
EPISODE 71
Ken berhenti mengancingkan bajunya ketika telepon dari ibunya masuk.
"Ya Bu, ada apa?"
"Ken, apa hari ini jadwalmu padat? Ayah memintamu datang ke kantor jam 5 sore nanti," suara Kenie dari seberang.
"Ke kantor?"
"Ya. Rapat pengesahan pemegang saham. Ayah mengalihkan saham yang ia tanam di perusahaan Deido itu padamu."
"Deido?"
"Hmm. Perusahaan ayah kandungmu."
"Baiklah. Nanti aku ke sana," Ken berusaha mengancingkan bajunya dengan tangan kirinya namun kesulitan.
Pada saat itu Suzy datang tepat waktu, ia membantu Ken merapikan kancing bajunya. Hingga akhirnya telepon itu ditutup.
"Kau ada janji?"
"Hmm. Aku harus datang ke rapat pengesahan saham jam 5 nanti."
"Deido atau Monjin?"
"Deido."
"Oh. Ya sudah, mari sarapan dulu. Ibu sudah menyiapkan sarapan di bawah," Suzy mengamati sesuatu yang ada di leher Ken.
"Tunggu," Ken menahan langkah Suzy tepat di depan pintu kamar.
"Ada apa?"
Suzy menatap suaminya karena menahannya pergi. Dalam kesempatan itu, sekali lagi Suzy mengamati tanda merah yang ada di leher suaminya dengan curiga.
Tanda apa memangnya?
Dua kali Keiko mencium Ken, dua kali pula gadis itu meninggalkan tanda di tempat yang sama. Dan untuk yang kedua kalinya pula, Ken tidak menyadari hal tersebut.
Hening.
Tiba-tiba saja suaminya itu mengecup bibirnya begitu lama.
Suzy tersenyum, "Kau?"
"Aih, mengapa aku baru menyadari ini? Rupanya, istriku tetap cantik dan menawan meski tidak berdandan," Ken memainkan kata-katanya untuk menyenangkan Suzy.
Suzy tersenyum lagi. Kemudian bersandar di dinding dekat pintu dan melipat kedua tangannya ke depan.
"Ck Ck Ck,, mengapa kau baru menyadari bahwa istrimu secantik ini?" jawab Suzy menahan diri.
Ken mendekat perlahan. Kedua tangannya meraih pipi Suzy dengan begitu lembut. Satu detik berikutnya, ia mendaratkan bibirnya pada bibir yang belum dipoles lipstik itu.
Beberapa menit kemudian, suara berkecipak dari bibir mereka pun terdengar begitu syahdu di antara hembusan angin pagi.
Hmm..
Mereka berdua melakukannya dengan baik. Saling membalas dan saling menerima. Saat itu, Ken benar-benar meresapi apa yang baru saja ia terima. Perlahan, dilepasnya pagutannya dengan lembut.
Kemudian direngkuhnya pula kepala sang istri ke dalam dada. Ia memeluk Suzy dengan penuh cinta memberikan perasaan hangat dan nyaman yang mungkin saja ia berikan untuk terakhir kalinya.
"Terima kasih untuk segalanya, sayang," ucapnya sambil menempelkan dagunya di atas kepala Suzy.
Suzy mengangguk dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Ken. Meski ia curiga pada apa yang ia temukan barusan, ia tetap begitu bahagia jika Ken bersamanya.
"Uhuk uhuk!" Nonaka berdehem di depan pintu karena melihat kemesraan mereka di pagi hari.
Ken dan Suzy menoleh kaget.
"Nonaka? S sedang apa di sana?" Suzy tersipu malu.
Nonaka tersenyum-senyum, "Haih, sebenarnya aku kemari karena disuruh ibu,,, tapi apalah dayaku yang melihat kalian berdua bersiap bercocok tanam di pagi hari."
"Hisshh! Bercocok tanam kepalamu! Tidak bisakah kau berpura-pura tidak melihat dan menyingkir saja?" Ken merasa kesal sebab sudah berapa kalinya Nonaka memergoki mereka tengah memadu kasih.
