
EPISODE 31
Ken masuk ke rumah Linzhi dengan berjinjit dan menyalakan sakelar lampu yang ada di dekat pintu. Ia benar-benar kedinginan karena basah kuyup. Bajunya yang berbahan kaos itu pun menempel lekat pada tubuhnya.
Tanpa menunggu masuk angin, Ken pergi mandi dengan air hangat dan mengganti pakaian. Kemudian ia mencari sesuatu di dapur karena perutnya terasa keroncongan. Dan demi apa? Ia hanya menemukan mie ramen pedas.
Yaah. Karena ia merasa lapar, mie instant pun sangat berguna. Dituangnya air ke dalam panci kecil. Setelah mendidih, dimasukkannya mie instan tersebut ke dalamnya.
Ken mencari sesuatu lain di dalam kulkas. Untung saja ada telur dan sekaleng kecil daging cincang. Dengan cepat, Ken menumis telur dan daging cincang tersebut dengan sedikit tambahan bumbu.
Begitu mie ramennya matang, ia menuangkan daging cincang dan telur di atas mienya.
SLUURRPPP!
Aah.. Karena perut lapar, makanan apapun akan terasa nikmat. Apalagi ada tambahan lainnya. Ken makan dengan lahap seperti sedang tidak terjadi apapun padanya. Rasa ramen yang pedas, membuat bibirnya menjadi merah.
"Hoh! Ya Tuhan! Pedas sekali. Sss haahh!" rupanya Ken tidak kuat pedas.
Tapi meski mie ramen tersebut pedas, Ken tetap menikmatinya hingga habis tak tersisa. Dan seperti biasanya, acara makan itu pun ditutup dengan suara sendawa yang keras. Aaaarrghh!
Selesai mencuci peralatan makannya, Ken pergi menonton tv. Tepat saat ia mengganti ke salah satu Chanel, sebuah promosi tentang les dan ujian memasak yang diadakan oleh pemerintah pun lewat.
Bahkan, sebuah perusahaan makanan terkenal yang bekerja sama dengan beberapa chef akan mengadakan lomba memasak dengan total hadiah yang tidak main-main jumlahnya.
"Wah, menarik sekali. Kira-kira, apa aku bisa ikut lomba memasak seperti itu?" gumamnya sambil membersihkan gigi dengan tusuk gigi.
••••••
Esoknya, Ken sudah berada di restoran dan mulai melakukan pekerjaannya. Seperti biasa, ia mendapat bagian mencuci dan memotong ayam.
Begitu Suzy datang, Ken mengutarakan isi hatinya.
"Menurutmu, bagaimana jika restoran kita mengembangkan menu?"
"Mengembangkan menu? Maksudmu menghidangkan masakan lain?"
"Ya. Seperti itu."
"Hmm. Tidak, tidak. Aku tidak bisa memasak makanan lain selain ayam," jawab Suzy cepat.
"Mengapa tidak belajar bersama-sama?"
"Belajar?"
"Hmm. Aku akan mengikuti ujian memasak gratis untuk mendapatkan sertifikasi memasak."
Ken tersenyum kepada Suzy. Tiba-tiba saja Suzy berseru.
"Oh ya benar!! Apa kau melihat iklan itu di tv. Dengan disponsori oleh sebuah perusahaan makanan terkenal, sebuah balai latihan pemerintah akan menampung 250 peserta yang beruntung untuk mengikuti ujian."
"Jadi, apa kau juga melihat itu?" Ken merasa kebetulan.
"Iya. Perusahaan yang menyeponsori ujian memasak itu juga mengadakan lomba memasak dengan tiket pendaftaran terbatas. Bagaimana kalau kita ikut juga. Siapa tahu hadiah itu menanti kita berdua," Suzy begitu bersemangat.
"Setuju."
Ken mengangguk senang.
"Kalau begitu, mulai hari ini kita harus sering belajar memasak dan mengolah menu yang berbeda dari biasanya," lanjutnya.
"Hhm. Menurutmu, kita bisa mulai dari mana?" Suzy meminta pendapat.
Obrolan mereka terhenti ketika ada pesanan masuk. Daisuki membawa tiga buah catatan dan memberitahukannya pada pada Ken.
"Dua porsi Chicken Katsu dengan saus dan tiga porsi Yakitori untuk meja lima!" seru Daisuki.
