
Hay Readers,,,
Selamat membaca,,,
Jangan lupa tinggalkan Likenya ya,, ππ»π
...----------------...
EPISODE 111
Pagi itu, Yoshi tengah sibuk menguras gorong-gorong bawah tanah yang baunya busuk dan menjijikkan bersama warga binaan yang lain.
Sudah berapa kali ia muntah dan jatuh terpeleset ke tumpukan kotoran yang menyumbat.
"Haiissss!! Sialan!! Kenapa aku harus menghadapi hal menjijikkan seperti ini!!" teriak Yoshi ketika dirinya jatuh terjerembab ke tumpukan kotoran.
Teriakan dan makiannya terdengar sampai jarak bermeter-meter di depannya. Beberapa orang yang juga ada di sana hanya melihatnya tanpa peduli.
Ketika Yoshi membanting sekopnya ke dasar, seorang ketua geng berjalan menghampirinya.
"Hey kau! Bekerjalah tanpa banyak bicara! Kenapa kau sangat berisik, ha!!" ucap ketua geng tersebut.
"Ini menjijikkan! Aku tidak bisa melanjutkannya!!" Yoshi berjalan meninggalkan orang-orang yang mengerumuninya.
Namun, "Selesaikan pekerjaanmu atau aku akan menguburmu di dalam tumpukan kotoran itu!!"
"Jangan banyak bicara. Aku akan pergi!" Yoshi tidak bisa membaca keadaan.
"Seret dia!"
Maka, pengikut ketua itu menyeret tubuh Yoshi dan membantingnya ke tanah. Setelah itu, mereka juga memeganginya agar tetap duduk pada posisinya lalu mengubur tubuhnya menggunakan kotoran yang ada.
"Hey!! Singkirkan kotoran ini dariku!!"
Begitulah teriakan Yoshi ketika beberapa orang menggali kotoran menggunakan sekop dan menumpuknya tinggi-tinggi hingga menutupi semua bagian tubuhnya. Hanya kepalanya saja yang terlihat.
"Nikmati malammu di sini 'pup."
"Tidak!! Jangan tinggalkan aku di sini!! Hey!! Keluarkan aku!! Aku mohooooonn!!"
Teriakan demi teriakan terdengar dari mulut Yoshi ketika semua orang beranjak pergi meninggalkannya. Namun semuanya hanya menertawakannya dan pergi tanpa ada satupun yang peduli.
Menjelang malam, Yoshi yang hanya terlihat kepalanya itu tengah merasakan lapar dan mengantuk. Sudah berapa kali ia mencoba menggerakkan tangannya, namun ia tidak bisa membebaskan diri dari kotoran yang menumpuk dan melekat pada tubuhnya.
Pada saat ia tengah mengantuk seperti itu, datanglah seekor tikus besar berekor panjang. Tikus itu menatap Yoshi dengan wajah kelaparan yang tampak amat mengerikan. Sedikit demi sedikit, tikus itu pun mendaki gunung kotoran dan mendekati kepala Yoshi dengan cara mengendap-endap.
CIT CIT CIT
Saat tikus besar itu mencoba menggigit hidung Yoshi, pria yang tengah mengantuk itu pun tersadar. Ia langsung menjerit ketika dilihatnya seekor tikus besar berdiri tepat di depan mukanya.
"Hey! Minggir kau tikus bau!!" umpat Yoshi seraya mencoba menghalangi niat si tikus yang hendak menggigit hidungnya.
CUIH!
Meski Yoshi sudah meludahi tikus itu, namun tetap saja binatang malam yang kelaparan tetaplah buas.
"Pergi kau dasar binatang busuk!! Sialan!! Enyahlah kau!!" Yoshi terus berteriak karena tikus itu semakin dekat padanya.
Tiba-tiba, tikus itu maju ke depan dan menggigit mulut Yoshi yang sejak tadi mengumpati dirinya.
Entah karena tikus itu bermata jeli, atau karena hawa panas yang keluar dari mulut Yoshilah yang menarik perhatian si tikus.
