RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
PENGUNTIT TAMVAN



EPISODE 13


Ken tersenyum menyeringai......


Mengapa tidak? Ia tahu betul bahwa yang menekan pinggangnya dengan pisau lipat adalah Suzy. Bagaimana dia tahu?


Dari aroma parfum Suzy. Ya. Ken dapat mengenali aroma parfum Suzy yang segar dan enerjik tapi tetap terkesan manis. Mungkin dari aroma buah yang segar dicampur minyak esensial lainnya seperti aroma vanilla.


"Siapa kau! Mengapa mengikutiku dari tadi?!!" tanya Suzy kesal.


"Kenapa, ya? Aku rasa mungkin karena nona sangat manis," jawab Ken sengaja membuat Suzy ngamuk.


Benar saja. Suzy benar-benar kesal dengan jawaban yang keluar dari mulut pria bertopi hitam itu. Ia mengira bahwa pria itu ingin melakukan hal macam-macam kepadanya.


"Kurang ajar!! Apa kau tidak punya sopan santun? Jika berani mengatakan itu lagi, maka aku akan menghabisimu sekarang juga!"


Suzy menekankan pisau lebih keras ke pinggang Ken.


"Ouggh," Ken menengadahkan kepala ke atas.


Meski sudah diancam begitu oleh Suzy, Ken tetap ingin bermain-main. Bahkan ia tidak takut seandainya Suzy benar-benar menusukkan pisau tersebut ke pinggangnya.


"Lepas topimu!!" kata Suzy.


Ken tidak melakukannya. Ia malah menantang Suzy agar melepasnya sendiri.


"Jika nona mau, lepaskan saja sendiri topiku," katanya.


"Apa? Benar-benar ini orang. Minta dipukul habis-habisan."


Suzy mengulurkan tangan kirinya untuk melepas topi yang dikenakan Ken. Tapi Ken menoleh ke kanan. Begitu Suzy meraih dari kanan, Ken mengelak ke kiri. Begitu seterusnya.


Karena Ken terus menunduk, Suzy masih tidak menyadari siapa pria yang sedang ia ancam.


"Ikut aku ke kantor polisi. Aku akan memenjarakanmu!" kata Suzy mengalihkan perhatian Ken.


"Benarkah? Maka dengan senang hati," Ken menjawab dengan asal.


"Baiklah. Ayo pergi."


Suzy mendorong Ken berjalan maju dengan pisau lipat yang masih menempel di pinggangnya sebagai ancaman. Begitu Ken lengah, Suzy meraih topi hitam yang dipakainya dan bersiap memukul.


"Hiaaattt-"


Topi hitam itu terlempar jatuh ke bawah. Dengan segera, Suzy melihat siapa wajah di baliknya.


"Ken???" tanyanya kaget.


Ken tersenyum menyeringai pada Suzy.


"Apa-apaan kau ini? Menyamar sebagai pria misterius? Apa maumu?" tanyanya kesal.


"Hmm. Tidak ada yang ku mau."


Suzy melotot dan menarik kerah baju Ken maju ke arahnya, "Lalu?"


Ken berlagak berpikir dan mencondongkan kepalanya mendekati wajah Suzy sambil tersenyum


"Astaga? Apa ini? Haaah. Dia manis sekali. Tidak. Tidak. Dia sangat tampaaan."


Suara dalam hati Suzy langsung meleleh saat menatap Ken.


•••••••••


DEG


Suzy berkedip pelan. Entah mengapa gerakan Ken menjadi slow motion dimatanya. Suzy mundur selangkah dua langkah untuk menghindari perasaan deg-degannya. Di saat-saat seperti itu, muncullah pikiran halusinasi di otaknya.


Pada saat Suzy menikmati halusinasinya, tiba-tiba saja Ken menyodorkan beberapa lembar uang milik anak yang sempat dipalak tadi. Alhasil, halusinasi indah di otaknya segera runtuh.


"Tolong kembalikan uang ini pada Drei."


"Apa?" Suzy melihat kenyataan berbanding terbalik dari halusinasi indahnya.


"Uang Drei. Tolong kembalikan padanya besok," kata Ken mengulangi.


"Kenapa kau mengembalikan uang pada Drei?" Suzy penasaran.


Ken berbalik dan melangkah dengan kedua tangan di dalam saku celana.


"Woah? Apa kau mempunyai hutang dengannya? Benarkah itu? Kau suka mengutang?"


Ken menoleh dan menghentikan langkahnya. Ditatapnya Suzy yang asal menebak.


"Apa-apaan? Mengutang? Hah.." Ken tertawa geli.


"Ya. Kau pasti mempunyai banyak hutang di mana-mana. Ya kan? Ya kan?" Suzy tampaknya termakan pendapat Temi waktu itu.


Melihat Suzy tidak mau diam dan terus menggodanya dengan masalah utang piutang, dengan cepat Ken menyentil dahi gadis itu hingga terdengar bunyi BLETAK.


"Jangan asal menilai sesuatu. Aku tidak mempunyai hutang pada siapapun, tahu?"


"Habisnya, kau mencurigakan seperti itu."


