RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
SALAH TINGKAH



EPISODE 110


Pagi itu Ken bangun karena merasakan seseorang tengah memainkan sesuatu di telinganya.


Dalam keadaan setengah sadar, ia menepis benda yang menggelitik telinganya itu dengan cepat. Kemudian tidur kembali.


"Aisshh.." Ken menggaruk telinganya ketika sesuatu kembali menggelitiknya


Karena ekspresi Ken sangat lucu, Yuna pun merasa ketagihan. Sambil cekikikan menahan tawa, ia mencoba menggelitik lubang hidung Ken.


Begitu tangan Yuna bergerak hendak menyentuh hidungnya, Ken menangkap tangan tersebut dan memeganginya dengan kencang.


"Eh??" Yuna terkejut saat Ken memegang kuat tangannya.


Ken membuka mata dan berkata malas, "Tidak bisakah kau bermain menggunakan media lain selain diriku?"


"I itu, aku hanya..."


"Apa kau senang, bisa mengerjaiku?" Ken membuka mata dan tetap pada posisinya yang bersandar pada tepian tempat tidur.


Yuna tersenyum simpul, "Hehe, Iya. Soalnya, kau imut sekali saat sedang tidur."


"Apanya yang imut? Kau kira aku masih anak-anak TK?" Ken duduk tegap dan melotot.


"Kau sendiri, mengapa terus memegangi tanganku? Apa kau sebegitu inginnya dekat denganku?'


"Aiss, sial. Aku jadi tidak mengantuk lagi," kata Ken seraya melepaskan tangan Yuna.



Karena sudah terlanjur bangun, ia menggeliat dan menggaruk kepala bagian kanan sebelah telinganya. Dalam sekejap, ia menyadari bahwa Suzy juga sudah tidak ada di sana.


"Apa ini sudah pagi?" tanyanya pada Yuna.


"Ya. Jam delapan."


"Aih, kenapa tidak membangunkanku sejak tadi?" Ken menatap Yuna.


"Bagaimana, ya? Kau tidur pulas sekali. Bahkan bibirmu bergerak-gerak seperti sedang makan permen," Yuna terkekeh.


"Benarkah? Ah, kau hanya mengarang cerita saja?"


"Tidak, aku tidak mengarang cerita. Aku bahkan merekamnya."


"Apa? Untuk apa kau merekamku saat sedang tidur?" Ken berdiri berkacak pinggang.


"Hmm, aku rasa, aku bisa memandangimu terlebih dahulu sebelum pergi tidur"


"Cepat bawa kemari ponselmu" ucap Ken.


"Tidak mau."


"Hey? Aku akan melaporkanmu ke polisi karena mengambil gambarku secara diam-diam."


"Silahkan saja. Aku tidak takut!" Yuna menjulurkan lidah untuk mengejek Ken.


"Apa!"


Ketika Ken meraih tangan Yuna kembali, wanita itu menahannya. Sekali lagi, Yuna berniat mengerjainya.


"Tunggu! Apa itu tahi mata? Hiih,, Ambil kotoran matamu itu! Mengganggu sekali," katanya sambil menyerahkan selembar tissue.


"Apa? Aah, baiklah," Ken menutupi mukanya dengan tangan kiri dan meraih tissue yang diulurkan Yuna dengan tangan kanan.


"Aku bohong. Hihi,, Sebenarnya tidak ada tahi mata kok,,,," Yuna mengaku sambil cekikikan.


Ken menghentikan gerakannya dan berdiri menatap lurus pada Yuna.


"Apa itu lucu?"


"Hmmm,," Yuna mengangguk cepat.


"Hiss,, Kalau begitu aku mau mandi dulu. Baru setelah itu kita cari sarapan bersama."


"Ya. Baiklah. Apa kau mau minum teh? Akan ku siapkan terlebih dahulu."


"Boleh."


••••••••


Ketika akhirnya mereka menikmati sarapan dengan roti bakar mentega dengan telur di dalamnya, Yuna berkata bahwa ia senang bisa menginap di rumah Ken walau hanya dua hari.