"Mengapa aku harus berpura-pura tidak melihat sesuatu yang menyenangkan? Hihihi,, sayang sekali, kan?" Nonaka menggoda Ken sambil berlalu pergi.
Mata Ken mengerjap beberapa kali dengan mulut yang melongo. Ia tidak percaya pada apa yang ia dengar barusan.
"Apa ini? Apa itu artinya dia menikmatinya? Waaahh,,, mengejutkan sekali," Ken heran.
"Sudah, sudah. Kau tahu dia hanya menggoda kita, kan? Kenapa kesal?"
"Tentu saja aku kesal. Kau ingat malam pertama kita? Aku sampai harus menunda tiga kali karena dia masuk ke kamar kita tanpa mengetuk pintu," jawab Ken seperti anak kecil.
Suzy tertawa lucu. Rupanya Ken masih menyimpan ingatan itu.
"Kau masih ingat itu?" tanyanya sambil terkekeh.
"Tentu saja. Itu pertama kalinya aku bisa menyentuhmu. Tapi anak itu?? Haissh!" Ken tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menunjuk-nunjuk Nonaka.
Melihat Ken mencurahkan kekesalan di depan matanya, Suzy justru merasa lucu. Ia tidak pernah melihat suaminya marah hanya karena persoalan kecil semacam itu.
"Bukankah karena Nonaka, pernikahan kita jadi lebih seru?" Suzy mengatakan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Ken.
"Seru?"
"Hmm. Kita jadi banyak berinteraksi setelahnya. Bukankah karena itu kau juga semakin bersemangat mendekatiku?"
Benar juga. Ken mengakui hal itu. Sambil tersenyum, ia mengulurkan tangannya kembali pada pipi Suzy. Kali ini ia justru mencubit pipi wanita yang berdiri di hadapannya itu dengan gemas.
"Benar juga. Jadi, apa sekarang kita sudah berdamai?"
"Tentu saja, hehe," Suzy tersenyum berpura-pura tidak melihat apa-apa.
Keduanya tersenyum mengibarkan bendera perdamaian. Semenjak bayi kecil hadir di rahimnya, Suzy pelan-pelan mengubah sikapnya yang ketus.
Ia menyadari, tidak ada pria yang bersabar dan memiliki cinta yang besar kepadanya selain Kenzhi, suaminya.
Namun apa sekarang? Entahlah. Suzy tidak ingin tahu dan tidak ingin mencari tahu. Ia yakin, Ken mencintainya dengan sepenuh hati.
"Sayang."
"Ya?"
"Apa kau mau berjanji padaku?"
"Tentang apa?"
"Jika suatu hari terjadi sesuatu padaku, maukah kau tetap percaya padaku??"
Suzy memiringkan kepalanya seraya menatap tanda merah itu lagi, "Ada apa ini? Apakah terjadi sesuatu padamu?"
"Tidak. Bukan begitu. Aku hanya ingin tahu. Apapun yang terjadi padaku, bisakah kau mempercayaiku?"
"Tentu saja. Kau kan suamiku," Suzy tersenyum.
••••••
KYAA!!
Di restoran, sedang gempar soal kehamilan nona bos mereka. Baik Suri, Daisuke ataupun Gorou mengucapkan selamat dan ikut bahagia untuk Suzy.
"Benar, kan kataku? Nona Suzy sedang hamil. Aku curiga, perut nona yang semakin besar setiap harinya. Tapi kalian tidak percaya!" seru Suri pada Daisuke dan Gorou.
"Iya iya, kau benar. Tapi mana kami tahu soal kehamilan. Kami kan tidak mengalami hal seperti itu? Menghamili seseorang saja kami belum pernah," Daisuke menggumam lirih pada kata-kata terakhirnya.
"Heeyy!! Siapa yang mau kau hamili?" tanya Gorou memukul kepala Daisuke.
"Kau bilang soal menghamili seseorang kan barusan?"
"Anu,,, itu. Itu hanya perumpamaan, bodoh," Daisuke membalas memukul kepala Gorou.
Keduanya saling memiting dan bercanda.
"Eh, ngomong-ngomong, apa kalian melihat Keiko?" Daisuke celingak-celinguk.
"Benar juga! Di mana anak itu? Kenapa tidak datang bekerja?" Gorou merasa heran.
