RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
DAPATKAH KITA MENGHAPUS KEBURUKAN DI MASA LALU?



EPISODE 44


Ken bergegas membersihkan pecahan gelas yang tercecer di lantai kamar. Tidak lama kemudian, bibi Tamako dan lainnya datang karena mendengar suara benda pecah dari lantai atas.


"Suzy! Ken! Apa yang terjadi?" tanya paman Akihiro cemas.


"Ya. Apa kalian baik-baik saja di dalam??" teriak Akiyama.


Ken dan Suzy menoleh ke arah pintu bersamaan. Mereka benar-benar tidak menyangka, semuanya akan datang bertanya. Karena tidak ingin membuat khawatir dan terganggu, Suzy keluar untuk memberitahu.


GREK!


Suara pintu geser.


"Kalian semua, ada apa kemari?""


"Apa kau baik-baik saja? Ken tidak berbuat sesuatu padamu, kan?" tanya Nonaka.


"T tidak. Itu dia di sana. Sebenarnya, aku tidak sengaja menyenggol gelas saat mengobrol dengan Ken, tadi. Hehe,,," jawab Suzy malu-malu.


"Aaahh.. rupanya begitu. Ibu khawatir terjadi sesuatu pada kalian berdua," bibi Tamako meraih tangan putrinya.


"Tidak kok. Ken sedang membereskan pecahannya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Kalau begitu, ayo kita kembali saja ke kamar, sayang," kata Akiyama pada Nonaka.


"Yah. Kalian kembali beristirahat saja. Selamat malam ibu,, selamat malam semua, hehe," kata Suzy sambil terkekeh.


Begitu semua pergi, Suzy masuk kembali dan melihat jam dinding. Jarum jam sudah menunjuk angka 00.23. Saatnya untuk tidur.


Perlahan, Suzy kembali duduk di atas ranjangnya. Sedangkan Ken mulai mengepel lantai yang basah.


"Setelah itu selesai, tidurlah. Jangan bekerja terlalu keras," kata Suzy.


Ken menoleh dan tersenyum, "Baiklah."


Sepuluh menit kemudian, Ken menyelesaikan pekerjaannya dan langsung memakai baju dan celana joger abu-abunya. Lalu, ia mengambil kasur lipat yang ada di dalam lemari.


Sejak malam pengantin kemarin, ia memang bersedia tidur di bawah dengan kasur lipat. Sesuai dengan janjinya untuk menjalani pernikahan secara bertahap dan tanpa paksaan.


Setelah selesai menatanya dengan rapi, Ken merebahkan tubuhnya dengan nyaman dan mulai tidur berselimut tebal. Udara yang dingin membuatnya harus berada di dalam gulungan selimut tersebut.


"Apa kau sudah tidur?" tanyanya pada Suzy.


Karena tidak ada jawaban, Ken mengira Suzy sudah tidur. Maka ia pun memejamkan mata dan mulai memasuki alam mimpi.


GYUUT....


Suzy bangun dan menoleh pada Ken yang tidur di bawah. Pria itu sudah terlelap!


Secara perlahan dan mengendap-endap seperti maling, Suzy turun dari ranjang dan mendekati Ken dengan amat pelan. Diam-diam, Suzy tersenyum. Dibelainya rambut Ken dengan ragu-ragu.


Rambut Ken yang panjang sebahu dengan model comb-back hair itu terlihat manis dan sangat cocok dengan wajah oval itu. Begitu tangannya menyentuh rambut Ken, Suzy dapat merasakan tekstur rambut yang setiap helainya berukuran besar namun lembut dan jatuh ketika dipegang.


••••••


Ken bangun dan membuka matanya pada saat ayam berkokok nyaring. Pagi itu, di jam 5. Ia bangun dan bergegas mandi. Ada satu rencana yang ingin ia lakukan di luar.


Begitu selesai mandi dan bersiap pergi, Ken menghampiri Suzy yang masih terlelap.


"Aku pergi dulu, ya. Ada yang harus aku lakukan di luar," kata Ken pada Suzy yang sedang tidur.