"Siap!" jawab Ken mulai memanaskan wajan sambil mulai memotong tipis bagian dada ayam sebanyak dua potong. Kemudian memasukkannya ke dalam wadah dan memberinya bumbu serta tepung pilihan.
"Satu porsi Thobasaki Chicken Wings untuk meja sembilan. Dan dua ayam Katsu saus kari untuk meja dua!!" lanjut Daisuki.
"Siap!"
"Siap!!"
Jawab Ken dan Suzy bersamaan.
"Ken, kau selesaikan hidangan meja lima.Yang lain biar aku yang membuatnya."
CRAK!
CRAK!
CRAK!
"Baiklah!" Ken memotong-motong bawang dan melanjutkan menumis margarin untuk membuat saus. Ia fokus menyelesaikan hidangan pertama. Yaitu chicken katsu.
Kerja sama antara Suzy maupun Ken berjalan begitu baik. Sehingga mereka mampu menyiapkan hidangan pesanan dengan waktu yang cepat dan tidak terlalu lama.
Begitu pekerjaan mereka selesai, Ken beristirahat dengan duduk di lantai dapur tempatnya memasak tersebut.
Suzy menghampiri Ken dan duduk di dekatnya. "Kalau kau mau ikut ujian memasak, selain giat melakukan praktek, kau harus belajar teorinya juga. Bagaimana jika besok saat restoran tutup kita pergi ke perpustakaan umum?"
"Boleh. Besok, aku akan menjemputmu di rumah."
"Eeh. Tidak, tidak. Kita ketemu langsung saja di perpustakaan."
"Oh. Baiklah."
Pada waktu sedang asik mengobrol, Suri datang membawa kertas pesanan. Ia memberitahukan bahwa meja tiga meminta ayam Katsu spesial.
Ken menyuruh Suzy untuk istirahat. Tapi wanita itu tidak mau dan justru menyuruh Ken istirahat.
"Kau saja yang istirahat, Ken. Biar aku yang mengerjakan pesanan," katanya.
Ken akhirnya mengalah dan hanya membantu Suzy sekedarnya saja. Tanpa di duga, sebuah tragedi terjadi. Tangan kiri Suzy yang sedang mengangkat wajan panas berisi saus, tiba-tiba saja mengalami keseleo hingga wajan itu miring dan hampir saja mengenai tangan Suzy yang satunya.
Ken menoleh dan segera menepis wajan panas itu supaya menjauh dari tangan Suzy. Alhasil, tangan kanan Ken yang digunakan untuk menepis wajan itu pun mengalami luka bakar yang serius. Ditambah lagi, saus panas yang baru dimasak mengguyur tangannya sampai ke bagian lengan.
Kulit tangannya tersebut menjadi memerah dan sedikit mengelupas. Namun Ken tidak mencemaskan dirinya sendiri. Ia lebih cemas pada kondisi tangan Suzy.
"Kau tidak apa-apa??"
"Ssshh,, Tidak apa, Ken. Bagaimana dengan tanganmu sendiri? Ya Tuhan, lihat! Tanganmu terluka," Suzy menitikkan air mata saat melihat kulit tangan Ken merah dan mengelupas.
Begitu melihat luka di tangan Ken, Suzy menyeret Ken ke dekat keran dan mulai menyiram tangan yang terluka tersebut dengan perlahan. Ia juga berteriak pada asistennya yang lain agar membantunya mengambilkan kotak obat.
"Siapapun, tolong ambilkan kotak obat! Tangan Ken terluka! Cepat!"
Suri yang rupanya sempat menyaksikan kecelakaan di dapur tadi, datang membawa kotak obat tanpa diminta. Dan untuk sementara, Gorou menggantikan Suzy membuat saus untuk pesanan makanan meja tiga. Dibantu Daisuke.
Ken duduk di kursi untuk mendapatkan pengobatan. Suzy membantunya membubuhkan salep untuk luka, kemudian membalut luka yang membentuk garis vertikal di antara pergelangan tangan dan lipatan siku tersebut dengan perban.
Begitu selesai membalut luka Ken, Suzy diam dan memegangi tangan Ken.
"Maaf, Ken. Aku tidak sengaja melukaimu," katanya penuh sesal.
Ken yang merasa baik-baik saja, gantian memperlakukan Suzy sebagai pasien. Dengan perlahan, ia meraih tangan kiri wanita itu.
