RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
BERISIK



EPISODE 92


Saat puntung rokoknya habis setengah batang, Ken mematikan apinya dan menghabiskan minuman kaleng yang masih tersisa.


Ia berjalan sempoyongan menuju lantai atas. Belum sampai di sana, ia berhenti di tempat seraya memikirkan sesuatu.


Bola matanya bergerak-gerak mengingat perkataan Linzhi tentang barang yang hilang. Maka sekali lagi, Ken mencoba memeriksa tempat dimana pagi itu ia terbangun tanpa pakaian.


"Sebenarnya apa yang ia jatuhkan di tempat ini?" Ken yang mabuk membungkuk-bungkuk mencari benda yang mungkin saja milik Linzhi.


Karena lagi-lagi ia tidak menemukan apapun, Ken duduk di lantai yang menghadap ke arah rak buku.


"Apa dia sungguh datang kemari? Atau itu hanya akal-akalan dia saja untuk mengikatku?" gumamnya dengan suara khas orang mabuk yang meracau setengah sadar.


Beberapa menit kemudian ia kembali berdiri dan mencoba menyingkirkan beberapa barang besar.


Karena keseimbangan tubuh Ken sedang tidak baik, sesekali ia mengalami jatuh bangun. Ia jatuh tertelungkup di atas lantai sambil meracau tidak jelas.


Bahkan ia juga terlihat beberapa kali memuntahkan bir yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Pada saat yang tepat, Ken mengusap bibirnya tersebut dengan punggung tangannya.


Tanpa sengaja, pandangan matanya yang mengantuk menangkap sebuah benda di arah kirinya. Tepat di bawah sebuah rak buku kayu.


"Apa itu?" mata sayu yang terasa berat untuk dibuka itu melihat sesuatu yang berwarna putih di bawah rak kayu.


Meski tubuhnya dikuasai alkohol, Ken berusaha mengambil benda tersebut karena penasaran. Ternyata itulah benda yang dicari-cari oleh Linzhi dan tidak ketemu.


"Ohh? Itu kau?" Ken memperhatikan foto Linzhi di tanda pengenal yang ia temukan.


GLEK


"Hey, Linzhi! Jadi, kau benar ada di sini, malam itu? Aah, kau pasti sengaja menyembunyikan ini agar aku bermain petak umpet denganmu, bukan?hehe" Ken tertawa sambil mengajak bicara foto Linzhi.


Ken duduk kembali dan menyandarkan kepalanya di dinding. Sesekali suara cegukan keluar dari mulutnya.


"Tapi, apa kau tak tahu malu? Bukankah dulu kau meninggalkanku karena aku tidak punya uang? Lantas, mengapa sekarang kau mengejar seseorang yang miskin dan menyedihkan sepertiku?" Ken menoyor kepala yang ada di dalam foto berulang kali.


Pengaruh minuman keras yang baru saja ia habiskan benar-benar kuat. Selain hilang kesadaran, wajahnya juga jadi memerah. Hingga usai mengatakan itu, Ken pun tertidur pulas sampai pagi.


••••••


Diinn.. Diinn...


Suara klakson dari sebuah mobil terdengar sangat kencang. Benar-benar mengagetkan bagi orang yang semalam tidur setelah menghabiskan enam kaleng bir.


Ken memicingkan sebelah matanya yang sejak tadi terkena pantulan sinar matahari.


"Huuh,, siapa yang memainkan klakson pagi-pagi begini? Mengganggu saja."


Ken masih enggan beringsut dari tempatnya berada.


Dinn Diinn....


Sekali lagi terdengar suara klakson dari luar. Seakan sedang memanggil Ken yang tidak juga menampakkan batang hidungnya.


Karena merasa terganggu, Ken pun malas-malasan keluar untuk melihat siapa yang memainkan klakson di depan rumahnya seperti itu.



TAP


Baru saja ia melangkah dari pintu rumah, ia melihat Linzhi di depan sana. Wanita itu berdiri di depan pintu mobil dengan tangan yang beberapa kali merogoh ke dalam jendela untuk menekan klakson.


Begitu Linzhi melihat Ken, dilambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri.


"Apa kau baru bangun tidur?"


Ken tidak begitu senang dengan kedatangan wanita itu. Sehingga ia hanya mendengus pelan meski ditanya.


"Ayo ikut denganku ke rumah sakit," Linzhi menghampiri Ken dan meraih tangannya.


"Kenapa aku harus ikut denganmu ke sana?" tanya Ken menolak tangan Linzhi dengan ekspresi wajah yang datar.