Ketika Yoshi berteriak sambil terus mengumpat, datanglah segerombolan tikus got besar dari tempat persembunyian mereka.
Tanpa berbasa basi, mereka langsung mengeroyok kepala Yoshi dan menggigitnya tanpa ampun.
KYAAAAAAAAAAA!!!
Jika saja tidak ada yang datang, kepala Yoshi akan menjadi santapan mengenyangkan bagi para tikus got tersebut.
Untungnya, dua sipir yang kebetulan melewati lokasi gorong-gorong mendengar teriakan yang memilukan dari dalam lorong bawah tanah.
Maka, sipir-sipir itu pun berlari menghampiri asal suara. Ketika mereka melihat begitu banyak tikus yang berkerumun, mereka langsung menyenteri tempat itu.
SIIINGGGG!
Tikus-tikus got itu pun berlarian kembali ke tempat persembunyian mereka begitu cahaya senter menyinari mereka.
"Hah? Itu kan?? Cepat tolong dia!!" dua sipir itu terkejut begitu melihat kepala Yoshi mendapatkan luka berdarah di sana sini akibat gigitan para tikus.
Begitu Yoshi dibawa ke rumah sakit, berita soal pengeroyokan yang dilakukan segerombolan tikus menyebar di dalam sel tahanan.
"Apakah itu benar?" tanya seorang tahanan sambil cekikikan.
"Benar. Dia dikeroyok tikus got sampai kepalanya koyak di sana sini."
"Ck Ck Ck,, itu belum seberapa dengan nasib kawan kita yang hancur karena ulahnya."
"Benar. Wakaka, aku membayangkan bagaimana takutnya dia saat tikus-tikus itu menyerangnya," seseorang menimpali sambil terus tertawa kencang.
"Sebenarnya, akan lebih seru jika dibiarkan saja saat dia disantap tikus got itu."
"Setuju! Kira-kira bagaimana bentuknya ya? Mungkinkah ia akan tampak seperti kain pel yang robek?"
"Kain robek? Masih terlalu bagus untuk dia. Bagaimana kalau muntahan orang yang ada di jalanan. Tidak ada wujudnya, haha," mereka pun tertawa bersama.
HA HA HA ......
"Aku dengar, dia dikubur dalam kotoran? Itu pasti ulah kalian," Kazuki menyela.
"Hey, kau tahu siapa lagi yang bisa melakukan hal seperti itu. Kami bersepakat untuk membuat perhitungan padanya."
"Kalian masih jadi pengikut setia Kenzhi? Aku jadi penasaran seperti apa kehidupan Ken sekarang," kata Kazuki.
"Benar sekali. Aku akan mencarinya," Kazuki menggumam dan tersenyum sendiri.
β’β’β’β’β’β’β’
KLING!
Ken tengah mengganti oli motornya ketika Linzhi datang ke bengkel untuk menemuinya.
"Apa kau sudah mau pulang?" tanyanya tiba-tiba.
Ken menoleh terkejut saat mendengar suara Linzhi di sana. Anggota bengkel yang lain juga ikut menoleh saat seseorang datang secara tiba-tiba.
Karena tidak mau Linzhi bicara macam-macam, Ken buru-buru mendekatinya.
"Kenapa kau di sini?"
"Apa aku tidak boleh menemui ayah dari an,-" Linzhi melihat gadis yang kemarin sempat ia lihat sedang bersama Ken.
Sebenarnya ia berniat mengumbar hubungan Ken dengannya di depan Yuna dan yang lainnya. Namun Ken segera menyeretnya keluar agar tidak bicara sembarangan.
"Apa maksudmu mengatakan itu semua di hadapan teman-temanku?" Ken menyeret dan mendorong tubuh Linzhi ke samping.
"Kenapa? Bukankah itu kenyatannya? Apa kau tidak mau mengakui bayimu?"
"Linzhi!"
"Apa!!"
