ken tidak hanya berdiam diri. Ia berusaha melawan dengan meraup wajah pria botak dan mendorongnya ke belakang.


Seraya tangan kanannya meraih-raih garpu yang ada di atas meja, ia menendang pangkal paha pria botak dengan kencang.


Ketika pria itu kesakitan, anak buahnya berteriak memanggilnya, "BOOOOS!!"


"BOS!!"


"Kau baik-baik saja, Bos?" seru mereka.


Anak buah pria botak itu tidak terima dengan apa yang terjadi pada bosnya. Mereka pun mengejar Ken dan memberinya pelajaran. Begitu anak buahnya maju, pria botak bersiap menyerang kembali.


Maka tidak butuh waktu lama, terjadilah keributan di kafetaria. Seperti biasanya. Keduanya berseteru sengit, saling menyerang dan membalas. Perkelahian antara Ken dan pria botak adalah tontonan yang benar-benar mengasyikkan bagi tahanan lain. Duel tersebut berakhir dengan Ken sebagai pemenang.


Para sipir datang dan menangkap semua yang menjadi pemicu kerusuhan. Mereka dimasukkan ke sel isolasi untuk menjalani hukuman.


GREK!


Suara pintu sel isolasi tempat Ken mendekam ditutup dengan kasar oleh sipir. Lampu merah pada ruangan kedap udara itu mulai menyala. Pertanda bahwa lantai dan dindingnya akan segera memanas.


Dan...


Seketika panaslah ruangan kecil tersebut. Ken menjadi berkeringat dan sangat gerah. Belum lagi, ia harus bertahan di dalam ruangan yang membuat darahnya mendidih. Lantai dan dinding besinya seakan memanggang tubuhnya hidup-hidup. Oksigen di dalamnya juga seakan lenyap, hingga ia merasa sesak nafas.


Ken mengetuk-ngetuk jendela kaca yang semakin beruap karena suhu di dalam yang semakin tinggi.


Di sel satunya pun, pria botak sama-sama mengalami hal serupa. Sudah ketiga kalinya ia dan Ken merasakan nikmatnya sel isolasi.


Selesai dengan suhu panas, tiba-tiba air menggenangi ruangan kecil mereka. Dan air itupun semakin naik dan naik. Membuat mereka tenggelam di dalam dan harus menahan nafas per sekian menit.


Dua tahanan itupun panik!


Rupanya, lampu hijau akan menyala ketika mereka sudah pingsan. Meski pria botak sudah pingsan dan dikeluarkan, Ken masih berjibaku dengan air yang membuatnya tidak bisa bernafas.


Sepuluh menit terasa sangat menyiksanya ketika oksigen tidak dapat ia hirup dengan semestinya. Ketukannya pada kaca jendelanya juga semakin melemah.


Ia mati-matian bertahan dengan situasi yang dihadapinya. Namun sebagai manusia, ia tidak bisa apa-apa tanpa oksigen. Maka, ia pun pingsan dan tak sadarkan diri.


Begitu Ken menyerah, lampu hijau di sel isolasinya pun menyala. Air yang menggenang juga mulai surut dan lenyap seketika.


Lalu, dua sipir membuka pintu dan menyeretnya keluar. Mereka menampar kepala Ken beberapa kali untuk membuatnya tersadar, kemudian membawanya kembali menuju selnya.


BRUK!


Dua sipir melempar begitu saja tubuh yang sedang lemas itu ke dalam sel hingga menubruk Kazuki yang sedang membaca buku.


"Hey! Pelan-pelan, kawan," Kazuki memukul kaki sipir-sipir itu menggunakan buku yang sedang ia baca.


"Ah, iya baiklah," jawab sipir-sipir itu sopan karena sering mendapat uang darinya.


"Pergilah,," perintahnya.


Kazuki berjongkok di depan Ken yang lemas. Ia mengangkat dagu Ken dengan buku yang ada di tangannya.


"Ck Ck Ck,, Meski ujung-ujungnya seperti ini, kau masih juga tidak kapok," kata Kazuki.


"Lalu apa aku harus diam saja menghadapi orang itu,,," jawab Ken lemah.