"Aku harus meyakinkanmu tentang bayi yang ada di dalam rahimku."


GLEK


Ken menoleh pada Linzhi dan mengamati perutnya. Memang terlihat buncit.


"Apa kau yakin itu milikku?" tanyanya terus menatap ke bagian itu.


"Aku dan Yoshi sudah bercerai satu tahun yang lalu," Linzhi diam sebentar.


"Tunggu sebentar. Apa kau sedang meragukan darah dagingmu?" lanjutnya tergagap.


"Asal kau tahu. Aku tidak berencana memiliki bayi lagi," Ken berbalik pergi dengan santai.


"Tunggu, Ken. Apa kau ingin mengingkari kenyataan bahwa kita melakukannya dengan penuh gairah?"


Ken berhenti dan berkata tenang, "Aku tidak ingat telah melakukannya."


"Ken..."


"Aku bukan ayah dari anak itu"


"Ken!"


"Jangan datang lagi kemari. Jika kau menginginkan seseorang untuk membiayai hidup bayimu, kau salah memilih orang. Aku tidak punya apapun untuk diberikan padamu."


"Ken!!!"


"APA!" Ken berbalik dan bicara dengan nada bicara yang tinggi.


"K kau keterlaluan....." Linzhi menatap sendu mata Ken.


Keduanya bertatapan cukup lama. Ada siratan kemarahan dari mata Ken. Namun, ia hanya diam dan kemudian menunduk. Jujur saja, ia benar-benar sedang tidak ingin membahas masalah itu dengan Linzhi.


"Setidaknya, ikutlah denganku ke rumah sakit. Aku sudah membuat janji dengan dokter Mioko untuk tes DNA."


Ken mendengus lagi. Dirinya amat sulit menerima keadaan. Sebab, belum lama ia bersedih karena kehilangan orang tercinta. Namun sekarang apa? Ia memiliki bayi dengan wanita lain?


Aih. Betapa malunya dirinya karena tidak mampu menjaga kesetiaan.


"Aku.. Sulit sekali untuk menerima semua ini.." Ken bicara lirih.


"Kenapa? Apa kau merasa bersalah pada Suzy?"


"Ken, aku tahu perasaanmu. Tapi tidak bisakah kau mengasihani bayi ini?"


Ken berpikir cukup lama. Situasi itu benar-benar sulit baginya.


Hingga akhirnya ia mencoba menuruti Linzhi untuk ikut ke rumah sakit. Sebenarnya ia juga ingin tahu, apakah bayi itu memang miliknya atau bukan.


Begitu tiba di rumah sakit dan bertemu dokter Mioko, darahnya diambil untuk segera dilakukan tes paternitas prenatal noninvasif. Yaitu, tes untuk melihat kecocokan DNA pada bayi yang ada dalam kandungan.


"Setelah 14 hari, anda akan mendapatkan hasil tes DNAnya."


"Apa tidak bisa sekarang, dokter?" Linzhi ingin cepat membuktikan kebenarannya pada Ken.


"Mari kita tunggu 14 hari ke depan," jawab dokter Mioko sambil tersenyum.


"Baiklah, terima kasih."


Di perjalanan pulang, Linzhi berulangkali melirik pada Ken yang sejak tadi membisu dan memejamkan matanya. Ia tahu, kesalahannya di masa lalu pada Ken benar-benar tidak bisa dimaafkan.


Akan tetapi, semakin ia bertambah umur, pikirannya semakin terbuka. Uang memang segalanya. Tetapi, kenyataannya ia tidak dapat membeli cinta yang tulus dari seseorang dengan apapun.


Hanya orang-orang bodoh yang mau menukar waktu dimana dirinya hidup bahagia, dicintai dan dikasihi setulus hati dengan uang dan kekayaan.


Diam-diam, Linzhi membawa Ken melewati taman bermain yang pernah mereka datangi. Kemudian ia menghentikan mobilnya dan berkata,


"Apa kau ingat saat kita pertama kali bertemu?" Linzhi sengaja menggali masa lalu.


Ken membuka mata perlahan dan memperhatikan sekitarnya. Ia melihat sebuah taman bermain yang ada di depan matanya.


"Apa kau akan membahas masa lalu?" jawabnya ketus ketika menyadari bahwa tempat itu adalah tempat saat mereka makan es krim bersama.


"Jika menurutmu begitu, maka ya. Sekarang ini, kita berdua tengah berada di sana."


Ken diam.


"Ayo keluar," ajak Linzhi.