"Aku meneleponnya pagi ini. Tapi tidak diangkat," kata Suri.
Secara kebetulan, Suzy lewat disusul oleh Ken yang membawa kotak pendingin.
"Nona, apa Keiko menghubungimu?" tanya Suri.
"Eh? Keiko? Benar juga. Ke mana dia? Apa dia tidak menghubungi kalian semua?" tanya Suzy balik.
GLEK!
Ken ingin menceritakan kejadian malam itu pada semuanya. Tetapi ia khawatir jika semuanya tidak percaya akan kata-katanya.
"Apa dia juga tidak menghubungimu, sayang? tanya Suzy.
"Apa? Ahh,, tidak. Dia tidak menghubungiku," lidah Ken terasa sulit digerakkan.
"Benarkah? Lalu ke mana dia? Mengapa tidak menghubungiku maupun dirimu?" Suzy berpikir bersama anak yang lain.
Ken menyibukkan diri dengan jantung yang bertabuh kencang. Ia benar-benar tidak tahu harus memberitahu mereka dengan cara bagaimana.
Hingga akhirnya hari semakin sore, waktu pun menunjuk pukul lima belas lebih tiga puluh menit. Ken bersiap hendak pergi ke perusahaan Deido.
"Sayang, cobalah ramen buatanku. Menurutmu bagaimana rasanya?" Suzy mencegat Ken.
"Apa? Maaf sayang, aku harus bersiap sekarang," jawab Ken.
"Cobalah sebentar saja. Yah? Hmm?" Suzy memohon dengan mata berkilauan.
Karena tidak mau mengecewakan Suzy yang sedang bersemangat dengan masakan barunya, Ken pun duduk dan mencoba beberapa suapan.
"Hmm? Ini sangat lezat! Kau menambahkan apa pada kaldunya? Mengapa lezat sekali?" Ken bertanya dengan nada ceria untuk menyenangkan hati sang istri.
"Kau tahu? Aku mencoba menggunakan kaldu dari abalon."
"Benarkah? Waah. Ini penemuan hebat, sayang."
Ketika Suzy sedang menahan suaminya di dapur untuk urusan kuah mie ciptannya, datanglah beberapa mobil polisi dan langsung melakukan pengepungan di restoran ayam Suzy.
Beberapa polisi dan detektif masuk ke dalam restoran dan membuat kehebohan.
"Apa ini restoran tempat Keiko Hanabe bekerja?"
"B benar. Memangnya kenapa pak polisi?" tanya Daisuke.
"Keiko ditemukan tewas di rumahnya."
"A apa?! K Keiko? Benarkah itu??" Daisuke, Gorou dan Suri bertanya bersama-sama.
"Ya. Benar."
Seorang detektif polisi menyerahkan surat resmi untuk penangkapan Ryu Kenzhi.
"Apa ini?" tanya Gorou saat menerima surat tersebut.
"Ryu Kenzhi. Kemarin malam, dia melaporkan tentang terjadinya pembunuhan di rumah saudara Keiko. Tetapi setelah kami melakukan pemeriksaan pada bukti yang tertinggal di TKP, kami menyimpulkan bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut."
JEDHEERR!!
Anak-anak itu pun terkejut dan sangat syok. Baru beberapa menit lalu mereka membahas soal Keiko, tetapi senior Ken tidak mengatakan apapun soal pembunuhan itu. Lalu apa yang terjadi sebenarnya?
Benarkah senior Ken melakukan pembunuhan pada Keiko?
"Tunggu, pak. Mungkin anda salah orang. Senior Ken tidak akan melakukan itu pada Keiko!" seru Gorou, fans berat Ken. Anak itu menghalang-halangi langkah para polisi.
"Jika itu pemerkosaan, tentu saja itu bisa terjadi."
"Apa maksud anda?" tanya Suri.
"Pemerkosaan??" Gorou dan Daisuke bertanya bersama dan saling pandang.
"Kami memperkirakan adanya kasus penganiayaan dan pemerkosaan sebelum terjadinya pembunuhan. Jadi menyingkirlah! Kami akan menangkap pelakunya sekarang juga!" detektif polisi mulai kehilangan kesabaran dengan menyingkirkan anak-anak.