"Seandainya tidak ada keperluan seperti merawatmu karena sakit mata kemarin, apakah aku bisa datang dan menginap di sini lagi?"


Ken yang tengah menyuapkan sepotong roti di garpu berhenti sejenak dan tampak memikirkan jawaban yang akan ia ucapkan, "Sesekali, kau bisa datang kemari. Tapi untuk menginap...."


"Kenapa?"


"Sepertinya itu sedikit berlebihan."


Yuna merengut, "Bahkan, di luar sana banyak anak muda yang menyewa kamar atau losmen untuk tidur bersama kekasih mereka."


EHEMM!


"Kau bukan kekasihku," ucap Ken setelah berdehem.


"Ya. Kita memang bukan pasangan kekasih. Tapi, bukankah kita berdua sudah pernah melakukan hubungan suami istri? Jadi, masuk kategori manakah kita??"


"Uhuk! Uhuk!" Ken terbatuk-batuk mendengar ucapan Yuna.


"Eh, kau tidak apa-apa, Ken?" Yuna segera membantu menepuk-nepuk punggung Ken.


Makanan yang masuk ke dalam mulut Ken sepertinya nyasar ke tenggorokan dan salah jalan. Ia benar-benar tertohok dengan ucapan santai namun mengena di hati dari mulut Yuna.


"K kuakui, itu sebuah kesalahan yang ku buat. Jadi aku minta, jangan membahas masalah itu lagi dengan seenaknya. Itu terlalu serius untuk dibicarakan."


"Apa kau malu jika ada orang lain yang tahu soal itu?"


Ken mengangguk seraya mengusap rambutnya.


"Sebenarnya, Ichigo mendengar pembicaraan kita waktu itu," Yuna memberitahu Ken.


"Apa? Ichigo katamu?"


"Yah."


"Apa kau malu karena bercinta denganku?" Yuna mengambil pandangan dari jalan berbeda.


"Bukan begitu. Bagiku, urusan seperti hubungan intim dengan seorang wanita sebenarnya sangatlah sensitif untuk dibicarakan. Bahkan untuk diketahui orang lain, itu sedikit memalukan. Karena hal seperti itu sebenarnya bersifat rahasia demi menjaga nama baik bersama."


"Jadi maksudmu, kau ingin melindungiku?" Yuna baru menyadari saat mendengar semuanya dari sudut pandang Kenzhi.


"Jika sekarang kau sudah tahu, maka jangan bicara sembarangan tentang hal sensitif seperti itu lagi. Untung saja Ichigo yang mendengarnya, bukan Takeda maupun Kurosaki."


Yuna mengangguk paham.


"Baiklah. Cepat habiskan makananmu. Kita akan berangkat setelah ini," Ken menyelesaikan roti terakhirnya dan mencuci piring bekas pakainya.


"Iya."


•••••


Ketika sampai di lokasi perbengkelan, Yuna turun dari motor Ken dua meter tepat sebelum berhenti di depan bengkel. Hal itu ia lakukan untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihat kedekatan mereka.


"Kalian sedang apa di sini?" suara yang tiba-tiba mereka dengar begitu mengagetkan.


"Eh? Ayah??"


"T tuan..."


Tuan Tanaka memperhatikan Ken dan putrinya bergantian. Ia sedikit mencurigai kedekatan di antara keduanya.


"Kau sudah selesai dengan acara keluargamu?"


"I iya, tuan."


"Lalu, mengapa kalian bisa datang bersama ke bengkel?"


"Kami kebetulan bertemu di jalan depan sana. Jadi, aku membonceng Ken dari sana. Hehe,, begitulah ayah."


Ken menundukkan kepalanya saat ayah Yuna menatap tajam ke arah dirinya.


"Kalau begitu, pergi dan kerjakan pekerjaanmu. Dan kau Yuna, ikut ayah."


Yuna melirik pada Ken dan melihat bahwa pria itu sepertinya takut pada ayahnya. Begitu ayahnya beranjak pergi, Yuna pun menyenggolkan sikunya pada lengan Ken.


Ia menoleh dan mengedipkan sebelah matanya pada Ken.