Wanita itu berlari mendapatkan ayunan dan duduk di atasnya, ia pun mengayun ayunannya seperti anak kecil yang sudah lama tidak menjumpai tempat hiburan seperti itu.


Dari tempatnya bermain, Linzhi memanggil-manggil Ken.


"Ayo kemarilah, Ken!"


Meski awalnya enggan, tapi nyatanya Ken keluar dari mobil juga. Ia tidak bisa terus bersikap kekanakan seperti itu saat menghadapi Linzhi.


Dengan langkah pelan, ia pun duduk di ayunan sebelah wanita itu.


"Kenapa kau menyerahkan bukti rekaman itu pada polisi? Bukankah akhirnya kau justru memenjarakan suamimu?" tanya Ken.


Linzhi menoleh, "Aku ingin menebus semua kesalahanku padamu."


"Kenapa? Apa kau menyesal?"


"Ya. Aku menyia-nyiakan cinta yang tulus darimu hanya untuk pria jahat seperti Yoshi. Selama menjalani pernikahan dengannya, aku selalu menyesali keputusanku."


"Bukankah kau bahagia karena dia kaya dan mempunyai segalanya? Terutama uang, kau pasti mendapatkan semua yang kau inginkan darinya."


Linzhi menggelengkan kepalanya cepat, "Dia terlalu gila. Selama dia menjadi suamiku, dia hanya memikirkan bagaimana caranya menyakitiku. Dan berkali-kali pula ia mengurung dan menyiksaku dengan kasar."


Ken diam seraya mengusap-usap punggung jari telunjuk kirinya dengan ibu jari tangan kanannya.


"Apa kau kira, apa yang kau terima itu dapat menebus semuanya?"


Linzhi berhenti mengayun ayunannya dan menatap lurus pada Ken. Ia tahu bahwa Ken masih berat untuk memaafkannya.


"Sepertinya tidak. Maafkan aku, Ken. Aku membuat hidupmu hancur," jawab Linzhi lirih.


Saat itu pula ia melihat seringai singkat dari bibir Ken.


"Kau salah. Sebenarnya, aku berterima kasih padamu karena saat itu meninggalkanku untuk hidup bersama orang lain. Tanpa semua itu, aku tidak akan pernah menikmati bagaimana rasanya saling mencintai dan hidup bahagia bersama Suzy."


Ken berdiri dan berjalan meninggalkan Linzhi yang merasa kalah telak dari Suzy. Sambil melangkah pergi, ia berkata tanpa menoleh sedikit pun padanya.


"Sampai di sini, aku akan berjalan kaki menuju rumah. Sebaiknya pulanglah sebelum hujan turun."


••••••


KLANG!


Saat lembur bekerja di hari Sabtu, Ken masih sibuk menyelesaikan bongkar pasang ban sebuah mobil.


Mobil itu rusak mesin. Selain itu,, si pemilik juga meminta mengganti semua ban mobilnya.


Sebenarnya, itu pekerjaan Ichigo temannya. Namun karena ada urusan mendadak dengan kekasihnya, Ichigo meminta tolong pada Ken untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Untuk urusan bonus, Ichigo berkata tidak akan mengambil bagian dan memberikannya pada Ken.


Dan akhirnya, Karena mesinnya yang rusak sudah diperbaiki oleh Ichigo, Ken hanya meneruskan pekerjaan yang belum sempat diselesaikan oleh kawannya.


Menurut kawannya, mobil itu akan diambil si pemilik pada malam hari pukul delapan. Ketika waktu sudah menunjuk pukul delapan lebih dua menit, dua orang wanita berpenampilan garang namun seksi datang.


Pakaian mereka serba hitam dan terbuka. Riasan eye shadow yang digunakan keduanya pun sama-sama hitam. Dengan seorang yang mempunyai tindik di bibir dan satunya lagi di alis mata, mereka tampak bukanlah wanita baik-baik.


DONGGG!


Seseorang menendang sisi mobil yang sedang dibetulkan, sehingga kepala Ken terantuk bagian bawah mobil tersebut. Seseorang lagi menggebrak kap mobil mereka dengan keras sehingga telinga Ken seakan berdengung.


"Hey, apa ada orang di sini?? Kenapa mobil kami belum juga selesai diperbaiki?!!"


"Mengecewakan sekali," ucap seorangnya lagi.


Ketika keduanya selesai berucap, Ken keluar dari bawah mobil dan membuat wanita-wanita itu terkejut.


"Aissh, berisik sekali.”


.


.


.


.


BERSAMBUNG....