Tangan kanannya bergerak mengusap pelan pipi Suzy.


TRAK!


Suara pintu gerbang dibuka. Ken melangkah keluar dengan tas selempangnya. Hari ini, ia berniat untuk mencoba mengambil hati warga sekitar restoran.


Serius? Bagaimana caranya?


Entahlah. Ken memikirkan suatu cara sambil berjalan. Dan,,, Selama ia melangkahkan kaki di sekitar pemukiman warga dan restoran, beberapa warga menolak dan mengusirnya. Mereka tidak ingin melihatnya di sana.


Ketika langkah kakinya berhenti di dekat lampu merah penyeberangan jalan, ia melihat dua orang anak TK sedang berjalan menuju pinggiran jalan. Keduanya berjalan sambil menikmati es krim di tangan mereka. Namun sayang, mereka tidak memperhatikan jalan dan lengah.


Dari arah berlawanan, datang sebuah truk barang yang melaju cukup kencang ke arah kedua anak TK itu. Ken yang melihat hal mengerikan itu, tanpa pikir panjang lagi segera berlari mendapatkan anak-anak.


Beberapa orang yang berada di sana pun panik dan ikut cemas saat melihat dua anak kecil yang ada di sana.


CIIITTT!!


Suara rem truk barang terdengar berdecit nyaring. Mencoba menghindari tabrakan dengan anak kecil di depan sana. Tepat saat moncong truk hampir mengenai anak-anak itu, Ken datang dan memeluk keduanya dengan cepat. Dan dengan cepat pula ia mencoba menyingkir ke sisi jalan.


Akan tetapi....


GLUBRAK!


Meski berhasil melindungi anak-anak itu, tabrakan tidak dapat dihindari. Badan truk menghantam cukup kencang tubuh Ken hingga mendapat luka karenanya.


Ramailah orang berdatangan untuk melihat kondisi anak-anak yang sempat terancam bahaya.


Mereka semua melihat Ken jatuh tengkurap dan melindungi kedua anak tersebut dalam rengkuhannya di atas aspal.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya seorang pria.


Anak laki-laki yang ada dalam rengkuhan mengintipkan kepalanya dari bahu Ken.


"Kami baik-baik saja, paman.. Tapi,,bisakah kau melihat keadaan paman yang menolong kami ini? Sepertinya dia terluka," katanya.


"Benar. Paman ini sepertinya pingsan," kata anak perempuan yang ada di sebelah lain.


Beberapa orang membantu mengangkat tubuh Ken yang pingsan dan beberapa lagi menyelamatkan anak-anak.


"Oh astaga. Bukankah dia pria itu? Lihat. D dia berdarah!" seru seorang wanita.


"Benar, itu dia. Pembunuh dari restoran ayam. Apa yang harus kita lakukan padanya? Apa kita biarkan saja dia di sini?" kata yang lain.


Orang-orang yang berkerumun itu pun bingung menatap Ken yang terbaring di aspal dan terluka.


"Bagaimanapun, dia menyelamatkan anak-anak ini. Panggil ambulance segera," kata seseorang yang prihatin.


Ketika menunggu ambulance datang, Ken sudah siuman. Ia melihat ada beberapa orang yang mengerumuninya. Begitu juga anak-anak yang tadi ia selamatkan.


"Paman!" seru mereka saat melihat Ken mulai membuka mata.


"Aah,,, Kau sudah siuman?" kata seseorang.


Ken mengerjapkan mata dan memperhatikan sekitarnya. Ia sedikit merasa pusing sehingga tangannya yang terluka bergerak memegangi kepalanya. Ia berusaha duduk dan menyapa anak-anak yang ada di depannya.


"Huff,, apa kalian baik-baik saja?" tanyanya dengan hidung dan mulut yang berdarah.


Kedua anak itu mengangguk, "Kami baik-baik saja, paman. Hmm. Tapi,, mulut paman mengeluarkan darah. Dan... Apakah itu juga sakit?"