Benteng pertahanan yang diciptakan Gorou dan Daisuke pun dapat diterobos para polisi. Detektif pun merangsek masuk mencari Ryu Kenzhi hingga ke dapur.
Pelanggan yang datang langsung heboh dan saling melempar pendapat setelah mendengar kasus baru Ken.
Ken yang sedang mengomentari ramen Suzy itu terkejut melihat beberapa orang berjaket kulit hitam dan berseragam kepolisian datang menemuinya.
"Saudara Ryu Kenzhi, anda kami tangkap atas kasus perkosaan dan pembunuhan pada gadis bernama Keiko Hanabe!" ucap seorang detektif polisi dan memberi isyarat pada anak buahnya agar memborgol tangan Ken.
"Uhuk! Uhuk!" Ken tersedak mendengar kasus yang dibebankan padanya. Ia amat terkejut. Bagaimana bisa ia menjadi pelaku dalam kasus ini?
Suzy yang sedang membawa mangkuk berisi ayam jamur pun tanpa sengaja menjatuhkan mangkuk tersebut hingga jatuh pecah di lantai. Ia merasa syok mendengar pernyataan dari polisi yang datang.
Wanita hamil itu hanya bisa berdiri kaku karena tidak mampu berkata-kata.
"Apa kau melakukan itu, sayang? Kau memperkosa dan membunuh Keiko kemarin malam!!?" Suzy bertanya dengan emosionil.
Suri, Daisuke dan Gorou pun mengangguk karena pertanyaan mereka sama seperti nona Suzy. Mereka ingin jawaban dari mulut Ken.
Ken menatap anak-anak restoran. Lalu ia berdiri dan mendekati istrinya, "Itu tidak benar, sayang. Dengarkan penjelasanku dulu."
"Jadi? Karena itukah kemarin malam kau pulang sangat larut?"
"Tidak. Bukan seperti itu," Ken menghela nafas seraya gemetar.
Suzy diam tidak mau menoleh pada suaminya. Kini ia tahu, tanda merah apa yang ada di leher Ken.
"Pak polisi, bukankah aku yang datang melaporkan pembunuhan itu? Mengapa sekarang justru aku yang ditangkap?" tanya Ken putus asa dengan nafas yang tersengal.
"Semua bukti mengarah padamu. Jadi serahkan dirimu sekarang juga dan jangan melawan."
"Bukti? Bukti apa?"
"Sp*rm4 dan jaringan kulitmu tertinggal di tubuh mayat."
"A apa? Sp*rm4? Apa kalian yakin itu milikku?" Ken merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bagaimana bisa? Ia tidak melakukan apapun pada Keiko.
"Apa kau meragukan penelitian kami? berani-beraninya kau!!" detektif mulai naik pitam dan memukul wajah Ken dengan keras hingga mimisan.
Suzy dan yang lain langsung menjerit melihat pemukulan itu terjadi. Bagaimanapun situasinya, Ken terpaksa mengikuti prosedur penangkapan itu.
Ia mempersilahkan polisi membelenggu kedua tangannya. Tanpa menunggu lagi, polisi pun menyeret Ken keluar dari restoran seperti seorang tahanan.
Sayangnya, Suzy sedikit bimbang dengan hatinya sehingga ia tidak mengantarkan Ken sampai depan.
Ia ingin percaya pada suaminya. Tetapi, malam kemarin, Ken memang bersikap mencurigakan. Suaminya itu tampak sedang memikirkan sesuatu dan terlihat cemas.
Bahkan pagi ini saat membantu mengancingkan baju, dimana ruangan kamarnya juga terang benderang,, sebenarnya ia sangat terkejut waktu melihat bercak merah keunguan di leher Ken.
Lalu. Mengapa malam saat mereka bergumul ia tidak melihatnya?
Tentu saja, malam kemarin lampu di kamar mereka sudah dipadamkan dan Suzy hanya fokus pada wajah suaminya. Itulah sebabnya ia tidak melihat tanda merah tersebut.
Jadi, bagaimana selanjutnya?
Baca terus yuk!!
Bersambung.......