SRETTS


Tak berapa lama kemudian, Ken sudah berada di bawah sebuah mobil yang didongkrak untuk menyetel mesinnya.


"Bagaimana dengan matamu? Apakah sekarang sudah benar-benar baik?" tanya Ichigo yang sedang berada di samping Ken.


"Ya. Aku rasa sudah baik."


"Syukurlah. Aku dan Kuro sangat khawatir.


"Apakah terjadi sesuatu saat aku tidak berada di sini?"


"Tidak. Hanya pelanggan yang biasa saja yang datang. Jadi semuanya masih aman terkendali,," jawab Ichigo sambil mencongkel baut.


"Terima kasih untuk yang kemarin itu. Berkat kalian aku tidak perlu mencari alasan untuk ijin tidak bekerja," kata Ken.


"Kami tidak melakukan apapun. Jadi jangan sungkan."


Selang beberapa waktu, Ken pergi ke kamar istirahat untuk mengambil sapu tangan handuknya. Sedangkan Ichigo dan Kurosaki tengah menikmati makan siang mereka di ruangan depan.


Ketika ia membuka lokernya, seseorang menyelinap dan berdiri tepat di sampingnya dengan mengendap-endap. Begitu Ken menutup kembali pintu lokernya, ia pun dibuat terkejut dengan sosok yang muncul di sebelahnya secara tiba-tiba.


"Astaga, Yuna! Kau mengejutkanku!" pekik Ken sambil memegangi dadanya. Nafasnya terdengar naik turun akibat keterkejutannya.


"Hihihi...Mau makan siang?"


"Kami sudah memesan makan siang di kafe Miami. Apa kau mau ku pesankan?"


"Boleh," katanya.


"Baiklah. Kau mau pesan apa?"


"Sama sepertimu saja."


Ken mengambil ponsel dan memesan makanan yang sama seperti pesanannya untuk Yuna. Kemudian ia mencuci muka di washtafle yang ada di kamar mandi.


"Bagaimana dengan ayahmu? Apa dia marah padaku?" tanya Ken.


"Sepertinya tidak. Aku rasa, dia hanya terkejut melihat kita datang bersama."


"Apa dia berpikir macam-macam soal kita? Aku takut dia akan salah paham."


Yuna diam. Ia memikirkan ayahnya yang sejak tadi diam padanya. Apakah ayahnya tidak suka jika dirinya dekat dengan Ken? Mengapa?


"Em, aku akan mencari tahu nanti."


••••••


Yuna berbaur bersama Ken dan ketiga kawannya untuk makan siang. Karena Yuna kini mendapat posisi sebagai kasir keuangan di bengkel, ia pun menjadi salah satu pekerja di tempat tersebut.


Namun lucunya, tanpa sadar ia terlalu perhatian pada Ken. Sehingga tiga kawan yang lain melongo dan saling berpandangan.


"Wah, kau berkeringat!" Yuna meraih saputangan handuk yang ada di saku pakaian Ken dan membantu pria itu mengelap keringat di dahinya.


Perbuatan Yuna itu membuat Ken merasa risih sebab wanita itu melakukannya di depan kawan-kawannya.


"Kalian terlihat sangat dekat sekarang, tidak seperti saat pertama bertemu. Benar, kan?" kata Takeda sambil menyeruput mienya dan menyenggol lutut Kurosaki.


"Hmm. Aku jadi berpikir bahwa ada sesuatu di antara kalian. Apa kalian berpacaran?"


"Uhuk! Uhuk!" Ken keselek dan terbatuk-batuk.


"Apa? Ehehe,, tidaak. Kami hanya berteman kok," jawab Yuna berbarengan dengan batuk Ken.


Karena ekspresi kedua manusia itu mencurigakan, maka Kurosaki dan Takeda semakin yakin. Bahwa ada sesuatu di antara Ken dan Yuna. Mereka tersenyum sambil saling berpandangan dengan mata yang mendelik.


Berbeda dengan Ichigo yang sudah tahu apa yang terjadi pada keduanya, hanya bisa tersenyum saat Ken dan Yuna menjadi salah tingkah.


BERSAMBUNG.....