"Hmm. Itu terserah padamu. Hajar dia kalau kau mau," Kazuki menyodorkan tangannya dan melepas kancing baju Ken.


GYUUTT


Menyadari bahwa Kazuki sedang melepas kancing bajunya, Ken yang trauma dengan kejadian bersama Saga itu pun marah-marah.


"Apa yang kau lakukan!" tanyanya melotot seraya mendorong tubuh Kazuki agar menjauhi dirinya.


"Apa!" Kazuki balas melotot.


"Jangan berpikir kotor!" Ken menyilangkan kedua tangannya ke depan dada.


Kazuki baru mengerti apa yang Ken takutkan, "Aihh, siapa yang mau berbuat mesum padamu?!"


"Kau! Kau sengaja mendekatiku untuk ini, kan?" Ken salah paham.


BLETAK!


Kepala Ken mendapat pukulan dari buku yang tebalnya lumayan.


"Aizzhh!"


"Kau punya penyakit di sini?" jawab Kazuki sambil mengetuk-ngetuk dahi Ken menggunakan telunjuknya.


"Aku tidak begitu, tau. Enak saja," lanjut Kazuki.


"Lalu apa?"


Kazuki berdiri dan mendapatkan pakaian kering untuk Ken. Sambil mengibaskan pakaian itu di depan mata Ken, Kazuki berucap,


"Aku mau membantumu mengganti pakaian. Lihat bajumu basah, kau bisa masuk angin," jawabnya kesal karena dituduh menyimpang.


Ken terkekeh. Ia menyadari kesalahannya yang menyamakan sikap Kazuki dengan sikap Saga dulu.


"Huhh,, baiklah, baiklah. Terima kasih untuk pakaiannya," ucap Ken seraya meraih pakaian tersebut.


Ken bergegas mengganti bajunya yang basah dengan yang kering. Sedangkan Kazuki kembali duduk di pojokan sambil membaca buku.


"Siapa namamu?" tanya Ken.


"Namaku?"


"Ya. Setelah aku pikir-pikir, aku belum mengenalmu sejak datang kemari."


"Kau yakin ingin tahu namaku?" jawab Kazuki.


"Ya. Jawab saja, cepat."


"Kau pasti tipe pria yang tidak sabaran," Kazuki mendesis.


"No! Salah besar. Aku tipe pria yang mempunyai kesabaran ekstra," Ken duduk di sebelah Kazuki.


"Benarkah?" Kazuki menoleh dan memperhatikan wajah Ken.


"Apa!"


Kazuki mencibirkan bibirnya melihat ekspresi Ken. Lalu ia kembali membaca buku sambil mencari harta karun di hidungnya.


"Kazuki. Itu namaku."


"Kazuki?"


"Hmm,,,"


"Baiklah. Aku Kenzhi. Panggil saja aku Ken."


"Aku sudah tahu."


"Heh?" Ken heran.


"Apa?" Kazuki menoleh.


"Bagaimana kau tahu namaku?"


"Berita. Apa kau lupa kasusmu dengan putri wali kota? Namamu disebut-sebut di berita manapun."


"Aah, jadi seperti itu."


Hening beberapa saat.


"Apa kau membunuhnya?"


"Tidak."


"Lalu, bagaimana akhirnya kau masuk ke sini?" Kazuki menutup bukunya dan fokus pada Ken.


"Entahlah. Aku tidak membunuhnya. Tetapi aku diseret kemari karena semua bukti mengarah padaku."


"Hmm. Aku jadi penasaran, orang seperti apa kau ini hingga seseorang menjebakmu ke dalam kasus serius seperti itu? Pastinya kau mempunyai banyak musuh di luar sana, kan?"


"Tidak juga."


"Kalau begitu, apa kau memiliki pengaruh besar sehingga seseorang ingin menyingkirkanmu."


Ken diam berpikir. Memang janggal baginya. Bagaimana ia terjebak kasus pembunuhan disaat ia akan disahkan menjadi pemegang saham sah di perusahaan Deido pada esok harinya?


Apa semua ini hanya permainan bisnis? Lalu siapa pelakunya?


Bersambung........