Anak perempuan itu menunjuk luka di tangan Ken.


"Apa?"


Ken menoleh dan baru menyadari bahwa lengan kanannya berdarah. Kemudian ia juga melihat beberapa orang yang sedang menatapnya.


"Kami menghubungi ambulance. Begitu mereka datang, sebaiknya kau ikut dengan mereka untuk merawat lukamu," kata seseorang.


"Hmmm. Benar. Lukamu sepertinya cukup serius," sahut yang lainnya.


"Aku baik-baik saja," jawab Ken sambil bangkit berdiri.


"Hey. Jangan banyak bergerak. Lihat darah di lenganmu semakin mengalir."


Tepat saat itu juga, mobil ambulance datang. Namun karena Ken menolak ikut ke rumah sakit, maka ambulance itu pun pergi lagi.


"Apa kau bisa berjalan pulang sendiri?" seseorang merasa kasihan.


"Hey,,, sepertinya kita tidak perlu berlebihan dalam mengkhawatirkannya. Aku rasa, seorang pembunuh macam dia sudah terbiasa dengan luka seperti itu," ucapan seseorang yang lain terdengar cukup kasar.


"Ah, ya. Benar. Aku bisa melakukannya sendiri. Tapi, bisakah kalian mengantar pulang anak-anak ini dengan selamat sampai ke rumah mereka?"


"Ya. Kami akan melakukannya."


"Baik. Terima kasih," jawab Ken lanjut dengan membungkukkan badan.


Ia berjalan menyingkir dari keramaian sambil tertatih-tatih akibat rasa pegal dan nyeri yang ia rasakan.


Di sepanjang jalan tersebut, berpasang-pasang mata memandang kepadanya. Warga sekitar yang mengenali dirinya sebagai seorang mantan pembunuh merasa bahwa satu kebaikan yang dilakukannya belum bisa menghapus image buruk yang tertanam di hati mereka.


•••••••


Akhirnya Ken sampai di restoran Suzy. Ia beristirahat sebentar sambil meluruskan kakinya. Ia ingat betul bagaimana truk itu menghantam dirinya. Untung saja ia dan anak-anak itu selamat.


"Huuh.. syukurlah. Anak-anak itu baik-baik saja," gumam Ken.


Tuut.. Tuut...


Suara ponsel yang ada di dalam tas terdengar tiba-tiba hingga membuat Ken kaget. Diraihnya benda itu segera. Tampaklah bahwa sebuah panggilan masuk.


"Ya. Ada apa Suzy?"


"Kau di mana?"


"Emm. Aku ada di restoran."


"Di restoran? Kenapa tidak memberitahuku jika ingin pergi ke sana?"


"Hanya saja, aku ingin melakukannya."


"Aku akan menyusul," kata Suzy.


"Eh? Tapi, itu.."


Sebelum Ken menjawab lagi, Suzy sudah menutup teleponnya. Wanita itu bergegas menuju restoran untuk menyusul suaminya.


Ketika turun ke lantai bawah, ibu dan kakak iparnya sedang mengupas kacang bersama.


"Kau mau pergi keluar?"


"Ya, ibu," jawab Suzy sambil mengenakan sepatunya.


"Apa Ken masih tidur?"


"Dia ada di restoran, sekarang. Baiklah, ibu. Aku pergi dulu," kata Suzy lagi.


"Hmmm. Semoga ada berita bagus hari ini," kata bibi Tamako mengharap kebaikan.


"Ya," Suzy tampak terburu-buru sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.


.


.


.


.


.


Wah,,, Seru-seruan yuk 🤗


Kira-kira, dengan alasan apa Suzy buru-buru menyusul Ken ke restoran?


A. Apakah ia khawatir soal gangguan penyakit Ken?


B. Apakah karena ia merindukannya?


C. Atau, karena ia kehilangan CDnya dan mengira bahwa Ken salah pakai. Dan sekarang, ia pergi untuk mengomelinya?


D. Isi sendiri jawaban kalian......


🤗🤗


Bersambung ke Episode 45