"Apa tanganmu baik-baik saja? Sekarang, biarkan aku merawatmu."
"Tanganku tidak apa-apa," Suzy hendak menarik tangannya.
Namun ternyata Ken memeganginya dengan erat. Sambil memijit pelan tangan Suzy, Ken berucap lembut,
"Lain kali, biarkan aku melakukannya. Jangan memaksakan diri jika Kau butuh istirahat. Untung saja, hanya aku yang terkena wajan panas itu."
Dengan mimik muka yang penuh kecemasan, Ken menatap Suzy. Bagaimanapun, ia bersyukur bahwa wanita itu selamat dan baik-baik saja.
Melihat bahwa Ken benar-benar mencemaskan dirinya, Suzy pun menunduk sesal.
"Iya, baiklah."
•••••••
Restoran sudah tutup. Tetapi orang dalam sedang berbenah dan bersih-bersih. Termasuk Ken. Meski tangannya sempat terluka, tetapi ia tetap melakukan pekerjaannya. Bahkan sampai akhir jam kerja.
Satu persatu anak-anak pelayan restoran berpamitan pulang. Hingga akhirnya hanya tersisa Ken dan Suzy yang sedang sibuk di dapur.
"Kau tidak pulang?"
"Kau sendiri? Mengapa masih di sini dengan tangan yang terluka?"
"Aku sudah hampir selesai berbenah. Kau pulanglah terlebih dahulu."
"Tidak bisa. Aku akan menunggumu," jawab Suzy keras kepala.
••••••
Di hari saat mereka berdua janjian untuk bertemu, Ken lebih dahulu mampir mendaftar untuk mengikuti les dan ujian sertifikasi. Dengan kartu identitas diri yang beberapa bulan lalu sempat ia buat, ia berhasil mendaftar.
Ada baiknya juga mendengar nasehat Suzy saat itu. Bahwa dirinya harus melengkapi data diri seperti KTP dan kartu keluarga. Untung saja ia sudah menyiapkan keduanya. Sehingga pendaftaran ujian tidak membutuhkan waktu lama.
Begitu keluar ruangan pendaftaran, rupanya ia mendapat nomor urut peserta dengan nomor 099. Untung saja. Masih mendapat kesempatan!
Setelah selesai dengan pendaftaran tersebut, Ken berjalan menuju perpustakaan. Di tengah jalan ia melihat penjual aksesoris di emperan. Ada satu barang yang langsung membuat matanya suka.
Sebuah jepit rambut dengan warna merah muda berbentuk bunga berhasil menarik perhatiannya. Jepit rambut itu sebenarnya cukup sederhana, namun ia yakin jika dipakai seseorang maka akan terlihat keindahannya.
"Tolong bungkuskan yang ini, nenek," kata Ken pada penjual.
"Pilihan yang bijak, anak muda. Jepit merah muda ini melambangkan kasih sayang yang abadi. Apa ini untuk kekasihmu?"
"Ah.. hehe," Ken hanya tersenyum simpul.
Setelah membayar barang cantik yang harganya tidak seberapa itu, Ken kembali melangkah menuju perpustakaan. Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di perpustakaan umum kota. Dan menunggu kedatangan Suzy selama lima belas menit.
Di depannya, Ken membawa setumpuk buku resep masakan yang hendak ia catat. Lomba memasak itu masih dua bulan lagi. Jadi dia bisa belajar selama itu.
Ken mulai menulis dan mengisi buku catatannya. Karena sangat fokus, ia tidak tahu kalau Suzy mengendap-endap di belakangnya dan berniat mengagetkannya.
"Hey!!" Suzy membuat Ken terkejut.
Ken kaget bukan main. Untung saja ia tidak berteriak. Bisa panjang urusannya jika penjaga perpustakaan mendengar keributan.
"Kau ini. Masih saja usil."
"Hehe. Kau sudah di sini dari tadi?"
"Ya. Lima belas menit yang lalu."
Suzy duduk dan melihat tangan Ken yang masih berbalut perban.
"Bagaimana tanganmu?"
"Aku rasa sudah sembuh. Hanya saja, aku belum membuka perbannya lagi."
"Biar aku yang melakukannya nanti," Suzy menyahuti dengan cepat. "Sekarang, kita belajar teori resep dulu."
"Hmm. Baiklah."
.
.
.
Bersambung ke Episode 32 🤗