"Berikan saja itu padanya. Nanti kau juga tahu sendiri," kata Ken sambil memungut topinya yang berada di tanah lalu melenggang pergi.


"Baiklah. Akan aku berikan padanya besok!" jawab Suzy sedikit berteriak karena Ken sudah berjalan jauh meninggalkannya.


••••••••••


Keesokan harinya saat Suzy mengembalikan uang Drei seperti permintaan Ken, ia bertanya pada Drei, anak kelas B. Apa yang sebenarnya terjadi.


"Hay Drei. Ken memintaku mengembalikan uang ini padamu. Apa dia mengutang padamu? Benarkah?"


"Jadi? Tidak, ya?" Suzy menyelidik wajah Drei.


"Tidak. Itu,,"


Suzy mengangguk pelan menunggu ucapan dari Drei, "Itu apa?"


"Kemarin, dia menolongku saat aku di palak anak Fungi."


DEG


Suzy mendapatkan jawaban yang lebih bagus dari perkiraannya.


"Menolongmu dari anak yang memalak? Bagaimana ceritanya? Coba ceritakan padaku dengan detil."


"Ya. Dia melihatku dipalak dan dipukuli lima anak Fungi. Kemudian dia memanggil mereka dengan panggilan sampah masyarakat. Aku rasa itu sengaja dia lakukan agar bisa menyuruhku kabur."


"Dan,, kau kabur begitu saja?"


"Tidak. Aku lari bersembunyi dan berniat mencari pertolongan jika dibutuhkan. Tapi saat ku lihat kemudian, Ken sudah membuat mereka bertekuk lutut di hadapannya."


"Benarkah? Itu seru sekali."


"Kurasa, kau harus menyampaikan ucapan terima kasihku padanya jika nanti bertemu dia lagi."


"Hmm. Baiklah."


•••••••


Suzy melamun di meja belajarnya. Ia merasa malu pada Ken karena salah mengira soal uang kemarin. Ia berpikir bahwa dirinya harus meminta maaf segera padanya. Ah. Tapi sepertinya, Ken juga tidak mempermasalahkan kesalah fahaman itu.


SRET


Ia turun ke bawah mencari Akiyama. Kakaknya itu, bukankah dia teman SMP Ken dulu? Suzy berniat mendengar cerita tentang Ken dari mulut kakaknya.


"Kau itu, apa dulu benar-benar satu sekolah dengan Kenzhi?" tanyanya pada Akiyama yang sedang menata barang.


"Ya. Mengapa kau tanyakan itu?" Akiyama heran.


"Aku ingin dengar, orang seperti apa dia?"


"Dia? Kenapa? Apa kau menyukainya?" pertanyaan Akiyama tepat sekali.


Suzy tersenyum sedikit.


"Berhati-hatilah padanya. Sewaktu-waktu, dia bisa menjadi manusia yang sangat berbahaya."


"Apa maksudmu?"


"Dia pernah di penjara. Apa kau tahu?"


"Itu gosip saja, kan?"


"Tidak, Suzy. Itu bukan gosip melainkan kenyataan."


"Bagaimana kau yakin sekali tentang itu?"


"Sebab, Hiro dan akulah yang membuat dia masuk penjara. Dulu dia menyelamatkan Yoshi dari bullyan kami. Dan kami pun terlibat perkelahian sengit. Pada saat aku memecah botol kaca untuk menusuk pinggangnya, dia menendang botol tersebut sehingga mengenai Hiro."


"Apa?? Jadi kasusmu waktu itu adalah kasus yang juga menimpa Ken?"


"Hmm. Benar. Lucunya lagi, Yoshiwara yang telah diselamatkannya, justru menjebak dirinya dengan pengakuan palsu."


"Apakah Yoshiwara yang itu? Jika iya. Aku kenal anak itu. Dia juga sekolah di sekolah kami. Siapa dia?"


"Dia kakak Kenzhi."


"Apa??"


"K Kakaknya?"


"Ya. Gara-gara itu, Ken di penjara selama 8 bulan. Dan dibebaskan bersyarat. Dia ikut ujian susulan karena sekolah kami tidak menerima dia kembali sebagai siswa."


Suzy diam dan melamun. Akiyama memerhatikan adiknya yang sepertinya benar-benar menyukai Kenzhi.


"Pokoknya kakak minta tolong padamu, sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengan Ken. Dia seorang berandal sungguhan. Suka berkelahi dan memukuli orang hingga babak belur."


"Kenapa kau menilai dia seperti itu? Bukankah kalian berteman?"


"Ya, memang. Tapi, aku juga tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi ke depannya. Dia akan tetap menjadi teman atau menjadi ancaman, entahlah."


Akiyama menoleh pada adiknya dan pergi menata barang kembali. Beberapa kotak kardus berisi Snack sudah siap dibereskan.


Suzy merenung. Ia berjalan kembali ke kamarnya dan memikirkan Kenzhi kembali. Sepertinya, apa yang dipikirkan Akiyama salah. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi nanti.


Sebagai adiknya Akiyama, bukankah Ken juga akan membalas dendam kepadanya jika kakaknya itu pernah membuat perkara dengannya?


Huff....


.


.


.


.


.


Bersambung ke Episode 14,,,,