Karena saat itu Linzhi melihat teman-teman Ken bersembunyi dan mendengarkan obrolan mereka, maka ia pun mengarang cerita.
"Bukankah kita sudah sepakat mengenai hal ini? Kenapa tiba-tiba kau datang kemari dan membuat masalah?"
"Memangnya kenapa? Apa kau takut semua orang mengetahui sifat aslimu yang gemar bercinta dan memiliki anak di mana-mana?"
Ken menatap mata Linzhi tajam seraya menahan kemarahan, βApa katamu? Gemar bercinta dan memiliki anak di mana-mana? Kapan aku melakukannya?"
"Kenapa bertanya padaku? Kau sendiri yang tahu jawabannya."
Linzhi tersenyum sambil melirik ke arah tempat persembunyian anggota bengkel.
Sementara itu, Yuna bersusah payah menghalangi anak-anak bengkelnya agar tidak menguping pembicaraan Ken dan wanita seksi itu.
"Kalian dengar itu? Ken menghamilinya dan tidak mau bertanggung jawab!" seru Takeda.
"Waaah. Aku pikir dia itu pria lugu yang tidak bisa berhadapan dengan wanita. Rupanya dia seorang master yang berpengalaman," sambung Kurosaki.
"Sudah selesai bergunjingnya?" Yuna menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Takeda dan Kurosaki menoleh cepat. Kemudian mereka mendekati Yuna dan bertanya serius.
"Yuna! Apa kau juga salah satu dari korbannya?" Takeda mendekati Yuna perlahan dan sedikit memojokkan.
"Apa sih?!"
"Kalian jangan asal percaya pada ucapan wanita itu. Bisa saja dia hanya mengarang cerita untuk mempermalukan Ken," Ichigo menyela d antara ketegangan.
"Iya, benar. Aku rasa ucapannya tidak terlalu mendasar."
Pada saat mereka sibuk dengan argumen mereka sendiri, terdengar seruan Linzhi yang lantang.
"Aku mencintaimu, Ken! Mengapa kau belum juga bisa memaafkanku? Asal kau tahu, aku akan melakukan apapun itu agar kau menerimaku kembali!!"
Ken meninggalkan Linzhi begitu saja dan melangkah masuk ke bengkel tanpa menoleh pada siapapun. Ia terus berjalan dan menuju ruang istirahat.
Dengan kasar, dijatuhkannya pantatnya ke sebuah sofa. Ia tampak berusaha keras mengendalikan emosinya.
Sambil kepalanya menunduk, Ken mengepalkan tangan kanannya. Seandainya saat itu ia tidak membuat kesalahan, sudah pasti ia akan menolak kehadiran Linzhi dalam hidupnya.
Hanya karena seorang anak. Yah! Ia bertahan dengan wanita itu hanya karena kehadiran seorang anak di antara mereka.
Jika tidak, ia benar-benar sudah menghapus nama Linzhi dari hidupnya.
β’β’β’β’β’
GYUUTT
Yuna menghampiri Ken yang tengah kacau. Untung saja, ayahnya sedang tidak ada di bengkel sehingga tidak melihat kejadian yang baru saja terjadi.
"Minumlah," Yuna menyodorkan minuman dingin.
Ken hanya diam dan tidak melihat pada Yuna. Namun beberapa saat kemudian, ia menerima minuman tersebut sambil menoleh,
"Seberapa banyak yang kalian dengar?"
"Emm,, hampir semuanya."
Ken mendengus perlahan, "Aku rasa, Tuhan membuat takdir hidup yang rumit untukku."
"Itu tidak benar, Ken. Aku yakin, setiap perjalanan hidup manusia itu ada artinya. Dan perjalanan hidupmu ini, aku rasa mempunyai nilai dan pelajaran berharga yang dapat dipetik."
"Aku berharap begitu."
Ken kembali terdiam sambil sesekali menenggak minuman dinginnya. Matanya menatap lurus ke depan dengan nafas yang berhembus pelan.
.
.
.
BERSAMBUNG.....